
Kini sampailah didepan pintu gerbang tempat Ervi kuliah ku menunggu didalam mobil sampai mereka keluar untuk pulang.
Ku menunggu sambil bermain game dihp buat ngilangin rasa ngantuk dan suntuk juga galau karena ditinggal pergi sama pemilik hati yang dijodohkan dengan yang bergaji bukan seperti aku yang hanya seorang kuli dan anak tani.
Lama ku menunggu akhirnya yang ditunggu pun keluar juga. Aku langsung mengakhiri gameku dan memasukkan hpku dalam kantong celana lalu keluar dari mobil.
"Dek" kata Fariel, panggilku padanya.
Sedangkan yang dipanggil hanya melirik saja dan bahkan berjalan menjauhiku.
"Dek tunggu, pulang sama mas ya" kata Fariel, ucapku sedikit keras.
Karena yang dipanggil tetap berjalan menjauhiku, lalu aku berusaha mengejarnya, lalu meraih tangannya.
"Dek, pulang bareng mas yuk" kata Fariel, yang memegang tangannya.
"Lepasin, aku mau pulang sendiri, mas pulang aja sana, gak usah peduli sama aku lagi" kata Ervi, sambil menepis tanganku.
"Mas gak mau pulang kalau kamu gak ikut mas pulangnya" kata Fariel.
"Aku mau pulang sendiri, urusi aja urusan mas, gak usah peduliin aku lagi" kata Ervi.
"Kamu kenapa sih dek, mas salah apa coba, sampai kamu menjauh dan marah begitu, gak kaya biasanya" kata Fariel.
"Pikir aja sendiri" kata Ervi.
"Kalau mas tau mana mas tanya sama kamu, coba bilang sama mas, apa kesalahan mas pada mu" kata Fariel.
"Dah lah aku mau pulang naik ojek" kata Ervi.
"Adek gak bisa pulang selain pulang sama mas, ayok ikut mas pulang" kata Fariel, yang meraih tangannya.
"Lepasin gak tangannya" kat Ervi.
"Gak akan mas lepasin, sekarang ikut mas pulang, dan bicarakan masalahnya dimana letak kesalahan mas" kata Fariel.
Lalu ervi menendang kaki ku di bagian tulang keringnya dan melepaskan pegangan tanganku.
"Auuu" kata Fariel.
Lalu kukejar Ervi yang telah berlari dan akan menyebrangi jalan.
"Awassss" teriakku sambil mendorong tubuhnya yang hampir terserempet mobil.
Aku terjatuh sambil memegangi tubuh Ervi yang berada tepat diatas ku.
"Adek gak papa kan" tanyaku lalu berdiri.
"Kalau nyebrang lihat-lihat dek, hampir aja mati dijalan" ucapnya yang menabrak.
"Kalian gak papa."
"Kalian gak papa kan."
"Gak papa, makasih dah mau nolongin kami" kata Fariel.
"Ati-ati mbak kalau nyebrang, untung aja ada masnya, kalau gak dah masuk rumah sakit."
"Mas nya beneran gak papa, apa perlu dipanggilkan ambulan atau mau kami obatin."
"Gak papa kak, gak usah khawatir, paling hanya lecet dikit aja, nanti bisa dirumah aja diobatin nya" kata Fariel.
"Ohhh ya dah kalau gitu kami tinggal ya, mau pulang."
"Iya silahkan, makasih atas bantuannya" kata Fariel.
"Maaf, mas gak papa" kata Ervi, ucapnya pelan.
"Gak papa kok, aman" kata Fariel.
"Tapi itu lecet dilenganya, pasti sakit" kata Ervi.
"Ini gak seberapa, ada yang lebih sakit, dihati ini" ucapku dalam hati.
"Gak papa, yok kita pulang."
__ADS_1
"Tapi itu" kata Ervi.
"Gak papa, jangankan luka segini, lebih dari ini pun mas siap, asalkan adek mas selamat, nyawaku pun bisa ku pertaruhkan hanya untuk keselamatan mu" kata Fariel.
"Tapi aku gak mau mas kenapa-kenapa, aku takut kehilangan mas, aku gak akan bisa dan sanggup hidup tanpa mas" kata Ervi.
"Dah yuk pulang kerumah" kata Fariel, sambil menahan perih dilengannya yang tergores dan sedikit lecet bahkan baju putihnya kini hanya penuh noda debu dipunggunya dan juga sedikit darah dilengan.
"Aku gak mau pulang sebelum mas ngatakan kalau mas hanya untuk Ervi, bukan sebagai adek kakak melainkan lebih dari itu" kata Ervi.
"Maksudnya" kata Fariel.
"Kalau mas gak bisa sayang sama Ervi dan gak bisa buat Ervi hidup bahagia bersama mas lebih baik Ervi mati saja, daripada aku melihat mas bahagia bersama yang lain, aku suka sama mas itu dari dulu, bukan sebagai adik mas, tapi aku berharap lebih dari itu, karena aku cinta sama mas" kata Ervi, dengan sedikit keras.
"Dek, mas dari dulu hanya bisa menganggap kalian itu adek mas dan kakak mas, gak lebih" kata Fariel.
"Mas juga sayang sama kalian, tapi kalau urusan itu mas gak bisa, lebih baik kita pulang ya."
"Aku gak akan pulang, lebih baik aku mati" kata Ervi, yang berjalan ke tengah jalan lalu merentangkan tangannya.
"Dek jangan bodoh" kata Fariel, yang berteriak.
"Lebih baik aku mati dari apa aku gak bisa melupakan mas, dan melihat mas bahagia dengan yang lain" kata Ervi.
"Oke kalau itu maumu, tapi kasih mas waktu sebentar saja hingga kamu lulus nanti, tapi sekarang kamu minggir dulu" kata Fariel.
Karena sudah membuat jalanan macet dan beberapa bunyi klakson kendaraan.
"Aku gak akan minggir sebelum mas beneran janji, biar aku mati saja itu akan lebih baik" kata Ervi.
"Oke mas akan berjanji untukmu, akan selalu menyayangi dan mencintaimu bukan sebagai adek mas, tapi sebagai orang yang spesial buat hidupku nanti dan juga anak-anakku, apa sudah puas" kata Fariel, dengan teriak.
"Belum, sebelum mas membuat surat beserta tanda tangan mas, adek gak akan minggir" kata Ervi.
"Itu akan lama, sekarang lebih baik kamu minggir, kasian mereka mau lewat" kata Fariel.
"Aku gak peduli" kata Ervi.
"Woiii minggir, kalau lagi marahan sama suami jangan ngalangin jalan kami, kami mau lewat, kalau mau bunuh diri jangan dijalan, noh loncat dari atas gedung atau tower biar sekalian mati."
"Bang kalau marahan jangan buat repot orang lain dong, bujuk itu istrinya atau pacarnya biar minggir gitu."
Lalu aku melangkahkan kakinya.
"Berani maju selangkah lagi Ervi bakal beneran mati" kata Ervi.
"Kalau kamu mati, maka mas yang pertama kali mati" kata Fariel.
"Aku bilang diem ditempat jangan bergerak maju" kata Ervi.
"Mas akan tetap maju, walaupun itu nyawa taruhannya" kata Fariel, sambil melangkah maju lalu menghambur memeluk Ervi.
"Sekarang kita minggir" sambil mengangkat badannya.
"Lepasin aku, turunin sekarang juga" kata Ervi.
"Gak akan mas lepasin ataupun mas turunin, sekarang apa lagi yang akan kamu minta" kata Fariel.
"Mas sudah lakuin permintaan mu yang pertama."
"Turunin dulu" kata Ervi.
Lalu akupun menurunkannya pas dipinggir jalan tapi masih dengan memegangi tangannya supaya gak lari dan berbuat nekat.
"Huhhhh bikin orang susah aja" ucap para pengendara.
"Liat, mereka jadi terbawa masalah hanya karna ulahmu ini, apa belum cukup dengan yang tadi yang aku ucapkan" kata Fariel.
"Apa perlu aku mati dulu baru kamu percaya."
"Semua itu butuh proses, gak segampang itu."
"Iya, karena aku gak mau kehilangan kamu, aku gak bisa hidup dalam bayang-bayangmu mas, yang bahagia dengan yang lain" kata Ervi.
"Aku sayang sama mas dari dulu saat pertama kali aku ketemu mas" dengan menangis.
__ADS_1
"Apa aku salah, jika aku jatuh cinta sama mas."
Lalu aku menarik tubuhanya untuk memelukku.
"Gak ada yang salah, hati itu gak bisa disalahkan" kata Fariel, sambil mengusap-usap kepalanya yang masih pake jilbab.
"Sekarang kita pulang ya kerumah, kasian kakak yang ditinggal sendirian karena Mami juga Papi gak dirumah."
"Aku gak mau pulang sebelum mas beneran janji sama adek" kata Ervi, sambil memelukku.
"Mas hanya boleh nikahnya sama aku, gak boleh sama yang lain."
"Emang mas kapan mau nikahnya" kata Fariel.
"Bulan depan mas bakal nikah kan sama si itu cewek mas si canis canis itu kan" kata Ervi.
"Kata siapa" kata Fariel.
"Kemarin Mama sama Bapak datang buat lamarin canis buat mas kan" kata Ervi.
"Hah, lucu kamu mah" kata Fariel.
"Justru mas lah yang ditinggal nikah sama dia itu, karena mereka gak setuju dengan mas yang hanya anak tani dan seorang kuli kerjanya."
"Hah, mas gak bohong kan" kata Ervi.
"Berarti Ervi salah tanggap dong."
"Ihhh kenapa mukanya malah ditempelin gitu, malu ya" kata Fariel.
"Iiih gak ya, hanya" kata Ervi.
"Udahlah keliatan gitu kok, malu bilang aja" kata Fariel.
"Sebenarnya aku marah sama mas gak hanya karena itu saja, tapi waktu itu mas sedang asik telponan dibelakang pas pagi-pagi buat ketemuan sama si itu, padahal aku pengen ngajakin mas buat jalan hari itu juga" kata Ervi.
"Hatiku sakit saat lihat mas senyum-senyum sambil ber telponan."
"Sekarang mas gak lagi telponan sama dia lagi, mas sekarang dah pake HP kakak, HP mas disita sama kakakmu, karena lebih bagus dan keluaran terbaru jadi kakak minta tukeran, ini pake nomer kakak juga sekarang untuk sementara" kata Fariel.
"Tapi mas janji kan sama Ervi bakal nikahnya hanya sama Ervi, gak sama yang lain juga" kata Ervi.
"Gak tau nanti, kalau mas kecantol sama cewek lain apa boleh buat, kan mas hanya nganggap kamu sebagai adek mas" kata Fariel.
"Kalau gitu aku mati lagi aja daripada mas nikah sama yang lain, aku gak mau kehilangan mas, dan gak akan ngasih celah buat cewek-cewek dekat sama mas, kalau ada yang berani deketin mas bakal Ervi patahin tangannya biar tau rasa" kata Ervi.
"Waduh galak bener, kaya bodyguard dong" kata Fariel.
"Biarin, asal mas gak diambil yang lain" kata Ervi.
"Ya dah sekarang pulang yuk" kata Fariel.
"Gak mau sebelum mas janji sama Ervi" kata Ervi.
"Iya mas janji, tapi kalau kamu dah lulus kuliahnya dan dapat nilai bagus, kalau gagal ya ini juga gagal" kata Fariel.
"Pokoknya harus, gak boleh enggaka" kata Ervi.
"Ya udah iya, sekarang pulang yuk, mas dah gak kuat nih perih" kata Fariel.
"Janji dulu" kata Ervi.
"Iya mas janji saat kamu lulu mas tepatin janjinya buat kamu" kata Fariel.
"Daripada lama" ucapnya dalam hati.
"Yuk pulang, biar aku yang nyetir, mas duduk aja disamping nanti, nanti sampai rumah biar Ervi obatin lukanya" kata Ervi.
"Ya udah ayok kita pulang" kata Fariel.
"Kerumah Ervi dulu, baju Ervi disana" kata Ervi.
"Terserah kamu aja, mas ngikut aja, daripada lama nahan perihnya" kata Fariel.
"Ya udah ayok" kata Ervi.
__ADS_1
Kitapun langsung menuju mobil untuk pulang.