Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Kesedihan Tia


__ADS_3

Dibalik senyumnya saat pamit untuk pulang ada kesedihan dan luka dalam hatinya, karena orang yang selama ini didambakan menjadi orang yang selalu ada disisinya kini telah pergi bersama lain menjadi milik orang lain


"Aku juga mau pamit langsung pulang aja ya" kata Tia.


"Makasih dah mau menerimaku sekarang ini disini."


"Makasih dah boleh foto bareng."


"Juga makasih dah boleh memeluknya."


"Semoga kalian bisa saling menyayangi."


"Selamat tinggal"


Tia langsung turun dari pelaminan setelah bersalaman dan mengucapkan selamat, tanpa menyalami Mama, Bapak dan Papi, Mami juga, dia langsung pergi begitu saja dengan kepala menunduk dan juga meninggalkan para sahabatnya yang masih mengucapkan selamat.


Diatas panggung Tia menyampaikan sesuatu dengan perasaannya.


"Terimakasih hari-harimu yang pernah ada" kata Tia.


"Hari-hari yang kita lalui menjadi kenangan yang kuharap akan nyata saat mimpi dan keinginan untuk selalu ada dan bersama."


"Melupakan tak semudah membalikan telapak tangan."


"Ini hati dan perasaan."


"Mungkin aku terlalu berharap dan masih berharap."


"Jangan paksa jika cinta tak bisa."


"Karena ini rasaku, hatiku jiwaku."


"Terimakasih sudah pernah mengisi hari indahku."


"Terimakasih pernah bermimpi bersama."


"Aku tak bisa melupakan kenangan yang ada."


"Senyum itu akan selalu membekas disini dihati."


"Kau udara bagiku."


"Kau tetap segalanya dalam mimpi hidupku."


"Dalam setiap langkahku dan doaku, ingin memilikimu tapi."


Mengapa kita bertemu.


Bila akhirnya dipisahkan.


Mengapa kita berjumpa.


Tapi akhirnya dijauhkan.


Kau bilang hatimu aku.


Nyatanya bukan untuk aku.


Bintang dilangit nan indah.


Dimanakah cinta yang dulu.


Masihkah aku disana.


Di relung hati dan mimpimu.


Andaikan engkau disini.


Andai kau tetap denganku.


Aku hancur ku terluka.


Namun engkaulah nafasku.


Kau cintaku meski aku.


Bukan dibenakmu lagi.


Dan kuberuntung sempat memilikimu.


Bintang dilangit nan indah.


Dimanakah cinta yang dulu.


Masihkah aku disana.


Di relung hati dan mimpimu.


Andaikan engkau disini.


Andai kau tetap denganku.


Aku hancur ku terluka.


Namun engkaulah nafasku.


Kau cintaku meski aku.


Bukan dibenakmu lagi.


Dan kuberuntung sempat memilikimu.


Engkau mengatakan merindukan diriku lagi.


Ingin kusampaikan ku tak hanya sekedar rindu. Oooo ooo.


Aku hancur ku terluka.


Namun engkaulah nafasku.


Kau cintaku meski aku.


Bukan dibenakmu lagi.


Dan kuberuntung sempat memilikimu.


Aku hancur ku terluka.


Namun engkaulah nafasku.


Kau cintaku meski aku.


Bukan dibenakmu lagi.


Dan kuberuntung sempat memilikimu.


Dan ku beruntung sempat memilikimu


"Memang perih rasanya bila yang didambakan tak bisa bersama" kata Tia.


"Memang cinta itu tak mesti harus dimiliki walaupun harapan itu akan selalu nyata, tapi apalah daya." kata Fariel, dari pelaminan.

__ADS_1


Cinta memang tak selama nya bisa indah.


Cinta juga bisa berubah menjadi sakit.


Begitu yang kurasakan kini.


Perih hatiku tinggal kehancuran.


Tak pernah terbayangkan.


Dan tak pernah terpikirkan.


Cintamu dan cintaku akan berpisah.


Namun harus kurelakan itu.


Untuk hidupmu agar lebih baik.


Maafkan aku.


Setulus hatimu.


Kepergian diriku itu bukan keinginanku.


Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu.


Jangan bersedih dengan keadaan ini.


Jika kamu menangis.


Aku juga ikut menangis.


Terima saja semua ini kulakukan.


Untukmu.


Maafkan aku.


Setulus hatimu.


Kepergian diriku itu bukan keinginanku.


Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu.


Oh jangan bersedih dengan keadaan ini.


Jika kamu menangis.


Aku juga ikut menangis.


Terima saja semua ini kulakukan.


Demi kebaikanmu.


Oh jangan bersedih dengan keadaan ini.


Jika kamu menangis.


Aku juga ikut menangis.


Terima saja semua ini kulakukan.


Terima saja semua ini kulakukan.


Untukmu.


"Semoga engkau juag bahagia." kata Fariel.


Langsung turunlah Tia dan berjalan begitu cepat dengan air mata yang kembali turun membasahi pipinya tanpa memperdulikan sahabatnya yang memanggilnya.


"Tungguin kita" kata Nia.


Yang dipanggil hanya tetap berjalan seperti berlari dengan perasaan sakit dihati dan menangis.


"Ayok kita kejar Ndah" kata Nia.


"Ayok Ni" kata Indah.


"Aku takut nanti kenapa-kenapa dengan Tia."


Nia dan Indah langsung mengejar Tia, karena takut akan terjadi hal yang gak diinginkan oleh sahabatnya karena sedang merasakan sakit dalam hatinya.


"Kak Tia" kata Nia, yang meraih tangannya Tia.


"Aku tau kamu gak menerima semua ini."


"Aku tau kamu pasti merasakan sakit di hatimu melihat semua itu."


"Tapi apa harus seperti ini."


"Harus menangis terus."


"Mau sampai kapan kak Tia akan seperti ini terus."


"Mau sampai kapan menangisi ini semua."


"Dia juga butuh kebahagiaan sendiri."


"Iya kak, benar kata Nia" kata Indah.


"Kak Tia sekarang juga harus bahagia seperti yang tadi dikatakan olehnya."


"Kak Tia gak boleh terus larut dalam kesedihan ini."


"Gak boleh memikirkan masalalu yang gak bakal terjadi lagi."


"Masalalu tetap masalalu, yang gak mungkin bisa diulang lagi."


"Dia juga pernah merasakan hal yang sama bahkan lebih dari kakak."


"Dia pernah sampai dinyatakan telah meninggal saat tau kakak akan menikah."


"Dia pernah hanya terbaring keritis dibantu alat madis ditubuhnya untuk tetap bisa hidup."


"Dia lebih sulit menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini ada dalam hatinya, orang yang selama ini selalu bersama, menikmati hari-hari sampai terucapkan janji untuk selalu bersama sampai akhir hayatnya, tapi ternyata dijodohkan dengan yang lain hanya karena dia orang biasa."


"Bahkan sampai diancam keluarga nya kalau masih berhubungan denganmu kak."


"Dia juga mengalami hal yang sulit dihari-harinya sampai jatuh sakit tak berdaya selama sebulan hanya terbaring lemah."


"Biarkan dia sekarang bahagia dengannya."


"Jangan kembali lagi padanya dan akan membuka luka lama lagi, dan akan membuatnya kembali kemasa dia dibantu dengan alat-alat yang menempel pada tubuhnya."


"Iya kak" kata Nia.


"Kak Tia harus ikhlas sekarang."


"Kak Tia harus semangat untuk tetap bisa bahagia walaupun hanya melihat dia tersenyum bahagia."


"Cinta tak selamanya harus bersama."

__ADS_1


"Cinta tak harus menyatu dengan bahagia."


"Cinta akan hilang seketika saat kita tak ada disisinya dan nggak lagi memikirkan dan mengingat-ingat lagi tentangnya."


"Lebih baik sekarang lupakan kak."


"Biarkan dia bahagia dengannya, daripada bersama kakak dia hanya bisa terbaring lemah."


"Doakan semoga mereka bisa saling menyayangi dan bisa memberikan kebahagiaan disisa waktunya."


"Mungkin kak Tia gak percaya dengan apa yang kami katakan barusan" kata Indah.


"Tapi kami melihat secara langsung saat dia hanya terbaring lemah dengan alat-alat yang menempel ditubuhnya."


"Kami sering datang kerumahnya hanya untuk melihat dan mendoakannya agar segera kembali sehat."


"Bahakan keluarganya sendiri sering mengundang orang-orang atau anak yatim untuk mendoakan dia agar segera kembali sehat."


"Kami bahkan sering melihat keluarganya pingsan karena melihatnya kejang-kejang dan nafasnya seperti terhenti."


"Bahkan mereka yang kini jadi istrinya juga sama, pernah pingsan melihat dia seperti itu."


"Kakak jangan mengambil dia darinya yang kini telah menjadi milik orang lain."


"Jangan buat mereka berpisah."


"Jangan buat orang lain menderita karena keegoisan kakak ingin kembali memilikinya."


"Biarkan mereka bahagia."


"Apakah aku jahat jika ingin kembali bersama" kata Tia.


"Apakah aku juga bisa melihat dia bahagia dengannya."


"Apakah aku akan bisa hanya melihat dia senyum bahagia dengan yang lain."


"Ini hatiku, yang gak bisa kembali seperti semula."


"Aku juga ingin bahagia."


"Apakah aku salah."


"Apakah aku salah jika aku mengharapkan kembali lagi bersamanya."


"Apakah aku salah jika aku selalu berdoa meminta kebahagiaanku sendiri, kalau bahagiaku hanya bersama dengannya."


"Nggak ada yang salah untuk meminta kebahagiaan pada yang memeberikan kebahagiaan" kata Nia.


"Tapi akan sangat salah jika kita meminta kebahagiaan dari kebahagiaan orang lain, dan orang itu menjadi menderita karena kebahagiaannya kita ambil."


"Apa yang dikatakan Nia bener kak" kata Indah.


"Meminta boleh, tapi bukan berarti merebutnya."


"Mencintai dan ingin memilikinya juga boleh, tapi jangan merebut hak orang lain."


"Kebahagiaan itu ada untuk kita semua."


"Jadi nggak usah meminta kebahagiaan dari milik orang."


"Aku yakin kalau kakak bisa ikhlas dan membuka kembali hati kakak, pasti kakak akan merasakan kebahagiaan juga."


"Nggak usah memikirkan dia terus yang kini jadi milik orang."


"Sekarang lebih baik kita sekarang pulang saja, biarkan Nia yang nyetir, kita gak usah nunggu kak Dewi, dia ingin nginap."


"Iya, kak Tia dibelakang duduk sama Indah" kata Nia.


"Biar aku aja yang nyetir, kak Tia istirahat sambil mencoba melupakan dia."


"Aku yakin kak Tia bisa."


"Ada kami yang selalu ada buat kak Tia."


"Kapanpun kak Tia butuh kita, pasti kita akan selalu ada buat kak Tia."


"Sekarang lebih baik kita pulang, biar aku ambil mobilnya."


"Ndah jagain yang bener ya, aku mau ambil mobil dulu."


"Kak Tia disini aja dulu, sebentar ya" langsung pergi meninggal mereka berdua.


"Kak Tia jangan nangis terus dong, apa kita juga gak pulang dan mau nginap disini juga" kata Indah.


"Biar pulangnya bareng sama kak Dewi besok."


"Tapi kalau kita gak pulang, aku minta satu hal sama kak Tia."


"Ngak boleh menangis, gak ada air mata yang jatuh lagi."


"Harus tetap tersenyum dan ikhlas menerima kenyataan."


"Aku gak yakin bisa" kata Tia.


"Ayok sekarang kita masuk ke mobil dan pulang saja yuk" kata Indah.


"Masih ada kita disini buat mendengar ceritamu."


"Hapus air matanya."


"Ayok kita pulang yuk kak" kata Nia, sambil membuka pintu belakang bagian penumpang.


"Nanti kita mampir buat nenangin semuanya."


"Lebih baik kita pulang, kalau lama disini akan makin sulit melupakan."


"Makasih semuanya" kata Tia.


"Kalian memang sahabat terbaikku."


"Yang selalu ada untukku."


"Iya, kita kan sahabat dari dulu, jadi akan selalu ada buatmu" kata Indah.


"Yuk kita pulang yuk" kata Nia.


Sebelum masuk mereka saling berpelukan.


"Lupakan, dan jemput kebahagiaan" kata Indah.


"Masih ada keindahan dan kebahagiaan hidup buat kita."


"Jangan patah semangat, harus yakin pasti bisa" kata Nia.


"Makasih, bantu aku melupakannya" kata Tia.


"Iya, akan kubantu semuanya" kata Nia.


"Apa yang gak buat sahabat kita ini" kata Indah, lalu saling memeluk erat lagi.


"Yuk kita masuk."

__ADS_1


"Iya" kata Tia.


Dan mereka langsung masuk terus pulang.


__ADS_2