
Kuterbangun dipagi hari, dengan posisi yang masih nyaman dipeluk oleh bantal guling yang ada nyawanya, siapa lagi kalau bukan istriku yang tercinta.
Kulihat jam di dinding kamar ini sudah menunjukkan waktu jam tujuh pagi, berarti aku bangun kesiangan dan telat melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.
"Nis bangun dah siang" kata Fariel, sambil menggoyangkan tangannya yang masih memelukku.
"Hemmm" kata Fida.
"Masih ngantuk, bentar lagi."
"Dah jam tujuh tuh lihat" kata Fariel.
"Hah" kata Fida, langsung membuka matanya dan melihat kejam di dinding.
"Kenapa enggak dari tadi banguninnya."
"Sami aja baru bangun" kata Fariel.
"Ya dah deh lanjut tidur lagi aja, dah telat juga buat Sholat Subuhnya" kata Fida.
"Aku masih nyaman kaya gini meluk Sami."
"Nanti Aya bangun nyariin Mamanya gimana" kata Fariel.
"Enggak bakal, kan ada Mama tua" kata Fida.
"Pasti dah sama Mama."
"Akun masih ngantuk nih gara-gara Sami semalam."
"Tapi walaupun telat, asal enggak sengaja enggak papa, tetap boleh melakukan Shalat Subuh" kata Fariel.
"Yuk bangun mandi terus Shalat, nanti tidur lagi."
"Kali ini aja Mi, plis" kata Fida.
"Aku masih mau meluk Sami."
"Nanti pasti bakal diganggu sama Aya dan yang lain kalau dah bangun Sami."
"Ya ya Mi ya."
"Ya dah iya, tapi nanti Shalat nya di Qadha ya" kata Fariel.
"Sami juga masih sedikit ngantuk nih."
"Iya Mi iya" kata Fida.
"Ya udah lanjut lagi tidurnya, peluknya" kata Fariel.
"Maunya dipeluk" kata Fida.
"Iya kupeluk nih" kata Fariel, langsung memeluknya
"Duh manja banget istri ku ini ternyata sekarang."
"Kangen sama pelukan hangat nih."
"Iya, bis enggak pernah dipeluk senyaman ini sama Sami" kata Fida.
"Dah lama Sami enggak meluk Sanis kaya gini."
"Yang peluk hanya Aya mulu kalau tidur sama aku."
"Maafin Sami" kata Fariel, lalu mencium keningnya
"Anak juga butuh kasih sayang yang penuh."
"Kalau anak marah bakalan susah bujuknya, pasti akan menganggap kalau kita enggak sayang sama anak, makanya anak utama."
"Kalau kamu yang marah masih bisa dibujuk."
"Bujuknya gimana, kalau Sanis yang marah" kata Fida.
"Dengan seperti ini misalnya" kata Fariel.
"Atau buat Ade baru buat Aya."
"Hih, itu mah maunya Sami" kata Fida, sambil memukul dadaku.
"Maunya yang enak-enak aja."
"Au, Tapi kan Sanis juga suka kan" kata Fariel.
"Dikit, tapi banyak capeknya" kata Fida.
__ADS_1
"Ya udah maaf deh" kata Fariel.
"Enggak lagi-lagi ngulangin deh."
"Abis kamunya nantangin sih semalam, makanya Sami makan sampai kenyang."
"Ya udah sekali peluk Sami sepuasnya."
"Sanis bobo oh Sanis bobo, kalau enggak bobo Sami makan lagi" sambil menepuk-nepuk sesuatu.
"Ih, kayak anak kecil aja" kata Fida.
"Lagunya yang lain dong Mi, masa mau disamain sama anak-anak."
"Lagunya yang romantis dong."
"Kan Sanis mau denger Sami nyanyiin lagu buat Sanis yang romantis."
"Oke" kata Fariel.
"Cicak cicak di dinding diam diam merayap, datang seekor nyamuk, hap lalu ditangkap, hap lalu ditangkap" yang seolah menangkap.
"Ihhh Sami mah" kata Fida.
"Geli loh Mi."
"Mana lagunya untuk anak-anak lagi."
"Kan maunya yang romantis, masa malah cicak di dinding sih."
"Emang seperti apa lagi yang romantis" kata Fariel.
"Hemm apa ya" kata Fida.
A great big bang and dinosaurs.
Fiery raining meteors.
It all ends unfortunately.
But you’re gonna live forever in me.
I’ll guarantee, just wait and see.
Parts of me were made by you.
The moon’s got a grip on the sea.
And you’re gonna live forever in me.
I guarantee, it’s your destiny.
"Iiih malah merem" kata Fida, sambil memukul dadaku.
"Nis suaramu membuatku nyaman" kata Fariel.
"Suaramu begitu indah, membuatku ingin segera lelap dan bermimpi melihatmu menari sambil bernyanyi lagu syahdu."
"Maunya tuh Sanis yang dinyanyiin bukan digombalin" kata Fida.
"Pagi-pagi dah gombal aja."
"Sekarang gombalan Sami enggak mempan, yang dibutuhkan sekarang pelukan kenyamanan, bukan kata-kata rayuan."
"Ya dah nih Sami nyanyiin lagu spesial" kata Fariel.
"Awas aja kalau salah lagu" kata Fida.
"Sami enggak boleh lagi tidur sama Aku."
"Tidur aja sendirian digarasi."
"Kan masih ada Bunda" kata Fariel.
"Nanti juga bakal Bunda kukasih tau, biar Sami tau rasa" kata Fida.
"Buruan dong Mi."
"Iya deh iya" kata Fariel.
"Dengarin baik-baik."
Melihat tawamu.
Mendengar senandungmu.
__ADS_1
Terlihat jelas dimataku.
Warna-warna indahmu.
Menatap langkahmu.
Meratapi kisah hidupmu.
Terlihat jelas bahwa hatimu.
Anugerah terindah yang pernah kumiliki.
Sifatmu nan s'lalu.
Redahkan ambisiku.
Tepikan khilafku.
Dari bunga yang layu.
Saat kau disisiku.
Kembali dunia ceria.
Tegaskan bahwa kamu.
Anugerah terindah yang pernah kumiliki.
Belai lembut jarimu.
Sejuk tatap wajahmu.
Hangat peluk janjimu.
Anugerah terindah yang pernah kumilik.
"Lagi, masih kurang" kata Fida.
"Bangun aja yuk, mandi" kata Fariel.
"Kamu masih ada janji sama Sami semalam loh."
"Enggak mau" kata Fida.
"Ayok mandi, terus Qadha Shalat" kata Fariel.
"Sami engggak akan minta apapun selain meng Qadha Shalat Subuh."
"Yuk bangun yuk."
"Apa mau Sami gendong."
"Iya mau" kata Fida.
"Mandiin sekalian."
"Iya bangun dong, Sami kan mau bangun, kalau dipeluk terus gimana Sami bangunnya" kata Fariel.
"Iya, dah" kata Fida, yang hanya melepas pelukannya saja.
Aku langsung turun dari kasur dan lalu mengangkat Fida kekamar mandi buat mandi wajib.
"Emuach emuach emuach" kata Fida, yang menciumi pipiku.
"Makasih, tapi jangan sampai memancingnya ya" kata Fariel.
"Oke, kupancing" kata Fida.
"Emuach emuach emuach emuach emuach."
"Kumakan nih nanti" kata Fariel.
"Ampun, hanya mandi aja ya plis" kata Fida.
"Enggak, siapa suruh mancing, dah terlanjur bangun" kata Fariel.
"Melihatmu aja dah bangun, apalagi kau pancing."
"Harus tanggung jawab."
"Dosa loh."
"Bentar aja tapi ya" kata Fida.
"Oke" kata Fariel.
__ADS_1
Dan terjadilah hal yang diluar dugaan, mandinya jadi makin lama.