Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Cek lokasi


__ADS_3

Sampai di tempat lokasi.


"Gimana Pak Idin, lancar" kata Fariel.


"Dah jadi bos nih ya sekarang ya, mana wangi lagi" kata Idin.


"Wuiiiiiih ada anak bos baru nih, bisa dong beli kueh sama rokok, masa jadi bos gak ada tlaktiran sih" kata Roy.


"Ah lo mah dari dulu traktiran mulu kayaknya yang dimau" kata Fariel.


"Pasti mau jalan-jalan ketemu gebetan nih, wanginya aja kaya gini" kata Roy.


"Nih seratus buat beli sana" kata Friel.


"Masa seratus, kurang lah, gak lihat apa banyak banget orangnya" kata Roy.


"Nih" kata Fariel.


"Nah gitu dong, kunci mana kunci" kata Roy.


"Noh nyangkut di motor masih" kata Fariel.


Roy pun langsung pergi.


"Gimana bos ada masalah gak" kata Fariel.


"Kebalik kali, masa aku di panggil bos, bosnya kan situ" kata Idin.


"Gak ada, hanya sedikit kekurangan besi aja kemaren, tapi tadi pagi sudah masuk kok sama yang lain juga."


"Oh okelah kalau begitu" kata Fariel.


"Aku hanya disuruh minta catatan aja sih, berapa barang yang masuk kemari dan apa aja, karena aku disuruh kemari buat ngecek dan minta catatan."


"Ih oke, nanti saya kasih salinannya, ini masih belum selesai ngecek yang lainnya" kata Idin.


"Oke dilanjut aja, aku mau lihat kesana dulu" kata Fariel.


"Nggih monggo" kata Idin.


Akupun langsung menuju ketempat yang lain sambil memoto beberapa.


"Gimana pak Sal, ada kendala apa nih" kata Fariel.


"Gak ada sih, semuanya aman gak ada yang perlu di khawatirkan" kata Sal.


"Baguslah kalau gitu, aku cuman ngambil beberapa gambar aja sama ngambil catatan aja, kalau urusan ini mah langsung sama bos, aku gak paham, hanya sedikit aja sih" kata Fariel.


"Makanya sering-sering datang kemari biar tau semuanya, gak cuman ngitung doang, kalau sering kemari dan lihat kan nanti lama-lama bisa sendiri tanpa harus kuliah, karena kalau langsung turun ke lapangan itu ilmunya langsung" kata Sal.


"Ooh gitu, okelah nanti kapan-kapan kalau ada waktu pasti bakal sering main kemari" kata Fariel.


"Itu harus, aku aja dulu cuman kuli biasa, tapi karena sering melihat dan mendengar kan orang yang sedang bahas masalah bangunan ya lama-lama jadi seperti ini, bisa tau gambar bangunan dan bentuknya, karena paling susah itu turun langsung kelapangan nya daripada hanya menghitung ini itu dan melihat saja" kata Sal.


"Ini aja sebenarnya aku juga sudah disuruh sering ngikut kemana bos pergi untuk lihat langsung kelapangan, tapi aku masih belum mau" kata Fariel.


"Kalau menurutku ya, kalau pengen bisa itu jangan setengah-setengah, langsung semuanya secara perlahan-lahan, kan proyek bosmu kan gak cuma hanya ini saja, bahkan banyak dikota ini dan mungkin juga ada diluar yang mungkin orang lain yang mengerjakan seperti aku disini sama pak idin juga, dia hanya melihat hasil kerjanya sesuai apa gaknya" kata Sal.


"Bosmu juga punya gudang diluar kota untuk khusus bangunan yang dia kerjakan, kalau disini kan cuma gudang kecil aja, sama toko material kecil, apa kamu gak tau" kata Sal.


"Gak tau, apa mungkin yang beberapa hari ini saya hitung ya, ada beberapa material masuk yang harus aku hitung, dan dikeluarkan berapa dan dijual berapa, mungkin itu kali ya, karena banyak banget catatannya" kata Fariel.


"Kemungkinan bisa jadi iya, emang kamu gak pernah tanya" kata Sal.


"Gak, hanya disuruh ngitungin aja sama ngecek kemari, gitu doang, sama ambil catatan dan ngambil beberapa foto" kata Fariel.


"Ooh, ya dah kamu lanjutin ngambil gambarnya, aku juga mau nyelesaikan ini, belum selesai" kata Sal.


"Oke Pak lanjut aja, maaf ganggu ya tadi sebentar, apa gak minum kopi dah mau siang ini" kata Fariel.


"Kami minumnya nanti kalau jam sepuluhan, sekarang mah belum" kata Sal.


"Ya dah lanjut, aku mau keliling lagi" kata Fariel.


"Siap boss" kata Sal.


"Jangan gitu Pak, aku masih dibawah Bapak ilmunya, kan yang bos itu Bapak, aku kan juga pernah ikut Bapak, masa saya dipanggil bos sih" kata Fariel.


"Iya dah sana, nanti ditungguin, dah wangi kaya gitu kok mampir kemari" kata Salah.


"Hahaha, Bapak tau aja" kata Fariel.

__ADS_1


"Taulah, emang Bapak gak pernah muda apa" kata Sal.


"Jangan main kepasar cuman buat dorong motor."


"Hah, maksudnya apaan Pak" kata Fariel.


"Gak ada, hanya mungkin teringat dengan seorang cowok yang dorong motor terus ngakunya dorong motor punya Ibu-ibu yang kehabisan bensin, taunya masih perawan, digebet pula" kata Sal.


"Bapak suka gitu, masih ingat aja sama yang itu" kata Fariel.


"Ya dong, kan aku yang nungguin tukang ojek nya lagi bantuin Ibu-ibu" kata Sal.


"Dah ah, aku mau lanjut keliling, Bapak dah mulai kemana-mana nih bahasnya" kata Fariel.


"Ya sana, hus hus" kata Sal.


Akupun ketawa dan Pak Sal juga ketawa. lalu aku lanjut keliling buat ngambil gambar bangunan dan juga gmbar material yang masuk. setelah itu ketempat Pak Idin sedang menyiapkan salinannya buat diberikan padaku.


"Gimana Pak apa udah siap" kata Fariel.


"Nih, semuanya sudah lengkap, InsyaAllah gak ada yang kurang, kalau kurang nanti kukirimkan lewat WA" kata Idin.


"Makasih Pak, kalau gitu aku langsung cabut ya" kata Fariel.


"Ya dah sana, kasian nanti yang nungguin, kan mau jalan-jalan berduaan dibawah pohon toge" kata Idin.


"Emang semut apa, masa dibawah pohon toge" kata Fariel.


"Gak bisa buat ngumpet dong."


"Idihhhh enaknya duduk sambil nikmati gorengan sendirian".


"Hahahaha, kan habis ngangkatin barang-barang yang masuk, jadi istirahat dong sambil makan gorengan" kata Roy.


"Aku gak sendirian ya, tuh abang lo lagi tepar habis mindahin besi" tunjuknya pada Is.


Akupun lang berjalan ke bang Is yang sedang rebahan diatas tumpukan triplek.


"Bang" kata Fariel.


"Ngapain kesini, disuruh ngecek ya sama si bos" kata Is, yang masih dalam posisi tiduran.


"Bang gak pernah pulang apa."


"Gak pernah, kan rumah ku dijawa sana, istri dan anakku disana, masa pulang sebulan sekali, setahun cukup sekali atau dua kali, yang penting transferan jalan" kata Is.


"Nih buat beli rokok apa pulsa" kata Fariel, yang menyodorkan beberapa lembar uang.


"Gak usah, kamu simpen aja buat orang rumah" kata Is.


"Dah ada buat mereka, ini ambil, bang kan dah kaya abangku sendiri, suka bantuin orang tua ku juga, bahkan sering minjemin uang dan motor buatku sekolah dulu, jadi ini ambil ya" kata Fariel. yang meletakkan disebelahnya.


"Dibilang gak usah, aku juga sering dibantu Bapak Ibumu, masa aku gak bales kebaikannya, ini ambil lagi aja, aku masih bisa usaha sendiri" kata Is.


"Itu buat bang" kata Fariel.


"Kalau gak mau buat aku aja, aku ikhlas kok menerima nya" kata Roy.


"Ini kebanyakan" kata Is.


"Gak, itu gak banyak, kan bisa kirim buat anak di kampung, sapa tau pengen beli mainan atau apa" kata Fariel.


"Kalau kamu mau tuh plastik bungkus gorengan lo kantongin masukin ke dompet" ucapku pada Roy.


"Ini aku terima, tapi lain kali jangan lagi ya, ini makasih loh" kata Is.


"Iya" kata Fariel.


"Aku cabut dulu ya, mau ada perlu."


"Ada perlu apa ada sesuatu" kata Roy.


"Apa aja" kata Fariel.


"Dah sana yang mau ketemu sama calon, sapa tau tahun ini bisa makan daging gratis dan jenang" kata Is.


"Cocok itu, dah lama gak makan jenang" kata Roy.


"Hahahaha, ya dah aku duluan ya, permisi ya bang Is, Roy dan Pak Idin aku cabut dulu" kata Fariel.


"Dah sana" kata Idin.

__ADS_1


"Iya sana, jangan macem-macem" kata Is.


"Jangan lupa suruh peluk yang kuat, biar dapat genjulan" kata Roy.


"Dasar somplak otak lo" kata Fariel.


"Tenang bang aman, masih punya kesadaran dan iman yang kuat, kalau gak hilaf" lalu kabur lari sebelum dilempar paku sama bang Is.


Stelah mengecek lokasi lapangan kerja akupun langsung berangkat menuju rumah kos tempat bidadari canisku berada.


Sampai didepan gerbang seperti biasa langsung kuhungi lewat telpon kalau aku sudah ada didepan.


"Cami langsung masuk aja, tunggu didepan, nanti kuantarkan kopi" kata Tia, yang langsung mematikan lagi sambungan telpon ku.


"Kebiasaan, gak pake salam, langsung ngegas aja, duh" kata Fariel.


"Pak boleh saya masuk" ucapku pada satpam.


"Silahkan aja bang, dah biasa aja kok, masuk aja langsung, tapi jangan masuk dalam kos ya."


"Siap Pak, hanya nunggu didepan kok, duduk dikorsi depan itu" kata Fariel, tunjuk nya pada bangku kecil.


"Ya udah sana masuk aja, tapi aku awasi dari sini, jangan macam-macam ya, nanti saya lempar."


"Siap Pak, kalau gak hilaf aja" kata Fariel.


"Paling yang hilaf si sono yang suka main selonong aja, akukan sering lihat situ sama si ono no, si Tia."


"Hahahaha, Bapak tau aja, ya udah kalau gitu saya masuk ya Pak" kata Fariel.


"Iya, silahkan."


Akupun langsung mendorong motorku hingga dalam lalu turun menuju tempat duduk yang disediakan.


"Nih kopinya, sama nih seperti biasa mendoan hangat buat cami, canis mau mandi dulu, habis cami ditungguin lama banget, kenapa baru datang" kata Tia.


"Inikan belum jam sepuluh canisku ratuku sayang" kata Fariel.


"Cami habis lihat kerjaan cami sebentar tadi, ngecek."


"Ooh, kirain" kata Tia.


"Ini aja sebenarnya belum ngecek yang lain lagi, hanya lihat sebentar tadi, kalau gak ingat janji kan cami sampe nanti siang disana, cuma karena demi canisku tersayang apapun akan jadi utama buatku" kata Fariel.


"Aah so sweet banget sihhh, jadi makin bertambah rasa sayangku sama cami" kata Tia.


"Ah masa, berarti kemaren-kemaren rasa sayang canis sama cami hanya biasa-biasa saja dong" kata Fariel.


"Bukan gitu camiku sayang, canis dari dulu selalu sayanggggggg banget sama cami, dan sekarang makin sayangggggggggg banget nget nget pokoknya" kata Tia.


"iya deh iya, sana ah mandi, bau naga tu mulut kalo nyerocos mulu" kata Fariel.


"Ih cami mah gitu" kata Tia.


"Hah hah hah."


"Iya ya bau, belum gosok gigi lupa, hehehehe."


"Ya udah sana mandi yang lama biar wangi, tu mulut jangan lupa disikat pake sikat yang bener biar cepet bersih" kata Fariel.


"Ih cami mah" kata Tia.


"Ya udah canis mandi dulu ya, cami jangan kemana-mana, awas aja kalau kabur."


"Iya, palingan cami nanti hilaf masuk dalam kamar mandi kalau pas canis dah mulai mandinya" kata Fariel.


"Emang berani masuk" kata Tia.


"Berani lah, gak percaya, ayok kita masuk mandi bareng didalam" kata Fariel, sambil berdiri.


"Eeehh jangan, becanda kok mi, cami disini aja ya" kata Tia.


"Iya canisku sayang, dah sana masuk" kata Fariel.


"Hah" kata Tia, ke arah hidungku lalu kabur.


"Ihhh, bau naga ngences" kata Fariel.


"Hahahahahahaha" suaranya ketawa didalam.


Setelah dia pergi kedalam untuk mandi akupun langsung minum kopi dan menikmati hidangan yang tersedia di piring, yaitu mendoan hangat kesukaanku dari dulu.

__ADS_1


__ADS_2