Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Rasa yang aulit diartikan


__ADS_3

Waktu hampir menunjukan jam 22:00 dan aku mau istirahat melepaskan lelah, tapi baru menutup matanya ada telepon masuk.


Langsung kuangkat telepon nya dan kugeser tanda terima panggilan, langsung ku ucapkan.


"Halo Assalamu'alaikum, maaf siapa ya" kata Fariel, sambil berdiri dan jalan keluar kamar, takut ganggu yang istirahat.


"Waalaikumsalam, ini aku Ervida" kata Ervi.


"Ohhh, kirain siapa. Ada apa ya malam-malam nelpon, emang belom ngantuk" kata Fariel.


"gak ada apa-apa sih, cuman mau nepatin janji aja" kata Ervi.


"Janji apaan, yang mana ya" kata Fariel.


"Janji kemaren siang, kalau aku mau ngubungin abang, sekalian mau ngasih tau kalau ini nomerku" kata Ervi.


"Oh yang itu, iya nanti ku save ya" kata Fariel.


"Emang lagi ngapain nih dah malam-malam kekgini belum tidur".


"Lagi duduk-duduk nih, habis nonton drama favorit" kata Ervi.


"Ohhh" kata Fariel, jawab singkat.


"Kalau abang sendiri lagi ngapain nih" kata Ervi.


"Biasa ini lagi duduk-duduk sambil ngopi dan api-api, dingin banget alnya" kata Fariel, padahal yang ngopi orang lain.


"Ohhh, kenapa gak masuk dalam aja selimutan sambil tiduran" kata Ervi.


"Padahal tadi juga dah mau tidur, eh gak taunya ada telepon" kata Fariel, ucapnya dalam hati


"Belom ngantuk aja" bohongnya, padahal mah dah ngantuk walau cuman dikit.


"Ohh, aku gak ganngu kan" kata Ervi.

__ADS_1


"Gak kok, aman. Kenapa kamu belum tidur, dah malam nih, bukannya besok masuk kuliah" kata Fariel.


"Aku belom ngantuk aja nih, lagi banyak pikiran" kata Ervi.


"Namanya juga anak kuliahan, jadi banyak yang harus dipikirkan" kata Fariel.


"Iya sih" kata Ervi.


"Padahal mah ada rasa yang tak dapat kumengerti karena baru pertama kali kurasakan hal yang sedikit aneh ini" ucap dalam hati.


"Jangan terlalu dipikirkan, dibawa santai dan rilex, biar gak makin beban nantinya" kata Fariel.


Huhhhh suara nafas Ervi.


"Iya juga sih, makasih" kata Ervi.


"Iya, dah tidur terus dah malam nih, telepon nya kan bisa lanjut besok-besok" kata Fariel, sambil melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan jam 23:15.


"Iya, akupun dah ngantuk" kata Ervi, bohongnya.


"Iya sama-sama, bang juga istirahat ya" kata Ervi.


"Ok, Assalamu'alaikum" kata Fariel.


"Waalaikumsalam" kata Ervi.


Tut tut tut bunyi panggilan telah berakhir.


Akupun langsung masuk kedalam kamar untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda karena telepon.


Namun berbeda dengan ervida yang disana yang dari tadi mencoba memejamkan matanya namun tak pernah bisa diajak kompromi, yang ada hanya rasa gelisah.


Bahkan jam sudah menunjukan jam 03:30 tetap saja gak bisa tidur, bahkan sudah berbagai cara tetap matanya masih gak bisa dipejamkan.


"Kenapa aku ga bisa tidur sih" kata Ervi, sambil menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Rasa apa ini, kok begitu sakit dan nyesek didada".


"Aaahhhhh" teriak lumayan keras, hingga membangunkan bibi yang kerja di rumahnya terbangun.


"Kenapa nak Ervi" kata Bibi, langsung bangun dari tempat tidurnya.


Dari dulu memang dipanggilnya nak Ervi gak mau dipanggil Non, karena baginya kurang nyaman didengar, apalagi dirumah cuman tinggal berdua, sedangkan orang tuanya tinggal di desa sebrang yang dekat dengan tempat kerjanya.


Bibi langsung mengetok-ngetok pintu kamar Ervi.


"Nak kenapa, buka pintunya, biarkan Bibi masuk" kata Bibi.


Tapi gak ada sautan dari dalam, akhirnya Bibi masuk tanpa persetujuan dari pemilik kamar, karena pintunya juga gak pernah dikunci.


Ervi duduk dengan menjambak rambutnya dan sekali-kali juga memukul dadanya yang terasa sesak.


"Nak kenapa, jangan tarik rambutnya, dan jangan pukul-pukul dadanya Nak" kata Bibi, yang mencoba menenangkan


"Mana yang sakit Nak, cerita sama Bibi" kata Bibi.


Tapi Ervi hanya geleng-geleng kepala, memang gak ada yang sakit hanya sesak menahan rasa yang gak tau itu apa.


Bibipun memeluk erat dengan lembut sambil mengusap punggung Ervi.


"Dah ya Nak jangan sedih, yuk tidur lagi aja biar Bibi temenin" kata Bibi, sambil mengusap air matanya yang ikutan sedih melihat Ervi seperti ini yang baru pertama kali ia lihat sejak kecil hingga sekarang.


Ervi hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya dah, dibawa wudhu terus Shalat Tahajud biar sedikit tenang, yuk bibi juga mau Shalat" kata Bibi.


Ervi hanya menganggukkan kepala bertanda setuju.


Setelah beberapa menit melakukan Shalat akhirnya selesai dan sedikit tenang, dan kembali ke kasur untuk tidur ditemani oleh Bibi yang ikut tidur disampingnya.


"Sabar nak, bibi yakin nak Ervi bisa, karena Bibi yakin nak Ervi bukan orang yang lemah" kata Bibi, ucapnya pelan sambil mengusap mukanya dan merapikan rambutnya.

__ADS_1


Seteleh terasa tenang dihatinya dan tidur, Bibi pun ikut memejamkan matanya untuk ikut tidur sebentar, karena satu jam lagi akan datang waktu Shalat Subuh dan juga melakukan tugas sebagai pekerja di rumah ini, seperti memasak, beres-beres atau bersih-bersih rumah.


__ADS_2