
Disore hari masih terjaga tidurku dengan posisi yang masih sama yaitu tengkurap, dan air mata yang membasahi bantal.
Bahkan ketukan pintu yang beberapa kali diketuk pun tak membuatku untuk bangun atapun bergerak.
"Da, Uda" kata Fida.
"Uda kenapa, kenapa pintunya terbuka begini."
"Ini kenapa bajunya berserakan Da."
"Uda kenapa Ua" yang memungut bajuku.
"Astaga, Uda kenapa gak pake baju tidurnya."
"Ini hpnya bunyi terus Uda didalam baju Uda."
"Nyai keluar aja sana, aku butuh sendiri" kata Fariel.
"Oke, Nyai keluar, tapi Uda gak papa kan" kata Fida.
"Pakai bajunya Da" yang langsung keluar.
Setelah Fida keluar aku langsung mengambil HP dalam jaket yang tadi aku kenakan.
"Hallo" kata Fariel, tanpa melihat nama panggilan lalu merebahkan badanku lagi.
"Mi" kata Tia, dengan suara sesegukan yang mungkin sambil menangis.
"Cami, canis gak mau nikah sama yang lain."
"Kalau mereka gak merestui hubungan kita, lebih baik kita kabur buat kawin lari mi."
"Aku gak mau nikah tanpa restu mereka" kata Fariel.
"Kenapa cami gak jujur aja sama mereka, kalau cami itu kerja dikantor Papi cami" kata Tia.
"Kenapa cami malah bilang kalau cami hanya seorang kuli bangunan, kenapa mi."
"Emang kenapa kalau aku bilang seperti itu" kata Fariel, dengan sedikit suara keras.
"Emang semuanya seperti itu kan."
"Karena ini gak selamanya aku ada disini dan kerja disini terus, yang suatu saat pasti akan kembali seperti semula jika kita hidup didesa."
"Apa itu salah."
"Tapi kenapa cami seperti ini, cami marah sama canis sekarang" kata Tia.
__ADS_1
"slSuara cami kenapa seperti itu."
"Iya aku marah pada diriku ini karena terlahir dari orang biasa" kata Fariel.
"Kamu terimalah keputusan mereka, mungkin mereka benar, aku gak mungkin sanggup menafkahi mu."
"tlTapi aku gak mau mi" kata Tia.
"Aku hanya bahagia bersama cami."
"Tapi aku gak bisa buat kamu bahagia" kata Fariel.
"Aku gak punya apa-apa."
"Tapi kan kita pernah berjanji akan selalu bersama dan hidup dengan kesederhanaan, aku gak butuh uang cami, aku hanya butuh cami disisku" kata Tia
"Mi, bawalah aku mi pergi dari sini."
"Aku gak mau membuat masalah dengan keluarga mu" kata Fariel.
"Apa cami dah gak sayang lagi sama canis sekarang" kata Tia.
"Jawab mi jawab."
"Sayangku sama kamu gak bisa kuucapkan" kata Fariel.
"Kenapa mi kenapa."
"Apa cami gak mau memperjuangkan canis."
"Untuk apa berjuang jika mereka masih sama dengan keputusan mereka" kata Fariel.
"Bahagiamu bukan bersamaku, jadi lupakan aku."
"Aku gak mau, lebih baik aku mati jika cami gak ada buat canis" kata Tia.
"Terserah kamu, aku capek aku mau tidur" kata Fariel.
"Kalau cami beneran gak bisa jemput canis, canis yang akan datang kerumah cami, canis akan kabur dari rumah ini sekarang juga" kata Tia.
"Kamu gak usah bertingkah bodoh" kata Fariel.
"Aku pusing."
"Oke kalau cami masih seperti itu juga, canis bakal beneran kabur dari rumah" kata Tia.
"Aku harap cami mau menemuiku dan membawaku kemanapun yang cami mau buat hidup bersama."
__ADS_1
"Cami gak tau, cami mau tidur, dan berharap ini semua hanya mimpi" kata Fariel.
"Mi, aku mohon mi, aku gak akan mampu jika hidup tanpa cami disisiku" kata Tia.
"Aku hanya akan bahagia bersama cami."
"Jemput canis mi, canis mohon mi, buatlah canis bahagia mi."
"Bahagiaku bersama mu mi."
"Canis gak akan sanggup kehilangan cami."
"Canis hanya sayang sama cami seorang, gak ada yang lain."
"Aku mohon mi, canis mohon bawalah canis pergi dari sini."
Tiba-tiba terdengar suara.
"Heh dengar ya, anak saya udah saya jodohin sama yang lain, jadi jangan pernah hubungin anak saya lagi, dan nanti malam akan bertungan."
"Kamu ingat itu baik-baik."
"Mama kenapa sih harus merebut kebahagian astri, kenapa ma kenapa" kata Tia.
"Karena kamu itu gak pantas dengan dia" teriaknya.
"Yang menjalani itu Astri apa Mama" kata Tia.
"Astri bahagia sama dia bukan sama yang lain."
"Kenapa Mama selalu seenaknya mengatur kehidupan Astri, bahkan urusan hidup untuk kebahagian ku sendiri."
"Karena Mama gak mau punya mantu seorang kuli, apa kata teman-teman Mama yang menikahkan anaknya dengan seorang kuli yang gajinya sedikit."
"Emang Astri peduli dengan itu, Astri gak butuh harta, Astri hanya butuh kebahagiaan, yaitu bersama nya" kata Tia.
"Mama gak akan pernah merestui hubungan kalian sampai kapanpun itu."
"Kamu harap gak berhubungan lagi dengan dia, kamu akan Mama kurung dikamar sampai nanti."
"HP kamu akan mama sita."
"Kalau Mama masih seperti itu, lebih baik Astri mati saja" kata Tia.
"Berani kamu ngelakuin hal bodoh, jangan salahkan jika Mama berbuat salah keluarganya nanti, ingat itu Astri."
"Kamu dengar ya, jangan pernah hubungin lagi, jika kamu masih ingin hidup dengan keluarga mu dengan menikmati matahari dan memijak bumi" ucapnya padaku lalu mematikan sambungan telpon nya.
__ADS_1
Lalu aku langsung melempar hpku kedinding sembarang arah dan melanjutkan tidurku lagi sambil meratapi nasih yang terjebak cinta tanpa restu.