
Dimalam hari dimeja makan seperti biasa yang ngobrol bareng, ngomongin apa aja supaya selalu tetjalin komunikasi yang baik antar keluarga.
"Nak apa yakin besok kamu jadi pulang" kata Mami.
"Mas mau pulang" kata Ervi.
"Iya, besok jadi pulang rada siangan" kata Fariel.
"Alnya rumahnya dah selesai direnovasi atau dibuat ulang."
"Aku harus pulang menyelesaikan pembayaran para pekerja dan barang yang masuk yang harus juga ku lunasi."
"Sebenarnya Mami mau ikut, tapi Mami ada janji besok, tamu Mami mau lihat gaun yang baru" kata Mami.
"Papi juga sebenarnya juga mau ikutan, tapi besok Papi ada acara perkumpulan para pemegang saham" kata Papi.
"Sebenarnya juga kamu harus ikut, biar mereka tau kalau pemegang saham sekarang ada padamu."
"Kenapa harus aku yang jadi pemegang saham Pi, kenapa gak kak Fida atau Ervi" kata Fariel.
"Mami gak usah ikut gak papa, kalau Mami ikut, yang lain gak ikut, kan kasian yang ditinggal."
"Kan kamu dah pernah tanda tangan dan juga sekarang banyak yang tau tentang kamu ini" kata Papi.
"Iya aku pernah menandatangani, tapi kan gak harus aku yang jadi pemilik saham itu" kata Fariel.
"Gak papa, anggap aja itu hadiah dari kami dan sebagai ucapan terimakasih kasih karena mau jadi bagian keluarga ini" kata Mami.
"Iya uda, terima aja kenapa" kata Fida.
"Nyai kan masih ada penghasilan yang lain juga."
"Kamu kan cowok jadi harus lebih banyak pengahasilan nya karena tanggung jawab keluarga semuanya lebih banyak ke yang suami, jadi terimalah."
"Tapi" kata Fariel.
"Udah mas terima aja, kami semuanya ikhlas kok" kata Ervi.
"Asal mas gak pernah lupa dengan kami semua, yang menganggap mas kelurga."
"Kalian semua dah kuanggap keluarga ku juga, tapi bukan seperti ini yang aku mau" kata Fariel.
"Aku hanya ingin seperti burung yang terbang bebas, melewati rintangan dengan kemampuannya dan menjaga memberi makan anak-anaknya dengan kemampuan yang dimiliki, bukan seperti ini."
"Aku takut suatu saat aku tenggelam dalam kesombongan karena memiliki harta yang berlimpah, dan melupakan kailan semua."
"Kami semua percaya padamu nak" kata Mami.
__ADS_1
"Mami yakin kamu bisa, dan gak akan menjadi sombong."
"Makanya Mami selalu ingin kamu ada disini makan bersama setiap hari untuk melupakan lelah dan saling bercerita."
"Mas berapa hari pulang nya" kata Ervi.
"Rencana tiga hari, atau mungkin lebih" kata Fariel.
"Tergantung nanti bisa cepet selesai apa enggaknya."
"Kalau lama nanti adek nyusul kesana boleh kan" kata Ervi.
"Gak usah, adek kuliah yang bener" kata Papi.
"Bentar lagi ujianmu datang."
"Kalau nyai boleh ikut gak" kata Fida.
"Gak boleh, kalau adek gak boleh kakak juga enggak boleh" kata Ervi.
"Biar adil gak ada yang ikut ya" kata Mami.
"Iya bener kata Mami" kata Papi.
"Gak ada yang boleh ikut, cukup nak Fariel aja yang pulang."
"Iya, makanya setelah selesai melunasi, nanti rencananya akan ada sukuran gitu" kata Fariel.
"Hanya sukuran biasa aja, hanya ngundang tetangga untuk membacakan doa dan tahlil dan yang lainnya juga."
"Acaranya biasanya sore apa apa pagi" kata Papi.
"Biasanya sih malam setelah Isya" kata Fariel.
"Tapi gak tau juga nanti, bisa juga sore."
"Nanti Papi dan Mami nyusul kalau pekerjaan kami lagi bisa ditinggalkan" kata Papi.
"Iya Mami juga" kata Mami.
"Mami kan mau lihat hasilnya gimana, seperti apa bentuk yang sekarang."
"Sama aja kok Mi" kata Fariel.
"Hanya menambahkan satu kamar dan satu tempat buat Shalat dan dapur yang menjadi tertata jadi keliatan rapi."
"Ya dah nanti kalau uangnya kurang kamu telpon Papi dan Mami, biar nanti Papi transfer buat bayar kekurangannya" kata Papi.
__ADS_1
"Atau mau pake uang Nyai" kata Fida.
"Punya nlNyai jarang kepake, jadi kurasa masih sangat cukup dan banyak di ATM."
"Makasih buat tawarannya" kata Fariel.
"Aku mau pake uangku sendiri aja."
"Ini lebih dari cukup kok, bahkan kalau kuhitung-hitung lebih banyak."
"Kan setiap bulannya kumasukkan kedalam buku tabungan, jadi hanya sekitar duapuluh persen saja yang ku pake tiap bulannnya dari gajiku."
"Tapi Mami gak yakin" kata Mami.
"Kan gajimu dari Mami dan Papi gak sebanyak itu."
"Disana gak seperti disini Mi yang bayaran orang kerja tinggi" kata Fariel.
"Makanya yang kukerjakan orang situ semua tapi dah dijamin bagus dan sesuai walau bayarannya gak semahal disini."
"Bahkan seperti kayu, pasir, batu dan yang lainnya itu bedanya sangat jauh dibandingkan disini, makanya dah kuperhitungkan semuanya dari awal hingga akhir berapa habisnya."
"Bahkan dah kutanyakan juga sama kepala tukangnya."
"Dan dah memberikan catatannya padaku berapa yang harus ku bayar lagi kepada pekerja dan juga ke material."
"Papi harap kamu gak menolak, urusan material nanti Papi yang lunasin, kamu hanya lunasi para pekerja aja" kata Papi.
"Gak usah Pi, aku masih sanggup membayarnya" kata Fariel.
"Maaf bukan aku menolak niat baik Papi."
"Aku hanya ingin membangun rumah dari hasil kerjaku bukan dari bantuan orang lain."
"Karena akan terasa bahagia jika membangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri."
"Ya dah kalau kamu selalu menolaknya" kata Mami.
"Tapi Mami mahon jika kurang kamu harus hubungi Mami, kalau masih sayang dengan kami semua."
"Iya Mi" kata Fariel.
"Papi coba hubungi Pak Sal dan Pak Idin, mereka kan dari desa yang sama seperti nak Fariel, pasti tau tentang harga bangun rumah dan material" kata Mami.
"Besok Papi akan kesana menemuinya" kata Papi.
"Ya sudah kalau gitu" kata Mami.
__ADS_1