Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Hobi cemberut


__ADS_3

Aku hanya tersenyum melihatnya, dan akhirnya aku pun langsung tancap gas menuju tempat makan yang diinginkan nya yaitu makan ikan bakar.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya sampai ditempat yang di tujuan yaitu, Warung Ikan Bakar.


"Ayok turun, dah sampai nih" kata Fariel.


Dan Tia pun langsung turun, aku langsung menuju tempat untuk memarkirkan motor khusus roda dua. Setelah memarkirkan, langsung menuju bidadariku.


"Ayok masuk" kata Fariel, sambil menarik tangan Tia untuk mengikuti ku mencari tempat yang kosong dan nyaman untuk santai, yaitu dipaling pinggir atau pojok, biar mojok berduaan gitu maksudnya, takut nanti kambuhnya kembali lagi si bidadariku ini.


Setelah didapat tempat yang diinginkan kita pun masuk kedalam pondok, tak lupa pula lepas sepatu, karena duduknya itu lesehan tidak ada bangku hanya ada satu meja.


Setelah masuk dan duduk diatas tikar, pelayan makanan datang untuk menanyakan apa yang mau dipesan nya.


"Permisi, mau pesan apa Bang dan Kakaknya" tanyanya.


"Ikan bawal bakar minumnya kopi biasa pahit tanpa gula" kata Fariel, karena sudah terbiasa minum kopi tanpa gula, untuk menjaga kesehatan.


"Baik, kalau Kakaknya" tanyanya.


"Sama ikan bawal, minumnya teh hangat aja" kata Tia.


"Oke, tunggu sebentar ya bang dan kak, permisi" ucapnya lalu pergi.


Sambil menunggu pesanan datang kita ngobrol, karena dah pasti sedikit lama untuk menunggu pesanannya datang, apalagi kalau siang waktunya untuk makan siang pasti lumayan rame


"Yank" kata Fariel.


"Apaan" (Tia) yang sedang asik memainkan hpnya sambil menyenderkan kepalanya kebahu kiriku.


"Lagi ngapain sih, kok aku dicuekin" kata Fariel.


"Lagi balas chat dari dari Indah dan Nia, yang katanya juga makan disini tapi didalam mereka" kata Tia.


"Oh" kujawab singkat.


"Mana HP Abang" kata Tia.


Kuambil hp dalam kantong jaket lalu kuserahkan padanya.


"Nih, mau untuk apaan sih" kata Fariel.


"Mau lihat foto-foto yang tadi" kata Tia.


Langsung diambilnya HP ku dan membuka kunci HP lalu melesat ke album foto untuk dilihat-lihat.


Tia tersenyum ketika melihat foto yang satu ini, yaitu foto sedang makan buah apel berdua saling menyuapi. Tak lupa juga dikirim ke hpnya sendiri, lalu dibuat story di sosial media nya, dari WA, Facebook, dan Instagram dengan caption 'sweetheart'. Gak cuman di HP dia aja dia posting bahkan sosial media ku pun sama. Bahkan dengan caption calon Ibu dari anak-anak ku 'bidadariku sweetheart'. Aku yang melihatnya hanya menggelengkan kepala dengan tingkahnya yang lucu karena mungkin ingin memberikan pengumuman kalau sekarang sudah ada yang memilikinya.


Setelah beberapa menit mungkin pesanannya pun datang.


"Permisi, ini pesanannya, kalau ada yang kurang bilang biar nanti saya antar kemari" kata Pelayan.


"Gak ada kok, semuanya sesuai pesanan, kopinya gak pake gula kan" kata Fariel, untuk memastikan bahwa pesanannya sesuai apa yang di inginkan.


"Iya gak pake gula, kalau gitu saya permisi ya Kak dan Abangnya" ucapnya lalu pergi meninggalkan kita.


"Yang habis dipanggil Abang mukanya jadi cerah nih dengan senyuman mautnya" kata Tia, yang masih memainkan HP nya, sedang membalas pesan.


"Ada yang cemburu nih" kata Fariel, godanya.


"Engga, siapa yang cemburu" kata Tia, lalu mengerucutkan bibirnya.


"Oh gak cemburu tapi kok bibirnya manyun gitu" kata Fariel.


Bukannya jawab malah buang muka kesamping.


"Udah dong jangan ngambek, Abang kan cuman punya kamu seorang bidadariku sayang" kata Fariel.


Tia langsung melihat kearahku dengan tatapan seperti sedang menginterogasi ku.


"Udah dong ngambeknya, yuk makan, apa mau aku suapin Tuan Putri" kata Fariel, sambil tersenyum.


Karena gak ada jawaban langsung kuambil sendok dan menyendokan ikan bakar langsung.


"Aaaa" kata Fariel, menghadapkan sendok berisi ikan bakar kearah mulutnya, berharap dengan menyuapinya mode ngambeknya bisa berkurang.


Tia pun membuka mulutnya, aku tersenyum melihatnya kayak anak kecil yang sedang ngambek karena minta sesuatu. Akhirnya aku suapi lagi dan lagi sampai nasi dan ikan bakarnya tinggal setengah.


"Makan sendiri ya, Abang juga lapar, kamu maunya disuapin tapi gak mau nyuapin Abang" kata Fariel.

__ADS_1


Tia yang baru sadar langsung makin menundukan kepalanya karena malu dan merah mukanya dengan ucapan ku ini. Karena dari tadi asik dengan hp nya membalas pesan setelah menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Ayok makan, ini harus dihabiskan biar kuat ngambeknya nanti" kata Fariel. ucapku dengan berbisik.


Tia mengerucutkan bibirnya karena bisikan ku


"Aaaaa" kata Fariel, mencoba menyuapi lagi dengan tangan, karena lebih enak atau mudah makannya tanpa harus pakai sendok yang mungkin akan sedikit ribet karena harus menyendok ikan dan nasi. Walaupun ada sendok dan garpu yang juga disediakan, karena banyak disini yang makan tanpa menggunakan sendok, alias langsung pake tangan.


Tia yang tadinya mengerucutkan bibirnya langsung diam dengan mulut yang belum tertutup sepenuhnya.


"Kunyah dulu makanannya, nanti kusuapin lagi, makannya masih banyak, kalau kurang nanti pesan lagi" kata Fariel, dengan tersenyum dan mengangkat dagunya supaya tertutup.


Tia langsung mengunyah makanannya walau sangat lambat.


"Nah gitu dikunyah, jangan main telan langsung, tenang gak akan habis olehku sendiri, makanku gak banyak" kata Fariel, sambil mengusap rambut belakangnya dengan tangan kiri.


Dia menoleh kearahku dan makanan didepannya.


"Aku makan sendiri aja" kata Tia. setelah menelan makanannya.


"Aaaaa lagi, tenang aku dah cuci tangan kok jadi aman" kata Fariel.


Karena memang sudah cuci tangan di mangkok kecil khusus untuk cuci tangan yang disediakan bagi pelanggan yang akan makan.


Tia pun langsung membuka mulutnya lagi untuk menerima makanan yang akan masuk kemulutnya.


Setelah itu baru makan sendiri-sendiri setelah Tia cuci tangannya, karena dia juga makan langsung pakai tangan tanpa sendok.


Akhirnya selesai juga makannya, tinggal Tia yang belum selesai makan, karena masih banyak, karena sedari tadi yang dia makan itu makananku


Tiba-tiba.


"Aaaa" kata Tia.


Aku pun buka mulut sambil terheran-heran menatapnya.


"Kalau aku makan sendirian gak habis, jadi Abang juga harus ikut makan, tapi aku suapin gak boleh protes" kata Tia.


Aku hanya ngangguk sambil mengunyah makanan dalam mulutku.


Setelah beberapa kali suapan makannya pun habis.


"Cie yang habis suap-suapan" kata Indah, sambil memegang HP untuk merekam Tia yang menyuapiku dan tertawa bareng Nia.


"Iya dong, kita kan pasangan romantis, iyakan Pangeranku tersayang" kata Tia, sambil menyenderkan kepalanya di bahuku.


Sedangkan mereka hanya ketawa.


"Ngapain tuh hp, pasti lagi videoin kami iya kan, awas aja" kata Tia, karena melihat nia sedang mengangkat hpnya kedepan.


"Iya, kok tau, nih lagi live di ig ku, Tuan Putri dan Pangeran yang lagi suap-suapan" kata Nia, sambil menunjukkan hpnya kalau memang sedang live di ig.


Aku hanya geleng-geleng kepala melihat mereka, sedangkan Tia menunjuk Nia dengan jari telunjuknya.


"Awas nanti" kata Tia, dengan menunjuk Nia


"Tenang, ntar kukirim videonya, tenang aja sama kita-kita, sapa tau mau buat kenang-kenangan" kata Nia.


"Iya, pa mau sekalian video yang lagi suapan di kebun tadi siang, yang sedang makan apel" kata Indah.


"Kalian, ih nyebelin" kata Tia.


Mereka justru tertawa.


"Video yang main gendong kaya Putri dengan Pangerannya juga ada, biar kukirim nih" kata Indah, langsung mengirimkan video.


"Udah ku kirim tuh lewat WA lengkap dari awal kamu mau nem" kata Indah, namun dipotong duluan kata-katanya.


"Iiinnnnndahhhhhh" kata Tia, teriaknya sambil berdiri, membuat yang berada disekitarnya melihat kearah kita.


"Yang ini sudah kukirim juga ya" kata Nia, sambil mengankat kedua jarinya berbentuk V, lalu menarik tangan Indah dan lari untuk kabur sebelum Tuan Putri marah. Karena mereka juga sudah ditunggu sama pasangan mereka masing-masing. Karena tadi izin duluan mau gangguin Tia yang juga sedang makan disini juga ucap mereka ke cowoknya yang sedang menikmati minumannya.


"Dasar nyebelin" kata Tia, ucapnya yang masih lumayan keras.


Aku hanya tersenyum melihat mereka.


"Kenapa senyum-senyum" kata Tia.


"Ampun Ratu" sambil tersenyum dan memohon maaf dengan kedua tangan didepan muka.

__ADS_1


"Iiihhh sama nyebelinnya" kata Tia, sambil mendudukkan kembali lalu meminum teh hangatnya tapi dengan bibir yang mengerucut.


"Cup, cup, cup, maafkan Daddy mu ini yang membuat Mamimu ngambek ya sayang" kata Fariel, sambil mengelus perut nya sendiri.


"Iiiihhh apa-apaan sih, malu-maluin aja" kata Tia, yang sudah gak cemberut lagi karena melihatku yang mengelus perutku sendiri.


Aku malah tertawa karena berhasil mengerjainya.


"Makanya senyum dong, jangan ngambek mulu kan biar enak dipandang" kata Fariel.


"Iya Daddy sayang, maafkan Mamimu ini ya anakku" kata Tia, yang ikut-ikutan ngelus perutku ini.


"Perut sendiri dong yang dielus-elus, masa perutku" kata Fariel, ucapku sambil menaikkan alisnya dan tersenyum lebar.


"Nanti kalau dah waktunya" kata Tia.


"Emang waktunya kapan tuh" kata Fariel.


"Kalau sudah nikah" kata Tia.


"Emang nikahnya kapan" kata Fariel.


"Kalau sudah ada yang lamar aku, dan aku dah siap untuk nikah" kata Tia.


"Kira-kira kapan siapnya" kata Fariel.


"Kalau aku dah lulus dengan kuliahku ini" kata Tia.


"Oke, aku tunggu sampai kelulusan mu tiba" kata Fariel.


Tia hanya tersenyum kearah ku dengan senyuman manisnya, dan memelukku.


"Bentar, Bang belom Shalat Dzuhur, sayang pun belom, yuh kita jamaah" kata Fariel.


"Ayok Imamku" kata Tia, lalu tersenyum.


Kita pun keluar dari rumah pondok ini untuk membayar makanannya, dan bertanya tempat untuk Shalat dimana.


"Berapa totalnya, saya yang duduk di nomer 11 paling ujung" kata Fariel.


"Totalnya 165rb" kata kasir.


Akupun langsung menyerahkan uang dua lembar ratusan.


"Ini kembaliannya, terimakasih sudah makan disini" kata Karsir.


"Iya sama-sama" kata Fariel.


"Maaf apa ada tempat untuk Shalat. kalau ada dimana ya".


"Ada Bang, disebelah sana, samping kamar mandi" kata Karsir.


"Oke terimakasih" kata Fariel.


Hanya dibales dengan senyuman dan anggukan kepala.


"Ayok, apa mau digandeng apa gendong" kata Fariel, bisiknya.


"Jalan sendiri aja" kata Tia.


Akupun langsung menuju tempat yang tadi dimaksud oleh karsir tersebut. Setelah Wudhu langsung aku masuk kedalam tempat untuk shalat, dan menunggu bidadari surga yang lagi ambil air Wudhu.


Yang ditunggu pun nongol, lalu masuk dan memakai mukena untuk shalat yang sudah disediakan oleh pemilik warung.


"Dah siap" kata Fariel.


Diapun ngangguk bertanda siap untuk menjalankan Shalat Dzuhur Berjamaah, dan akupun pun langsung melaksanakan Shalat sebagai Imam.


Setelah beberapa menit akhirnya selesai dengan Jamaah dan tak lupa Dzikir walau hanya beberapa yang di baca, lalu berdoa dan tak lupa mendoakan kedua orang tua supaya diberikan kesehatan dan di limpahkan rejekinya.


Dan setelah selasai kita keluar, karena ada yang ingin Shalat juga.


"Ayok, ini mau langsung kesana" kata Fariel.


Hanya anggukan kepala sebagai jawaban sambil meminta di gandeng.


"Oke boss" kata Fariel, lalu tersenyum karena melihat tingkah laku macam anak kecil saja.


Kita pun berjalan ketempat memarkirkan motor sambil digandeng di lengan dan menyenderkan kepalanya yang membuat banyak mata melihatnya.

__ADS_1


Ayok berangkat setelah mengeluarkan motornya dari parkiran.


Tia pun langsung naik dan langsung melingkarkan tangannya dengan erat dan menyandarkan kepalanya dipundakku, membuat para cowo iri melihatnya dengan adegan ini.


__ADS_2