Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Ingin berubah


__ADS_3

"Ini rambutnya kenapa diginiin. Bagusan pun seperti biasanya, lurus gak kek gini" kata Fariel.


"Ini tuh keren tau, gaya baru" kata Tia, sambil memegangi rambutnya.



"Iya, tapi bagusan yang lurus menurut ku sih. Tapi demi Bidadari ku ini, semuanya tetap bagus dan cantik" kata Fariel.


"Mau mulai nih gombalnya" kata Tia.


"Gak ahh. Mau ngomong apaan sih. Jangan kelamaan ya. Gak enak sama yang lain. Cami kasih waktu 15menit ya, soalnya Cami sekarang gak bisa pulang telat nih" kata Fariel.


"Oke Camiku sayang".


Tia langsung tarik nafas terus dihembuskan


"Sebenarnya Bidadari mu ini cuma mau minta maaf atas sifatku yang kemaren yang suka marah-marah gak jelas sama Cami. Terus ngambekin cami gitu aja. Aku jadi kepikiran terus sampai gak bisa tidur. Seharusnya aku bisa ngertiin Cami juga, jangan cuman maunya diperhatiin terus. Apalagi cami kan kerja, kerjanya juga dari pagi sampai sore. Terkadang juga harus lembur, pasti Cami capek banget, jadi gak bisa ngabarin aku untuk kangen-kangenan lewat VC, jadi cami maafin Bidadarimu ini ya. Aku janji gak bakal ngambek lagi, marah lagi, cuekin cami lagi. Aku bakalan berubah, dan akan selalu ada disaat Cami butuh Bidadarimu ini. Jadi tolong maafin calon istrimu ini" kata Tia, ucapnya panjang lebar.


"Udah Cami maafin dari kemaren malam sebelum tidur. Karena itu juga salah Cami yang lupa ngasih waktu sedikit untuk Bidadari ku ini. Makanya pagi tadi Cami nelpon itu sebenarnya untuk minta maaf, tapi karena kamu juga baru sadar dari alam mimpinya makanya gak jadi cami minta maaf. Maafin Cami juga yang gak bisa ngasih waktu saat kamu butuh" kata Fariel.


"Dah sana pulang" kata Tia.


"Ngusir nih, kan masih ada waktu" kata Fariel.


"Dah sana, biar bisa istirahat. Cami harus jaga kesehatan" kata Tia.


"Oke. Gak pengen dipeluk dulu nih" kata Fariel, godanya.


"Gak. Dah cukup disuapin aja. Nanti takut gak bisa bobo cantik kalau dipeluk. Yang penting kangenku terobati, jangan lupa bayar ya" kata Tia.

__ADS_1


"Oke Canis" kata Fariel.


"Canis apaan, cantik dan manis" kata Tia.


"Calon istri" kata Fariel.


"Dah ah gombalnya, cepetan bayar" kata Tia.


Langsung ku hampiri penjualnya.


"Berapa Pak, bakso spesialnya dua" kata Fariel.


"Oh, 30 cuma Dek" ucap penjual.


"Ini Pak" kata Fariel, sambil menyerah kan uang Limapuluhan pada Bapak tukang bakso.


"ini Dek kembaliaanya, makasih" ucapnya.


Langsung ku hampiri si Canis.


"Udah yuk balik" kata Fariel.


Tia langsung melingkarkan tangannya dilenganku.


"Gak malu diliatin banyak orang, Pak satpam juga senyum-senyum tuh" kata Fariel.


"Viarin. Biar mereka tau kalau Cami itu cuman punyaku dan untuk aku selamanya" kata Tia.


Aku hanya tersenyum kearahnya.

__ADS_1


"Ya dah ini lepasin dulu tangannya, ini dah sampai dimotor. Apa mau diantar sampai dalam juga" kata Fariel.


"Gak usah. Lain kali aku mau dibonceng pakai ini, boleh kan" kata Tia, sambil berharap.



"Gak tau" kata Fariel.


"Kenapa" kata Tia, dengan sedikit kecewa.


"Gak papa. Boleh kok, tapi jangan cemberut, senyum dulu dong Canisku sayank" kata Fariel.


"Oke, janji ya"kata Tia, lalu tersenyum.



"Bah gitu kan enak dipandang, mana senyumnya bikin pengen lagi" kata Fariel.


"Bgaco, tunggu sampai waktunya" kata Tia


"Kan cuman pengen nyubit tuh pipi, gemes banget liatnya, iiiiiihhh" kata Fariel, sambil mencoba meraih pipinya Canis.


"Udah sana pulang, entar telat dimarah si bos" kata Tia.


"Oke" kata Fariel, lalu kupakai helmku dan kunyalakan motornya.


"Bentar" sambil menarik tangan kananku lalu diciumnya.


"Dada Camiku sayank" kata Tia.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk, dan langsung jalan menuju rumah.


__ADS_2