Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Marahnya Mami


__ADS_3

Ku duduk dimeja dan bangku yang tadi buat aku duduk, tapi kini hanya sendiri tak ada Mami, yang gak tau kemana dia perginya.


Sampai datanglah sapaan padaku yang sedang meletakkan kepala di meja.


"Heyyyy, jangan nangis dong" kata Dewi.


"Masa dah ganteng-ganteng kaya gini nangis sih."


"Malu dong."


"Masa ditinggal nikah langsung nangis begitu."


"Gak kok" kata Fariel, sambil menghapus airmata.


"Kalau gak nangis itu namanya apa, masa iya ada hujan disini" kata Dewi.


"Sah sabar aja napa, aku masih jomblo loh, sapa tau bisa jadi pengganti nya."


"Lo ngapain Wi disini" kata Fariel.


"Ya mereka juga bagian dari keluarga ku, kami masih sodara sama Astria" kata Dewi.


"Kok aku gak tau ya kalau lo itu ada hubungan sama sodara aku itu."


"Aku yang dari dulu suka sama kamu malah kalah sama sodaraku itu yang baru beberapa bulan aja."


"Kapan ya bisa dapatkan sahabatku ini buat jadi pasangan hidupku."


"Pasti Bapak sama Mama seneng banget kalau bisa dapatkan kamu."


"Gak kaya mereka yang suka menilai dari hartanya."


"Padahal harta bisa dicari."


"Kapan nih kerumah lagi."


"Bapak sama Mama kemarin ke tempat kamu loh di desa, mau lamarin kamu buat aku."


"Hah" kata Fariel.


"Gak usah kaget gitu napa, biasa aja lagi" kata Dewi.


"Iya kemarin tuh ya kami kerumah mu pas tau kalau kamu itu dah sembuh dari sakitnya dan aku baru tau kalau kamu sakit karena memikirkan dia."


"Terus aku bilang aja sama Bapak dan Mama kamu kalau aku suka sama kamu, mau jadi mantu Mama dan Bapkmu."


"Tapi mereka bilang keputusan ada ditanganmu."


"Maaf aku gak bisa membuka lembaran yang baru untuk wanita yang baru dihati ini, walaupun kamu itu dah kukenal sejak dari dulu, tapi kamu dah aku anggap sahabat aku sendiri" kata Fariel.


"Kamu kan jombo, nah pas benget tuh."


"Pas banget apanya, pas untuk kamu ya" kata Dewi.


"Bukan, tapi" kata Fariel.


"Karena kamu lagi jomblo terus Ibnu juga kayaknya jomblo, kalian kan pas, cocok lagi."


"Sapa tau bisa merubah keturunan."


"Wnak aja, itu namanya bukan merubah keturunan" kata Dewi.


"Masa sama Ibnu, kenapa gak sama kamu aja biar merubah keturunanku."


"Kan kamu tinggi putih, kan biar nanti keturunanku tinggi-tinggi dan punya kulit yang putih terus ganteng kaya kamu ataupun cantik kaya aku, kalau sama Ibnu mah."


"Itu namanya musibah."


"Kan buat memperbaiki keturunan Ibnu, biar anaknya bisa cantik dan putih" kata Fariel.


"Ah tega lo sama aku" kata Dewi.


"Masa sama Ibnu yang pendek hitam lagi, males."

__ADS_1


"Sapa bilang hitam" kata Fariel.


"Dia hanya kurang mandi aja, sama kurang perawatan kulit makanya gak putih, coba nanti kalau dah nikah pasti putih dan bersih, kan dia anak kos yang lagi kuliah ya maklum aja kalau kulitnya agak hitam karena jarang mandi terus suka panasan."


"Gak deh males, mending sama kambing" kata Dewi.


"Amin Ya Allah Amin" kata Fariel.


"Ihhh tega banget sih, nyebelin" kata Dewi.


"Malah ketawa lagi, perasaan tadi nangis kayaknya deh."


"Jadi kapan kalian nikahnya, biar nanti aku yang jadi saksi atau jadi tukang foto kalian gak papa lah, anggap aja sebagai hadiah buat kalian biar gak nyewa tukang foto kan" kata Fariel.


"Daripada sama kambing kan lebih baik sama Ibnu, cocok banget tuh."


"Gak ya, gak mau" kata Dewi.


Saat sedang ngobrol dengan detwi tiba-tiba ada suara yang gak asing ditelingaku.


"Langsung aja gak perlu pake Assalamu'alaikum" kata Mami.


"Saya disini berdiri disini untuk anak saya yang tadi ada disini menyumbangkan lagu, atau yang mungkin kalian belum tau kalau anak saya satu itu juga bakal saya jodohkan, gak cuma kalian yang bisa semena-mena malakukan pada anak saya yang seperti sampah."


"Ingat kalian masih punya hutang yang cukup besar pada anak saya, bahkan rumah ini telah menjadi jaminannya."


"Jadi saya minta tinggalkan rumah ini, saya kasih waktu seminggu untuk mengemasi barang kalian."


"Dan ingat kalian telah menghina anak saya dan menolak anak saya yang kalian anggap anak saya hanya orang miskin seperti pengemis atau sampah saat itu dan yang tadi."


"Aku sanagat kecewa dengan keluarga ini, kalian yang sudah kuanggap sebagai sahabat saya dan pekerja yang jujur tapi nyatanya malah melakukan kesalahan dan mengambil uang perusahaan anak saya tanpa batas wajar."


"Karena anak saya yang meminta untuk tidak memecat Pak Slamet atau Sam dan mengembalikan uangnya hanya delapan puluh persen, maka saya serahkan sama anak saya sendiri urusan kalian di perusahaan."


"Tapi ingat kalian harus segera meninggalkan rumah ini."


"Ini bukan lagi rumah kalian, sebelum kalian membayar hutang kalian dengan lunas, maka rumah ini akan kami sita, batas kalian hanya enam bulan."


"Aku gak ada urusannya denganmu, tapi jika kau melakukan kesalahan di tempatmu bekerja, jangan salahkan saya kalau langsung melempar mu keluar, karena itu bukan perusahaan mu, tapi punya saya, punya anak saya."


Langsung suara para tamu langsung riuh begitu mendengarkan apa yang Mami ucapkan, begitupun dengan orang tua Tia yang juga syok begitu tau kalau menantu yang mereka idam-idamkan bukan pemilik perusahaan alias hanya pegawai diperusahaan yang diberikan kepercayaan.


"Saya minta diam dan tenang, karena masih ada lagi yang mau saya sampaikan" kata Mami.


"Rumah yang kamu tempati itu bukan milikmu juga, itu milik anak saya, dia yang membangunnya dari nol dengan jerih payahnya."


"Silahkan kamu keluar dan bawa keluarga mu dari rumah itu juga."


"Rumah untuk mu sebagai kado dari anak saya karena kamu bekerja untuk nya, maka kami memberikan kado untukmu dan keluargamu, terutama buat istrimu yang mungkin masih disayangi oleh anak saya sampai saat ini."


"Pengawal mana kunci beserta berkas dan surat tanah" yang memanggil pemgawal.


"Kamu kasihkan langsung sama mereka, berikan semuanya."


"Masih ada lagi, kamu hanya bolah libur selama seminggu, setelah itu harus kembali bekerja, karena hutangmu tidak sedikit."


"Hutang yang kamu pinjam sama suami saya hampir setengah milyar untuk biaya kamu ini."


"Dan kamu ibu Tia, kamu masih ada urusan sama juga."


"Kamu mungkin lupa atau pura-pura lupa."


"Kamu pernah meminjam cincin, kalung, dan gelang emas milikku untuk kau pamerkan ke teman-teman arisan mu."


"Sampai saat ini kau belum mengembalikan satupun."


"Itu terserah denganmu, mau dikembalikan atau ya aku anggap itu kado buat bantu acara pesta inilah."


Aku yang mendengar langsung berjalan kearah Mami, takut nanti akan lebih banyak lagi kata yang tetucap yang membuat keluar Tia malu.


"Mi sudah Mi, lebih baik kita pulang yuk" kata Fariel.


"Mami belum selesai ngomong" kata Mami.

__ADS_1


"Mami gak mau kamu itu dijelek-jelekan sama mereka semua dan dipandang sebelah mata."


"Udah Mi udah, aku gak papa" kata Fariel.


"Mohon maaf semuanya apa yang telah dilakukan Mami saya, saya mohon dimaafkan."


"Yuk kita turun."


"Kalian ingat ya" kata Mami.


"Udah Mi udah" kata Fariel.


"Nanti uang Mami biar aku yang ganti, emas Mami yang hilang biar aku yang ganti, ya Mi, sekarang kita turun dan pulang, jangan bikin malu, dan acara ini kacau."


"Kalau bukan karena anak saya, kalian akan malu semalu-malunya" kata Mami.


"Karena masih banyak yang aku tau dari kalian semua."


"Untuk anak kalian Tia, dia gak bersalah hanya kalian yang salah."


"Sia akan tetap ku perbolehkan tinggal di kos selamanya gratis diasrama putri, dan boleh pindah kos ke kos khusus yang sudah nikah juga gratis gak perlu bayar tagihan selama dua tahun, anggap aja itu kado dari saya dan keluarga saya."


"Udah Mi udah ayok" kata Fariel.


Kemudian ada sepasang suami istri yang memohon kepadaku dan Mami, dia orang yang sangat berharga juga dalam keluarga ku.


"Bu, nak mohon maafkan keluarga saya, dia kakak saya juga, maafkan kesalahannya" kata Abdul.


"Aku siap mengurangi beban hutang yang mereka punya."


"Gak usah Pak, kalian sudah kuanggap keluarga juga, Dewi sudah kuanggap adik saya juga, kalian keluargaku, ini urusan mereka" kata Fariel.


"Bapak gak usah takut, kami gak akan melakukan tindakan yang jauh kok."


"Kami masih punya hati nurani juga."


"Mohon bantuannya ya nak, mereka keluarga ku, juga mertuaku" kata Mama Dewi.


"Iya, Ibu tenang aja, kami gak akan melakukan pada mereka, tapi ini urusannya dengan Ibu dan Bapak Tia, kalian gak usah cemas, pasti baik-baik saja gak akan ada yang buat terluka" kata Fariel.


"Kami permisi dulu, saya dan Mami mau pulang."


"Assalamu'alaikum, jaga kesehatan kalian, dan jangan lupa mampir kerumah, kalian dah aku anggap Ibu dan Bapak ku juga."


"Iya nak makasih" kata Mama Dewi.


"Waalaikumsalam, Hati-hati" ucap berdua.


"Yuk Mi kita pulang, jangan bikin pesta ini kacau berantakan" kata Fariel.


"Kasian mereka, hari bahagianya hilang karena Mami."


"Maafin Mami nak, Mami hanya emosi saja saat melihat kamu di usir begitu dengan kata sampah" kata Mami.


"Hati Mami langsung terluka mendengarkan kata itu."


"Maafkan Mami ya nak."


"Iya Mamiku sayang, yang tadi bawel marah-marah" kata Fariel.


"Kita pulang aja yuk, tadi papi sama yang lain sudah kukabari buat pulang aja, karena kami juga dah dijalan pulang."


"Iya ayok, tapi mampir ya kebutik Mami ngambil barang Mami disana" kata Mami.


"Siap nyonya" kata Fariel.


"Ihhh anak Mami yah" kata Mami, sambil tersenyum.


"Ayok kita lets go."


"Lets go ratu" kata Fariel, dengan tersenyum walau hati teriris.


Dan kami langsung keluar dari acara pesta dengan dibantu pengawal mrami, supaya gampang untuk lewat dan masuk mobil karena banyak para wartawan yang ingin menanyakan tentang yang tadi yang mungkin akan menjadi tranding topik mulai hari ini.

__ADS_1


__ADS_2