
Dokter langsung memeriksa ku sambil menunggu asistennya datang untuk membantunya
setelah datang asistennya dengan membawa beberapa alat madis untuk membantu memompa detak jantung.
Sedangkan diluar kamar semua orang panik dan menangis sambil saling berpelukan dan juga tak henti-henti mengucapkan do'a.
"Yaallah" kata Bapak, yang memeluk Mama dan Mama kembali pingsan.
"Mama" kata Ervi, yang melihat mama merosot dalam pelukan Bapak.
"Kita angkat kekamar Ervi yang dekat" kata Papi.
Baru mau mengangkat Mama kembali dekejutkan.
"Mamii" kata Papi, yang juga dipeluk Mami tapi Mami melepas kan pelukan nya dan ikut pingsan juga.
"Mamii" kata Fida, yang juga sambil memenangi perutnya yang kembali nyeri lagi.
Lalu Papi teriak meminta tolong.
"Bibi tolong panggilkan semua yang ada didepan cepetan" kata Papi.
Dan yang mereka datang ada Pak Ari dan Dani yang langsung membantu mengangkat Mama dan Mami ke kamar Ervi.
"Kenapa lagi Tuhan" kata Papi.
"Cobaan apa lagi yang kau berikan pada kami pada keluargaku."
"Yaallah lindungilah keluargaku" kata Bapak.
"Jika kami ada salah besar, jangan kau lakukan pada mereka, lebih baik aku aja, aku siap menerimanya."
"Japi jangan mereka, aku gak sanggup melihatnya dan merasakan kehilangan."
"Bapak yang sabar, kita Do'akan untuk mereka supaya baik-baik saja Pak" kata Ervi.
"Papi juga harus sabar Pi, kita berdoa meminta yang terbaik pada Tahun. L"
"Kakak tiduran dibawah kak, diatas matras 'tikar', biar sakit kakak bisa reda" yang sebenarnya juga sangat panik.
Setelah sejam lebih mereka pingsan kini mulai sadar dan diperiksa oleh Dokter.
__ADS_1
"Gimana Pak, dengan anak kita" kata Mama.
"Mama yang sabar ya Ma, anak kita baik-baik saja, hanya" kata Bapak.
"Hanya apa Pak" kata Mami, yang juga ada disebelah Mama.
"Jawab Pak, tapi apa" kata Mama, dengan menangis.
"Anak kita harus diberi alat pembantu detak jantung atau pemompa jantung" kata Papi.
"Supaya detaknya bisa terjaga."
"Kalau di lepas apa akan" kata Mama, yang langsung menutup mulutnya.
"Aku gaj rela, aku gak rela" yang langsung menangis sedikit lebih keras.
"Mama yang tenang" kata Bapak.
"Aku mau lihat anak Mama" kata Mama.
"Mama lebih baik istirahat dulu, Mama butuh istirahat" kata Ervi.
"Mami juga ingin melihat Nak Fariel" kata Mami.
"Gak, Mama gak mau istirahat sebelum melihat anak Mama" kata Mama.
"Kalau Bapak gak mau ngantar Mama, biar Mama sendiri aja" yang sudah duduk.
"Mami juga akan melakukan hal yang sama dengannya, jika Papi gak mau bantu Mami" kata Mami.
Akhirnya Mama dan Mami diantarkan ke kamarku melihat keeadaanku dengan dibantu mereka begitu juga Fida yang juga ikutan ingin melihat ku.
Sampai dikamar Mama, Mami dan Fida langsung syok begitu melihat kearahku yang dipasangi beberapa alat yang menempel di tubuhku.
"Gak mungkin, ini gak mungkin" kata Mama, yang terjatuh dengan lutut sebagai tumpuan.
"Ini pasti mimpi."
"Anak Mama gak seperti ini, anak Mama itu kuat."
"Ini semua hanya bohong" kata Mami, yang terduduk dilantai.
__ADS_1
"Aku gak percaya, ini terjadi" sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa uda kenapa" kata Fida.
"Kenapa uda seperti ini lagi."
"Kasian dedek Da, kasian dedek bayi."
"Tadi sudah ceria melihat uda membuka matanya, tapi kenapa uda kembali memejamkan matanya dan malah seperti ini."
"Uda jangan ngeprank nyai."
"Nyai nyerah, nyai gak sanggup" yang menangis menyentuh beberapa alat yang menempel didadaku.
"Ini pasti sakit."
"Lebih baik nyai yang seperti ini jangan udaku."
"Nyai siap jadi pengganti nya, asal uda kembali normal lagi, nyai siap."
Ervi yang melihat mereka seperti ini langsung ikut terpuruk duduk di sebelah kakiku.
"Apa mas gak akan kemabli lagi" kata Ervi.
"Apa mas memang gak ada buatku."
"Apa mas memang hanya untuk dikenang."
"Apa mas hadir hanya untuk meninggalkan luka pada hatiku yang gak bisa memiliki."
"Kalau mas memang diciptakan untuk ku dan juga yang lainnya, kembalilah mas."
"Tapi jika mas diciptakan bukan untukku dan yang lain, kembalilah ke sisi-Nya."
"Walau harus terluka karena mas meninggalkan kami semua yang sayang dengan mas."
"Tapi jika nanti mas terlebih dahulu pergi, maka aku tak akan pernah membuka hati ku untuk yang lain, karena hati ini ini sudah terkunci untuk mas."
"Dan aku berharap kita bisa disatukan disurga nanti."
"Makasih atas kebahagian yang mas berikan padaku."
__ADS_1
"Makasih."