
Dimalam hari aku masih tertidur dengan tengkurap sambil meratapi keadaan.
"Assalamu'alaikum anak Mami" kata Mami.
Aku hanya diam saja tanpa jawaban.
"Nak Mami mau bicara sebentar apa boleh" kata Mami.
"Hmmm" kata Fariel.
"Kamu kenapa, cerita sama Mami, cerita sama Mami sini" kata Mami.
Aku hanya menggeleng.
"Mami mau kamu jemput adek dirumah ya, bujuk adek untuk pulang kerumah besok ya, hanya kamu yang bisa nak membujuknya" kata Mami.
"Kenapa lagi ini Tuhan" kata Fariel, ucapku dalam hati.
"Nak apa kamu ada masalah sama calon kamu nak, bicaralah sama Mami, biar Mami bisa bantu" kata Mami.
"Gak usah Mi, ini masalahku sendiri dengan keluarganya bukan urusan Mami" kata Fariel.
"Mami gak usah ikut campur" ucapnya pelan.
"Tapi nak, Mami hanya ingin melihat anak-anak Mami itu bahagia" kata Mami.
"Kenapa kamu gak pake bajumu, ini dah malam bahkan kata kakak kamu dari tadi hanya tiduran mulu belum ada bangun dan makan semenjak pulang."
"Kenapa nomor kamu gak bisa mami hubungi."
"Gak tau, mati kali hpnya" kata Fariel.
"Astagaaa, kenapa HP kamu hancur nak" kata Mami, yang melihat kearah samping dan mendapati HP yang hancur.
"Mami gak mau lihat kamu sedih nak" dengan meneteskan air matanya.
"Mami gak mau kehilangan anak Mami lagi."
"Kamu cerita sama Mami, biar Mami tau masalahmu nak."
"Gak perlu Mi" kata Fariel.
"Tapi Mami mau tau nak" kata Mami, yang sambil duduk disampingku.
"Kamu habis nangis, pasti ada masalah, cerita sama Mami, Mami mohon."
"Mami gak bisa melihat anak Mami menagis."
__ADS_1
"Aku gak papa" kata Fariel.
"Jangan buat Mami ikutan sedih nak, apapun keinginan anak-anak Mami, pasti akan Mami lakuin asal anak Mami bahagia" kata Mami.
"Mami gak ingin larut dalam kesedihan karena kehilangan kebahagiaannya" yang langsung merebahkan badanya disampiku lalu mengusap-usap punggung dan rambutnya.
"Mami ingin melihatmu seperti biasanya kamu tersenyum."
"Ayo cerita sama Mami."
"Biarkanlah Mi ini menjadi kenangan hidupku yang pahit, aku harap Mami bisa membantu ku melewati semua ini" kata Fariel.
"Aku mau pulang ke kampung besok pagi."
"Mami gak akan izinin kamu pulang jika kamu masih sepertinya ini" kata Mami.
"Mami gak mau nanti Bapak dan Mamamu melihatmu sedih seperti ini."
"Kami semuanya sayang sama kamu nak, jangan buat kami ikut bersedih karena kesedihan mu ini."
"Kasian kakakmu diluar, dia dari tadi juga ikut menangis yang melihatmu seperti ini, yang marah-marah dengan membanting sesuatu yang mungkin hp mu yang kamu banting."
"Ayok cerita sama Mami" yang memelukku.
"Apa aku salah jika terlahir dari seorang anak petani" kata Fariel.
"Gak ada yang salah, justru harusnya bangga, karena petani itu pekerjaan yang lebih bagus dan lebih halal, karena hasil dari kerja kerasnya dan menguras keringat" kata Mami.
"Gak ada yang salah juga, selama itu bekerja dengan baik dan halal" kata Mami.
"Apa aku salah jika mencintai seseorang anak yang lebih jauh dari segalanya dariku yang gak punya apa-apa" kata Fariel.
"Gak ada yang salah juga, semuanya dimata Tuhan itu sama, harta hanya titipan" kata Mami.
"Apa ini semua ada hubungannya dengan hubunganmu."
Aku hanya menganggukan kepalanya.
"Ayok cerita sama Mami lagi" kata Mami.
"Apa aku akan salah jika aku membawanya kabur dari rumahnya dan kawin lari" kata Fariel.
"Itu salah besar nak, itu gak boleh dilakukan hal macam itu, itu gak baik" kata Mami.
"Ingat ya nak, restu itu penting, karena restu itu adalah doa dan Tuhan akan memberkahi semuanya jika hubungan ada restu" kata Mami.
"Jika hubungan tanpa restu maka Tuhan akan marah sama kita."
__ADS_1
"Tapi aku sayang" kata Fariel.
"Ingat nak, jangan pernah berbuat nekat, biarlah yang terjadi, Do'akan semoga dia bahagia, berusaha lah untuk ikhlas, nanti Mami akan bantu" kata Mami.
"Sekarang kamu bangun dan makan ya."
"Gak lapar Mi" kata Fariel.
"Tapi kamu belum makan dari siang loh, bahkan kakak nungguin kamu dibawah buat makan bareng" kata Mami.
"Apa mau Mami bawa kemari makanannya."
"Gak usah Mi, aku lagi gak nafsu makan" kata Fariel.
"Ehh gak boleh gitu, anak Mami harus makan biar tetap sehat dan kuat menjalaninya, tunjukkan pada mereka kalau kamu bisa bahagia, dan tunjukkan kalau kamu ini bisa sukses walau hanya seorang anak petani biasa, tunjukkan pada mereka" kata Mami.
"Ayo semangat meraih kebahagiaan."
"Banti biar Mami bujuk Papi biar bisa ikut bantu kamu, sekarang jangan sedih terus, Mami gak bisa lihat kamu seperti ini nangis terus."
"Masa dah besar nangis hanya karena cinta tanpa restu, malu dong sama tubuhmu yang besar ini."
"Dah ya nangis nya, nanti otot-otot nya malah jadi lembek dan lunak karena kamu nangis gini."
"Yang tadinya ototnya seperti kawat jadi berubah seperti karet gelang."
"Ihh Mami" kata Fariel.
"Dah dong, baju Mami basah nih karena kamu, liat tuh" kata Mami.
"Loh kok malah makin nangis."
"Cep cep anak Mami yang dah besar jangan nangis ya cep cep bayi gede Mami diem dong."
"Eeeee Mami" kata Fariel.
"Ya dah nangis sesuka hatimu, biar semuanya cepet berlalu kesedihan dan sakitmu itu, nangis yang kuat pun Mami bolehin" kata Mami.
"Tapi jangan teriak ya, ntar kuping Mami pecah, biasa aja nangisnya, Mami gak akan pergi Mami disini aja."
"Ayok nangis lagi, Mami mau denger bayi laki-laki Mami nangis, dah lama gak dengar bayi laki-laki nangis, Mami dah lupa suaranya."
"Eeee Mamiii" kata Fariel.
"Cep cep cep cep" kata Mami sambil mengusap-ngusap punggungku.
"Ya dah Mami diem, kamu lanjutin kesedihanmu hari ini, buang semua kesedihan mu hari ini dengan airmatamu ini."
__ADS_1
"Mami juga mau ikut nangis, biar kamu ada temennya buat nangis juga."
Lalu menangis tanpa suara.