Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Curhat Bapak-bapak


__ADS_3

"Bapak kok cuman berdua sama Papi, Mama sama Mami mana" kata Fida.


"Biasa mereka lagi pada dikamar atas tempat anak kesayangan nya" kata Bapak.


"Ooh" kata Fida.


"Kenapa Bapak gak ikutan gabung disana."


"Disana cuman jadi obat nyamuk doang, mereka asik jagain anaknya, Bapaknya kagak" kata Bapak.


"Sing sabar Pak, kasih waktu nya buat Uda Fariel Pak" kata Fida.


"Papi mukanya biasa aja, gak usah mengkerut gitu dibuatnya."


"Emang ni muka dah kisut, kok dibilang dibuat-buat" kata Papi.


"Oh iya ya, Papi kan emang dah tua, dah mau punya cucu ya" kata Fida.


"Nah tu tau" kata Papi.


"Tapi Papi gak lagi ngambekan kan sama Mami gara-gara meluk Dokter" kata Fida.


"Gak dong, masa cemburu Dokter yang masih keliatan muda, mana mau tuh Dokter sama Mami kamu yang dah mulai kisut kulitnya, Dokter nya aja dah punya istri cantik" kata Papi.


"Ya mana tau kan" kata Fida.


"Kenapa kamu gak ikutan sana biar para Ibu-ibu berkumpul dikamar atas" kata Papi.


"Emang diatas ada sapa aja Pi, Ervi diatas juga" kata Fida.


"Fak tau, mungkin juga ada disana, kan tau sendiri adekmu kekmana sama masnya" kata Papi.


"Oke deh kalau gitu Fida main ke atas ya Pi, Pak" kata Fida.


"Iya sana" kata Bapak.


"Ya sana, kami mau curhat berdua khusus Bapak-bapak, jadi Ibu-ibu gak boleh ikutan" kata Papi.


"Iya deh iya, yang mau bahas bantal guling" kata Fida, sambil berjalan.


"Anak tega sama Papi kok gitu" kata Papi.


"Hahaha, sabar Pi, semangat ya berjuangnya nanti" kata Fida.


"Tuh anak saya seneng banget kalau lihat Papinya lagi begini" kata Papi


"Ya sama kek Akhmad, dia juga suka begitu kalau lihat Vapaknya lagi kurang kasih sayang sama Mamaknya, bahkan cuman diketawain gak dikasih semangat" kata Bapak.


"Berarti nasib kita sama ya dicuekin lalu diketawain sama anak" kata Papi.


"Iya, tapi gimana lagi, namanya anak gak mungkin kita marahin, mungkin sayangnya kepada orang tua itu dengan sambil becanda biar kita bisa senyum kalau lagi ada masalah mungkin" kata Bapak.


"Iya sih, tapi kadang bikin sebel aja sih" kata Papi.


"Oh iya gimana kebun."


"Ya masih sama, hanya gak ada yang ngutip atau metik kopi aja sih, padahal dah mulai rontok karena dah merah dan waktu nya buat di petik, tapi anak lebih penting daripada kebun" kata Bapak.


"Iyalah mau gimana juga anak itu utama, kan anak penerus kita dan tanggung jawab kita juga, kalau harta kan bisa dicari" kata Papi.


"Apa gak ada yang bisa bantuin gitu buat metik kopi."


"Ya ada tapi hanya tiga orang saja, itupun kalau gak mereka metik punya sendiri, kan mereka juga pada punya kebun sendiri" kata Bapak.

__ADS_1


"Apa lagi punya Nak Akhmad yang kopi muda, lagi banyak-banyaknya sekarang, jadi dah pasti rontok karena gak ada yang ngutip."


"Ya dah nanti kalau dah agak lebih baik kalian pulang saja, biar Akhmad tanggung jawab kami disini, kalian gak usah mikirin apapun karena kami semua menyayanginya, bahkan Mami aja sampe seperti itu terhadapnya yang gak ingin kehilangan nya sampe jatuh pingsan hanya melihat Akhmad yang kejang-kejang kemarin" kata Papi.


"Sebenarnya kami ingin meninggalkan Akhmad disini, tapi kami gak ingin terlalu lama dan terus menerus merepotkan kalian semuanya dari waktunya dan semuanya hanya untuk anak saya ini" kata Bapak.


"Takut gak bisa membalas kebaikan kalian nanti, dan takut nanti jadi kacang lupa kulitnya."


"Kami gak merasa direpotkan atau apalah yang membuat Pak Ahmad merasa gak enak pada kami, kami justru berterimakasih pada keluarga kalian yang mengizinkan Nak Fariel ada disini" kata Papi.


"Karena sejak adanya Fariel disini keluarga ini kembali hidup lagi, bahkan Ervi yang biasanya jarang ada dirumah ini, suka tidur dirumahnya yang disana sekarang justru malah ingin selalu ada disini, dan biasanya juga setiap tahun minta motor baru, tapi sekarang gak ada minta sejak Anak Bapak menasehati nya."


"Nak Ahmad dah kami anggap keluarga saya juga, walaupun bukan anak kandung dari kami tapi dah kami anggap seperti anak kami sendiri, walaupun susah anak Bapak dikasih sesuatu selalu nolak, tapi kami semua berusaha supaya anak Bapak itu mau menerima yang kami berikan padanya karena kami menyanyangi nya seperti anak kandung kami sendiri."


"Itu anak dari dulu memang seperti itu, susah kalau kita kasih sesuatu, yang ada malah marah sama Bapak dan Mama kalau kami berikan sesuatu" kata Bapak.


"Padahal Bapak sama Mama kan ingin ngasih sepeda baru seperti anak-anak yang lain, eh malah ngambek minta dikembalikan sepeda nya diganti yang bekas aja yang murah tapi masih layak, kan aneh."


"Iya ya aneh juga, kalau anak lain malah minta yang baru, lah ini malah minta yang bekas" kata Papi.


"Motor dia aja beli dari hasil dia sendiri, orang tua gak boleh ikut campur buat beli, uang orang tua itu ditabung buat naik haji aja katanya, biar beli sendiri aja pake uang sendiri walaupun nyicil dengan cara bayar tenaga" kata Bapak.


"Ohh, berarti dia dah mandiri dari dulu ya Pak" kata Papi.


"Iya sejak masih sekolah kelas dua SMK atau kelas satu dia dah beli motor sendiri dari hasil setiap pulang sekolah nanam cabe sama setiap libur kerja ditempat orang" kata Bapak.


"Wah saya bener salut sama anak Bapak ini, bener-bener bangga kalau punya anak seperti ini" kata Papi.


"Iya, tapi aku merasa jadi orang tua itu kurang perhatian sama anak, karena keperluan dia selalu dia sendiri yang ngurus, apa yang dia mau dia usaha sendiri gak ada minta bantuan ke kami, dan kalau kami taupun dan mau kami bantu dia selalu bilang jangan ikut campur ini urusanku sendiri biar aku urus sendiri dan usaha sendiri biar bisa mandiri, gak mau bikin beban kami" kata Bapak.


"Padahal kami juga sudah beberapa kali memberikan hadiah karena sering dapat pringkat terbaik dikelas nya dengan memberikan motor biar sekolah gak cape jalan terus, tapi malah gak dipake malah milih jalan aja biar sehat katanya."


"Motor yang Bapak pake itu, yang bebek" kata Papi.


"Bukan yang suka saya pake buat kemari, ada yang king dirumah, kalau pakai itu mana mau saya pake kemari buat itu boncengin Mamanya, bisa atraksi dijalan raya nanti" kata Bapak.


"Emang gak bisa pakenya atau kekmana kok gak dipake, apa itu motor punya Nak Akhmad spesial gitu."


"Ya bisa, kalau didesa ya kalau sendiri ya suka pake itu kalau jalan-jalan sore gitu, tapi kalau dibawa kemari ya takutlah, jalannya aja naik turun kan susah, dah tua bawa motor palang kan susah enakan pake bebek" kata Bapak.


"Tahun berapa motornya" kata Papi.


"Kalau gak salah tahun duaribu enam, itu punya anak, tuker cabe berapa kilo gitu dulu pas lagi banyaknya cabe dan harganya juga lagi pas mahal" kata Bapak.


"Aku cuman nambah uang dikit aja."


"Ohh berarti tuker cabe sama motor, wah ada ya yang mau tuker motor sama cabe, apalagi motor yang banyak anak muda sekarang cari, bahkan harganya aja lagi naik daun sekarang" kata Papi.


"Iya itukan dulu dia tukernya, tapi dah banyak yang diperbaiki juga sama Anak, karena dia sekolahnya SMK ya jadi sering diutak-atik buat praktek disekolahnya dulu" kata Bapak.


"Ooh, berarti dia jago mesin dong Pak" kata Papi.


"Gak jago lagi, mesin apapun dia tangani sendiri termasuk mesin cuci kulkas dan TV dia perbaiki sendiri, makanya kalau didesa sering banyak yang minta tolong perbaiki mesin-mesin ataupun motor, bahkan mobil juga" kata Bapak.


"Pantesan waktu diajarin nyetir kata Ervi sehari langsung mahir, mungkin dia sudah pernah bawannya kali ya Pak makanya cepet" kata Papi.


"Hahaha, diamah sering nyetir kalau didesa kalau pas lagi musim kopi dulu sebelum kebun dia jadi seperti sekarang, lah wong dia kerjanya di pabrik kopi sodara nya yang masih ada ikatan sodara dari kakeknya" kata Bapak.


"Ohhh, berarti kemaren kami ditipu sama anak Bapak yang bilang gak bisa nyetir" kata Papi.


"Sampe kami paksa loh, terutama Mami yang maksa harus bisa nyetir mobil, jadi rupanya sudah mahir toh."


"Sejak masih sekolah dah bisa, karena kalau sore suka bantu-bantu langsir kopi dari warung kewarung buat dibawa ke pabrik setelah pulang sekolah, makanya bisa beli motor, ya sebagian dari hasil itu" kata Bapak.

__ADS_1


"Jadi kalian di prank anak saya kemarin-kemarin, bilang gak bisa nyetir."


"Iya, makanya kami paksa buat bisa nyetir sendiri, jadi kalau nanti ada perlu dan harus bawa mobil gak ada supir ya harus kamu yang bawa, baru dia mau belajar nyetir, itupun nunggu hampir semingguan baru mau" kata Papi.


"Dia hanya gak punya SIM mobil aja, makanya gak mau, kalau didesa kan aman, gak ada tilang macam disini yang bentar-bentar razia" kata Bapak.


"Bisa juga sih ya, tapi sekarang kami bersukur dia dah kembali sehat dah mau berbicara lagi walaupun sedikit tapi aku bersyukur semoga bener-bener bisa ikhlas dan tabah menerima apa yang dah ditakdirkan untuk nya" kata Papi.


"Aku juga berdoa setelah selesai Shalat semoga anak saya bisa sehat selalu, bahagia selalu, diberi umur panjang dan rejekinya banyak dan halal, bisa menjadi seperti apa yang kami harapkan seperti namanya Akhmad, yang berarti nama Nabi dan punya prilaku seperti Nabi walaupun hanya beberapa persen saja" kata Bapak.


"Iya Pak, nama itu kan doa, sapa tau dengan nama yang seperti itu bisa menuruni sifat dan prilakulNabi" kata Papi.


"Amin, semoga saja" kata Bapak.


"Kok ngantuk ya, tapi males kalau tidur dikamar kalau sendirian."


"Aku juga sama, males kalau tidur sendiri dikamar, mending tidur disini di depan TV sambil nonton TV atau tvnya nontonin kita tidur" kata Papi.


"Kalau gitu kita tidur disini aja, sekali-kali kita tidur berdua biar maki akrab gitu sapa tau bisa jadi keluarga beneran antara ikatan besan atau orang tua sambung dan kandung."


"Boleh juga itu, kalau anak mau dan bisa bahagia kenapa enggak, sekarang kalau minta pun langsung kulamarin buatnya dan kubawa kan penghulu sekalian biar cepet" kata Bapak.


"Hahahaha, iya ya, kalau mau langsung kukasih mana aja tinggal pilih mau kakaknya atau adeknya silahkan dipilih dipilih khusus untuk anak Bapak" kata Papi.


"Itu anak apa baju rombengan diobral gitu dipilih dipilih hayo dipilih" kata Bapak.


"Hahahahaha" ketawa bersamaan.


"Keras bener ketawanya, ada apaan sih Pi, Pak" kata Ervi.


"Fak ada, ini urusan Bapak-bapak, buat kaum Ibu-ibu gak ngerti" kata Papi.


"Kamu mau kemana."


"Ambil minum Pi, disuruh Mami karena air minumnya abis" kata Ervi.


"Ya dah sana ambil minum, nanti Mami ngamuk kalau kelamaan ngambil minumnya" kata Papi.


"Papi ada aja" kata Ervi.


"Ya dah kalau gitu Ervi mau ambil minum, dada Papi dan Bapak."


"Lebay" kata Papi.


"Emang Papi tau apa itu lebay" kata Ervi.


"Gak perlu tau, yang penting paham" kata Papi.


"Kalau gitu ambil selimut dulu biar bisa tidur disini sama bantal juga" kata Bapak.


"Iya ayok, aku juga mau ambil selimut, kalau bantal ini dah ada" kata Papi.


"Gak usah, selimut satu aja, katanya mau tidur berdua sambil curhat, kalau beda selimut gak bisa curhat dong" kata Bapak.


"Jangan mikir aneh-aneh, aku masih normal ya, walaupun lagi dicuekin istri tapi masih normal."


"Hahahaha, iya iya iya" kata Papi.


"Aku juga normal dong, masa gara-gara masalah sepele jadi nikung, kan geli hihhhh."


"Hahahahaha hahahahaha" berdua.


"Kalau gitu aku ambil selimut ya" kata Bapak.

__ADS_1


"Iya monggo silahkan" kata Papi.


Sedangkan Bapak mengacungkan jempolnya dan pergi mengambil selimut dikamar tamu yang baru, karena yang dia pake hanya satu, jadi yang satu masih bersih dalam lemari.


__ADS_2