
Mungkin inilah kedatangan tamu yang spesial yang pernah bersama menjalani kisah asmara bersama sampai ingin selalu bersama sehidup semati menua bersama melihat anak dan cucu tumbuh dewasa sampai ajal menjemput kita.
Ada raut wajah sedih yang ku lihat dipipinya.
"Selamat menikmati hidup yang baru" kata Tia, sambil menangis dan memelukku.
Lalu aku mencoba menahan agar tak memelukku, tapi Ervi dan Fida menganggukkan kepala seperti memberikan izin untuk memberikan sedikit ruang agar melepaskan pelukannya nanti setelah puas dan sudah rela melepasnya bersama yang lain maka akan melepaskannya.
"Aku masih gak percaya kita bakal terpisah seperti ini" kata Tia.
"Kau yang dulu kuharapkan, kini telah berbeda."
"Kau yang selalu ada dalam mimpiku, kini hanya tinggal angan-angan."
"Semua yang kulalui bersamamu hanya tinggal kenangan."
"Berat bagiku meluapkan mu, menerima yang lain disisiku."
"Hanya kaulah yang selalu terukir dihatiku, tak ada yang lain."
"Maaf jika sampai saat ini atau mungkin nanti aku masih ada rasa yang sama, rasa yang tak mungkin akan pernah hilang dariku."
"Kamu tetap istimewa bagiku."
"Kamu tetap yang terabik."
"Jangan katakan seperti itu" kata Fariel.
"Mungkin memang kita pernah bersama ingin meraih masa yang indah bersama."
"Tqpi kini kita telah berbeda."
"Kita sudah tak ada lagi hubungan yang pernah kita harapkan dulu."
"Aku sudah punya istri dan kamu juga sudah memiliki suami."
"Kita jalani hidup kita ini dengan keluarga kita."
"Jangan pernah menggali lagi luka yang kini telah tertimbun."
"Coba lupakan kenangan kita dulu, anggap saja kita hanya bertemu dalam mimpi tidur kita ini, bukan dalam kenyataan."
"Hiduplah bersama suamimu, dan terimalah dia, berikan keturunan untuknya."
"Jangan kau sakiti hatinya karena tak bisa kau terima."
"Kita masih bisa menjadi saudara, bisa menjadi teman, atau mungkin anak-anak kita atau cucu kita nanti bisa berjodoh."
"Kita masih memiliki itu semua."
"Jangan bersedih dan menangis hanya karena mimpi itu pergi."
"Iya kak, bener apa yang dikatakan bang Sielfa" kata Indah.
"Kamu harus ikhlas menerima semua ini."
"Kamu harus kuat, harus bisa menerima kenyataan ini" kata Nia.
"Kalian bukan disatukan untuk bersama dan berjodoh."
"Lepaskan pelukannya, jangan bikin tontonan karenamu."
"Lepaskan dan ingat, kalian bukan muhrim, ada istri disampinnya yang berhak memeluknya."
"Lepaskan kak."
"Gak papa, biarkan saja sebentar" kata Ervi.
"Biarkan dia melepaskan sendiri dengan ikhlas."
"Aku juga ngerti dengan perasaannya, karena aku juga seorang wanita."
"Iya biarkan saja dulu" kata Fida.
"Enggak, ini dah kelewatan" kata Indah.
"Kak Tia harus melepaskannya" kata Nia.
"Masih banyak yang ingin memberikan ucapan pada nya, kita harus bergantian sama yang lain."
"Ayok lepasin kak" yang juga ikut menangis.
"Aku enggak bisa, aku nggak bisa ikhlas" kata Tia.
"Ini hatiku, bukan hatimu."
"Ini perasaanku bukan perasaanmu."
"Aku yang merasakannya, aku yang membuatnya lepas dari tanganku."
"Aku yang meninggalkan terlebih dahulu."
"Aku gak sanggup meninggalkan dan memilih yang lain."
"Hanya kamu yang selalu kuharapkan hadir dalam hidupku disetiap langkah dan doa-doaku."
"Jangan bikin kita malu kak" kata Indah yang juga menangis.
"Kita datang untuk memberikan selamat bukan untuk membuka luka yang lama datang lagi."
"Malu dilihat banyak orang."
"Lepasin aku" kata Fariel.
"Kamu butuh bahagia juga."
"Tapi bukan denganku, tapi dengannya."
__ADS_1
"Lupakan aku, bahagia lah bersamanya."
"Bukalah lembaran baru dalam hidupmu, dan terimalah dia."
"Kita tidak berjodoh, kita tidak ditakdirkan untuk bersama."
"Terimalah dan bahagilah."
"Lanjutkan kuliahmu yang tertunda, dan kembali kerumah dengan suamimu."
"Aku akan mendoakanmu agar kau bahagia dengannya dan bisa meraih mimpimu dulu yang ingin menjadi seorang Bidan."
"Bahagialah dengan keluarga kecilmu nanti."
"Kak lepaskan cepetan kak, jangan bikin makin malu" kata Nia.
"Aku juga seorang wanita yang sama sepertimu, tapi bukan seperti ini caranya."
"Jangan membuka kenangan lamamu, tapi tutuplah kenangan lama itu, dan buanglah."
"Semua orang pasti pernah merasakan hal yang sama, tapi mereka mau berusaha melupakan dan mau mencoba membuka yang baru buat kebahagiaan yang baru."
"Iya kak, Nia benar kak" kata Indah.
"Kakak harus melupakan dan mengubur kenangan yang lama yang hanya akan membuat luka datang kembali lagi."
"Ikhlas kan kak ikhlaskan."
"Mungkin kau tak bisa memilikinya disini dibumi" kata Ervi.
"Tapi mungkin kau bisa memilikinya nanti diakhirat."
"Lupakan dia, karena dia bukan lagi sama seperti yang dulu, sekarang sudah ada aku yang disampingnya."
"Bahagia lah dengan yang lain" kata Fida.
"Kamu boleh main kerumahku boleh menjadi saudaraku juga Ervi."
"Tapi jangan buka kenangan lama itu."
"Statusnya kini bukan milikmu tapi milik kita, suami kita."
"Jangan kau ambil dari kami, kalau dia gak mau denganmu."
"Pasti ada kebahagiaan dibalik semua ini."
"Aku akan menganggap kamu sebagai saudaraku juga."
"Tapi lupakan dia yang pernah mengisi hati-harimu."
"Lupakan dia dari hatimu, karena itu gak baik menaruh hati pada suami orang lain."
"Itu akan berdosa jika mengharapkan dia kembali lagi bersamamu saat ada yang memilikinya."
"Jalani hidup dan peran yang telah dituliskan pada kita."
"Kalau kita mampu menjalankan peran dalam hidup pasti akan ada kebahagiaan yang lebih pada kita ini."
"Kita akan menjadi sahabat dan saudara, jadi bahagialah dengan takdir yang diberikan pada kita" kata Fida.
Lalu saling melepaskan pelukannya.
"Apa akau boleh meminta kenangan terakhir sebelum aku pulang" kata Tia.
"Boleh silahkan" kata Fida.
"Boleh apapun, buat kak Tia" kata Ervi.
"Aku hanya minta foto berdua dengannya disini dan juga kalian nanti, buat kenangan dirumahku sebelum aku benar-benar bisa menerima kenyataan ini" kata Tia.
"Iya silahkan" kata Fida.
"Lakukan lah selagi masih bisa dan ada waktu."
"Tapi" kata Fariel.
"Udah terima aja Mi" kata Ervi.
"Kami gak akan marah dan cemburu, bahkan akan senang jika kami bisa mengabulkan permintaannya."
"Iya, tenang aja, gak usah takut kami akan marah" kata Fida.
"Ya dah kalau gitu sini HP nya biar ku suruh tukang foto mengmbil gambar" kata Ervi.
"Nanti kalau kurang kuberikan lewat HP, kukirim lewat WA, nomer dia masih yang dulu, bisa kamu hubungi lagi nanti."
"Makasih" kata Tia.
"Hapus dulu airmatanya" kata Fida.
"Kan harus keliatan tetap cantik saat difoto nanti."
"Nih pake tisu" yang memeberikan tisu pada Tia.
"Makasih kak" kata Tia.
alangsung mengambil tisu dan mengelap pipi yang basah.
"Apa mau dirias biar kelihatan cantik" kata Ervi.
"Kak sini bentar, tolong rias kan ini sahabat ku ya." Panggilnya pada tukang rias yang ada dibawah panggung pelaminan.
"Gak usah" kata Tia.
"Gak papa, biar tetap kelihatan cantik" kata Fida.
"Tolong ya ses."
__ADS_1
"Nona, buka ses ye" kata An.
"Iya maaf nona, hilaf" kata Fida.
"Heh kalau bukan karena babang tamvan gak mau nona maafin ye yah" kata An.
Membuat semuanya ketawa, bahkan Tia juga ikutan tertawa.
"Sini ses biar makin cantik tapi tak secantik nona" kata An.
"Karena hanya nona makhluk paling cantik disini."
"Iya iya, yang paling cantik diantara laki-laki" kata Ervi.
"Hahahahaha" semunya.
"Ih, jahat sama nona ye ya, awas aja nona kasih hadiah yang beda nanti ya" kata An.
"Dah buruan cepetan itu" kata Fariel.
"Nanti kusuruh salto belakang lagi kalau lama."
"Buat babang tamvan mah oke" kata An.
"Bakal nona turutin semuanya, bukan hanya salto, guling-guling ditanah juga boleh asal sama bang tamvan."
"Ogah, aku dah punya dua" kata Fariel.
"Cari yang lain sana jangan ke saya."
"Kalian gak cemburu aku digodain sama itu tulang lunak."
"Gak dong" kata Fida kata Ervi.
"Dah selesai, dah beres" kata An, lalu malah mencium ku.
"Hahahahaha" semuanya bahkan yang dibawah juga.
"Ihhh najis" kata Fariel.
"Itu hadiah dari nona" kata An.
"Kalian kok gak belain sih" kata Fariel.
"Gak perlu, masa mau cemburu sama begituan, kan gak lucu" kata Ervi.
"Ya udah yuk kita foto" kata Fida.
Lalu Tia memberikan HP pada tukang foto dan kami foto bersama, kadang hanya denganku kadang dengan Ervi dan Fida, kadang bareng dengan yang lain juga dengan Nia dan Indah.
"Semoga bahagia ya bang" kata Nia.
"Jangan lupa kalau punya cowok ganteng buat ku ya satu."
"Huh dasar" kata Idah.
"Buatku juga, mumpung juga jomblo, sapa tau masih ada saudara yang juga jomblo, kan bisa dikenalin."
"Iya nanti, kalau yang tadi kayaknya juga jomblo" kata Fariel.
"Hahahahah" ketawa Ervi, Fida, Fariel, dan Tia.
"Kalau itu mah amit-amit" kata Nia, kata Indah.
"Maaf kalau kadonya gak bagus" kata Nia.
"Iya gak papa, dah datang aja ngucapin selamat dah seneng kok" kata Fariel.
"Selamat ya kak" kata Nia.
"Iya" kata Fida.
"Selamat juga ya" kata Nia.
"Iya, makasih" kata Ervi.
"Selamat ya kak dah dapat yang baru yang masih ori" kata Idah.
"Iya makasih" kata Fida.
"Selamat juga, dah jadi istri" kata Indah.
"Makasih" kata Ervi.
"Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah" kata Nia dan Indah.
"Makasih" kata Fida, Ervi, dan Fariel.
"Aku juga mau pamit langsung pulang aja ya" kata Tia.
"Makasih dah mau menerima ku sekarang ini disini."
"Makasih dah boleh foto bareng."
"Juga makasih dah boleh memluknya."
"Semoga kalian bisa saling menyayangi."
"Selamat tinggal."
"Iya hati-hati dijalan" kata Fariel.
"Kalau gak nginep aja disini, pulang besok aja, jauh loh kalian pulangnya" kata Fida.
"Gqk usah kak, makasih" kata Nia.
"Kalau gitu kami pamit ya bang, ya kak" kata Indah.
__ADS_1
"Iya, makasih dah hadir" kata Fariel, Ervi, dan Fida.
Dan mereka langsung pergi turun dari pelaminan, dengan Tia yang menunduk yang mungkin sedang menahan tangisnya yang akan turun lagi karena tadi seperti memaksa buat berhenti menangis.