Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Diam mematung


__ADS_3

"Jadi sekarang adek jangan selalu cemberut dan cemburu hanya karena masalalu yang ada dalam kenanganku ini" kata Fariel.


"Kalau memang sayang dan menginginkan ku itu bukan dengan cara seperti itu."


"Lakukan dengan membuat kenangan yang baru untuk disimpan dalam memori, bukan malah pergi dengan marah-marah."


"Anak Mami ini dah kebiasaan nak, sukanya marah-marah karena cemburu" kata Mami.


"Sekarang adek pikirkan kata-katanya masmu ini, jangan kebanyakan cemberut dan cemburu."


"Cemburu boleh, cemberut juga boleh, tapi harus dengan yang pas" kata Fariel.


"Masa dengan kenangan dan masalalu, kan gak lucu."


"Makanya kenapa aku selalu tersenyum melihatmu cemberut saat sedang bersamaku dan bertengkar dengan kakak."


"Karena aku ingin menyimpan kenangan itu dalam memori ku."


"Dan aku selalu meminta kalian selalu tersenyum dengan senyuman yang manis dan ikhlas, itu karena aku ingin menyimpan senyum itu."


"Jadi memori lama akan hilang dengan perlahan."


"Walaupun masih ada, itu tak akan sama seperti kenangan saat baru disimpan, pasti ada beberapa part yang hilang."


"Duhh kok makin kesini Mami makin kagum sama kamu nak" kata Mami.


"Kata-katamu itu bikin Mami ingin belajar, kalau boleh tau kapan mengarang kata-kata itu, Mami buatkan dong."


"Ah Mami mah ada-ada aja" kata Fariel.


"Ini gak ngarang, ini bahkan gak dibuat dulu terus diingat dan lalu disampaikan."


"Ini murni langsung ceplas-ceplos ngomong."


"Sekarang kalau adek mau marah dan cemburu sama mas lalu pergi, ku persilahkan."


"Tapi jika nanti kembali kesini lagi dengan berharap aku akan menerimanya lagi, jangan salahkan aku jika aku menolaknya."


"Karena semakin adek membiarkan dan marah karena mas yang masih menyimpan kenangan mas dengan nya, maka semakin besar harapan mas yang dulu pernah ada akan muncul kembali dan ingin meraihnya lagi untuk bersama."


"Karena kekosongan waktu mas, hanya dipakai buat memutar memori itu dan mengingat kata-kata, janji bersama."


"Itu yang harus kamu ingat."


"Kenapa mas selalu memanjakkan kalian semua, bahkan kakakmu juga."

__ADS_1


"Itu supaya tak membuka kenangan lama dan rasa sakit yang lama kini terbuka lagi hanya karena waktunya selalu dipakai untuk membuka memori lama."


"Begitu pula dengan adek yang selalu pergi lalu bermain dijalanan hanya karena hobinya itu dijalanan, mas bisa merubah hobimu itu dengan cara menuruti kemauanmu, selalu mengajakmu ngobrol supaya tak keluar dari rumah ini agar tak kembali ke jalan, karena merasa dicuekin disia-siakan sama mas kamu ngilang."


"Sekarang kita sama-sama sudah bisa berpikir dewasa, bisa mengerti mana yang baik mana yang salah, mana yang perlu mana yang harus dibuang."


"Mas gak pernah memintamu buat berubah menjadi apa yang mas mau, tapi mas hanya ingin ada sedikit yang dirubah darimu, dan itu semua ada pada diri kamu sendiri, bukan pada mas, Mami dan yang lain, karena yang menjalankan peran hidup itu kamu sendiri bukan orang lain."


"Owhh Mami jadi makin terharu nih" kata Mami.


"Dengarin dek kalau masmu ngomong."


Sedangkan Ervi dari tadi hanya diem dan mematung yang masih dengan posisi berdiri.


"Sekarang kalau adek mau marah dan benci sama mas, mas persilahkan" kata Fariel.


"Kalau mau memukul mas dan apapun yang kamu mau pada mas, mas persilahkan."


"Tapi kamu ingat kata-kata mas yang tadi."


"Mas hanya ingin kamu mengerti, bukan makin marah dan membenci karena mas seperti sedang menceramahimu tadi."


"Ini dah selesai Mi, apa lagi yang mau ditanam Mi."


"Dah selesai, Mami aja ini belum selesai, satu aja belum kelar" kata Mami.


"Hahaha iya iya" kata Fariel.


"Jangan diem mematung kaya gitu."


"Apa gak cape berdiri mematung kaya gitu."


"Kalau mas salah dengan kata-kata mas barusan, mas minta maaf, kalau masalah dimaafkan atau gak nya itu terserah ada pada mu."


Ervi langsung berlari kearahku dan memelukku dari belakang, dan aku masih berjongkok.


Dengan memelukku dari belakang dan menangis dipunggung ku.


"Maafkan adek mas" kata Ervi.


"Adek yang salah selama ini."


"Adek yang gak pernah bisa ngerti dengan itu."


"Adek seperti anak kecil, yang suka mara-marah dan lalu pergi."

__ADS_1


"Adek janji bakal berubah."


"Adek akan selalu siap untuk membuat kenangan baru, asal mas selalu ada buatku."


"Adek janji bakal selalu ada buat mas."


"Adek janji bakal sering-sering mengisi waktu kekosongan mas, biar mas gak kembali mengingat masa lalu lagi."


"Adek bakal siap selalu."


"Jangan tinggalkan adek mas, adek gak mau lagi kehilangan mas."


"Adek juga gak akan meninggalkan mas."


"Udah-udah jangan nangis dipunggung mas" kata Fariel.


"Baju mas jadi basah nih, padahal baru mandi baru ganti baju, masa harus mandi dan ganti baju lagi sih."


"Kan capek kalau mandi terus dan ganti baju terus, nyucinya yang capek, kan mas nyuci pake sikat gak pake mesin cuci."


"Ini bakal nyikat lagi nih nanti, apalgi kayaknya banyak ingus yang menempel di bajuku nih Mi, gimana nih."


"Ihhh mas nyebelin" kata Ervi, sambil memukul punggungku.


"Nyebelin apa ngangenin" kata Fariel.


"Gak malu apa sama Mami."


"Tuh diliatin Mami tuh meluk-meluk mas sambil nangis, mana sampe bajuku basah dan beringus lagi."


"Ihhh adek gak lagi ingusan" kata Ervi.


"Ah masa, biasanya kalau nangis pasti ada keluar ingusnya" kata Fariel.


"Iya gak Mi, apalagi nangis nya kayak gini ya Mi."


"He'emm" kata Mami.


"Peluknya jangan kelamaan, udah cukup itu."


"Nanti Mami siram nih kalau gak dilepaskan pelukannya, biar sekalian mandiin tanaman Mami bunga-bunga Mami."


"Udah lepas pelukannya" kata Fariel.


"Mas mau mandi lagi dan ganti baju."

__ADS_1


"Bau iler dan ingus nih punggung mas nih."


__ADS_2