Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Paniknya Mami


__ADS_3

Setelah Shalat Maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan membaca Al-Quran sampai waktu Isya datang, lalu kami pun melaksanakan Shalat isya berjamaah bersama tanpa Ervi yang gak hadir, yang biasanya setelah Shalat Maghrib meminta untuk diajarkan membaca kitab kuning, atau hanya mendengarkan saja sampai Adzan Isya, begitu pula dengan Papi dan Mami yang juga ikut mendengarkannya.


Setelah selesai akupun langsung keluar dari Mushola untuk kekamar.


"Panggil adek buat ikutan makan ya nak" kata Mami.


"Iya Mi, nanti aku panggilkan adek setelah ganti" kata Fariel.


"Kalau gitu aku kekamar buat ganti yaMi."


"Iya nak" kata Mami.


"Yuk Nyai ratu" kata Fariel.


Fida hanya menganggukan kepalanya lalu langsung melingkar kan tangannya di lenganku hingga membuat Papi dan Mami geleng-geleng kepala melihat kelakuannya kali ini yang manja.


Akupun langsung berjalan menuju kamar ku melewati tangga sambil memegangi tangan kak Fida yang entah kenapa hari ini manja banget dan betah banget dengan melingkar kan tangannya di lenganku sejak tadi.


"Dah sampai, Nyai jalan sendiri aja ya kekamar Nyai, aku mau kekamar juga" kata Fariel.


Sedangkan Fida malah memajukan bibir bawahnya kedepan.


"Ya udah ayok uda antar sampai depan pintu" kata Fariel.


Fida langsung kembali tersenyum, lalu berjalan kearah kamarnya dengan tangan yang masih melingkar di lenganku.


"Dah sampai nih, jadi sekarang lepaskan tangannya, kita bukan sedarah, jadi gak boleh berlebihan, kalau manja boleh tapi jangan aneh-aneh ya nyai ratu" kata Fariel.


"Iya Uda" kata Fida, yang kan melepaskan tangannya dari lenganku.


"Sekarang Nyai masuk dulu, biar Uda tungguin sampai nyai benar-benar masuk kedalam, jadi jangan cemberut lagi, gak boleh gitu kasian dedek bayinya, nanti dedeknya ikutan gimana" kata Fariel.


"Iya, makasih" kata Fida, yang langsung masuk kedalam kamarnya.


Aku langsung berjalan kekamar ku buat ganti baju dan mamakai celana panjang lagi untuk turun makan malam bersama, walaupun sebenarnya masih kenyang, tapi aku gak mau membuat mereka kecewa karena sudah menyediakan makanan tapi gak dimakan.


Setelah ganti dan pakai celana aku langsung keluar menuju kamar Ervi untuk mengajaknya turun buat makan malam bersama.


Beberapa kali aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam tapi gak ada jawaban dari dalam, lalu ku coba memutar knop pintunya, dan ternyata dikunci


lalu aku kembali mengetuk pintu nya lagi, karena aku yakin Ervi pasti ada didalam kamarnya


"Dek, adek, buka pintunya dek" kata Fariel.


"Dek buka pintu nya."


"Papi Mami dah nungguin dibawah, kasian kalau mereka menunggunya kelamaan."


"Dek adek, ayok buka pintunya, kamu gak biasanya kaya gini loh."


"Ada apa sih, ayo cerita sama mas jika punya masalah."


"Dek mas tungggu dibawah ya sama yang lain juga."


"Cepetan kebawah buat makan malam bersama, apa mau mas antarkan kemari nanti."


Karena gak ada jawaban dari penghuni kamar akupun langsung pergi menuju meja makan dibawah.


"Apa adek dah kamu panggil nak" kata Mami.


"Udah Mi, kuketuk pintunya tapi gak ada jawaban" kata Fariel.


"Apa adek sakit ya Mi" kata Papi.


"Pintunya juga dikunci Pi" kata Fariel.

__ADS_1


"Dah biarin aja, nanti Mami yang panggil adek buat buka pintunya dan makan, jadi sekarang kita makan aja yuk" kata Mami.


"Ya udah ayok Mi" kata Fida.


"Uda ambilin" dengan suaranya yang manja.


"Iya, sini piringnya biar uda ambilin, nyai tinggal tunjuk aja, mana yang mau nyai makan" kata Fariel.


Akupun langsung menimbulkan makanannya sesuai yang ditunjuk nya, lalu meletakkan didepan nya.


"Makasih udaku yang baik dan selalu bisa ngertiin nyai" kata Fida.


"Iya nyai" kata Fariel.


Akupun langsung mengambil nasi sedikit dan lauknya karena masih sedikit kenyang.


"Mari kita makan."


Akupun langsung memimpin doanya, dan kami pun langsung memakan makanan sampai habis di piring masing-masing.


"Mami keatas dulu ya, mau lihat nak Ervi dulu" kata Mami.


"Iya Mi" ucap kami bertiga.


"Tadi kalian jalan-jalan kemana aja" kata Papi.


"Hanya ke minimarket Mami terus ke alun-alun dan mampir makan bakso" kata Fida.


"Ooh, Papi gak dibeliin nih baksonya gitu" kata Papi.


"Maaf tadi keburu magrib jadi gak sempat buat minta dibungkus buat yang dirumah" kata Fariel.


"Tadi juga rame banget jadi gak mikirin buat dibungkusin buat papi dan yang lain juga."


"Ya udah kapan-kapan makan bakso disana bareng ya Pi" kata Fida.


"Gak ah, ribet kalau makan sama kamu" kata Papi.


"Ihh Papi mah" kata Fida, dengan muka cemberut nya.


"Papi becanda kali nak, gak usah cemberut gitu, entar anaknya ikutan suka cemberut loh" kata Papi.


Tiba-tiba mami datang.


"Ervi mana Mi" kata Papi


"Sama saja, Mami dah ketuk pintunya dengan keras tetap gak ada sautan dari dalam, apa Ervi pergi ya Pi" kata Mami.


"Apa ada kunci cadangan buat buka pintu kamar adek Pi, Mi" kata Fariel.


"Ada, mau kamu buka pintunya nak" kata Papi.


"Iya Pi, takut kalau terjadi apa-apa didalam, jadi kita buka aja dengan pintu cadangan" kata Fariel.


"Ya udah ayok, biar Papi ambil dulu kunci cadangannya, kamu duluan keatas" kata Papi.


"Iya Pi, ayo nyai, tapi nyai dibawah aja ya nonton aja, gak usah keatas, kasian dedeknya capek dibawa naik turun tangga mulu" kata Fariel.


"Iya Uda, tapi nyai digandeng ya" kata Fida.


"Iya boleh, ayok" kata Fariel.


Fida dengan senyum yang merekah langsung melingkar kan tanganya dilenganku.


"Nyai kenapa sekarang manja banget sih, betah banget megangin lenganku" kata Fariel.

__ADS_1


"Biarin, abis nyaman sih, jadi suka aja, kan nyai gak ada yang bisa buat nyai pegangin lengannya" kata Fida.


"Noh tiang rumah kayaknya hanya diem doang, sapa tau kalau nyai gandeng tiangnya bisa senyum" kata Fariel.


"Uda mah ada-ada aja, kalau megang lengan Uda itu rasanya pas, apalagi lengan Uda besar, ini lengan apa kaki" kata Fida.


"Tiang listrik yang tertuker" kata Fariel.


"Haha Uda lucu deh, masa tiang listrik di sini, berati itu tiang listrik di pinggir jalan berarti itu tangan Uda dong" kata Fida.


"Bisa jadi" kata Friel.


"Dah sampai, sekarang duduk nyalakan TV nya terus nonton, Uda mau keatas, oke."


"Oke Uda, tapi nanti kemari lagi ya" kata Fida.


"Gak janji ya, kayaknya Uda juga banyak kerjaan yang harus uda selesai kan malam ini juga" kata Fariel.


"Yaudah kalau gitu nyai ikut buat bantuin Uda" kata Fida.


"Terserah sama nyai, yang jelas Uda mau keatas dulu" kata Fariel.


"Uda tinggal ya, baik-baik disini sendirian, kalau ada apa-apa teriak yang kencang panggil Uda ya."


"Oke" kata Fida.


Akupun langsung berjalan menuju kamar Ervi, dan samapailah didepan pintu kamar Ervi, kutunggu Papi dan Mami datang dengan membawa kunci serep pintu kamar.


"Nih nak kuncinya" kata Papi, yang menyerahkan kunci padaku.


Akupun langsung menerima nya dan langsung memasukan kunci lalu memutar kuncinya dan terus memutar knop pintunya, dan terbuka.


"Kok kosong Pi" kata Mami, yang sudah masuk kedalam duluan.


"Dikamar mandi coba Mi" kata Papi.


Mami langsung berjalan kearah kamar mandi, lalu balik lagi.


"Kosong juga Pi" kata Mami.


"Ventar, Papi sama Mami jangan panik dulu, biar sekarang Mami telpon dulu, coba tanyakan dimana dia berada sekarang" kata Fariel.


"Iya nak, akan Mami coba" kata Mami.


Mami langsung menghubungi Ervi lewat telpon namun nomernya gak aktif.


"Nomernya gak aktif" kata Mami.


"Sekarang Mami tenang, coba kita cek dirumah yang disana, sapa tau Ervi sedang ada disana" kata Papi.


"Iya, kalau gitu kita sekarang kesana ya Pi" kata Mami.


"Ya udah ayok kita berangkat sekarang" kata Papi.


"Nak kamu dirumah ya jagain kakakmu, Papi mau ke rumah Ervi dulu, siapa tau dia disana."


"Iya Pi, aku juga mau nyelesain kerjaan yang tadi aku belum selesaikan" kata Fariel.


"Yaudah kalau gitu Papi dan Mami pergi ya" kata Papi.


"Iya Pi, nanti kabarin aku kalau ada apa-apa ya Pi, Mi" kata Fariel.


"Iya nak" kata Mami.


Kitapun langsung keluar dari kamar Ervi lalu menutupnya lagi dan menyerahkan kunci nya pada Papi. Lalu aku berjalan kekamar untuk mengambil beberapa berkas dan laptop untuk mengecek pekerjaan dan juga melihat beberapa email yang masuk.

__ADS_1


__ADS_2