Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Ervi dan Fida


__ADS_3

Percakapan Ervi dan Fida padaku yang masih dengan kondisi yang sama, namun sudah dibawa pulang kerumah karena sudah hampir sebulan dirumah sakit tanpa adanya tanda-tanda akan terbangun dan sadar.


Dikamar ini di ruangan ini yang kini dibuat menjadi seperti ruangan dirumah sakit, bahkan selang infus dan monitor jantung dan sebagainya, karena dirumah dan kamar ini sudah terbaring hampir lima harian.


"Mas bangun" ucapnya pelan.


"Mas kan janji mau bahagiakan adek."


"Kalau mas masih tidur belum bangun, gimana mau nepatin janji mas buat bahagiakan adek."


"Jadi mas harus segera bangun."


"Lihat tuh mas, banyak banget yang sayang dan khawatir sama kondisi mas, sampai mereka gak mau kehilangan mas."


"Jadi mas harus bangun."


"Kasian Mama mas, dia merasa bersalah sampai jatuh pingsan karena khawatir sama mas."


"Bahkan kakak juga tadi hampir pingsan juga karena melihat mas masih sepertiini."


"Mas harus bangun tunjukkan pada mereka kalau mas itu kuat."


"Kalau mas bangun nanti Ervi bakal kasih hadiah buat mas."


"Mas mau minta apa sama adek, pasti adek kabulin."


"Jadi mas harus bangun ya."


"Ayok mas bangun dari tidur panjang mas."


"Buatlah mereka bahagia lagi."


"Ketawa lagi, becanda lagi dengan serua-seraun bersama."


"Apa mas gak kangen dengan adek dan yang lainnya."


"Apa mas mau lupain kita semua."


"Ayok mas bangun."


"Mas harus sadar, jangan seperti ini terus."


"Mas harus hapus luka mas."


"Sambut dengan lembaran baru menyambut kebahagiaan."


"Jangan kelamaan tidurnya."


"Apa mas gak akan bangun melihat ponakan mas yang mungkin sekitar tujuh mingguan lagi akan melihat dunia."

__ADS_1


"Lihat kaka Fida tuh mas yang merasa sedih karena harus mas tinggalkan, gak ada teman buat becanda dan manja-manjaan lagi."


"Mas bangun."


Fida pun ikut bergabung dengan Ervi tapi disisi kiriku.


"Uda bangun uda" dengan meneteskan airmata nya.


"Uda, nyai gak sanggup seperti ini uda."


"Nyai butuh uda buat jagain anak nyai nanti."


"Uda bangun uda."


Ervi.


"Lihat tuh mas, kakak butuh mas."


"Mas ayok bangun, ini sudah terlalu lama mas tidur."


"Kami semua butuh mas disini."


"Jangan buat kami sedih terus, dan khawatir."


"Mas bagian dari hidup kami. "


"Uda ayok bangun uda."


"Nyai butuh temen ngobrol uda."


"Nyai bisa melihat uda seperti ini terus."


"Bentar lagi anak nyai akan hadir kedunia ini."


"Lihat perut nyai, sudah sangat besar, sudah tujuh bulanan lebih uda."


"Coba uda rasakan ini" yang meraih tanganku lalu meletakkan di depan perutnya.


"Dia kangen sama uda yang mau manjain beliin makanan."


"Dia gak pernah nendang-nendang lagi gak seperti sebelumnya saat uda ada."


"Uda harus bangun kasian anak nyai, dia butuh uda buat menuruti permintaanya."


"Karena hanya uda yang mampu."


"Hanya uda yang bisa."


"Uda bangun."

__ADS_1


"Anak nyai ikutan sedih melihat uda seperti ini."


"Ayok uda bangun."


"Jangan bikin kami sedih terus."


"Jami butuh senyum dan bahagia."


"Yaitu dengan bangunnya uda."


"Jadi uda harus segera sadar."


"Kasian Mama"


"Dia selalu menyalahkan dirinya karena gak bisa buat uda bahagia malah membuat uda seperti ini."


"Uda bangun."


"Apa uda tega dengan kami semua."


"Apa uda gak akan membuat kami bahagia dan tersenyum bersama dengan yang lain saat berkumpul."


"Uda nyai gak sanggup" dengan tangisnya yang mulai bersuara.


"Uda nyai gak kuat uda."


"Nyai takut kehilangan orang yang berarti lagi dalam hidup nyai."


"Nyai sayang sama uda."


"Nyai selalu berharap uda akan selalu ada buat nyai dan anak nyai."


"Nyai tau semua orang pasti akan berpisah nanti dengan yang namanya kematian."


"Tapi nyai mohon sama uda."


"Bahagiakan kami dulu sebelum uda pergi meninggalkan kami semua."


"Uda ada titipan buat uda dari Almarhum suami nyai buat uda, yang harus uda buka apa isinya."


"Uda bangun ya."


"Kami butuh uda."


"Jangan buat airmata ini habis karena manangisi kondisi uda" yang membiarkan air matanya menetes pada tanganku.


"Uda harus bangun."


Dan jari tanganku bergerak sedikit yang digenggaman tangan Ervi dan Fida, membuat mereka langsung memanggil yang lain bahkan juga Dokter yang stanby dirumah buat ngecek kondisi ku setiap saat.

__ADS_1


__ADS_2