
Sampailah kini didalam gedung mall, bukan hanya ramai tapi hampir penuh dengan pengunjung, apalagi dihari libur ini, yang banyak anak untuk bermain sambil belanja.
"Sekarang mau kemana dulu" kata Fariel.
"Keatas dulu Mi" kata Ervi.
"Ya udah ayok" kaya Fariel.
"Tapi harus digendong lewat tangga, gak mau lewat yang lain, mau yang sana" kata Ervi, sambil menunjuk kearah tangga, bukan eskalator.
"Ih kok gitu" kata Fariel.
"Ahhh Mi" kata Ervi, yang merajuk di senderanku.
"Tapi" kata Fariel.
"Pokoknya mau gendong" kata Ervi.
"Maskernya dibuka"
"Hah" kata Fariel.
"Kalau gak mau aku ngambek nih" kata Ervi.
"Ada aja ngambek ngomong dulu" kata Fariel.
"Biarin, punya Sami tapi gak perhatian" kata Ervi.
"Padahal tadi janji bakal ngelakuin apa aja kalau Sanis beneran hamil."
"Hemmm, iya deh iya" kata Fariel.
"Bukak dulu maskernya" kata Ervi.
"Iya nih" kat Fariel, yang langsung membuka maskernya.
Ervi langsung naik kedepan buat digendong.
"Ayok Mi jalan" kata Ervi, dengan semangat
"Let's go."
"Iya ayok" kata Fariel.
Sambil jalan banyak pasang mata yang tertuju pada kita berdua.
"Berasa kaya lagi dikerjain sama Istri hari ini" kata Fariel, dalam hati.
__ADS_1
"Untung aja aku sayang banget sama kamu, apapun akan kulakukan walaupun harus malu ditempat umum seperti ini."
"Ayok Mi semangat" kata Ervi.
"Ini dah semangat banget nih" kata Fariel.
"Tuh lihat, banyak yang lihat ke kita, dan ada yang memberi semangat dengan memberikan tepuk tangan" kata Ervi.
Bukannya makin semangat malah membuatku jadi merah mukanya karena malu banyak yang ngelihat kearahku.
"Sami dah capek ya, mukanya kok merah gitu" kata Ervi.
"Gak kok, masih kuat" kata Fariel.
"Yaudah kalau gitu sampai atas gendong nya, sampai lantai tiga" kat Ervi.
"Hah" kata Fariel.
"Kok jadi sampai ke lantai atas."
"Mau gak, atau aku ngambek nih" kata Ervi.
"Iya mau" kata Fariel.
"Makasih" kata Ervi.
"Apaan" kata Fariel.
"Nanti aja dirumah" kata Ervi
"Kok dirumah" kata Fariel.
"Sekarang yang ini dulu" kata Ervi, lalu mencium pipiku.
"Ini untuk semangat yang sekarang, yang lebih nanti dirumah."
"Emang apaan" kata Fariel.
"Nanti, biar surprise" kata Ervi.
"Bisikin kalau gitu apa" kata Fariel.
"Nanti aja" kata Ervi.
"Kalau sekarang namanya bukan surprise dong."
"Sekarang gendong lagi keatas, lewat eskalator juga gak papa, asal sampai atas."
__ADS_1
"Kalau lewat sana bakal makin rame" kata Fariel, dalam hati.
"Ayok Mi lewat sana yang banyak orang" kata Ervi.
"Hufft" suara hembusan nafasku.
"Ihhh, bau" kata Ervi.
"Hah" kata Fariel.
"Bau, tapi gak papa, Sanis suka" kata Ervi.
"Dasar" kata Fariel.
Baru satu langkah untuk naik eskalator, banyak yang bersorak dan ada pula yang merekam kami dengan video.
"Sayang banget kayaknya sama istrinya ya Mas" kata pengunjung.
"Bukan hanya sayang, tapi berkorban" kata satunya.
"Jadi pengen deh" kata yang lain.
"Moga aja aku dapat yang seperti ini, pasti hidupnya bakal bahagia terus, dan bakal selalu romantis" kata dia.
"Yang satunya gak ikutan Mas" kata satunya.
"Apa yang dirumah lagi isi ya Mas" kata dia.
Aku hanya senyum kearah mereka yang ada didepan.
"Masnya ganteng, istrinya cantik, pasangan yang pas deh pokoknya" kata ini.
"Yang satu disimpan yang satu dibawa buat jalan-jalan, beruntung banget ya Mas" kata De.
Sampai diatas langsung banyak yang mencoba meminta foto bareng.
"Mas boleh minta foto bareng gak" kata Nis.
"Iya, boleh dong" kata Re.
"Kita kan penggemar kalian, masa gak boleh minta foto bareng" kata Ce.
"Sekali aja ya" kata Ervi.
"Tolong fotoin, nanti gantian" kata We pada temannya.
"Seperti inilah yang aku gak mau" kata Fariel dalam hati.
__ADS_1
Dengan senyum dan Ervi juga senyum yang masih dalam gandonganku, dan kita foto bersama yang lainnya.