
Obrolan di bandara sebelum berpisah.
"Mass" kata Ervi, sambil melingkarkan tangannya di lenganku.
"Apaan, kalau ngomong yang jelas dong" kata Fariel.
"Mass" kata Ervi.
"Iya, apa adekku yang cantik yang kaya bidadari" kata Fariel.
Ervi malah senyum.
"Malah senyum" kata Fariel.
"Ini tangan kenapa ini."
"Mau nyebrang jalan ya neng, pake digandeng segala" kata Fida.
"Iya, mau nyebrang ke pelaminan" kata Ervi.
"Hemmmmm" kata Fida.
"Tangannya jangan gini ah, kalau duduk ya duduk aja" kata Fariel.
"Gak mau, gak suka" kata Ervi.
"Ihh lebai nya" kata Fida.
"Adek mau ngomong apa sama mas, ngomong yang benar" kata Fariel.
"Gak jadi ah" kata Ervi.
"Idihhhhh" kata Fida.
"Bilang aja minta digandeng kaya kreta api."
"Anak Mami lagi kumat, kesambet apa ya Pi, kok gini amat sekarang ya" kata Mami.
"Ntah Mi, Papi gak tau" kata Papi.
"Ihh Mami mah, emang Ervi lagi kesurupan jin apa, pake kesambet segala" kata Ervi.
"Ya abis gak ada hujan gak ada angin kok tiba-tiba kayak gitu sama masnya" kata Mami.
"Fak mau dipisah ya."
"Gehehehe" kata Ervi.
"Tau aja mami."
"Hus sana pergi aja sana, ini buat kakak aja, biar nanti pas kakak lahiran anak kakak dah punya ayah lagi" kata Fida.
"Enak aja" kata Ervi.
"Kakak cari aja yang lain sana."
"Tuh sama satpam aja sana tuh" tunjukknya pada satpam.
"Enak aja sama satpam" kata Fida.
"Masa cantik gini dah kaya bidadari turun langsung dari kayangan sama satpam itu" yang melirik ke satpam.
"Itu cocoknya sama kamu dek."
"Pas tuh buatmu, pas untuk mu peluk-peluk."
"Anggap aja kamu yang buat dia hamil."
"Hahahahaha" ketawa Papi, Mami, Fariel.
"Kok mamas ikutan ketawa sih" kata Ervi.
__ADS_1
"Mamas lebih suka adek sama itu ya."
"Ya itukan terserah sama kamunya, kalau mas mah selalu mendukung apa yang kamu pilih, itu juga oke kayaknya, walaupun dah rada tua" kata Fariel.
"Enak aja" kata Ervi.
"Adek maunya cuma sama mas aja, itu buat kakak aja, kan pas sama-sama mau melahirkan."
"Kayaknya sih dah empat bulanan tuh kak perutnya."
"Hahahahaha" ketawa Fariel, Papi, Mami, Ervi.
"Gus jangan ngatain orang gak baik, kasian yang diomongin nanti kupingnya panas" kata Fariel.
"Emang iya" kata Ervi.
"Fak tau juga sih" kata Fariel.
"Gak ah, kakak gak mau sama dia, kakak sama Uda aja, yang nampak pas dan seumuran" kata Fida.
"Uni tuh punya adek, yakan mas" kata Ervi.
"Kakak, kan umurnya juga dah beda beberapa taun dari mas, kakak lebih tua dari mas."
"Ya walaupun gak seumuran sama masmu, tapi yang penting seumur hidup sama masmu" kata Fida.
"Ya gak" sambil mencoba memeluk lenganku dan mengedipkan matanya satu.
"Iiih nyebelin" kata Ervi.
"Papi gak salah dengar kan Mi barusan" kata Papi.
"Gak kayaknya deh Pi, Mami tadi juga dengar ada yang bilang seumur hidup gitu sama kamu" kata Mami.
"Kayaknya sih dari suaranya gaj jauh dari sekitar sini."
"Belajar dari mana ya rayuan kaya gitu."
"Dah sana masuk kedalam, dah mau berangkat tuh" kata Fariel.
"Ohh iya, Mami sampe lupa" kata Mami.
"Yaudah ayok Pi kita masuk kedalam."
"Ayok Mi" kata Papi.
"Ervi ayok masuk, dah mau berangkat tuh pesawat nya."
"Iya Pi" kata Ervi.
"Mas peluk dulu sekali aja ya."
"Gak boleh, bukan muhrim" kata Fariel.
"Mas sekali aja" kata Ervi.
"Gak ada peluk-pelukan" kata Mami.
"Dah sana masuk ah, buruan nanti telat malah ketinggalan pesawat" kata Fariel.
Tiba-tiba Ervi langsung memelukku saat aku baru berdiri.
"Lepasin gak" kata Fariel.
"Gak mau, nanti aja, sebentar aja" kata Ervi.
"Ervi ayok buruan" kata Mami.
"Nanti Mami nikahin kamu kalau meluk-meluk mas mu, belum muhrim Ervi."
"Sekarang aja Mi nikahnya, aku mau kok" kata Ervi.
__ADS_1
"Dasar" kata Fida.
"Kenapa kak, iri" kata Ervi.
"Dah lepasin, sekarang masuk" kata Fariel.
"Peluk dulu mas, masa adek yang meluk" kata Ervi.
"Kalau mas gak mau meluk, Ervi gak mau lepasin."
"Huhh" kata Fariel.
"Tapi habis ini langsung lepasin ya, dan masuk" langsung kubalas pelukannya sambil mengusap-ngusap kepala yang ditutupi dengan jilbab.
"Dah lepasin."
"Oke mamas, makasih" kata Ervi, lalu mencubit kedua pipiku.
"Adek bakalan kangen terus sama mamas, sama pipi mas yang mulai tembem dan imut."
"Gemes gemes gemes" sambil menggoyangkan cubitan nya dipipiku hingga kepalaku ikut goyang seperti menggeleng.
"Lepasin gak ini cubitannya" kata Fariel.
"Udah" kata Ervi.
"Papi pamit ya nak, jagain kakak ya" kata Papi.
"Iya Pi, Papi ati-ati dijalan, kalau ada apa-apa nanti langsung hubungi aku ya Pi" kata Fariel.
"Iya" kata Papi.
Langsung kucium tangannya Papi.
"Mami pergi dulu ya anak Mami yang ganteng" kata Mami.
"Iya Mi, Mami baik-baik jaga kesehatan disana, jangan lupa kabarin aku kalau dah sampai" kata Fariel.
"Jangan mikirin yang disini, disini akan kujaga dengan baik."
"Makasih anak Mami yang ganteng ini" kata Mami.
Lalu aku mencium tangan nya Mami.
"Mamas jaga hati baik-baik jangan godain cewek lain apalagi sampai tertarik" kata Ervi.
"Mas hanya boleh buat adek."
"Adek bakalan kangen mas terus nanti disana."
"Mas harus sering-sering vc adek, biar adek gak berat nahan kangennya."
"Iya adek yang manis suka gombal sekarang" kata Fariel.
"Yang penting kamu disana nurut sama Papi, Mami ya, jangan bandel."
"Ingat jaga kesehatan, gak usah begadang, apa lagi ganjen sama cowok."
"Oke siap mamas" kata Ervi.
"Peluk lagi."
"Gak boleh, sana hus" kata Fariel.
"Peluknya kapan-kapan, sekarang bukan waktunya."
"Dada Assalamu'alaikum" kata Papi, Mami, dan Ervi.
"Waalaikumsalam" kata Fariel dan Fida.
__ADS_1
Mohon maaf ya semuanya, lagi ada urusan nih, jadi gak bisa update lebih hari ini, maaf ya.