Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Sadar


__ADS_3

Dimalam hari sekitar jam dua malam akupun terbangun untuk pertama kalinya setelah menjalani operasi.


Aku membuka mata secara perlahan lalu melihat kekanan dan kiri yang ternyata ada mama yang sudah tertidur dengan menyender di bangku sambil duduk. Dan disebelah kananku ada adekku yang paling cantik siapa lagi kalau bukan Ervi, yang sudah tertidur dengan memegangi jari-jari tanganku dan meletakkan kepalanya di lenganku.


"Terimakasih adekku yang paling cantik, sudah mau jagain mas juga sampai tertidur seperti itu".


"Maaf kan mas telah membuatmu jadi seperti ini".


"Mas makin sayang sama kamu" kata Fariel.


Tiba-tiba Ervi terbangun karena aku menggerakkan tanganku yang berasa mati rasa karena digunakan sebagai bantal oleh Ervi.


"Mas sudah sadar" kata Ervi, sambil mengucek-ngucek matanya.


"Mas mau apa".


"Kokk mas nangis" sambil berdiri.


"Mana yang sakit" dengan khawatir.


Dan Mama pun terbangun.


"Qda apa nak" kata Mama, yang baru membuka matanya.


"Mas sudah sadar Ma, tapi" kata Ervi.


"Anak Mama kenapa" kata Mama, yang melihatku meneteskan air matanya.


"Aku gak papa kok Ma, hanya terharu saja melihat adek sampai rela tertidur sambil duduk hanya untuk jagain aku" kata Fariel, dengan terbata-bata.


"Ohh, kirain kenapa" kata Mama.


"Adek kan sayang banget sama kamu, sampai gak rela sedikitpun untuk ninggalin ruangan ini, walau hanya sebentar saja".


"Makasih adek mas yang cantik" kata Fariel.


"Iya mas, adek bakal akan selalu ada buat mas, kapanpun itu" kata Ervi.


"Adek gak mau kehilangan mas".


"Adek benar-benar sayang sama mas" yang ikut meneteskan airmatanya.


"Loh kok ikutan nangis sih anak Mama yang cantik ini" kata Mama.


"Anak Mama gak boleh cengeng dong".


"Ma" (fariel)


"Iya, ada apa" kata Mama.


"Aku mau kekamar mandi, mau buang air" kata Fariel.


"Oh, sebentar ya, Mama banggunin Bapakmu dulu" kata Mama.

__ADS_1


Aku hanya ngangguk, lalu Mama berjalan kearah Bapak yang tidur dengan beralasan tiker bareng Papi juga.


"Pah, bangun Pah" kata Mama, sambil menggoyangkan badannya.


"Iya Ma, ada apa" kata Bapak.


"Itu, anak kita mau buang air kekamar mandi".


"Mama kan gak tau gimana caranya" kata Mama.


Papi pun bangun.


"Ada apa, apa nak Fariel sudah sadar" kata Papi. sambil terbangun dan duduk.


"Sudah Pak, dia minta diantarkan ke kamar mandi mau buang air" kata Mama, jelasnya.


"Ohhh itu, ya udah biar saya bantu juga" kata Papi.


"Makasih Pak, sudah merepotkan kami semua" kata Mama.


"Iya gak papa".


"Ayok Pak" kata Papi.


"Iya ayok" kata Bapak, lalu berdiri dan berjalan kearahku.


"Yuk, katanya mau kekamar mandi" kata Bapak.


Aku hanya ngangguk sebagai jawabannya.


"Yuk, pelan-pelan ya" kata Bapak, yang mengangkatku dibantu sama Papi juga, dan Mama memegangi infus.


"Nih Pah" kata Mama, yang menyerahkan botol infus.


Dan Bapak menerimanya lalu mendorongku menuju kamar mandi, setelah beberapa menit kami keluar.


"Pelan-pelan aja, Bismillahirrahmanirrahim" kata Bapak, yang mencoba mengangkat tubuhku untuk kembali keranjang.


"Makasih Pak, Pi, udah bantu aku" kata Fariel.


"Iya nak" jawab berdua.


"Nak Fariel sudah sadar nak" kata Mami.


"Adek kakak sudah bangun" kata Fida, yang juga ikut terbangun dan berdiri disampingku.


"Iya barusan tadi dua bangun karena mau buang air" kata Mama.


"Ohhh".


"apa nak Fariel lapar, biar Mami buatin bubur" kata Mami.


"Sedikit sih Mi" kata Fariel.

__ADS_1


"Ya udah bentar ya, biar Mami buatkan" kata Mami, lalu menuju meja untuk membuat bubur instan.


Setelah beberapa menit bubur pun jadi.


"Mau Mami yang suapin apa apa Mama kamu yang nyuapin" kata Mami.


"Aku aja ya" kata Ervi, yang meminta persetujuan.


"plis".


Aku hanya ngangguk sebagai persetujuan.


"Sini Mi buburnya" kata Ervi, yang meminta mangkok bubur.


"Nih" kata Mami, sambil menyerahkan buburnya.


"Yuk pelan-pelan" kata Mama, yang mencoba membantuku untuk duduk.


"Bukak mulutnya mas, aaa" kata Ervi.


Dan aku hanya mengikutinya.


"Duhhh, kok kaka jadi pengen ya" kata Fida, yang membuka suara dengan mengelus perut nya.


"Ya udah gantian nanti sama adek kamu ya nak" kata Mama.


"Iya Ma, kalau boleh" kata Fida.


"Boleh dong, kan dede bayinya pengen dekat sama pamannya" Mama.


"Bentar ya kak, dua kali lagi" kata Ervi.


"Aaaa".


"Dah nih kak" sambil menyerahkan mangkok buburnya.


Lalu Fida menerimanya dan duduk dikasur sambil menyuapi ku.


"Aaaa" kata Fida.


"Ini lagi Aaaa".


"Terakhir nih dek" sambil menyendok bubur.


"Alhamdulillah abis juga buburnya".


"Apa masih mau lagi" kata Mami.


"Gak Mi, ini sudah kenyang" kata Fariel.


"Ya udah kalau gitu kamu tidur lagi ya nak, biar bisa cepet sembuh" kata Mama.


Aku hanya ngangguk, dan kembali tidur.

__ADS_1


__ADS_2