
"Dah sekarang kita makan aja langsung, malah ngobrol" kata Fariel.
"Lapar nih, seharian ini ngurusin bayi tua mulu, gendong mulu"
Ada cubitan dikit.
"Mohon yang sabar ini ujian" kata Bapak.
"Iya Pak" kata Fariel.
"Harus tuh Yah, masa enggak tanggung jawab" kata Ervi.
"Jangan maunya yang enak aja, tanggung jawab enggak."
"Ngobrolnya nanti aja ya" kata Papi.
"Kasian tuh dah kelaparan."
"Iya" kata Ervi.
"Kamu duduk aja ya Nak, biar Mama ambilkan" kata Mama.
"Biar kamu enggak susah dan ribet."
"Iya Ma, makasih" kata Fariel.
"Iya" kata Mama.
"Apa Mama Aya juga mau sekalian juga."
"Tuh ditanya, mau makan enggak" kata Fariel, bisiknya pada Fida.
"Dah enggak usah jawab" kata Mami.
"Itu mungkin lagi minta sepiring berdua."
"Disiapin ya Mi" kata Ervi.
"Iya lah" kata Mami.
"Masa enggak" kata Mama dan Mami, lalu ketawa bersama semunya dan membuat aku dicubit lagi.
"Kenapa Sami dicubit sih, Kan mereka yang ketawain kamu" kata Fariel, bisiknya.
"Nanti Sami suapin makannya ya, sekarang diem aja biar enggak malu."
"Kalau malu tutup muka ataupun ngumpet didalam kaos Sami."
__ADS_1
Dicubit lagi.
"Mi suapin nanti, pake tangan aja" kata Fida, bisik padaku.
"Iya nanti kusuapin pokoknya" kata Fariel.
"Apa sih yang enggak buat kamu ini" bisiknya.
"Tapi nanti kalau mereka dah pada pergi, malu" kata Fida, bisiknya.
"Kan dah malu sekarang, kenapa harus nanti" kata Fariel.
"Jangan bisik-bisik gitu" kata Mami.
"Iya, kaya kita dianggap apaan kali ya" kata Ervi.
"Lihat tuh Kak, Mama sama Ayah kamu sukanya gitu, bikin kita bingung aja."
"Mama akal, ebut Ayah" kata Aya.
"Mama enggak rebut Ayah, Mama pinjem bentaran aja" kata Fariel.
"Sekarang Kakak harus pintar, enggak boleh nakal, Mama hanya pinjem sebentar aja, nanti Kakak sama Ayah lagi mainnya kalau Mama dah selesai pinjamnya."
"Tos dulu sama Ayah, tos "
Langsung tos dengan Aya.
"Jangan dimanjakan terlalu" kata Mami.
"Nanti manjanya sampai besar loh."
"Enggak papa Mi selagi bisa memanjakan" kata Fariel.
"Tapi jangan terlalu" kata Mami.
"Dah sekarang kita makan aja" kata Mama.
"Nih spesial buatmu, yang pedas" yang meletakkan didepanku makanan.
"Makasih Ma" kata Fariel.
"Iya, yuk makan yuk" kata Mama.
"Iya ayok" kata Mami.
"Yuk semuanya kita makan, kasian dah ada yang kelaparan."
__ADS_1
"Ayok" kata Ervi, Mama, Bapak dan Papi.
"Iya ayok" kata Fariel.
"Pimpin doa" kata Papi.
"Bapak aja, sekali-kali yang tua yang mimpin" kata Fariel.
"Ngatain Bapak tua maksudnya" kata Bapak.
"Emang dah tua enggak usah bikin ribut, nanti makin tua dan kriput kulitnya" kata Mama.
Membuat yang lain langsung tersenyum kecil.
"Dah buruan pimpin, kasih contoh yang baik bukan bikin ribut, bikin malu aja."
"Kita disini numpang makan dan tidur bukan rumah kita sendiri."
"Heeeeee" kata Bapak, dengan membuka mulutnya ketawa
"Enggak papa, kita disini kan dah jadi satu keluarga, jadi sudah seperti dalam rumah sendiri aja" kata Mami.
"Kalau dah sama perempuan mending ngalah aja, daripada tidur dapat kaki nanti" kata Papi, bisiknya pada Bapak.
Bapak langsung memimpin doa makan dan semuanya langsung makan dengan diam kecuali hanya Aya yang makan enggak ada diam walaupun sudah disuapin oleh Bundanya.
"Kalau maem enggak boleh bicara, diem aja ya" kata Ervi.
"Dah sama Bunda aja disuapinnya, tu Ayah biar makan sendiri, punya Ayah ham" dengan menggerakkan tangan didepan mulut Aya yang seolah pedas dan Aya juga mengikutinya.
"Mau disuapin enggak makannya" kata Fariel.
"Enggak usah malu, anggap aja mereka sedang menonton kita makan."
"Yuk makan yuk."
"Balik badannya ya, biar posisinya enak buat penyuapin."
"Tapi Mi" kata Fida, yang berbisik.
"Enggak papa, Ayok" kata Fariel.
"Nanti kalau kelamaan makin lapar loh, mereka juga enggak papa lihat kita nanti makannya."
"Apa mau makan sendiri pakai sendok sendiri atau mau Sami suapin pakai tangan."
"Pakai tangan aja, tapi suapin" kata Fida.
__ADS_1
"Ya udah balik badannya" kata Fariel.
Langsung dengan malu-malu dan menunduk secara perlahan merubah posisinya.