
"Gmmm ya udah sini mas gendong" kata Fariel.
"Manja banget sih."
"Mas balik badan dulu" kata Ervi.
Dan aku balik badan langsung Ervi loncat kedepan dan tangannya langsung melingkar sileherku.
"Turun, kenapa malah didepan sih" kata Fariel.
"Gak mau turun, adek gak bakalan turun" kata Ervi.
"Gini aja yang enak."
"Cepetan jalan."
"Mas ayo jalan."
"Mamas sayang jalan."
"Camiku sayang aaaayok."
"Iya, pegangan yang kenceng, mas males megangin" kata Fariel.
"Manja banget sih."
"Ini yang bikin mas males jalan sama adek, manjanya kelewatan."
"Lewat mana emang manjanya" kata Ervi.
"Lewat mana aja" kata Fariel.
"Lewat jurang mungkin."
"Ihh camiku sayang mah gak ada romantis-romantisnya sama canis nih" kata Ervi.
"Senyum napa, jangan ditekuk gitu mukanya."
"Kan ade mau lihat senyum mas dari dekat."
"Jadi mas harus senyum dong."
"Iya bawel" kata Fariel.
"Nih mas senyum nih" langsung senyum.
"Kurang ikhlas mah senyumnya" kata Ervi.
"Harus ikhlas kalau senyum."
"Bantuin pegangin ntar adek jatuh, terus sakit gimana."
"Ini tasnya mas pegangin juga."
"Iya sini tasnya" kata Fariel, yang langsung kuterima tasnya dan kubawakan sambil memegangi Ervi supaya gak terjatuh.
"Dah mas pegangin juga, sekarang diem jangan banyak tingkah."
"Oke mamasku sayang" kata Ervi.
"Ayok jalan."
"Biar semua orang iri melihat kita."
"Iya iya" kata Fariel.
"Pegangan yang bener, kakinya jangan terlalu kencang, naikkan kepinggang, biar mas bisa jalan."
"Oke" kata Ervi, yang langsung menaikkan kakinya kebagian pinggangku.
Dan aku pun langsung berjalan ketempat tadi Ervi melemparkan sepatu Hai hil nya dengan menggendongnya.
Tentunya banyak pasang mata yang menatap kearah kami ini, dari anak muda hingga orang tua, bahkan banyak yang mengatakan.
"Duh romantis nya, bikin iri saja."
"Baru nikah ya bang, apa baru jadian."
"Sampe segitunya, gak mau dilepas."
"Duh anak muda jaman sekarang mah aneh-aneh."
"Gak tau tempat."
"Serasa dunia milik berdua."
Aku yang mendengar ucapan mereka hanya membalas dengan senyuman saja.
"Vang jangan bikin jiwa jomblo kami meronta-ronta dong."
"Iya jadi pingin aja kaya abangnya ini, pasti sayang banget nih sama pasangannya."
__ADS_1
"So sweet banget sihhhh."
"Jadi mau digendong."
"Tapi yang gendong gak ada."
"Tuh dengerin, banyak yang bilang kita pasangan romantis mas" kata Ervi.
"Banyak yang iri sama kita."
"Wah ada pasangan yang baru jadian kayaknya nih, apa baru nikah ya."
"Romantis banget."
"Duh manjanya ya bang istrinya."
"Padahal abangnya nyeker, istrinya pake sepatu, tapi kok abangnya mau gendong sih."
"Jadi mau deh."
Kubalas dengan senyuman pada mereka yang mengatakan bermacam kata.
"Makanya turun napa, jangan bikin malu" kata Fariel.
"Ini tuh tempat umum, gak boleh kaya gini diperlihatkan pada mereka."
"Jangan bikin mereka iri, terus malah nanti banyak yang ngelakuin hal kaya gini."
"Lebih baik sekarang turun aja ya."
"Gak mau, gak mau turun" kata Ervi.
"Enakan kaya gini."
"Hemmm manja" kata Fariel.
Dan akupun berjalan menuju tempat yang tadi namun tak menemukan sepatu Ervi yang tadi dilemparkannya padaku.
"Perasaan tadi disini deh sepatu mu dek" kata Fariel.
"Kok gak ada ya."
"Biarin aja hilang, asal jangan cinta mas padaku yang hilang" kata Ervi.
"Cukup sepatu ku aja yang hilang."
"Uhhh mulai deh keluar kata-katanya" kata Fariel.
"Kalau gitu adek yang nyeker berarti, kan mas yang punya sepatu yang adek pake."
"Ihhh gak mau, maunya adek yang pake, terus adek tetap digendong sampe parkiran" kata Ervi.
"Masa yang nyeker yang gendong sih, kan banyak kerikil, kalau mas nanti kakinya luka gimana" kata Fariel.
"Gak papa, kan ada adek yang siap mengobati lukanya" kata Ervi.
"Iya iya iya" kata Fariel.
"Pegangan yang kuat, kamu berat alnya nih."
"Iya mamas ku sayang, camiku sayang" kata Ervi.
"Ni naik tangga nih, jadi berasa bawa drum minyak nih" kata Fariel.
"Ihh masa disamain sama drum sih" kata Ervi.
"Bis beratnya sama sih" kata Fariel.
"Pegangan ya."
"He'em" kata Ervi.
Dan aku langsung menaiki anak tangga secara perlahan, walaupun gak banyak tapi yang harus hati-hati dan lelah dah pasti.
"Dah turun ni dah sampe" kata Fariel.
"Naikkin sekalian di motor" kata Ervi.
"Ya susah lah, mas aja belum naik duluan, gimana kamu yang naik duluan yang bonceng sih" kata Fariel.
"Sekarang turun dong, mas capek nih."
"So sweet banget mas."
"Pake digendong segala, mana nyeker gitu, gak takut licin terus jatuh atau kena kerikil kakinya mas."
"Ya mau gimana lagi bang namanya juga sayang, ya harus dituruti kalau gak bakal berabe sampai rumah" kata Fariel.
"Ohh istrinya ya mas."
"Biar ku parkiran mas motornya, jadi mas sante aja."
__ADS_1
"Makasih bang" kata Fariel.
"Dah turun buruan dong."
"Tadi adek gak salah dengar kan mas" kata Ervi.
"Ya kalau budeg ya salah dengar" kata Fariel.
"Iih jahat banget sih pake bilang budeg segala" kata Ervi, yang sambil memukul dadaku.
"Ya kalau gak budeg berarti ya dengar nya gak salah" kata Fariel.
"Sekarang turun oke."
"Dah nih mas."
"Oh, makasih bang" kata Fariel.
"Turun dek, mas mau bayar parkir dulu ini."
"Biar adek yang bayar" kata Ervi.
"Bentar ya bang."
"Sini tasnya mas."
"Nih" kata Fariel.
Lalu Ervi menerima dan mengmbil uang tuk bayar parkir.
"Nih bang uang parkirnya, makasih dah mau jagain kendaraan disini dengan aman" kata Ervi.
"Emang dah tugas kami menjaganya."
"Ini kembaliannya."
"Gak usah bang, simpan saja, atau kalau nanti ada yang gak bisa bayar parkir, anggap aja dari uang itu tuk bayar" kata Ervi.
"Baik kalau gitu biar nanti kalau ada yang gak bayar dah dibayarkan sama mas dan kakaknya."
"Tapi ini masih banyak banget loh sisanya."
"Gak papa ambil aja" kata Fariel.
"Makasih banyak ya bang."
"Kudoakan semoga hubungan kalian tetap langgeng dan selalu harmonis, segera dikasih momongan."
"Aminnn" kata Ervi, dengan semangat dan keras.
"Kalau gitu saya ke yang lain dulu."
"Terimakasih untuk semuanya."
"Iya" kata Fariel.
"Turun buruan ah, ini dah sore dan harus segera pulang, nanti kemalaman dan ketinggalan Shalat Maghrib."
"Iya camiku sayang" kata Ervi, dan langsung turun lalu meraih tanganku.
"Emmmuachhhhh" yang mencium tanganku.
"Sebelum sah berarti boleh nyium tangan mas."
"Terserah adek aja" kata Fariel.
"Lebih baik sekarang kita naik motor dan pulang."
"Oke" kata Ervi.
Dan aku langsung menaiki motorku.
"Yuk cepetan naik."
"Bantuin pegangin" kata Ervi.
Dan langsung kubantu untuk naik dengan memegangi tangan nya.
"Susah sendiri kan, makanya jangan dibuat setinggi ini" kata Fariel.
"Yang kemarin aja dah lumayan tinggi, ini malah ditinggikan lagi."
"Cepet pegangan yang kuat."
"Hehehe" kata Ervi.
"Oke, lets go camiku sayang kita pulang" dengan mengangkat tangannya keatas lalu berpegangan dan melingkar kan tangannya di pinggangku.
Aku hanya menggeleng kan kepala karena tingkah Ervi, dan keceriaan Ervi hari ini.
Langsung ku hidupkan motornya dan jalan untuk pulang dengan kondisi kaki yang tak beralasan atau nyeker.
__ADS_1
Masa berangkat pakai pakaian lengkap dan wangi pulangnya nyeker dan kotor kena pasir pantai,
apa kata orang yang lihat nanti, pasangan romantis kok gak pake sepatu malah nyeker mengendarai motor, kan gak lucu.