Dua Istri Tercinta

Dua Istri Tercinta
Aya atau Ayesha


__ADS_3

Sambil makan buah dan roti, aku bermain game untuk menghilangkan jenuh walau hanya game biasa tapi lumayan bisa menghilangkan jenuh.


"Yahhh mati" kata Fariel.


"Sialan, dah capek-capek bikin poin yang banyak malah modar."


"Daaa" kata Fida.


"Udah lah gak usah main game, Uda gak cocok main game, cocoknya main ludo" kata Fda.


"Tau aja nyai" kata Fariel.


"Ini yang mati bukan gamenya, tapi hpku nihhh" yang menunjukkan HP ku pada Fida dengan mengangkat keatas, karena aku masih memunggungi nya.


"Hahahaha, kasiannya Uda nya ya Aya, hpnya mati" kata Fida.


"Makan lagi aja ahhh" kata Fariel.


"Tuhh Uda Fariel yang ngasih nama kamu" kata Fida.


"Nanti kalau dah besar jangan nakal ya, Aya harus nurut sama Udaku, gak boleh nakal."


"Aya nanti mau manggil apa sama Uda nih."


"Mau manggil Uda sama seperti Mama atau mau manggil Om, tapi kalau Om gak pas kayaknya."


"Oh Papa Fariel aja."


"Iya Papa Fariel aja yang pas ya anak Mama."


"Da, Daaa."


"Hemmm, apaan" kata Fariel.


"Sini napa, masih aja munggungin nyai kaya gitu" kata Fida.


"Nyai kan masih ngasih ASI buat Ayesha" kata Fariel.


"Udah gak kok, ini dah selesai ngasih ASI nya" kata Fida.


"Sini napa tolongin nyai, emang gak mau gendong Aya apa."

__ADS_1


"Tolong dong gendong, nyai dah pegel nih tangannya."


"Mau makan buah sama roti juga, lapar juga nih."


"Iya, bentar ya Ayesha sayang, tunggu bentar" kata Fariel, langsung berdiri dan berjalan kearahnya.


"Duh makin gemes aja nih, pipinya makin tembem nih habis mimi cucu" noelin pipi Fida bukan Aya.


"Ihhh angkat, malah noelin pipiku" kata Fida.


"Oh salah ya" kata Fariel.


"Pantesan tembem."


"Bilang aja mau ngelap ke muka nyai bekas roti ditangan Uda" kata Fida.


"Hehehehe, tau aja" kata Fariel.


"Aku cuci tangan bentar ya, sama mau buang sampah bentar."


"Jangan lama, awas kalau lama, aku nikahin nanti buat jadi Ayah Aya, ya kan Aya" kata Fida.


Aya yang seolah tau apa yang Mamanya bicara hanya senyum.


"Aya mau ya Uda jadi Ayahnya Aya."


"Terserah lah, akun mau kekamar mandi" kata Fariel.


"Ayesha jangan rewel dan diem aja ya disitu."


"Bobo yang cantik."


"Jangan dengerin Mamamu kalau ngomongnya ngelantur dan aneh."


"Bagusss" sambil mengacungkan jempol karena Aya tersenyum lagi.


Aku langsung masuk kekamar mandi buat buang sampah yang dah nyampai dipucuk.


Setelah selesai membuang sampah aku langsung balik lagi buat gendong Ayesha.


"Dah, sekarang Ayesha kugendong sama om ganteng ya, kasian Mama, lapar katanya" kata Fariel.

__ADS_1


"Duh cantiknya ponakanku."


"Pipinya tembem bener."


"Nanti kalau dah besar kita main ya, mau main apa, boneka Barbie apa beruang atau bola voli kaya Om."


"Apa masak-masakan kaya chef."


"Da" kata Fida.


"Hemm" kata Fariel.


"Kapan Uda bakal nikah" kata Fida.


"Dah cocok tuh gendong Aya, dah bisa dipanggil Ayah juga."


"Masih panjang jalanku, belum berpikir kesitu, lagi mikir gimana caranya bahagiakan kedua orang tua dulu, bagusin rumah dulu, baru mikir kesitu" kata Fariel.


"Kelamaan dong kalau gitu" kata Fida.


"Bukannya Mama dah minta cucu ya."


"Itu sih gara-gara nyai sama adek, Papi dan Mami aja yang suka bikin Mamaku jadi pengen cucu" kata Fariel.


"Loh kok nyai sih" kata Fida.


"Mama sama Bapak tuh pengen ada anak kecil dirumah biar rame, kalau ada tangisan anak kecil kan jadi rame, jadi betah dirumah, pulang-pulang lihat cucu sama main sama cucu."


"Mandiin cucu, bukan mandiin Uda."


"Iya juga sih, tapi gak gitu juga, dah besar gini masa dimandiin, urat malunya kemana" kata Fariel.


"Tapi enggak dulu aja."


"Nanti kalau dah pada waktunya barulah Uda nikah."


"Iya kan Ayesha, Om nikahnya nanti ya kalau dah bisa bahagiakan orang tua."


"Bahagia orang tua bukan dari situnya da" (fida)


"Kebahagiaan bisa melihat Uda menikah dan punya keluarga yang harmonis."

__ADS_1


"Oke, besok Uda nikah" kata Fariel.


Sama siapa.


__ADS_2