
Langsung tatapan Aya ke Mama dan Bundanya dengan seperti sedang memarahinya.
"Ini anak siapa sih, kok Mama ditatap begitu" kata Fida.
"Ini anak ikutan siapa sih" kata Ervi.
"Yang ngajarin siapa coba, bisa gini."
"Yang jelas bukan Mama, tapi dah pasti Ayahnya, siapa lagi" kata Fida.
"Pinter, ini baru anak Ayah yang paling Ayah sayang" kata Fariel.
"Sini ke Ayah sini, kita main yuk, jalan-jalan."
"Yo" kata Aya.
"Ma uyun."
"Ayah jangan ngajarin anak begitu napa sih" kata Fida.
"Perasaan enggak ada kuajarin apapun deh" kata Fariel.
"Mungkin aja itu karena suka lihat kalian kalau suka marah-marah enggak jelas ke Ayah, makanya Aya ngikutin kalian yang suka seperti itu."
"Uyun" kata Aya.
"Iya, turun iya" kata Fida, langsung menurunkan Aya dan Aya langsung berlari kearahku.
"Ndong" kata Aya.
"Oke, anak Ayah yang cantik" kata Fariel, langsung kugendong.
"Cuci tangan dulu ya, biar enggak bau, dan bajunya enggak kotor kena bekas makanan."
"Ayah mau kemana" kata Ervi.
"Ayah dah janji buat nemenin Bunda pagi ini buat periksa."
"Main bentar, sampai kalian lupa sama hukumannya dan enggak marah lagi enggak suka bahas masalaluku lagi" kata Fariel.
"Ya kan cantik" pada Aya, tapi hanya ketawa kecil darinya.
"Iya enggak marah lagi sama Ayah" kata Ervi.
"Tapi harus temanin nanti buat periksa" dengan muka cemberutnya.
"Kami dah enggak marah lagi kok" kata Fida.
"Maafin kita ya yang suka bahas itu, dan bikin Ayah marah."
__ADS_1
"Dah kumaafkan" kata Fariel.
"Tapi enggak janji, nanti malah dibikin adonan sama kalian."
"Iya deh kami salah" kata Fida.
"Tapi nanti temanin Bunda ke Obgyn buat periksa."
"Besok baru giliran aku antarakan juga ke Obgyn."
"Plis deh."
"Iya, nanti kuantarkan kemanapun" kata Fariel.
"Kalau besok enggak janji, besok kayaknya ada pertemuan dikantor, kecuali rada siang."
"Iya enggak papa, siang juga boleh kok" kata FidaFida.
"Makasih Yah."
"Iya, sama-sama" kata Fariel
"Dah ya, enggak ada lagi kan yang mau marah."
"Kalau ada, Ayah mau kabur, dan jalan-jalan sama anak cantik Ayah."
"Kita cuci tangan baru kita main" kata Fariel.
"Iya Ayah" kata Aya, langsung mencuci tangannya.
"Jangan jauh mainnya, jangan lama" kata Ervi.
"Nanti jam sepuluh kita ke Dokter Obgyn."
"Iya, santai aja, enggak bakal jauh dan lama" kata Fariel.
"Engvak boleh ganti pakaian dan enggak boleh di lepas itu bandu" kata Ervi.
"Kok gitu, masa keluar kaya gini" kata Fariel.
"Pokoknya enggak boleh ya enggak boleh" kata Ervi.
"Kalau enggak Bunda ngambek nih."
"Iya deh iya" kata Fariel.
"Dah ya."
"Dada dulu sama Bunda dan Mama."
__ADS_1
"Da Unda Mama" kata Aya.
"Dada anak Bunda yang cantik" kata Ervi.
"Iya, dada anak Mama" kata Fida.
"Jangan nakal sama Ayah kalau main."
"Assalamu'alaikum" kata Fariel.
"A ikum" kata Aya.
"Waalaikumsalam" kata Fida dan Ervi.
"Mau main kemana kita" kata Fariel.
"Aya mau ngajak main kemana."
"Li es kim" kata Aya.
"Oke, tapi dirumah kan ada" kata Fariel.
"Masa mau beli lagi."
"Yang toeli" kata Aya, maksudnya strowberi.
"Kan masih pagi, kok beli es" kata Fariel.
"At nti" kata Aya, buat nanti maksudnya.
"Sama beli apa lagi" kata Fariel.
"Hemmm li angka" kata Aya, semangka maksudnya.
"Oke sip" kata Fariel.
"Pake mobil apa motor."
"Otoy Ayah" kata Aya, motor maksudnya.
"Oke, tapi ambil jarit dulu biar nanti bisa buat ngiket perut Aya biar enggak jatuh" kata Fariel.
"Atuh" kata Aya.
"Iya, kalau jatuh nanti jadi sakit" kata Fariel.
"Kalau dah sakit nanti enggak bisa main lagi, enggak bisa jalan-jalan."
Langsung kiambil jarit dikamar dan langsung menuju garasi, dan pergi jalan-jalan.
__ADS_1