RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PENGANGKATAN RAJA BARU


__ADS_3

...***...


Awan Hitam menggulung di atas istana kerajaan Suka Damai. Awan hitam yang membawa kesedihan untuk semua orang termasuk keluarga besar istana. Kematian Maharaja Bahuwirya Dihyan Darya dengan gelar Kawiswara Arya Ragnala setelah bertarung dengan musuh besarnya bernama  Wajendra Bhadrika, seorang raja kegelapan yang menginginkan kerajaan Suka Damai.


Di kamar pribadi sang prabu. Sebelum sang Prabu menghembus nafasnya, ia sempat memanggil putra bungsunya Bahuwirya Cakara Casugraha. Sang Prabu menyampaikan beberapa permintaannya pada putranya agar melindungi Istana ini. "Ayahanda selalu merelakan apapun yang nanda lakukan. Termasuk ketika nanda memutuskan untuk masuk agama Islam." Sang prabu menggenggam kuat tangan putranya. Ia masih memperlihatkan senyumannya seperti biasanya. Senyuman kasih sayang kepada anaknya.


"Terima kasih ayahanda prabu. Jika bukan karena ridho ayahanda prabu. Ananda tidak akan bisa ayahanda." Raden Cakara Casugraha berusaha menahan tangisnya. Ia tidak mau menambah beban ayahandanya. Kondisi ayahandanya yang sekarang membuat hatinya pilu seperti disayat oleh pedang tajam.


"Tidak perlu bersedih, putraku." Sang prabu dengan mata sayup-sayup dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh putranya. Ia tahu anaknya sudah berusaha untuk mengobatinya dengan membacakan ayat suci Alquran, namun sepertinya Tuhan berkata lain.


"Sepertinya sudah saatnya pergi, ayahanda tidak bisa berlama-lama lagi." Dada sang Prabu semakin terasa sesak, sakit, dan terasa sulit bernafas seperti normal biasanya. Ia tidak mau meninggalkan kesedihan bagi putranya.


"Ananda mohon ayahanda prabu jangan berkata seperti itu. Percayalah bahwa Allah SWT akan selalu memberikan keselamatan kepada umatnya. Bertahanlah ayahanda prabu, hanya ayahanda prabu yang mampu melindungi kerajaan ini." Raden Cakara Casugraha tidak kuasa menahan tangisnya saat mendengarkan perkataan ayahandanya.  Ia berusaha meyakinkan ayahandanya masih ada jalan lain jika Allah menghendaki.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil, ia mencoba meraih kepala putranya dan mencium puncak kepalanya seperti yang biasa ia lakukan ketika sang prabu masih sehat. Setelah itu sang Prabu mengeluarkan sebuah mustika Naga merah Delima yang memancarkan sinar terang, ia berikan kepada putranya. "Jagalah kerajaan ini beserta rakyatnya. Janganlah sekali-kali nanda menutup mata hati untuk siapapun. Jagalah kedamaian dengan segenap hatimu, dengarkan panggilan mereka yang menginginkan kesejahteraan."


Setelah mengatakan apa yang ia katakan, Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala atau nama aslinya Bahuwirya Dihyan Darya menghembus nafas terakhirnya. Ia telah memberikan sebuah amanat kepada putra bungsunya Raden Cakara Casugraha untuk selalu melindungi kerajaan Suka Damai.


Meskipun sang prabu telah tiada, ia yakin bahwa Wajendra Bhadrika masih mengincar kerajaan ini. Pertarungan itu membuat keduanya terluka parah. Sang Prabu tidak dapat lagi menahan racun yang ada di dalam tubuhnya karena bertarung di istana kerajaan kegelapan.


"Ayahanda. Semoga apa yang akan ananda lakukan tidak membuat ayahanda kecewa nantinya." Raden Cakara Casugraha menguatkan hatinya dengan terus mengingat apa yang telah dikatakan oleh ayahandanya. Apakah yang akan terjadi setelah ini?.


...***...


Satu hari setelah kepergian sang Prabu, Istana sedang dibanjiri oleh rakyat yang ingin melihat pengangkatan raja baru. Mereka semua hadir di Balai Istana.


Di sana keluarga istana telah berkumpul, begitu juga para petinggi kerajaan, bahkan raja bawahan yang ikut serta menyaksikan siapa salah satu dari anak sang prabu yang akan menggantikannya.


Termasuk tiga permaisuri mendiang Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala, Yaitunya Ardiningrum Bintari dengan ketiga anaknya Bahuwirya Ganendra Garjitha putra pertama, Bahuwirya Gentala Giandra putra kedua, dan putrinya bernama Bahuwirya Ambarsari.


Permaisuri kedua Yaitunya Gendhis Cendrawati dengan kedua anaknya, satu orang laki-laki dan satu anak perempuan. Anak pertama bernama Bahuwirya Hadyan Hastanta, anak keduanya bernama Bahuwirya Andhini Andita.


Permaisuri ketiga Yaitunya Dewi Anindyaswari dengan kedua anaknya, yang pertama anak perempuannya bernama Bahuwirya Agniasari Ariani, dan Putranya bernama Bahuwirya Cakara Casugraha.


"Salam kami wahai para leluhur raja agung kerajaan Suka Damai." Pendeta agung telah memulai upacara pengangkatan raja baru, ia telah membacakan kata-kata penghormatan. "Wahai para leluhur raja kami yang agung, dengan ini kami memohon kepadamu agar mendapatkan restu untuk memutuskan siapa yang akan menjadi raja berikutnya." Pedanda istana juga ikut serta dalam upacara tersebut, mereka membacakan wasiat-wasiat raja terdahulu di depan singgasana dengan khusuknya. "Sekarang, duduklah salah satu dari anak mendiang gusti prabu bahuwirya dihyan darya atau dengan nama gelar kawiswara arya ragnala." Ucap pendeta agung istana.


Tentunya membuat mereka bertanya-tanya apa maksud dari perkataan itu?. Hingga suasana balai pertemuan istana sedikit gaduh, keributan yang terjadi karena ucapan pendeta agung Istana.

__ADS_1


"Baiklah, sebelum itu hamba akan menjelaskan cara menentukan siapa yang berhak untuk menjadi raja berikutnya." Pendeta agung Istana mengerti dari keributan mereka, karena itulah ia berniat untuk menjelaskan kepada mereka semua, alasan dari sebab dan akibatnya. "Seperti yang kita lihat bahwa tidak ada mahkota atau jubah kebesaran dari raja agung kerajaan suka damai." Pendeta Agung Istana mencoba menjelaskan dari awal, dan benar apa yang dikatakan oleh sang pendeta. Mereka semua tidak melihat mahkota raja, ataupun jubah kebesaran raja. Apa yang terjadi?. Bukankah jubah serta mahkota itu adalah simbol penting untuk menjadi seorang raja?.


"Apa maksud dari semua ini sepuh, mengapa tidak ada keduanya?. Kami sama sekali tidak mengerti." Prabu Jayastu Kama mewakili mereka semua bertanya. Apakah kedua benda tersebut akan dikeluarkan setelah raja baru ditetapkan, atau barang siapa yang dapat menemukan kedua benda tersebut akan menjadi raja baru?.


"Apakah ini sebuah sayembara jika menemukan kedua benda penting itu akan menjadi seorang raja?." Raden Ganendra Garjitha putra pertama mencoba menerka apa yang hendak disampaikan oleh Pendeta agung Istana. Namun sayangnya tidaklah seperti itu, tidak seperti itu yang terjadi.


"Mohon maaf Raden, bukanlah seperti itu yang terjadi." pendeta agung istana memberi salam hormat pada putra pertama mendiang prabu Kawiswara Arya Ragnala. Jawaban Pendeta agung istana membuat mereka semua keheranan, lalu bagaimana caranya?.


"Dengarkan kisah ketika mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala diangkat menjadi raja." Pendeta agung Istana menceritakan awal sang Prabu diangkat menjadi raja. Ia masih mengingatnya dengan jelas peristiwa hari itu. "Tiga dari bersaudara bahuwirya, yaitunya bahuwirya hanenda padantya, bahuwirya rajendra lawana, dan gusti prabu bahuwirya dihyan darya. Hanya gusti prabu bahuwirya dihyan darya yang terpilih sebagai raja dengan gelar kawiswara arya ragnala." Pendeta agung Istana menyebutkan tiga kandidat raja sebelumnya. Karena ia yang menjadi saksi hidup pada saat peristiwa penting itu.


"Syaratnya hanyalah dengan duduk di singgasana ini." Lanjutnya lagi, membuat mereka semakin bertanya-tanya. Bukankah itu sangat mudah untuk dilakukan?. Bahkan orang biasa, rakyat rendahan bisa melakukannya bukan?.


"Apa maksud perkataan anda sepuh?. Apakah sepuh sedang tidak bergurau dengan kami semua?." Ratu Ardiningrum Bintari sangat heran dengan apa yang dikatakan oleh pendeta ini seperti sedang mengada-ada.


"Mohon maaf gusti ratu, tapi ini bukanlah sesuatu hal yang sederhana seperti yang kita dengar." Sang pendeta kali ini memberi hormat pada Ratu Ardiningrum Bintari, ia tidak mungkin salah dalam berkata. "Jika gusti ratu ingin membuktikannya, panggil saja salah satu prajurit istana sebagai ajudannya." Pendeta agung istana seraya berkata demikian, ia ingin membuktikan apa yang ia katakan bukanlah sebuah kebohongan belaka. Namun mereka semua saling berpandangan, dan memutuskan untuk membuktikan perkataan pendeta agung Istana.


"Kau!. kemarilah!." Senopati Mandaka Sakuta memanggil salah satu prajurit yang mengawasi acara tersebut mendekati Senopati itu.


"Coba kau duduk di singgasana itu!." Perintah Senopati Mandaka Sakuta pada prajurit tersebut, namun tampaknya prajurit tersebut keberatan, apalagi tatapan aneh mereka padanya.


"Lihatlah sepuh, prajurit itu duduk di sana." Raden Ganendra Garjitha melihat dengan jelas bahwa prajurit itu bisa menduduki singgasana itu tanpa adanya kejadian apapun?. Pendeta agung istana tersenyum kecil.


"Lihatlah baik-baik raden." Pendeta agung istana berkata dengan ramah, dan benar saja, saat mereka semua melihat ke arah singgasana. Tiba-tiba saja tubuh prajurit itu melayang, dan ia berteriak kesakitan, setelah itu prajurit itu terlempar jauh dari singgasana.


Mereka yang menyaksikannya terkejut, bagaimana bisa itu terjadi?. Apa yang membuat prajurit itu terlempar jauh?. Prajurit lainnya mencoba membantu prajurit tadi, mereka membawanya keluar dari balai pertemuan istana agar mendapatkan perawatan jika melihat luka yang dialami olehnya.


"Sudah hamba katakan, itu tidaklah sesederhana yang didengarkan." Pendeta agung istana hanya tersenyum kecil, ia melihat raut wajah tak percaya mereka semua. Kejadian ini sangat nyata, dan ia tidak ada sandiwara apapun di sana.


"Lalu apa yang harus kami lakukan?. Supaya salah satu dari kami menjadi raja?." Kali ini Raden Gentala Giandra yang bertanya, apa yang harus mereka lakukan agar dapat menjadi seorang raja?.


"Lakukan seperti yang dilakukan oleh prajurit tadi raden, yaitunya duduk di singgasana." Jawab pendeta agung istana masih dengan senyuman ramah, ia sudah mengatakan dari awal.


"Lalu apa tanda jika kami benar-benar menjadi seorang raja?." Raden Hadyan Hastanta, putra dari permaisuri Gendhis Cendrawati yang bertanya. Ia percaya bahwa dirinya lah yang akan menjadi raja berikutnya.


"Singgasana itu bukanlah singgasana sembarangan yang mau menerima orang yang mau didudukinya. Tapi sebagi tanda jika ia menerima seseorang yang berhak mendudukinya, maka dengan sendirinya mahkota raja akan terpasang di kepalanya. Ia juga akan mengenakan jubah kebesaran raja, serta terdapat sebuah daun lontar yang menyatakan gelar sang prabu sebagai apa."


Penjelasan dari pendeta agung istana kali ini sangat jelas dimengerti oleh mereka semua. Jadi inti dari penobatan raja kali ini adalah, singgasana itulah yang memilih rajanya?. dan yang terpilih akan keluar dua benda pusaka tersebut, serta selembar daun lontar yang berisikan raja tersebut akan bergelar sebagai apa?.

__ADS_1


"Rayi, sepertinya kau harus mencobanya." Putri dari permaisuri Dewi Anindyaswari berkata kepada adiknya agar mengikuti acara penentuan pengangkatan raja.


"Yunda tenang saja. Berdoalah, semoga Allah SWT mentakdirkan diriku menjadi seorang raja seperti yang diinginkan oleh ayahanda prabu." Raden Cakara Casugraha hanya berharap, ia tidak mau mendiang ayahandanya kecewa jika bukan dirinya yang menjadi raja.


"Kalau begitu, aku yang akan mencobanya." Dengan perasaan angkuh dan sombong, Raden Ganendra Garjitha maju ke depan, ia duduk di singgasana tersebut. Mereka sebagai saksinya, melihat tidak ada yang berubah dari Raden Ganendra Garjitha.


"kenapa tidak ada mahkota atau jubah kebesaran raja yang muncul?." Raden Ganendra Garjitha merasa marah, mengapa tidak ada yang muncul?. Bukankah ia adalah putra dari sang Prabu?. Kejadian memalukan dialami Raden Ganendra Garjitha, ia jatuh tersungkur secara tidak terhormat dihadapan mereka semua.


"Putraku." Ratu Ardiningrum Bintari segera berlari menghampiri putranya, membantunya untuk berdiri.


"Sakit sekali tubuhku ibunda." Raden Ganendra Garjitha meringis kesakitan, ia tidak pernah merasakan sakit luar biasa terlempar dari singgasana?.


"Raka, apa kau baik-baik saja?." Putri Ambarsari mencemaskan keadaan kakak laki-lakinya, ia melihat ada memar merah di beberapa tubuh kakaknya itu.


"Baiklah, jika raka Ganendra Garjitha tidak bisa melakukannya maka aku akan mencobanya." Raden Gentala Giandra juga ingin mencobanya, ia juga ingin membuktikan bahwa dirinya lah yang pantas menjadi penerus ayahandanya. Akan tetapi hasilnya tetap sama saja, Raden Gentala Giandra bahkan tidak bisa mendekati singgasana tersebut.


Melihat itu semua, mereka jadi bertanya-tanya, jika anak pertama dan anak kedua tidak bisa, apakah anak-anak lain sang prabu juga tidak bisa?. Lalu apa yang akan terjadi pada kerajaan ini jika tidak ada pemimpinnya?. Bahkan putri dari permaisuri Ardiningrum Bintari, dan Permaisuri Gendhis Cendrawati pun tidak bisa?.


"Yang terakhir, salah satu diantara kalian harus mencobanya." Pendeta Agung menatap kedua anak dari Permaisuri Dewi Anindyaswari, ia berharap salah satu dari mereka bisa menjadi raja.


Putri Agniasari Ariani tersenyum kecil, ia begitu terlihat manis, hingga membuat hati mereka luluh melihat senyuman tulus itu. "Mohon maaf sepuh. Sepertinya saya belum pantas untuk memimpin kerajaan ini, apalagi kodrat saya sebagai seorang wanita." Tutur katanya yang santun, merendahkan diri dihadapan mereka semua, hingga mereka menatap simpati ke arahnya.


"Saya rasa, rayi cakara casugraha lah yang pantas mencobanya." Putri Agniasari Ariani mempersilahkan adiknya untuk maju, mencoba peruntungan yang ia miliki.


Mata mereka semua tertuju pada putra bungsu mendiang sang prabu. Jika putri Agniasari Ariani menolak, maka satu-satunya harapan mereka adalah putra bungsu mendiang sang Prabu.


"Bismillahirrahmanirrahim." Dalam hatinya, ia mengungkapkan kalimat baik. Ia bangkit dari duduknya, kemudian berjalan dengan tenang, mendekati ibundanya. Bersimpuh tepat dihadapan ibundanya. Membuat mereka keheranan melihat apa yang dilakukannya.


"Ibunda." Mata itu menatap ibundanya dengan tatapan teduh, penuh kasih sayang serta kelembutan sebagai seorang anak. Hingga Ratu Dewi Anindyaswari dapat merasakan apa yang dirasakan putranya.


"Ananda memohon ridho dari ibunda. Karena tidak ada kekuatan di dunia ini selain doa seorang ibu."


Hati permaisuri Dewi Anindyaswari bergetar mendengarkan apa yang dikatakan oleh putranya. Apalagi ketika putranya itu mencium tangannya penuh dengan kelembutan. Putranya meminta doa agar semua urusannya lancar?.


Apakah Raden Cakara Casugraha akan menjadi Raja?. Baca selengkapnya di halaman berikutnya, jangan lupa vote, like dan komentar agar terus semangat lanjutin ceritanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2