RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEPULANGAN SANG PRABU


__ADS_3

...***...


"Putraku!." Ratu Ardiningrum Bintari terkejut melihat putranya. Ia langsung menghampiri putranya, ia membantu putranya yang sedang meringis kesakitan.


"Raka ganendra garjitha gagal?." Batin Raden Gentala Giandra tercengang, melihat kegagalan dari kakaknya itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi?. Kenapa singgasana itu, tidak menerima raka ganendra garjitha sebagai raja?. Apa sebenarnya makna dari raja?."


Batin Raden Hadyan Hastanta merasa bingung, dan ia membandingkan sifat mereka, dengan sifat adiknya Raden Cakara Casugraha.


Bukankah dulu Raden Cakara Casugraha, lebih berbeda dari yang sekarang?. Apalagi sejak adiknya itu masuk Islam.


"Ini sangat aneh, kenapa selalu seperti itu?." Ratu Gendhis Cendrawati merasa cemas melihat itu, ia tidak mengerti dengan pemilihan raja di kerajaan Suka Damai.


"Semoga saja putraku hadyan hastanta bisa menjadi raja." Dalam hatinya berharap, anaknya lah yang akan menjadi raja.


"Raka."


putri Ambarsari mengkhawatirkan keadaan kakaknya. Ia merasa aneh, mengapa sudah dua kali, kejadian memalukan ini menimpa kakaknya?. Apakah singgasana itu memang memiliki nyawa, untuk memilih siapa sang berhak menjadi raja?. Tapi kenapa hal aneh itu bisa terjadi di kerajaan ini?.


Namun disaat mereka masih tercengang, dengan apa yang dialami oleh Raden Ganendra Garjitha. Mereka dikejutkan oleh kedatangan, sosok bertopeng hitam dengan tiba-tiba duduk di singgasana. Orang misterius itu dengan lancangnya duduk di singgasana itu tanpa izin.


"Siapa kau?!. Berani sekali kau duduk di singgasana, kebesaran kerajaan Suka Damai." Senopati Mandaka Sakuta mengarahkan senjatanya untuk mengancam orang tersebut.


Namun orang misterius itu hanya diam saja, ia diam dengan tenangnya. Tidak merasa terganggu sama sekali, dengan ujung pedang yang kapan saja siap mengancam keselamatannya.


Tapi rasanya ada yang aneh.


Mereka semua terkejut, dan terheran-heran. Karena orang itu masih aman di singgasana itu?. Sedangkan Raden Ganendra Garjitha, yang tadi mencoba menduduki singgasana itu, malah terlempar dari sana. Tapi bagaimana bisa, orang itu masih bisa duduk dengan tenang di singgasana itu?. Apakah itu artinya, ia menjadi raja baru?. Tapi kenapa tidak muncul mahkota, atau jubah kebesaran kerajaan Suka Damai?.


"Hei!. Siapa kau?. Beraninya kau duduk di singgasana itu!. Kau tidak berhak menjadi raja!. Jika kau bukan keturunan langsung, dari mendiang ayahanda prabu Kawiswara Arya Ragnala!."


Bentak Raden Gentala dengan amarah yang berapi-api. siapa orang itu?. Mengapa ia tidak mengalami hal yang serupa dengan kakaknya?.


"Jangan-jangan dia adalah rayi prabu, yang menyamar menyerupai orang yang sering bersamanya?." Putri Andhini Andita mencoba berpikir jernih. Mengapa orang itu dengan santainya duduk di singgasana itu?.


Rasa penasaran putri Andhini Andita terjawab, ketika mereka semua melihat kedatangan Ratu Dewi Anindyaswari, yang katanya tidak akan melihat pengangkatan raja baru?. Tapi malah berada di sini dengan keadaan seperti itu?.


"Putraku cakara casugraha." Ucap Ratu Dewi Anindyaswari dengan perasaan rindu. Ia mendekati orang asing yang kini sedang duduk di singgasana, ia seakan ingin memeluk sosok itu.


Mereka yang mendengar Ratu Dewi Anindyaswari, menyebut nama putranya, mereka memandang aneh pada ratu Dewi Anindyaswari. Apakah begitu sedih hatinya karena kehilangan putranya, hingga membuatnya seperti itu?.


"Gusti ratu, apa yang gusti ratu katakan?."


Senopati Mandaka Sakuta merasa heran, ia menarik kembali senjatanya. karena melihat Ratu Dewi Anindyaswari mendekati orang misterius itu.


"Kau kembali nak. Kau kembali sesuai dengan janjimu nak."


Ratu Dewi Anindyaswari tidak menghiraukan, apa yang dikatakan Senopati Mandaka Sakuta. Ia hanya menangis melihat kehadiran anaknya,  hatinya berkata itu adalah putranya. Ternyata bisikan itu memang benar dari putra Cakara Casugraha?.


Orang misterius bangkit dari duduknya, ia membuka topeng yang menutupi wajahnya itu, hingga terlihat senyuman manis dari wajahnya, dan ia menyambut pelukan ibundanya.


"Ibunda."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak dapat menahan kerinduannya, pada ibunda yang sangat ia sayangi.


Sementara itu mereka semua terkejut, tidak percaya jika orang bertopeng itu, adalah prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Jadi ia masih hidup?. Tapi bagaimana ceritanya?.


Ratu Dewi Anindyaswari melepaskan pelukannya, ia menatap putranya dengan senyuman. Ia memperhatikan putranya yang kembali dengan selamat, dan tanpa kekurangan apapun?.


"Ibunda sangat merindukanmu, putraku." Ratu Dewi Anindyaswari tidak dapat menahan kerinduannya pada putranya, ia menangis melihat kehadiran anaknya.

__ADS_1


"Nanda juga merindukan ibunda."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencium tangan ibundanya, ia mencium tangan ibundanya berulang-ulang. Rasanya ia tidak ingin menjauh dari ibundanya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum menatap ibundanya. Kemudian ia membimbing ibundanya duduk di sampingnya. Duduk di kursi permaisuri Raja. Setelah itu ia kembali duduk di kursi singgasananya, menatap mereka semua dengan senyuman ramah.


"Kalian semua duduklah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mempersilahkan mereka semua duduk, di kursi masing-masing.


"Sembah hormat kami gusti prabu."


Mereka semua memberi hormat kepada sang prabu. Mereka begitu tampak tunduk pada sang prabu, termasuk keluarga Ratu Ardiningrum Bintari, dan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Kurang ajar!. Bagaimana mungkin rayi prabu masih hidup?." Raden Ganendra Garjitha yang masih sakit, tidak percaya melihat adiknya kembali?.


"Mohon ampun gusti prabu. Kami semua telah mengira bahwa, gusti prabu telah tewas dalam pertarungan itu. Karena kami tidak menemukan keberadaan gusti prabu, di hutan taring belati raga. Maafkan hamba gusti prabu." Senopati Mandaka Sakuta menjelaskan kesalahan fahaman yang terjadi, hingga mereka berniat mengangkat raja baru.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, ia memaklumi pemikiran seperti itu, dan ia tidak bisa menyalahkan senopatinya.


"Tidak apa-apa senopati Mandaka Sakuta. Aku sekarang baik-baik saja. Jadi tidak perlu merasa bersalah."  Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap Senopati Mandaka Sakuta, yang terlihat merasa berdosa padanya.


"Setiap manusia memiliki kesalahan, baik itu disengaja ataupun tidak disengaja." Sang Prabu juga menatap mereka yang hadir. Dan mereka semua memperhatikan, apa yang dikatakan oleh Raja mereka dengan baik.


"Allah SWT maha pengampun, Allah selalu memaafkan kesalahan hambanya. Baik itu kesalahan kecil ataupun kesalahan besar. Jadi sebagai umat-Nya yang dipenuhi kesalahan, saya sebagai raja, memaafkan apa yang terjadi hari ini." Lanjut Sang Prabu dengan wajah tulus, penuh kasih sayang.


Dan saat itu juga, sebuah keajaiban terjadi. Mereka semua terpaku melihat kejadian aneh itu. Setelah sang prabu berkata bahwa ia memaafkan, apa yang mereka lakukan hari ini, mahkota kebesaran raja muncul di kepalanya.


Bajunya yang tadinya ia kenakan adalah, pakaian seorang pendekar serba hitam. Namun berganti dengan pakaian indah seorang raja, yang berwibawa disertai jubah kebesarannya.


Entah karena refleks atau apa, mereka yang tercengang melihat keajaiban itu berdiri. Saking tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Bahkan mereka berpikir prabu Asmalaraya Arya Ardhana adalah seorang tukang sihir.


"Putraku cakara casugraha."


Ratu Dewi Anindyaswari yang berada di samping anaknya juga terkejut, dengan keajaiban yang ia lihat. Putranya tampak gagah dengan pakaian seperti itu. Senyumannya adalah senyuman kebahagiaan.


Ratu Ardiningrum Bintari, Ratu Gendhis Cendrawati, serta putra-putri mereka tidak percaya, dengan apa yang baru saja mereka lihat.


"Kau memang menggunakan cara yang licik rayi." Raden Ganendra Garjitha begitu benci, melihat bagaimana penampilan adiknya yang berbeda dari yang sebelumnya.


"Aku sekarang percaya bahwa dia adalah seorang dukun sihir." putri Ambarsari malah berpikir kesana, ia menuduh adiknya telah main dukun?. Agar mereka semua terpesona, dengan penampilan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Rayi prabu benar-benar pintar, dalam mengambil hati semua orang." Batin putri Andhini Andita merasa kagum, dengan apa yang dilakukan oleh adiknya.


Setelah mereka semua kembali pada kesadaran masing-masingnya, mereka mencoba bersikap santai.


"Kami sangat mencemaskan keadaan nanda prabu. Kami sangat takut, apalagi lawan yang ananda prabu lawan bukan lah pendekar sembarangan."


pendeta Agung istana terlihat lega, jika memang prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih hidup.


"Apakah kami boleh mengetahui, mengapa gusti prabu masih bisa selamat dari sana?. Mohon ampun, jika pertanyaan hamba begitu lancang, gusti prabu?."


Senopati Mandaka Sakuta mewakili mereka bertanya seperti itu. Begitu banyak pertanyaan yang mereka ajukan saking penasarannya mereka.


Sang Prabu mengerti, ia menatap mereka dengan senyuman kecil.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, saya masih diberikan nikmat hidup oleh Allah SWT. Hingga hari ini saya masih bisa, bertemu dengan kalian semua dipertemuan hari ini."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjawab pertanyaan mereka, sepertinya ia memang harus menjelaskan apa yang ia alami.


"Saya memang bertarung dengan penjahat, yang tidak bisa dianggap remeh ilmu kanuragannya. Bahkan saya terkena jurus berbahayanya, jurus telapak tangan dewa kematian."


Sang Prabu masih ingat, jika dirinya memang terkena jurus itu. Mereka semua bertanya-tanya, dan memikirkan kondisi sang prabu ketika terkena jurus mematikan itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Allah SWT, telah mengirimkan saya seseorang yang baik untuk menolong saya, menyelamatkan hidup saya." Lanjut sang Prabu menjelaskan mengapa ia bisa berada di sini.


"Siapa yang menolong Gusti Prabu?. Mengapa ia tidak diajak ke sini, untuk diberikan penghargaan. Karena ia telah menyelamatkan nyawa seorang raja?." pendeta Agung istana penasaran, mengapa beliau tidak membawa orang yang menolongnya.


Sang Prabu tersenyum kecil menanggapi perkataan dari pendeta agung istana. "Orang yang telah menolong saya, adalah guru saya sendiri. Suatu hari nanti, saya akan mengajak beliau, untuk datang ke istana ini. Untuk membantu saya, dalam menjalankan tahta pemerintahan ini." Jawab sang prabu.


"Gurunya?. Aku rasa pasti dia telah berkata bohong. Tidak mungkin orang bertopeng itu adalah gurunya." Dalam hati Putri Andhini Andita sama sekali tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh sang Prabu.


Tapi satu yang pasti adalah. Hari itu, Kerajaan Suka Damai masih dipimpin oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mereka semua bersyukur karena sang Prabu kembali dengan selamat.


...***...


Di kerajaan kegelapan.


Putri Gempita Bhadrika telah kembali ke istana, ia tidak hanya membawa obat yang dapat menyembuhkan ayahandanya, melainkan juga membawa Nini Kabut Bidadari yang langsung mengobati sang Prabu.


"Mengapa ayahandaku belum juga membuka matanya nini?"


Putri Gempita Bhadrika bertanya, mengapa ayahandanya belum juga sadar?. Apakah tabib istana telah berbohong kepadanya?. Seketika kemarahan telah merasuki dirinya, karena tidak melihat perubahan yang terjadi pada ayahandanya.


"Mohon maaf tuan putri. Aku rasa obat itu tidak bekerja secara langsung, ia bekerja perlahan. Mengobati luka dalam yang gusti prabu alami. Luka itu sepertinya membutuhkan waktu, agar benar-benar sembuh secara sempurna."


Nini Kabut Bidadari menjelaskan kepada putri Gempita Bhadrika, mengapa ayahandanya belum juga membuka matanya. Karena  tidak semua obat yang sifatnya, jika diberikan langsung membuat seseorang langsung sembuh. Tidak, ada juga obat yang membutuhkan waktu,


untuk menyembuhkan seseorang.


"Oh dewata yang agung. Harus berapa lama lagi, aku menunggu kesembuhan ayahandaku."


putri Gempita sudah tidak sabar, untuk melihat kesembuhan Ayahandanya.


"Ayahanda, cepatlah sembuh. Aku tidak sabar lagi ingin bersamamu. Aku ingin belajar banyak hal dengan ayahanda."


Putri Gempita Bhadrika begitu sedih, melihat ayahandanya yang masih terbaring di tempat tidurnya. Tapi setidaknya, nafasnya sudah mulai teratur. Sepertinya memang membutuhkan waktu yang lama, untuk sembuh dari jurus berbahaya milik prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Bukankah kabar yang kami dapatkan, mengenai prabu kawiswara arya ragnala, bahwa beliau telah tewas setelah pertempuran itu?."


Semara Layana sepertinya telah sehat, ia juga mengikuti Nini Kabut Bidadari ke istana.


"Apakah benar yang kau katakan itu?." Tanya putri Gempita Bhadrika, ia tidak mendengar kabar itu, karena ia hanya fokus dengan keselamatan ayahandanya.


"Benar tuan putri. Kerajaan suka damai sekarang, dipimpin oleh putra bungsunya bernama raden bahuwirya cakara casugraha. Nama gelarnya prabu asmalaraya arya ardhana."


Nini Kabut Bidadari yang menjawabnya, ia juga mendengar kabar itu dari Ki Dharma Seta sebelum lelaki itu pergi meninggalkannya. Padahal mereka sudah berjanji, akan menaklukkan kerajaan Suka Damai, setelah Ki Dharma Seta berhasil membebaskan anak buahnya dari cengkeraman orang misterius.


Mereka berpikir bahwa, Raja yang sekarang mudah dikalahkan, karena hanya bocah kemarin sore. Jadi mereka tidak akan gentar melawannya.


Namun siapa sangka, Ki Dharma Seta malah tewas ditangan orang misterius itu, yang merupakan bawahan dari prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Hum." Putri Gempita Bhadrika nampak berpikir, ia tidak menduga bahwa prabu Kawiswara Arya Ragnala meninggal setelah bertarung dengan ayahandanya?.


"Lalu apa yang akan ayahanda lakukan, jika mengetahui kabar baik ini?." putri Gempita Bhadrika menatap ayahandanya yang masih terbaring tidur.


"Aku rasa gusti prabu wajendra bhadrika, masih berkeinginan untuk menaklukkan kerajaan suka damai, aku yakin itu tuan putri." Nini Kabut Bidadari berpendapat seperti itu. Ia yakin setelah sang prabu sehat, ia akan kembali melanjutkan keinginannya, untuk menaklukkan kerajaan Suka Damai.


"Tapi sebelum itu, tidak mungkin kita berdiam diri saja bukan?." putri Gempita Bhadrika menatap Nini Kabut Bidadari dan Semara Layana dengan senyuman penuh arti.


"Ya, tuan putri benar. Kita tidak mungkin berdiam diri saja di istana ini. Kita akan memberi salam pada raja baru, yang memimpin kerajaan suka damai." Nini Kabut Bidadari menyeringai lebar.


"Tapi kita harus berhati-hati, karena orang bertopeng itu pasti akan bertindak, jika kita mengganggu kedamaian kerajaan suka damai." Semara Layana masih ingat dengan kejadian Mayang Sari yang ditahan waktu itu.


Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Rencana apa yang akan mereka lakukan, untuk mengacau kerajaan Suka Damai?. Baca terus ceritanya ya, jangan lupa vote, like, share dan dukungannya. Terima kasih ya pembaca tercinta. Semoga author semangat lanjutin ceritanya. Salam semangat.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2