
...****...
Haruskah ia merasa bahagia setelah diangkat menjadi Ratu Agung?. Namun disatu sisi, hatinya sangat sedih sekali, karena menyaksikan ibunda, serta kedua kakaknya saat ini berada ditempat hukuman pancung. Hatinya sangat perih, terluka sangat dalam. Akan tetapi ia berusaha untuk menguatkan hatinya, menekan semuanya demi hukuman itu.
"Ibunda. Tidak sampai hati nanda melihat ibunda seperti ini." Bagaimanapun juga ia hanyalah manusia biasa. Sehingga air matanya berderai juga, karena tidak kuasa menahan perasaan sesak itu. Sementara itu, Ratu Ardiningrum Bintari hanya diam saja. Tidak menanggapi perkataan anaknya, karena itu akan sia-sia.
"Ibunda. Rencananya nanda ingin ibunda melakukan hukuman rukiyah, supaya hukuman ibunda bisa diringankan dari ini. Nanda sangat mencintai ibunda, nanda tidak ingin ibunda pergi. Tapi mengapa ibunda tidak mau mendengarkan apa yang ingin nanda sampaikan?."
Tangisan itu, begitu menusuk ke dalam. "Itulah tujuan nanda menjadi ratu agung, Yaitunya untuk menyelamatkan ibunda, juga raka. Agar mendapatkan kesempatan untuk kembali seperti dimana kita hidup bersama tanpa adanya dendam ibunda." Sungguh!. Ia tidak kuasa lagi menahan kesedihannya. "Maafkan nanda, karena nanda tidak bisa menyelamatkan ibunda dari hukuman ini. Nanda harap ibunda selalu bahagia, padahal nanda ingin membahagiakan ibunda."
Mereka semua menyaksikan itu, merasakan kesedihan seorang anak kepada ibunya yang akan dihukum mati. Mereka merasa bersimpati, tapi apa daya, hukuman tetaplah hukuman.
"Yunda ratu. Kuatkan diri yunda. Semoga Allah SWT, selalu bersama yunda." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ikut merasa sedih menyaksikan itu.
"Memang sangat sedih gusti prabu. Harus kehilangan orang yang kita cintai dalam keadaan seperti ini." Jaya Satria juga dapat merasakannya. Karena ia memang melihat jelas apa yang dilihat oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Setelah mengeluarkan semua kata-kata yang ia sampaikan pada ibunda, serta kedua kakaknya. Algojo berdiri di samping mereka yang hendak mejalani hukuman penggal.
"Yunda ratu. Aku harap yunda ratu lebih kuat lagi melihat ini." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta merasa tidak tega dengan apa yang akan terjadi.
"Prajurit!. Tutup mata mereka dengan kain."
"Sandika gusti patih."
Tiga orang prajurit maju, mereka melakukan perintah Patih Arda Turan. Mereka menutupi mata Ratu Ardiningrum Bintari, Raden Ganendra Garjitha, dan Raden Gentala Giandra dengan kain.
"Algojo!. Lakukan tugas kalian dengan benar!."
"Sandika gusti patih."
Saat itu juga, suasana menjadi tegang. Ketika ketiga Algojo itu mengangkat pedang besar tajam. Jantung mereka semua berpacu dengan kencangnya.
"Ayahanda prabu. Maafkan semua kesalahanku selama ini. Kanda prabu, semoga kanda juga memaafkan apa yang telah dinda lakukan." Dalam detik terakhir, Ratu Ardiningrum Bintari masih mengingat kesalahan yang telah ia lakukan selama ini?.
Tapi, itu semua sudah terlambat. Ketika Algojo itu mengayunkan pedangnya, mereka semua yang menyaksikan itu ada yang berteriak, melihat kepala mereka lepas dari badan.
"Maafkan saya ayahanda prabu. Karena saya tidak bisa menyelamatkan ibunda, juga raka." Dari hatinya yang terdalam, Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara tidak kuasa melihat itu.
"Yunda ratu. Aku harap yunda lebih bersabar, karena memang berat kehilangan keluarga yang kita cintai."
"Yunda ratu harus kuat menerima kenyataan pahit ini. Semoga saja yunda ratu bisa melangkah, meskipun ini memang terasa berat."
"Saya akan kuat, jika rayi berdua selalu bersama saya. Saya telah berusaha untuk memberikan yang terbaik, tetapi saya hanya merasa iba. Sampai akhir hayat, ibunda tidak bisa menerima kebaikan. Apalagi jika saya mengatakan, bahwa semua itu adalah ide rayi prabu."
__ADS_1
"Tentu saja kami akan selalu bersama yunda ratu. Jadi yunda ratu jangan merasa sendiri. Kami tetaplah keluarga yunda ratu."
"Selama nafas ini masih berhembus dengan baik. Insyaallah, kami tidak akan pernah meninggalkan yunda ratu sendirian. Percayalah, yunda ratu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk tersenyum, walaupun terasa pahit.
"Terima kasih rayi. Saya akan berusaha menguatkan hati, jiwa dan raga saya untuk melangkah."
Mereka semua berusaha untuk melangkah, karena bagaimanapun juga, Ratu Ardiningrum, Raden Ganendra Garjitha, juga Raden Gentala Giandra masih keluarga mereka.
"Mari masuk yunda ratu. Masih ada yang harus yunda ratu lakukan."
"Benar apa yang dikatakan oleh rayi prabu. Setelah itu yunda ratu juga beristirahatlah. Agar pikiran yunda ratu lebih tenang, setelah melihat apa yang terjadi."
"Mari rayi."
Setelah itu, mereka masuk ke dalam Istana, karena ada yang harus mereka kerjakan. Tapi apakah Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara bisa menerima kenyataan itu?. Apakah benar, hatinya sangat kuat setelah kehilangan ketiga orang yang ia sayangi?. Temukan jawabannya.
Sementara itu, Patih Arda Turan masih memimpin untuk mengatur mereka. "Sepertinya gusti ratu agung sedang dalam keadaan berduka." Ucapnya. "Namun kita tahu, bahwa hukuman ini sudah setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap gusti prabu rahwana bimantara." Lanjutnya. "Jadi, jika ingin melakukan kejahatan, maka pikirkan apa yang akan kita terima sebagai balasannya."
Mereka semua mengangguk mengerti. Memang sangat parah apa yang telah dilakukan oleh ketiganya. Mereka telah berani membunuh seorang raja. Jadi hukuman mati itu, harus mereka dapatkan.
"Kalau begitu, wahai rakyat mekar jaya. Untuk hari ini sudah cukup rasanya. Kita telah menobatkan Ratu Agung. Semoga saja beliau bisa membawa kerajaan ini ke arah yang lebih baik lagi."
"Semoga saja gusti patih. Kami sangat mengharapkan kebaikan dari gusti ratu agung."
"Kita lihat bersama, bagaimana cara kerja gusti ratu agung."
Setelah itu mereka pamit pulang menuju rumah masing-masing. Sedangkan Algojo dan prajurit memberesi mayat Ratu Ardiningrum Bintari, Raden Ganendra Garjitha, dan Raden Gentala Giandra. Sungguh malang sekali mereka, mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan.
Mereka yang tidak mau mendengarkan apa yang ingin orang lain katakan. Padahal hukuman rukiyah hanyalah alasan, agar Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara bisa mengobati mereka. Namun jika ia langsung pada intinya, mereka akan menolaknya. Sayangnya belum sempat ia menjelaskan, mereka memang menolak kebaikan itu. Kenapa?. Karena mereka tidak bisa diberi masukan lagi, hati mereka telah tertutup untuk menerim kebaikan. Sehingga mereka memilih hukuman mati, dari pada menuruti apa yang mereka perintahkan?. Padahal itu semua demi kebaikan, sayang seribu kali sayang. Nasib mereka telah berjalan sangat miris.
...***...
Malam harinya.
Masih di Istana Kerajaan Mekar Jaya. Setelah satu hari melakukan kegiatan, mereka masih diberikan kekuatan hati untuk bertahan.
"Untuk sementara waktu, rayi berdua masih di istana ini kan?."
"Maaf yunda, tapi sepertinya tidak bisa."
"Kenapa?."
"Karena sebentar lagi, raka hadyan hastanta akan melangsungkan pernikahan di istana kerajaan angin selatan."
__ADS_1
"Benarkah itu rayi hadyan hastanta?."
"Maafkan aku yunda ratu. Karena aku tidak memberitahu yunda ratu mengenai pernikahan kami."
"Memangnya tuan putri mana yang beruntung, memiliki rayi, mampu menaklukkan hati rayi."
Raden Hadyan Hastanta melirik ke arah adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Tuan putri tersebut adalah nyai bestari dhatu."
"Nyai bersatu dhatu?. Wanita ahli obat itu?."
"Benar yunda."
"Saya sungguh tidak menyangka. Tapi yang saya tidak duga sama sekali, jika nyai bestari dhatu adalah seorang putri raja dari kerajaan angin selatan."
"Itu karena ia tidak mau mengatakannya yunda ratu."
"Jadi begitu?. Semoga rayi berbahagia bersamanya."
"Terima kasih yunda."
"Jadi kapan rayi berdua akan kembali ke istana kerajaan suka damai?. Tentunya ada persiapan untuk ke sana."
"Rencananya, kami akan kembali besok pagi yunda ratu. Maaf jika kami mendadak."
"Tidak apa-apa rayi. Tapi maafkan saya, karena tidak bisa ikut."
"Kami memahami situasinya yunda ratu."
"Yunda ratu tetaplah di sini. Banyak yang akan yunda ratu selesaikan."
"Sampaikan salam maaf saya untuk ibunda, serta kedua rayi saya yang sangat cantik di istana suka damai. Karena saya tidak bisa mengundang penobatan ratu agung."
"Kami akan menjelaskan situasinya yunda ratu. Aku yakin ibunda juga rayi putri akan mengerti."
"Nanti, satu purnama setelah ini. Yunda ratu berkunjunglah ke istana kerajaan suka damai. Sebagai kekerabatan dua kerajaan besar. Kami akan menyambut kedatangan yunda, merayakan penobatan yunda ratu, serta acara pernikahan raka hadyan hastanta. Agar kita bisa merasakan kedekatan kekeluargaan yunda ratu."
"Seperti itu usulan yang bagus rayi prabu. Bagaimana menurut yunda ratu?."
"Saya setuju rayi prabu. Terima kasih, karena rayi prabu selalu memikirkan kebahagiaan kami."
"Tentu saja untuk kebahagiaan kita semua yunda ratu."
Meskipun merasa kehilangan, setidaknya ada seorang adik, yang sangat peduli padanya. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...