
Di kaki Gunung Menawan Batin.
Gunung ini bisa dikatakan gunung tempat orang-orang untuk menenangkan dirinya, atau batinnya dari hiruk pikuk kehidupan. Baik itu urusan dunia dan dari dirinya sendiri.
Dan disinilah Jaya Satria berada. Untuk menemui gurunya Aki Jarah. Guru yang mengajarinya tentang beberapa ilmu Kanuragan. Setelah menempuh dua hari perjalanan, siapa sangka ternyata gurunya memutuskan untuk menyepi di kaki pegunungan ini?.
"Apa yang nanda ingin dari orang tua seperti hamba. Bukankah nanda sudah mendapatkan apa yang dititipkan oleh, mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala?."
"Mohon ampun guru. Maaf jika kedatangan nanda mengganggu guru melakukan tapa puasa." Ia memberi jeda ucapannya. Senyuman ramah gurunya yang selalu menyambut kedatangannya.
"Nanda begitu rindu pada guru, karena sudah lama nanda tidak mendatangi guru sejak terakhir guru membantu mengobati nanda."
"Ya, memang agak sudah lama juga. Terima kasih karena nanda selalu ingat pada orang tua seperti hamba."
"Jangan seperti itu guru. Bagi nanda, guru adalah seorang kakek yang harus nanda hormati. Sama seperti mendiang ayahanda prabu yang mempercayai nanda pada guru."
"Baiklah nanda. Tapi, ada apa gerangan nanda datang menemui hamba?. Perihal penting apa yang nanda ingin sampaikan."
"Nanda ingin menanyakan perihal tombak kelana jaya pada guru. Mungkin guru mengetahuinya."
"Tombak kelana jaya?." Raut wajahnya mendadak berubah. Bingung, serta heran. "Memangnya apa yang akan nanda lakukan dengan tombak pusaka kelana jaya itu?. Apakah nanda menginginkan tombak pusaka itu?." Perasaannya mendadak tidak enak saat Jaya Satria mengatakan tombak Kelana Jaya.
"Memangnya ada apa dengan tombak itu guru?. Kesaktian apa yang ia miliki sehingga guru terlihat cemas?."
"Apakah nanda serius menanyakan perihal tombak pusaka itu?." Aki Jarah Setandan malah balik bertanya.
Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang menyimak dari ruangan pribadi Raja di Istana Kerajaan Suka Damai, merasa tidak nyaman dengan pertanyaan dari gurunya itu.
"Maaf guru. Apakah ada hal bahaya yang ditimbulkan oleh tombak itu?."
"Sebelum hamba menjawab bahaya atau tidaknya. Bolehkah hamba bertanya pada nanda. Mengapa nanda ingin mengetahui tentang tombak pusaka itu?."
Jaya Satria terdiam sejenak. Begitu juga dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang ikut menyimak percakapan itu melalui tatapan mata Aki Jarah Setandan.
"Itu karena tombak pusaka kelana jaya saat ini ada pada nanda guru."
__ADS_1
"Demi dewata yang agung!. Bagaiman mungkin nanda bisa memiliki tombak pusaka terkutuk itu." Aki Jarah Setandan sangat terkejut. Saking terkejutnya, ia sampai berdiri menantang Jaya Satria.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Benarkah itu guru?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terkejut.
"Ekhem." Aki Jarah Setandan mencoba untuk kembali duduk, menenangkan dirinya. "Mengapa nanda bisa memiliki tombak pusaka terkutuk itu?. Setahu hamba, nanda bukanlah tipe orang serakah, setelah mendapatkan pedang pusaka turunan leluhur nanda sendiri."
"Ceritanya berawal dari ketika nanda berada di kerajaan telapak tiga. Saat itu nanda berhadapan dengan dua orang pendekar pemburu benda pusaka." Jaya Satria masih ingat dengan kejadian itu.
"Pemburu benda pusaka?. Hamba baru mendengar ada yang seperti itu."
"Benar guru. Mereka hampir saja mengambil pedang sukma naga pembelah bumi dari dalam tubuh nanda. Tapi gusti prabu berhasil memancing kemarahan nanda, sehingga pedang itu kembali tersegel di dalam tubuh ananda karena cengkraman kemarahan yang anda lepaskan."
"Lalu bagaimana bisa, nanda mendapatkan tombak pusaka itu?."
"Setelah nanda berhasil mengalahkan kedua orang itu. Semua pusaka yang berhasil mereka curi, menjadi liar, mengamuk dan tidak bisa dikendalikan."
"Ya, itu memang benar. Benda pusaka jika telah kehilangan tuannya. Maka ia akan menjadi liar, sulit untuk mengendalikan diri mereka sebelum menemukan tuan yang baru." Seperti itulah benda pusaka. Berbeda dengan pedang biasa, atau senjata tajam lainnya.
"Apakah nanda berhasil menaklukkan benda pusaka itu hingga masuk ke dalam tubuh nanda?."
"Oh dewata yang agung. Ini sangat berbahaya bagi nanda." Aki Jarah Setandan terlihat sangat khawatir.
"Apakah nanda sering bermimpi buruk akhir-akhir ini?. Apakah ada sesuatu buruk yang menimpa nanda?." Begitu besar rasa cemas yang ia rasakan, sehingga ia mengundang tubuh Jaya Satria.
"Tenanglah guru. Bagaiman mungkin, nanda bisa menjawab pertanyaan guru dalam keadaan seperti ini?." Meskipun ia cemas dengan pertanyaan gurunya. Namun ia masih harus tetap tenang. Karena ia juga merasakan perasaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang mencemaskan mimpi buruk yang mereka alami.
"Ffhuuuu." Aki Jarah Setandan mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak panik.
"Memang akhir-akhir ini, kami mengalami mimpi buruk guru. Mimpi yang sangat menyeramkan. Kami takut saat tidur, karena mimpi itu terasa begitu nyata. Tubuh nanda menjadi tombak pusaka itu, lalu menikam jantung gusti prabu. Namun rasanya nanda yang melakukannya guru." Ketakutan, kecemasan, tergambar jelas diraut wajah Jaya Satria yang membuka topengnya ketika ia berbicara dengan gurunya.
"Ooh nanda prabu. Itu memang sangat menyeramkan sekali, mengalami mimpi buruk itu." Aki Jarah Setandan merasa simpati pada kedua muridnya.
"Memang benar. Siapa saja yang memegang, tombak pusaka kutukan itu, akan dihantui oleh masa lalunya yang kelam. Termasuk nanda yang memang mengalami masa lalu yang sulit."
"Lalu apa yang harus kami lakukan guru?. Nanda tidak mau, menjadi beban gusti prabu."
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu jaya satria. Bukankah kau yang mengatakan padaku, bahwa kita pada dasarnya sama?."
"Mohon maaf gusti prabu. Hamba hanya tidak mau gusti prabu ikut gelisah."
"Tidak apa-apa jaya satria. Kau tetaplah fokus dengan apa yang akan dikatakan oleh guru."
"Sandika gusti prabu."
"Yang harus nanda lakukan adalah mengembalikan tombak itu pada pemilik aslinya. Karena tombak pusaka itu hanya bisa dimilik olehnya."
"Apakah guru mengetahui siapa pemilik tombak pusaka kelana jaya itu?."
"Sayang sekali, aku tidak mengetahui siapa Pemilik tombak pusaka itu."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Bagaimana mungkin kami bisa mengetahui siapa pemilik tombak pusaka itu ya Allah." Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat gelisah.
"Nanda harus melakukan tapa puasa. Semoga sang pencipta bisa memberikan petunjuk, keberadaan pemilik aslinya."
"Baiklah guru. Kalau begitu izinkan nanda melakukannya di sini. Agar nanda dapat melakukannya dengan baik."
"Silahkan saja nanda. Semoga nanda bisa melakukannya, mendapat petunjuk." Dengan senang hati, Aki Jarah Setandan memperbolehkan Jaya Satria melakukannya di tempat ini.
"Terima kasih guru. Semoga kami mendapatkan petunjuknya." Itulah harapan keduanya.
"Semoga saja dalam dua hari ini kita dapat menemukan jawabannya, jaya satris."
"Semoga saja gusti prabu." Jaya Satria juga berharap, bahwa apa yang ia lakukan dapat mengurangi beban Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Sementara itu, di Istana Kerajaan Suka Damai.
Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta ingin menemui Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ke ruang pribadi Raja. Namun di sana ada Ratu Dewi Anindyaswari yang mondar-mandir terlihat cemas.
"Ada ibunda. Mengapa ibunda terlihat sangat cemas?. Apakah terjadi sesuatu?." Putri Andhini Andita melihat raut wajah penuh kecemasan itu.
"Ibunda sangat mencemaskan nanda prabu. Dari tadi nanda prabu berada di ruangannya. Nanda prabu belum menyentuh makanan apapun dari pagi tadi. Ibunda sangat khawatir, nak."
__ADS_1
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.