
...***...
Malam itu, keluarga istana sangat panik. Karena Putri Bestari Dhatu akan melahirkan. Raden Hadyan Hastanta, Ratu Gendhis Cendrawati, dan juga Ratu Dewi Anindyaswari sedang menunggu di luar. Suasana hati mereka semua sangat gelisah, dan mereka terus berzikir kepada Allah SWT.
"Ya Allah. Hamba mohon padamu, selamatkan istri serta anak hamba." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta terus berharap, dan berdoa.
"Ya Allah SWT. Hamba mohon lancarkan lah persalinan menantu hamba." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati juga berdoa. "Kuatkanlah ia ketika menjalani persalinannya ya Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali pertolongan-Mu." Sungguh ia merasakan kegelisahan yang luar biasa.
"Ya Allah. Hanya pada-Mu lah kami meminta pertolongan. Tolong lindungi ananda bestari dhatu. Berikan kekuatan padanya agar kuat menjalani persalinannya ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari juga berdoa di dalam hatinya.
Mereka sama-sama merasakan kegelisahan, dan tak henti-hentinya berdoa kepada Allah SWT. Sedangkan di dalam, Putri Bestari Dhatu dibantu oleh Nyi Ulis. Rintihan sakit, saat ini ia rasakan.
"Uugkh." Sekuat tenaga ia mencoba untuk mengeluarkan anaknya dari dalam perutnya.
"Ya, seperti itu gusti Putri. Terus, lakukan dengan baik." Nyi Ulis terus mengarahkan Putri Bestari Dhatu.
Itulah yang dirasakan oleh seorang ibu yang sedang mempertaruhkan nyawanya untuk menghadirkan buah hatinya ke dunia ini. Apakah Putri Bestari Dhatu bisa menjalani persalinannya?. Temukan jawabannya.
***
Sementara itu di luar istana. Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat hawa hitam yang semakin mendekat ke istana. Mereka sangat khawatir, karena hawa hitam itu sangat tidak baik.
"Raka prabu. Kita harus memagari istana ini dengan keris pusaka kembar. Supaya mereka semua tidak bisa masuk." Prabu Asmalaraya Arya merasakan niat yang tidak baik dari hawa tersebut.
"Baiklah, kalau begitu mari kita lakukan bersama." Jaya Satria mengeluarkan keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma.
Keduanya melompat ke atas atap istana. Setelah itu melemparkan ke empat penjuru istana. Memainkan jurus cakar naga cakar petir. Sehingga terbentuk perisai yang dapat melindungi istana. Ketika hawa kegelapan itu hendak masuk, mereka semua terhalang oleh kekuatan dari Sukma naga Petir dan Sukma Naga api. Suasana Istana sedikit berbeda, karena serangan gaib itu membuat sekitar sedikit menyeramkan.
__ADS_1
"Rayi prabu. Sebaiknya kita azan, supaya mereka semua meninggalkan istana ini." Jaya Satria menatap tajam ke depan.
"Baiklah raka prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana setuju.
"Bismillahirrahmanirrahim." Keduanya bersiap-siap, kemudian mengumandangkan azan dengan suara yang sangat lantang. Sehingga sayup-sayup terdengar suara teriakan dari luar pagar gaib yang diciptakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Suara lantunan azan Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdengar sampai ke dalam istana. Terutama wisma putra, dimana Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati dan Raden Hadyan Hastanta sedang menunggu proses persalinan.
"Apakah ini sudah memasuki waktu subuh?. Apakah sudah masuk waktu shalat subuh?." Ratu Dewi Anindyaswari bertanya-tanya.
"Mungkin saja seperti itu rayi dewi. Kita harus segera melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu." Ratu Gendhis Cendrawati mencoba untuk bersikap tenang.
"Mari kita laksanakan sholat subuh dahulu ibunda. Mari kita sama-sama berdoa supaya persalinan dinda bestari lancar ibunda." Raden Hadyan Hastanta merasa sangat gelisah. Karena itulah ia ingin mengerjakan sholat subuh.
Namun ketika baru saja berada di luar wisma putra, mereka semua terkejut sekaligus merinding melihat kilatan menyambar-nyambar dengan kuatnya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, apa yang sedang terjadi?. Mengapa semua ini bisa terjadi ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari mendekati Ratu Gendhis Cendrawati.
"Mungkin karena itulah rayi prabu mengumandangkan azan ibunda, karena hawa jahat yang memasuki istana ini. Mungkin Rayi prabu menyadari hawa jahat itu akan mengganggu penghuni istana." Raden Hadyan Hastanta sedikit mengerti mengapa adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengumandangkan adzan.
"Ibunda rasa juga seperti itu nak." Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan istana ini.
...***...
Disisi lain. Putri Andhini Andita tampaknya tidur dengan tenang?. Tidak, ada seseorang yang sedang mencoba untuk memasuki alam mimpinya.
"Andhini andita. Sepertinya ada seseorang yang sedang memanggil aku. Kau jangan sampai terpengaruh oleh kekuatan jurus pemanggil sukma." Sukma Dewi Suarabumi mencoba untuk memperingati Putri Andhini Andita.
"Jurus pemanggil sukma?. Apa yang ia inginkan dari tuan putri?. Sehingga ia ingin memanggil tuan putri?." Ya, siapa yang tidak bertanya jika menggunakan jurus pemanggil sukma untuk memanggil Sukma Dewi Suarabumi?.
__ADS_1
"Kekuatan hidup abadi. Tentu saja itu yang ia inginkan dariku." Jawabnya sambil menatap lurus ke depan.
"Kenapa dia mengetahui jika tuan putri berada di dalam tubuh hamba?. Apakah tidak ada cara lain untuk membuat pelindung?." Putri Andhini Andita hanya ingin menghindari masalah. Bukannya mencari masalah dengan berurusan dengan orang yang gila akan kekuatan.
"Baiklah kalau begitu. Kau lakukan semedi, setelah itu ikat pedang panggilan jiwa dengan ini." Sukma Dewi Suarabumi memberikan sebuah tali berwarna merah.
"Baiklah, terima kasih atas bantuan tuan Putri." Putri Andhini Andita memberi hormat. Setelah itu ia terbangun dari tidurnya.
...***...
Kembali ke istana Kerajaan Suka Damai. Sepertinya keadaan telah reda, semuanya telah aman dan dapat terkendali dengan baik.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati, dan Raden Hadyan Hastanta sangat merasa bersyukur. Saat itu juga mereka melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria mendekati mereka.
"Putraku. Apa yang terjadi nak?. Mengapa istana ini dipenuhi hawa Kegelapan?." Ratu Dewi Anindyaswari mendekati kedua anaknya. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir sekali.
"Maaf ibunda. Itu adalah hawa kegelapan yang sangat jahat. Mereka semua mencium aroma darah yang sangat segar, sehingga mereka ingin memakannya." Jawab Jaya Satria.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati, dan Raden Hadyan Hastanta sangat terkejut mendengarnya.
"Tapi ibunda, juga raka tenang saja. Semuanya baik-baik saja. Karena nanda telah menyegelnya dengan menggunakan keris pusaka kembar. Setidaknya akan aman sampai yunda bestari dhatu melahirkan." Jaya Satria kembali menjelaskan pada mereka semua.
"Oh, dinda bestari dhatu." Raden Hadyan Hastanta bergegas kembali ke dalam. Karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Mereka semua juga menyusul Raden Hadyan Hastanta, karena mereka semua ingin mengetahui bagaimana nasib Putri Bestari Dhatu dan calon anaknya.
Dan saat mereka masuk ke dalam, terdengarlah suara tangis bayi yang sangat keras. Mereka semua sangat bahagia mendengarnya. Namun belum bisa masuk, masih dalam proses terlebih dahulu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...