
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
Putri Andhini Andita sangat kesal, ia telah mendengar kabar kepergian Jaya Satria ke pantai selatan untuk menemui Nyai Bestari Dhatu?.
"Jaya satria memang pergi ke sana rayi Prabu?." Ia tampak geram.
"Se-se-seperti itulah yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat takut dengan kemarahan kakaknya.
"Kau ini sangat keterlaluan sekali cakara casugraha!." Amarahnya semakin memuncak. "Bagaimana jika terjadi sesuatu lagi pada jaya satria?!." Marahnya. "Bagaimana kalau dia mati kelelahan karena kau suruh dia ke sana ke mari untuk menjalankan tugas? Kau ini sangat keterlaluan sekali! Meskipun dia bawahanmu?! Bukan berarti kau seenaknya saja memerintahkan pergi begitu saja di saat kondisinya masih sakit!."
"Maafkan aku yunda, jangan marah padaku." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bersembunyi di balik punggung Raden Hadyan Hastanta, sungguh kakaknya itu terlihat sangat menyeramkan. "Raka, tolong jelaskan pada yunda andhini andita." Bisik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Su-su-sudahlah rayi andhini andita." Raden Hadyan Hastanta juga takut melihat kemarahan adiknya. "Lagi pula hanya jaya satria yang mengetahui lokasi di mana nyai bestari dhatu berada." Raden Hadyan Hastanta tidak menduga jika adiknya akan marah?.
"Tidak bisa! Jaya satria setidaknya harus istirahat di istana beberapa hari setelah kejadian tukang rusuh itu!." Bantahnya. "Jangan terlalu melibatkan jaya satria dalam masalah pribadimu cakara casugraha!." Putri Andhini Andita benar-benar mengeluarkan kemarahannya.
"Seram sekali." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta sangat takut melihat itu.
"Ada apa ini yunda?." Putri Agniasari Ariani mendengarkan suara kakaknya. "Rayi Prabu? Raka?." Putri Agniasari Ariani heran melihat keduanya seperti ketakutan.
"Bantu kami rayi."
"Bantu kami yunda."
Setidaknya itulah yang ditangkap Putri Agniasari Ariani ketika melihat gestur dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta.
"Olalah." Dalam hati Putri Agniasari Ariani menghela nafasnya. "Kenapa yunda marah-marah? Coba katakan padaku." Putri Agniasari Ariani mencoba membujuk kakaknya.
"Rayi Prabu sangat keterlaluan sekali rayi agniasari ariani! Dia malah menyuruh jaya satria pergi ke pantai selatan untuk memanggil tabib!." Jawabnya dengan penuh kemarahan. "Bagaimana jika jaya satria tepar karena kelelahan berjalan ke sana ke mari-."
"Baiklah, aku mengerti." Putri Agniasari Ariani memotong ucapan itu. "Aku mengerti jika yunda cemas padanya." Kali ini ucapannya sedikit menggoda. "Tapi bukankah yunda telah berjanji padanya jika yunda akan mengendalikan amarah yunda?." Ucapnya sambil mengedipkan mata. "Nanti jaya satria bisa kecewa jika yunda seperti ini loh?."
Deg!.
Perasaan Putri Andhini Andita mendadak berubah setelah mendengarkan ucapan adiknya.
"Ka-ka-kau ini bicara apa rayi agniasari ariani? A-a-aku tidak marah." Perasaan gugup melanda dirinya. "A-a-aku tidak marah." Ucapnya sambil meninggalkan mereka.
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta sangat terkejut melihat perubahan sikap Putri Andhini Andita yang aneh seperti itu?.
"Sudah beres? Semuanya aman rayi Prabu, raka." Putri Agniasari Ariani tersenyum penuh kemenangan.
"Semudah itu kah?." Keduanya sangat tidak percaya.
"Ya, semudah itu." Putri Agniasari Ariani kembali tersenyum.
"Sangat luar biasa." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta masih bingung dan kagum?.
...***...
Di Istana Kerajaan Mekar Jaya.
"Ibunda tidak menemukan keberadaan rayimu di biliknya." Ratu Ardiningrum Bintari terlihat gelisah. "Namun ibunda menemukan ini." Ratu Ardiningrum Bintari menyerahkan sebuah gulungan pada anak sulungnya.
"Pesan daun lontar?." Prabu Ganendra Garjitha menerima daun lontar dari ibundanya. "Apakah dia pergi meninggalkan istana ini?."
Belum ada tanggapan dari mereka, namun bisa jadi seperti itu yang terjadi jika melihat keadaannya. Karena penasaran Prabu Ganendra Garjitha membukanya, ia tidak mau berpikir terlalu keras mengenai keadaan adiknya.
"Mohon ampun raka Prabu, jika saya pergi tanpa memberitahu raka Prabu." Keningnya agak berkerut ketika membaca kalimat itu. "Namun kepergian ini jangan raka prabu anggap sebagai pemberontakan?! Melainkan saya ingin memastikan kematian kakek prabu!." Terlihat senyum menghiasi wajahnya. "Jika saya telah memastikannya dengan langsung? Maka saya akan kembali lagi ke istana dengan kabar bahagia untuk raka prabu! Saat itu saya sendiri yang akan mengenakan mahkota kebesaran pada raka prabu setelah saya berhasil mengambil mahkota simbol kerajaan pada kakek prabu."
Mereka tersenyum mendengarkan apa yang dibacakan oleh prabu Ganendra Garjitha. Sungguh surat yang tidak pernah mereka duga dari Putri Ambarsari?.
"Tidak aku sangka." Senyumannya kembali mengembang. "Adikku begitu perhatian padaku, bertindak diam-diam untuk membuat hatiku semakin bahagia."
"Rayi ambarsari memang selalu mengerti raka prabu, rasanya aku jadi cemburu padamu yang selalu diperhatikan rayi ambarsari." Ucapnya dengan nada sedih.
Ucapan itu menimbulkan gelak tawa mereka, canda tawa di atas kebahagiaan yang akan dilakukan oleh putri Ambarsari, untuk memastikan keadaan Prabu Rahwana Bimantara yang berada di istana kerajaan Suka Damai?.
"Maaf saja rayi? Sebagai kakak tertua? Aku lebih diperhatikan oleh rayi ambarsari dari pada kau!." Prabu Ganendra Garjitha tampak senang.
"Ibunda, itu namanya tidak adil! Nanda sangat iri sekali." Ia malah mengadu pada ibundanya.
Ratu Ardiningrum Bintari hanya tertawa melihat tingkah kedua anaknya. "Sudahlah, adik kalian itu sangat perhatian pada kedua kakaknya, kalian jangan saling cemburu begitu."
"Dengarkan itu rayi? Jangan terlalu cemburu."
"Baiklah raka Prabu, titah raka Prabu akan hamba laksanakan." Ia seakan-akan bersungguh-sungguh berkata seperti itu.
Mereka semua makin tertawa melihat tingkah raden Gentala Giandra yang bertingkah lucu seperti anak kecil yang sedang merajuk. Kebahagiaan seperti ini belum mereka rasakan sebelumnya. Karena tidak bisa menduduki tahta. Rasa dengki dan iri hati yang sebenarnya menjadi penghalang mereka.
Ternyata untuk menghilangkan kecurigaan keluarganya, Putri Ambarsari sengaja menuliskan pesan di daun lontar mengatakan kepergiannya. Jika tidak?. Bisa jadi ia benar-benar dalam bahaya, keselamatannya akan terancam oleh keluarganya sendiri.
Putri Ambarsari teringat dengan perkataan adiknya prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Kita boleh marah?. Boleh sedih?. Namun jangan sampai perasaan itu membuat kita kehilangan ketenangan sehingga kita akan merugi dalam bertindak. Jadi itulah yang ia lakukan setelah mencoba tenang memikirkan agar kecurigaan itu hilang darinya?. Apakah akan berhasil?. Simak terus ceritanya.
...**...
Kita tinggalkan dulu mereka. Kita lihat jaya Satria yang baru saja sampai di Pantai Selatan.
"Aku sudah menunggu kedatangan mu Raden." Suara seseorang yang menyapa dirinya.
__ADS_1
Jaya satria melihat ke arah sumber suara. Seorang wanita cantik sedang duduk manis di pantai dengan ombak yang menyapu tepian pantai.
"Sudah lama tidak bertemu nyai." Ia menghampiri wanita itu.
"Duduklah dulu Raden." Sambutnya dengan senyuman ramah. "Pasti raden lelah selama diperjalanan."
"Terima kasih nyai." Jaya Satria tersenyum kecil. "Tapi aku-."
"Tidak perlu terburu-buru, Raden juga harus beristirahat, jangan sampai Raden tepar karena melakukan perjalanan jauh." Senyuman itu memang menunjukkan rasa simpatinya.
"Seperti biasanya." Balasnya dengan cepat. "Nyai selalu mengetahui apa tujuan saya datang ke sini? Sepertinya tidak perlu aku jelaskan lagi." Jaya Satria menangkap itu dari ucapan Nyai Bestari Dhatu.
"Aura raden yang mengatakan seperti itu." Ia tersenyum kecil sambil menatap laut yang diiringi ombak laut, serta burung-burung yang mencari makan di tepian laut. "Raden memang selalu terburu-buru jika mengerjakan sesuatu."
"Aku hanya tidak ingin terlambat, menyesali sesuatu yang membuat aku merasakan penyesalan karena kehilangan." Jaya Satria merasa sedih jika ingat kematian ayahandanya. "Andai saja aku teringat akan tempat ini? Pasti aku tidak akan kehilangan ayahanda Prabu." Dalam hatinya sangat sedih jika teringat lagi tentang kejadian itu.
"Raden memang tidak berubah, selalu mementingkan orang lain." Nyai Bestari Dhatu sangat hafal sifat Jaya Satria. "Nanti raden bisa kecewa loh?!." Ucapnya seakan-akan menggoda Jaya Satria.
Tidak ada tanggapan dari Jaya Satria, ia sangat faham dengan sifat Nyai Bestari Dhatu yang seperti itu.
"Beristirahatlah barang sejenak." Ia kembali tersenyum sambil melihat ke arah Jaya Satria. "Nikmatilah keindahan pantai ini sebagai obat lelah setelah menempuh perjalanan." Setelah itu ia berjalan beberapa langkah sambil menuju sebuah Goa yang tak jauh dari pantai. "Sementara itu aku akan mempersiapkan keperluan untuk dibawa ke istana."
"Terima kasih karena nyai selalu baik padaku." Jaya Satria selalu mengucapkan kalimat itu ketika bertemu. "Kalau begitu aku akan menunggu di sini sambil melihat, betapa maha besarnya Allah menciptakan alam yang indah ini beserta isinya."
"Baiklah raden, aku akan bersiap-siap terlebih dahulu." Balasnya.
Namun ketika ia hendak meninggalkan jaya satria, ia ingat sesuatu. "Aku telah membuat masakan hidangan untuk menyambut kedatangan raden, aku yakin raden belum makan apapun saat berangkat dari istana."
Jaya satria mengalihkan pandangannya ke tempat makan yang memang disediakan oleh Nyai Bestari Dhatu. Meskipun tinggal di dalam Goa?. Namun Nyai Bestari Dhatu ahli dalam memasak, selain ahli dalam mengobati.
Begitu ia mencium aroma masakan itu yang begitu wangi, perutnya berbunyi dengan keras seakan memang minta isi.
"Ternyata benar apa yang aku duga? Raden juga harus mengisi tenaga supaya kuat untuk kembali ke istana." Nyai Bestari Dhatu tertawa kecil, ia seakan tau kebiasaan dari Jaya Satria.
"Ternyata perutku malah lapar di sini." Dalam hati Jaya Satria tersipu malu karena bunyi perutnya sendiri.
"Makanlah dahulu, kasihan perutnya minta diisi." Nyai Bestari Dhatu kembali terkekeh kecil ketika melihat reaksi Jaya Satria yang malu-malu.
"Baiklah kalau begitu." Jaya Satria tidak tahan dengan godaan aroma masakan itu. "Aku akan makan dulu, akan repot jika sampai di istana ibunda melihat aku loyo karena kehilangan tenaga." Ia juga tidak ingin itu sampai terjadi padanya.
Jaya Satria tahu jika Nyai Bestari Dhatu adalah orang yang mengetahui apa saja tentangnya, termasuk dirinya yang selama ini bersembunyi di balik topeng hitam itu.
Tapi bagaimana bisa Nyai Bestari Dhatu bisa mengetahui identitas asli dari Jaya Satria?. Itu karena hanya orang-orang yang memiliki kemampuan khusus yang dapat melihat identitas asli Jaya Satria. Termasuk Nyai Bestari Dhatu yang dapat melihat alam gaib, sehingga dengan mata batinnya ia dapat mengetahui identitas asli dari Jaya Satria.
...****...
Kembali ke masa itu.
Tubuhnya terasa kaku. Ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya, karena pengaruh jurus pengendali raga yang dilakukan oleh seorang pendekar golongan hitam yang jahatnya terkenal sampai kemana-mana.
Meskipun sudah berusaha untuk melepaskan diri, namun tetap saja tidak bisa.
"Bergeraklah! Bergeraklah!."
Dalam kemarahan yang ada di dalam tubuhnya, ia memerintahkan tubuhnya agar bergerak dengan bebas seperti biasanya, tapi tetap saja gagal.
"Kau tidak usah melawan! Percuma saja!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras. "Karena jurus itu adalah jurus pengikat pengendali raga!." Ia cengkram kuat pipi Raden Cakara Casugraha. "Sekuat apapun tenaga dalam yang kau keluarkan? Maka akan semakin menyakiti tubuhmu." Ia menyeringai lebar sambil berkata seperti itu.
Mereka semua tertawa melihat bagaimana kondisi tubuh raden Cakara Casugraha waktu itu.
"Kita akan memiliki budak yang hebat kakang." Kumbar Asah memperhatikan penampilan yang berbeda dari mangsanya kali ini.
"Ya, kau benar adi!." Ia sangat setuju. "Jika dilihat dari pakaiannya ia adalah seorang bangsawan? Anak raja? Atau anak tumenggung? Atau anak petinggi istana." Rasanya ia sangat gugup ketika menebak itu?. "Namun yang pasti kita memiliki senjata yang sangat hebat! Hahaha!."
Mereka kembali tertawa. Entah apa yang membuat mereka tertawa namun mereka tidak pernah mendapatkan hal yang seperti ini.
"Nanti akan kita gunakan dia untuk mengamuk di desa yang berada dekat pantai selatan itu kakang." Ia kembali tertawa sembari membayangkan kejadian itu. "Aku yakin aksi kita akan menjadi lebih menguntungkan."
"Ya, kita buat keonaran di sana." Ia juga membayangkannya. "Kita rampas saja harta mereka! Aku dengar orang-orang nelayan di sana sedang menikmati hasil tangkapan mereka yang melimpah! Aku yakin mereka memiliki banyak uang sekarang! Hahaha!."
"Baiklah! Nanti sore kita ke sana! Malamnya kita bisa berpesta ikan bakar untuk merayakan kemenangan kita! Hahaha!."
"Rasanya aku sudah tidak sabar lagi kakang! Hahaha!."
"Jangan terburu-buru, nanti kita bisa kewalahan menghabisi uang yang kita dapatkan!. Hahaha!."
Untuk kesekian kalinya mereka tertawa, membayangkan hal-hal yang menyenangkan yang akan mereka lakukan nantinya. Mereka yang telah berencana melakukan kejahatan demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Kurang ajar! Berani sekali mereka menggunakan diriku untuk kesenangan mereka?." Dalam hati Raden Cakra Casugraha tidak terima dengan itu. Ia akan memikirkan cara agar terbebas dari cengkraman mereka. "Aku pasti akan membalaskan perbuatan kalian!." Dalam hatinya sangat kesal.
Sayangnya Raden Cakra Casugraha memang tidak semudah itu membebaskan diri. Hingga mereka benar-benar mengendalikan dirinya, menggunakan kemarahannya untuk menyerang orang lain.
Ketakutan dan teriakan dapat didengar di desa itu. Rintihan kesakitan mereka begitu pilu, sementara Kumbar Asah dan Kembara Sapa malah tertawa di atas penderitaan penduduk yang tidak berdaya melawan keganasan Raden Cakara Casugraha yang sedang dikendalikan oleh mereka.
Namun saat itu, tiba-tiba ada yang datang menotok tubuh Raden Cakara Casugraha dengan tenaga dalamnya, hingga tidak dapat bergerak.
"Kegkh!." Raden Cakara Casugraha meringis setelah dapat merasakan kebebasan. Ia sedikit melakukan peregangan pada tubuhnya yang terasa kaku.
"Bedebah! Siapa nisanak berani ikut campur dengan urusan kami? Hah?!." Kemarahannya keluar begitu saja.
"Kalian telah melakukan kejahatan dengan memanfaat orang ini! Aku tidak akan mengampuni kalian!."
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi wanita itu menghajar kedua pendekar itu. Walaupun memakan waktu yang agak lama, tapi wanita itu berhasil mengalahkan mereka, dan membawa Raden Cakara Casugraha dari sana.
Dengan keahliannya dalam meramu obat, ia berhasil menghilangkan pengaruh dari jurus pengendali raga itu. meskipun Raden Cakara Casugraha meronta kesakitan akibat jurus itu.
"Terima kasih karena nyai telah menyelamatkanku."
"Raden tidak peru berterima kasih, aku senang menolongmu Raden."
Tidak ada tanggapan dari Raden Cakara Casugraha, karena ia tidak pernah ditolong oleh seorang wanita selama ini?.
"Kemarahan yang Raden keluarkan sungguh sangat berbahaya." Wanita itu terlihat takut?. "Apakah karena itu alasan Raden meninggalkan istana?."
Deg!.
"Kenapa nyai berkata seperti itu?." Raden Cakara Casugraha sangat terkejut mendengarnya.
"Karena aura Raden yang mengatakan seperti itu." Jawabnya.
Raden Cakara casugraha terdiam, ia menatap laut yang sangat indah.
"Sumber kekuatan raden adalah kemarahan, semakin Raden marah? Kekuatan raden semakin meningkat, namun Raden sulit untuk mengendalikannya."
"Ya, itu sangat benar, ayahandaku mengatakannya." Raden Cakara Casugraha tidak membantahnya. "Jika kekuatan yang aku miliki adalah kekuatan kutukan, karena itulah saya menjadi ganas bila marah?." Raden Cakara Casugraha tidak akan pernah lupa dengan ucapan ayahandanya.
Wanita itu tersenyum lembut, ia memahami apa yang telah diucapkan Raden Cakara Casugraha. "Suatu saat nanti, Raden akan menemukan seseorang yang akan mengendalikan kemarahan Raden, kekuatan Raden akan membawakan perdamaian bagi siapa saja." Entah kenapa ia ingin mengucapkan kalimat itu pada Raden Cakara Casugraha yang pertama kalinya ia temui saat itu.
"Entahlah, kalau soal itu saya agak sedikit ragu." Raden Cakara Casugraha merasa sangat ragu dengan kalimat itu.
Ya. Begitulah pertemuan Raden Cakara Casugraha dengan Nyai Bestari Dhatu.
Dan masa ini?. Benar apa yang dikatakan oleh Nyai Bestari Dhatu. Raden Cakara Casugraha telah menggunakan kekuatannya untuk perdamaian bagi semua rakyat Suka Damai. Raden Cakara Casugraha telah menjadi seorang Raja yang sangat dihormati di kerajaan Suka Damai.
...***...
Di Desa Gamang Kuasa.
Putri Cahya Candrakanti dan Raden Harjita Jatiadi disambut baik kedatangannya oleh mereka semua. Namun bukan hanya itu saja, ternyata ada Syekh Asmawan Mulia juga?. Sebagai utusan dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan juga meng-atas namakan prabu Rahwana Bimantara.
"Terima kasih atas kedatangan tuan Putri, Raden, dan juga syekh ke desa gamang kuasa." Sambutnya dengan senyuman ramah. "Kami sangat senang atas kunjungan ini, setelah sekian lama desa ini seperti namanya, tidak tau mau mengabdi kemana?." Ki lurah desa gamang kuasa mewakili mereka semua. Perasaan mereka yang saat itu dalam keadaan gamang, terombang-ambing entah mau mengabdi di kerajaan mana?.
"Maafkan kami ki, karena selama ini kami juga tidak mengetahui tentang daerah ini karena raja-raja sebelumya tidak membahas sama sekali tentang wilayah ini."
"Benar, jika saja jaya satria dari utusan prabu asmalaraya tidak mengatakannya pada kami? Maka desa ini akan terus seperti ini."
"Jadi tuan pendekar bertopeng itu telah menyampaikannya pada Prabu guntur herdian masala yang terjadi di desa ini?."
"Kami adalah putra putri dari prabu guntur herdian." Ia memberi hormat pada mereka semua. "Saya putranya yang bernama harjita jatiadi, dan ini adik saya putri cahya candrakanti" Ia memperkenalkan dirinya pada mereka semua. "Sedangkan beliau ini adalah syekh asmawan mulia, utusan dari prabu rahwana bimantara."
"Dengan segenap hati, jiwa dan perasaan, kami mohon kepada warga desa gamang kuasa agar menerima kedatangan kami dengan tangan terbuka."
"Kami hanya membawakan ajaran yang baik, untuk kebaikan kita semua, namun bukan kami bermaksud untuk menggurui warga desa ini, hanya berbagi ilmu baik untuk kita semua."
"Namun sebelum itu, lapangan lah hati kalian ketika menerima ilmu yang baik, karena hati yang ikhlas dan berlapang dada, maka apa yang disampaikan akan menjadi ilmu yang bermanfaat."
"Tapi syekh, kami sudah terlalu tua untuk belajar tentang ilmu agama yang baru, dan bahkan kami sulit untuk melupakan kebiasaan kami yang sebelumnya, seperti menyembah pohon, kuburan ataupun belajar ilmu dukun."
"Astaghfirullah halazim."
Mereka terkejut mendengarkan pengakuan pengakuan itu. Namun syekh Asmawan Mulia tersenyum ramah.
"Tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu, karena sudah jelas dalam sebuah hadist yang mengatakan bahwa, tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat." Ia memberi jeda ucapannya.
"Artinya apa? Artinya kita yang masih hidup ini baik itu tua, muda, anak-anak, berhak dan wajib menuntut ilmu agama yang baik dan benar untuk menuntun hari tua kita agar tidak menjadi orang yang linglung."
"Mengapa kita wajib menuntut ilmu? Karena ilmu sangat bermanfaat untuk diri kita, seperti yang dijelaskan dalam hadits, bahwa ketika seorang umat manusia meninggal, ada tiga hal yang tidak akan pernah putus." Syekh Asmawan Mulia menatap mereka semua
"Pertama yaitunya sedekah jariyah, yang kedua, ilmu yang bermanfaat, ketiga doa anak yang sholeh."
Mereka semua menyimak dengan baik apa yang dijelaskan Syekh Asmawan Mulia.
"Lalu bagaimana caranya kami mempelajarinya syekh? Dari mana kami harus mengamalkan ilmu itu?."
"Benar syekh! Tunjukan pada kami caranya?."
"Caranya sangatlah mudah! Untuk awal-awal ini kita belajar pelan-pelan saja. Yaitunya dengan melatih kesabaran."
"Melatih kesabaran? Mengapa harus seperti itu syekh?."
"Karena kesabaran adalah pusat dari segalanya, jika seseorang tidak sabar? Dan tidak tenang.? Maka ia tidak akan bisa memusatkan pikirannya untuk menerima ajaran apapun! Entah itu melalui perkataan ataupun perbuatan? Bukankah begitu, putri Cahya Candrakanti, raden Harjita Jatiadi?."
"Benar syekh! Kesabaran adalah kunci segala sifat manusia dalam bertindak, berpikir, bahkan dalam mengeluarkan pendapat."
"Kesabaran terletak pada hati nurani yang jernih, pikiran bersih, jadi? Jika seseorang yang tidak sabar, maka ia akan menjadi pribadi yang buruk."
Perlahan-lahan mereka mencoba memahami apa yang dijelaskan oleh Syekh Asmawan Mulia. Sebelum mereka mengucapkan kalimat syahadat sebagai bukti mereka masuk islam, mereka mempelajari apa itu islam terlebih dahulu.
Bagaimana bisa syekh Asmawan Mulia berada di sana?. Sementara prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah mengatakan bahwa akan meminta tolong pada kerajaan telapak Tiga untuk menyelesaikan masalah itu?.
Pada saat itu, kebetulan Syekh Asmawan Mulia kembali dari rumahnya yang melewati desa perbatasan itu, dan bertemu dengan keduanya.
Syekh Asmawan Mulia menanyakan perihal apa yang akan dilakukan oleh putra putri raja ke desa terpencil seperti ini?. Mereka menjelaskannya dengan rinci, hingga Syekh Asmawan Mulia memutuskan untuk bergabung dengan mereka.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya ya?.
...***...