
...***...
Kerajaan Kegelapan. Prabu Wajendra Bhadrika mendapatkan laporan dari bawahannya, yang mengatakan ada sekelompok orang yang memasuki kawasan kerajaan kegelapan.
"Apa? Ada sekelompok orang yang berani memasuki wilayah kekuasaan ku?." Prabu Wajendra Bhadrika sangat marah, ia tidak suka ada orang yang memasuki wilayah kekuasaannya tanpa izin darinya.
"Jika hamba lihat dari pakaian, mereka seperti orang bangsawan, selain itu diantara mereka ada orang bertopeng juga gusti Prabu."
"Apa? Orang bertopeng?" Prabu Wajendra Bhadrika dan Putri Gempita Bhadrika terkejut.
"Kalau begitu, kita sambut kedatangan mereka." Rasanya emosinya semakin memuncak. Bagaimana mungkin orang bertopeng itu bisa memasuki wilayahnya?.
"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja ayahanda."
"Ya, kau benar putriku, mereka telah berani memasuki wilayah kerajaan ini."
"Lalu apa yang harus kita lakukan ayahanda?."
"Tentu saja kita harus mengusir mereka, atau lebih tepatnya kita bunuh mereka."
"Aku sangat setuju ayahanda."
"Nini kabut bidadari, dan kau segala Geni? Hadapi yang lain, sedangkan aku dan putriku akan berhadapan dengan orang bertopeng itu." Perintahnya dengan suara keras.
"Perintah gusti prabu, akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya." Mereka meninggalkan tempat, untuk melihat siapa yang berani datang ke wilayah kerajaan Kegelapan.
"Putriku, mari kita juga ikut ke sana, kita bunuh orang yang telah mencelakai mu tanpa ampun." Aura kemarahannya sangat jelas, sorot matanya menyimpan dendam.
"Tentu saja ayahanda, aku tidak akan pernah lupa, pada orang yang hampir saja membunuhku ayahanda prabu." Rasa sakit hati itu tidak akan pernah hilang begitu saja, berkali-kali kalah, membuatnya semakin menyimpan dendam yang besar.
"Mari ayahanda."
"Ya, mari putriku."
Prabu Wajendra Bhadrika dan putrinya juga menyusul Nini Kabut Bidadari dan Segala Geni. Mereka tidak sabar ingin berhadapan dengan orang bertopeng itu. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan rombongan yang telah memasuki kawasan kerajaan Kegelapan. Tapi suasana di sana tidak enak sama sekali untuk dicium, aura kegelapan membuat nafas mereka terasa sesak.
"Uhuk! Uhuk! Nafasku terasa sesak, dan tidak nyaman." Keluh putri Andhini Andita. "Tempat ini menyeramkan sekali." Batuknya itu sangat menyakitkan, hingga ia merasa sulit untuk bernafas.
"Yunda benar, memang wilayah yang tidak bisa dihuni oleh manusia biasa." putri Agniasari Ariani setuju dengan kakaknya.
"Itulah kenapa aku tidak mengizinkan yunda ikut, karena wilayah ini memang dikuasai oleh raja kegelapan, kegelapan yang tidak bisa dijangkau manusia biasa." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk bersikap tenang, meskipun ia mengkhawatirkan keadaan kedua kakaknya. "Bahkan ayahanda pun melarang ku dulu, ketika aku ingin ikut dengannya, karena ayahanda tahu wilayah ini sangat berbahaya." Dalam hatinya juga mengingat bagaimana waktu itu.
"Atur saja hawa murni kalian dengan baik, aku yakin kalian akan baik-baik saja." Ucap Perapian Suramuara memberi saran pada mereka semua.
"Tetaplah tenang rayi andhini andita, juga rayi agniasari ariani, benar yang dikatakan oleh paman perapian suramuara, atur dengan pelan hawa murni kalian, agar bisa menyesuaikan dengan aura sekitar sini." Raden Hadyan Hastanta juga mencemaskan kedua adik perempuannya.
"Baiklah raka." Keduanya mengerti, dan mencoba melakukan apa yang disarankan untuk menenangkan diri mereka.
Tak lama kemudian, beberapa orang muncul dihadapan mereka, menatap mereka dengan penuh kebencian.
"Kau?! Bukankah kau wanita yang selalu membuat kerusuhan di wilayah kerajaan suka damai?." Jaya Satria sangat mengingat wanita muda yang berada di samping prabu Wajendra Bhadrika. "Dan kau?! Nenek tua yang telah membantunya waktu itu." Lanjutnya lagi.
"Kurang ajar! Berani sekali kau menyebutku nenek tua?!." Nini kabut Bidadari sangat merah, ia tidak terima dibilang nenek tua. "Mulutmu itu sangat kurang ajar! Akan ku bunuh kau! Karena kau telah membunuh kakang dharma seta! Dan kau juga berani menghinaku!." Amarahnya menggebu-gebu mengingat siapa yang membunuh kekasihnya.
"Jadi dia yang membunuh kakang Dharma seta?!."
"Benar gusti prabu, dia yang telah membunuh kakang dharma seta." Rasa sakit hati dan dendam membuatnya ingin menghancurkan topeng itu.
"Ah? Ya aku ingat, kau dulu yang pernah menyelamatkan prabu kawiswara arya ragnala keluar dari wilayah ini, meskipun akhirnya raja bodoh itu mati."
Syhuk!.
Bunyi senjata yang dilempar dengan cepat mengarah ke wajah prabu Wajendra Bhadrika, namun masih bisa ditahan olehnya. Mereka yang melihat itu terkejut, serangan cepat yang tidak terduga itu, siapa yang melakukan itu?.
"Heh!. Cepat juga tanganmu, orang bertopeng!." Prabu Wajendra Bhadrika menatap tajam ke arah Jaya Satria. "Sepertinya kau tidak sabaran sama sekali." Entah kenapa ia sangat kesal.
Mereka tidak menyangka jika Jaya Satria yang melakukan serangan sapaan itu?. Cepat sekali gerakannya, hingga mereka tidak menyadarinya. Tapi mengapa Jaya Satria begitu cepat menyerang musuhnya?.
"Berani sekali, kau menyebut nama rajaku Gusti Prabu kawiswara arya ragnala dengan mulut busukmu itu!." Jaya Satria menunjukkan kemarahannya.
"Jaya satria?!."
Sementara itu mereka cemas dengan kemarahan jaya Satria, terutama prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia takut, sebelum pertarungan itu terjadi, Jaya Satria tidak bisa menahan dirinya.
"Kau memang membuatku marah! Akan aku bunuh kau!." Ancam Prabu Wajendra Bhadrika.
"Aku tidak takut padamu! Aku hanya takut kepada Allah SWT."
"Nanda jaya Satria, tenang diri nanda, jangan sampai dikuasai oleh kemarahan." Syekh Asmawan Mulia mencoba untuk mengingatkan Jaya Satria
"Maafkan saya syekh guru, saya sudah tidak sabar lagi, karena dia yang telah membunuh gusti prabu kawiswara arya ragnala, dia yang telah membuat kami kehilangan sosok ayah yang paling kami cintai."
__ADS_1
"Jaya satria."
Rasanya Putri Andhini Andita, Raden Cakara Casugraha, dan Putri Agniasari Ariani sangat sedih mendengarkan ucapan Jaya Satria.
"Jaya satria, ingat! Jaga amarahmu, jangan sampai kau terpancing oleh amarahmu jaya Satria!."
"Maafkan hamba gusti Prabu, hamba tidak bisa menahan diri lagi, mereka semua tidak bisa diberi ampun atas kejahatan yang telah mereka lakukan."
"Benar yang dikatakan jaya satria! Kita tidak usah mengampuni orang yang telah membuat kita kehilangan ayahanda yang paling kita cintai, mereka harus diberi pelajaran." Putri Andhini Andita terbawa suasana.
"Kali ini aku setuju dengan ucapan jaya satria, aku pasti akan memberikan hukuman pada orang yang telah membuat ayahanda Prabu meninggalkan kita semua." Raden Hadyan Hastanta juga begitu.
"Rasa sakit ini tidak akan hilang begitu saja, maafkan aku rayi Prabu." Putri Agniasari Ariani juga setuju.
Sementara itu prabu Wajendra Bhadrika yang mendengar kata Gusti prabu, ia melirik ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Jadi kau adalah raja baru itu? Dari penampilanmu, kau terlihat sangat lemah, sekali sentil saja sudah merengek minta ampun padaku."
"Hyah!."
Jaya Satria langsung melompat menerjang dengan cepat, hingga prabu Wajendra Bhadrika tidak bisa menghindarinya. Tubuhnya terlempar ke kebelakang, namun jaya satria tidak membiarkannya begitu saja, ia terus menerjang prabu Wajendra Bhadrika.
Namun Prabu Wajendra Bhadrika berhasil menangkisnya dengan kedua tangannya, memblok tendangan Jaya Satria, mereka bertarung di udara.
"Jaya satria."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan yang lainnya tidak menyangka, jika Jaya Satria memang kelepasan. Menyerang Prabu Wajendra Bhadrika dengan cepat.
"Jaya satri, dia sangat ceroboh sekali, menyerang musuh tanpa perhitungan seperti itu." Putri Andhini Andita sangat mengkhawatirkan Jaya Satria.
"Itu sangat berbahaya sekali rayi Prabu." Raden Hadyan Hastanta juga sangat mencemaskan Jaya Satria.
"Kita harus segera membantunya rayi prabu." Putri Agniasari Ariani juga mengkhawatirkan Jaya Satria.
"Ayahanda!." Putri Gempita Bhadrika terkejut melihat serangan cepat itu, hingga ia hanya terpaku. "Sialan, dia itu memang musuh yang menyusahkan!." Putri Gempita Bhadrika merasa kesal.
"Bajingan busuk itu langsung menyerang gusti prabu." Nini Kabut Bidadari melihat itu, namun ia tidak sempat untuk membantu.
"Siapa dia nyai? Sehingga dia berani sekali menyerang gusti Prabu?." Segala Geni begitu penasaran dengan orang bertopeng itu.
"Aku tidak siapa dia, tapi dia orang yang cukup berbahaya." Nini Kabut Bidadari jiga tidak mengetahui siapa Jaya Satria.
"Astaghfirullah hal'azim nanda jaya satria."
"Tenanglah nanda prabu, mari kita bantu nanda jaya satria."
Syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara ikut menyerang, namun dihadang oleh pengikut prabu Wajendra Bhadrika.
"Aku harus segera membantunya."
Ketika Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin mendekati Jaya Satria, namun ia dihadang oleh Putri Gempita Bhadrika.
"Kau tidak usah ikut campur! Lawan mu adalah aku! Orang bertopeng itu pasti akan dibunuh oleh ayahandaku!." Putri Gempita Bhadrika menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Sang Prabu tentunya tidak membiarkan dirinya diserang begitu saja. Ia juga menggunakan jurus-jurusnya untuk menahan serangan serta menyerang putri Gempita Bhadrika.
"Rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta yang berniat membantu adiknya malah dihadang oleh Segala Geni.
''Tidak perlu ikut campur dalam pertarungan orang lain, hadapi aku terlebih dahulu.'' Segal Geni terlihat sangat gahar, ia menyerang raden Hadyan Hastanta.
''Akan akau ladani kau, berapapun jurus yang kau inginkan, mari kita bertarung sampai mati.'' Raden Hadyan Hastanta pantang juga ditantang seperti itu.
"Raka."
Putri Andhini Andita dan putri Agniasari Ariani terkejut melihat kakaknya melawan Segala Geni. Namun ketika mereka ingin membantu, langkah mereka terhenti karena dihadang oleh Nini Kabut Bidadari.
"Kalian tidak akan bisa pergi kemana-mana. Karena akulah lawan kalian! Lawan yang akan mencabut nyawa kalian berdua!.''
''Kau tidak usah mengancam kami, aku tidak takut dengan ancaman mu!.''
''Aku dan yunda ku, pasti akan menghentikan mu! Tidak perduli siapapun kau, pasti akan kami hadapi.''
Putri Andhini andita dan Putri Agniasari Ariani menyerang Nini kabut bidadari. Mereka menggunakan jurus-jurus mereka untuk mengalahkan Nini Kabut Bidadari.
Putri Agniasari Ariani menggunakan jurus Tarian Bunga Mekar. Gerakan indah nan lembut dan ayu untuk dilihat, namun gerakan jurus itu cukup membuat Nini Kabut Bidadari kewalahan. Sementara itu juga dengan putri Andhini Andita, menggunakan jurus pukulan angin tanpa udara, jurus yang diajarkan oleh jaya Satria padanya waktu itu.
Sementara itu Syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara menghadang pasukan jin yang berdatangan melawan mereka. Sepertinya pertarungan itu sudah diluar dari rencana mereka semua.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Syekh Asmawan Mulia menghadang mereka yang mulai bermunculan.
"Berhati-hatilah syekh, mereka bukanlah musuh yang biasa." Perapian Suramuara juga menghadang pasukan jin yang ikut serta dalam pertarungan itu.
"Kakang juga berhati-hatilah saat melawan mereka semua." Syekh Asmawan Mulia mengingatkan Perapian Suramuara.
Kita simak pertarungan Jaya Satria melawan Prabu Wajendra Bhadrika. Pertarungan mereka sangat kuat, dan tidak bisa dihentikan begitu saja. Pertarungan yang bukan hanya menggunakan fisik saja, namun ilmu kanuragan yang mereka gunakan semuanya sangat berbahaya.
__ADS_1
"Berani sekali kau menghina rajaku! Aku tidak akan mengampuni mu!." Jaya Satria telah terbawa amarah. "Kau yang telah menggunakan cara licik untuk membunuh Gusti Prabu kawiswara arya ragnala! Aku tidak akan mengampuni mu!."
"Aku tidak butuh pengampunan darimu!. Justru kaulah yang meminta ampun padaku!."
Mereka kembali saling menyerang satu sama lain, kali ini menggunakan kekuatan fisik. Mereka saling mengadu pukulan, dan sepakan keras untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Sesekali mereka mengatur hawa murni mereka untuk menjaga keseimbangan tenaga dalam dengan kekuatan fisik mereka.
"Aku akui kekuatanmu setara dengan prabu kawiswara arya ragnala, tapi sayangnya kekuatanku jauh di atas kemampuanmu, marena itulah prabu kawiswara arya ragnala kalah, dan mati!."
"Kau tidak usah banyak bicara! Gusti prabu kawiswara arya ragnala kalah, hanya karena kecurangan mu, raja pengecut yang berani nya main keroyokan bantuan pasukan jin.'' Jaya Satria sangat geram mendengar itu, ia tunjuk kidal kearah Prabu Wajendra Bhadrika. "Kekuatanmu jauh lebih rendah, dibandingkan dengan pasukan bodohmu itu."
"Kurang ajar! Berani sekali kau menghinaku! Itu artinya kau memang ingin aku bunuh! Hyah!."
Kekuatan Prabu Wajendra Bhadrika yang telah kembali dengan sempurna, ia mengeluarkan jurus andalannya yaitunya jurus pukulan beracun penembus sukma.
"Ayahanda, pinjamkan aku kekuatanmu untuk membunuh Raja kegelapan laknat ini, ayahanda Prabu." Dalam hati Jaya Satria sangat bergemuruh mengingat bagaimana kondisi ayahandanya saat itu.
"Kau akan merasakan jurus yang aku berikan pada prabu kawiswara arya ragnala! Hyah!." Telapak tangannya yang telah ia salurkan tenaga dalamnya, aura pekat menyelimuti telapak tangannya.
Jaya Satria yang menyadari betapa jahatnya pukulan itu, ia mencoba menggunakan kekuatan Perisai Raja Gaib. Gerakan sederhana yang digunakan Jaya Satria namun gerakan itu adalah gerakan yang memanfaatkan angin untuk menjadi tameng kuat, sebagai penahan jurus apa saja yang ingin menghantam tubuhnya. Dan benar saja, pukulan keras dari Prabu Wajendra Bhadrika terhenti di udara, seakan ada penghalang besar di depannya, sehingga ia tidak bisa mendekati Jaya Satria.
"Heh! Aku tidak menyangka jika bawahan prabu kawiswara arya ragnala memiliki jurus-jurus pendekar golongan hitam."
"Aku memiliki jurus itu bukan dengan tanpa alasan yang jelas, aku mempelajari jurus itu dari mereka, dan aku menggunakannya untuk kebaikan." Jaya Satria mengingat dengan jelas, bagaimana masa lalunya selama menjalani hukuman buang. "Jurus-jurus berbahaya yang aku pelajari dari golongan hitam, akan aku gunakan untuk membunuhmu!."
"Kurang ajar! Sombong sekali kau bedebah!." Kemarahan itu, membuat pukulannya yang tertahan tadi mengeluarkan aura yang sangat pekat, hingga beradu dengan tameng Raja gaib milik Jaya Satria. Akibat benturan tenaga dalam mereka itu, hawa sekitar menghasilkan sebuah ledakan besar. Akibat benturan paksa dari ilmu kanuragan mereka, tubuh keduanya terlempar saling menjauh satu sama lain.
Sementara itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang berhadapan dengan putri Gempita Bhadrika.
"Aku tahu kau berasal dari golongan jin, tetapi kau tidak akan bisa menyentuh dunia manusia, apalagi berbuat kerusuhan di wilayah kerajaan suka damai sesuka hatimu.''
"Kau tidak usah berkata seperti itu padaku!."
"Aku mengatakan itu padamu, karena kau berkali-kali mencoba berbuat kerusuhan di wilayah ku, sebagai seorang raja yang melindungi rakyatnya, tentunya aku harus menghentikan tindakanmu.''
Putri Gempita Bhadrika malah tertawa keras mendengarkan ucapan itu. "Aku sengaja membuat keributan di wilayah mu, agar aku bisa memancingmu keluar, namun siapa sangka malah orang bertopeng itu muncul, sementara kau malah bersembunyi nyaman di dalam istanamu, benar-benar raja yang tidak berguna!.''
Setelah berkata seperti itu, ia kembali menyerang sang prabu dengan jurus jari penusuk kegelapan. Jurus itu cukup berbahaya juga, karena jurus itu menggunakan tenaga dalam yang disalurkan ke jari telunjuk dan jari tengah, dengan membacakan mantram aneh, kemudian diarahkan ke musuhnya.
Jika terkena jurus itu jangan harap bisa bertahan lama, karena jurus itu seperti jarum tajam yang dapat menembus tubuh. Akan lebih fatal jika terkena dada, karena akan menembus jantung yang merupakan titik paling rawan. Jurus yang mengerahkan tenaga dalam yang cukup kuat dan bertenaga, karena itulah jurus itu disebut jurus yang sangat mematikan.
Namun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berhasil menghindari jurus itu dengan melompat ke atas untuk menghindarinya, dan kembali turun ke bawah karena putri Gempita yang mengarahkan jarinya ke arah sang prabu yang menghindari serangannya.
Sang prabu tentunya tidak ingin diserang begitu saja, dengan menggunakan jurus angin pelebur baja, ia membalas kembali jurus milik putri gempita bhadrika. Mereka benar-benar mengadu kekuatan jurus mereka.
Selain itu.
"Eqhakqh."
Raden Hadyan hastanta terkena jurus gajah gempar bumi. Jurus itu mengandalkan hentakan kaki ke tanah, namun menyalurkan tenaga dalam ke tanah. Saat ingin memukul lawan, tenaga dalam itu memancarkan aura yang meniru kaki gajah yang menerjang dari bumi. Bagi yang terkena jurus itu, tubuhnya terasa sangat sakit seakan diterjang oleh gajah.
"Ahaha! Ternyata kau tidak sekuat yang aku duga." Segala Geni memandang remeh raden hadyan hastanta. Tawanya itu tawa mengejek betapa lemahnya musuh yang ia hadapi. "Kau hanya pandai berbicara saja!."
"Keqh! Tidak usah sombong dulu kau! Aku masih memiliki jurus yang akan membuatmu bungkam." Raden Hadyan Hastanta mengeluarkan pedang yang ia simpan di dalam tubuhnya dengan menggunakan ilmu kanuragannya.
"Pedang serat raga dewa langit?."
"Sepertinya kau mengenali pedangku ini, jadi aku tidak susah-susah lagi menjelaskannya padamu."
"Heh!. Seberapa hebat pedang yang kau miliki? Jika kau tidak memiliki jurus yang dapat mengendalikannya, sama saja kau menggunakan jurus pedang biasa."
"Kau jangan memandang remeh padaku, aku ini keturunan langsung dari gusti prabu kawiswara arya ragnala, secara alamiah, pedang ini menyatu dengan raga dan sukma kami, tanpa belajar? Kami telah dituntun oleh pedang ini untuk menggunakannya dengan baik."
"Kalau begitu buktikan saja, aku yakin kau hanya menguasai jurus dasarnya saja."
"Kau rasakan saja nanti jurusku ini!." Raden Hadyan Hastanta memang melainkan jurus dasarnya, karena ia ingin menguji kekuatan pedang itu. Karena ayahandanya juga berpesan tidak perlu terburu-buru menggunakan pedang itu ketika bertarung.
"Ayahanda prabu, berikanlah nanda restu untuk menggunakan jurus pedang ini." Dalam hatinya berharap, pedang yang ia gunakan dapat mengalahkan Segala Geni.
Masih di tempat pertarungan.
Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari sepertinya juga mengalami kesulitan berhadapan dengan Nini Kabut Bidadari. Karena serangan mereka yang tidak mempan pada wanita itu.
Tubuh nini kabut bidadari seakan tembus saat mereka menyerangnya.
"Yunda, sepertinya jurus-jurus kita tidak mempan padanya."
"Kau benar rayi, kekuatannya diatas kita."
"Lalu apa yang akan kita lakukan yunda."
"Kita hadapi dia bersama-sama."
Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani tentunya tidak akan mundur begitu saja.
Next.
__ADS_1
...***...