RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PENOLAKAN PUTRI ANDHINI ANDITA


__ADS_3

...***...


Perlahan-lahan Lasmana membuka matanya, kepalanya terasa sangat sakit, tubuhnya juga terasa sangat sakit. Namun ia mencoba untuk bangun, karena ia merasa masih bisa untuk digerakkan. Sedangkan Nyai Warti dan demang Dirgantara Wira memperhatikan anaknya dengan seksama. Apakah mereka tidak salah?. Apakah mereka tidak salah, jika anak mereka telah bangun dari tidur yang cukup panjang?.


"Oh bapak. Anak kita telah bangun pak." Nyai Warti sangat senang melihat anaknya telah bangun. Ia segera mendekati anaknya. Rasa bahagia yang ia rasakan saat ini membuatnya ingin memeluk anaknya. "Oh putraku." Begitu erat ia memeluk anaknya. Hingga ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa haru yang ia rasakan saat ini. Begitu juga dengan Demang Dirgantara Wira. Ia juga mendekati anak dan istirnya.


"Biyung, bapak." Lasmana mulia mengingat siapa dirinya, serta siapa yang memeluknya saat ini.


"Kau sudah bangun nak. Syukurlah, biyung sangat senang sekali." Nyai Warti mengelus kepala anaknya dengan sayang.


"Bapak sangat merindukan mu nak. Lama sekali kau tertidur." Demang Dirgantara Wira berusaha menahan tangisnya, supaya tidak terlihat cengeng dihadapan keluarga yang ia sayangi.


"Maafkan aku biyung, bapak. Soalnya aku sama sekali tidak mengetahui jalan pulang. Jika saja nini baik hati ini memanggilku." Lasamana menceritakan apa yang ia alami selama terjebak di alam sukma. "Rasanya sangat sulit sekali untuk kembali, karena aku hanya berjalan-jalan tanpa arah dan tujuan." Lanjutnya lagi dengan perasaan yang sangat sedih.


"Terima kasih atas bantuan nini." Nyai Warti tersenyum kecil, sambil menghapus air matanya yang telah membasahi pipinya.


"Terima kasih aku ucapkan padamu ndok. Jika tidak dibantu olehmu, mungkin saja kami belum bisa melihat anak kami lagi." Ia menatap anaknya sangat lekat, memastikan jika anaknya memang telah kembali.


"Semua terjadi karena Allah SWT. Aku hanya membantu saja. Jika saja Allah SWT tidak menggerakkan hatiku untuk bergerak berjalan ke arah sini, mungkin juga aku tidak bisa membantu tuan juga nyai." Putri Andhini Andita sangat senang melihat senyuman mereka yang telah kembali.

__ADS_1


"Sungguh nini sangat baik sekali. Terima kasih aku ucapkan sebesar-besarnya pada nini." Nyai Warti merasa kagum dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. "Sesuai dengan janji kami, jika ada yang bisa menolong anak kami. Jika ia seorang laki-laki, maka ia akan kami angkat menjadi anak kami." Nyai Warti melihat ke arah anaknya. "Namun jika ia adalah seorang wanita, maka kami akan menikahkannya dengan anak kami." Lanjutnya lagi.


"Kami saat itu sangat putus asa, karena keadaan anak kami yang tidak kunjung juga sembuh. kami tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa lagi." Sambung Demang Dirgantara Wira. "Sehingga kami membuat sumpah itu, untuk kesembuhan dari putra kami.." Ada perasaan sedih menyelimuti dirinya yang saat ini.


"Biyung, bapak membuat sumpah itu?." Lasmana menatap kedua orang tuanya dengan penuh tanda tanya. Karena selama tidak sadarkan diri, tentunya ia tidak mengetahuinya.


"Pada saat itu kamu sangat putus asa sekali nak. Kami sangat menyayangimu, kami tidak mau kehilanganmu nak." Nyai Warti duduk di samping anaknya. Ia tatap anaknya dengan tatapan yang sangat iba, tangannya membelai kepala anaknya dengan sayang.


"Kami melakukan semua ini, karena kami sangat ingin berkumpul lagi denganmu. Kami melakukan ini semua demi dirimu nak." Demang Dirgantara Wira juga mengatakan alasan mengapa mereka membuat sumpah seperti itu.


"Kau akan menerima perjodohan itu andhini andita?." Sukma Dewi Suarabumi mendengarkan apa yang mereka katakan. Sangat jelas sekali, mereka menjodohkan anak mereka dengan Putri Andhini Andita.


"Kenapa?. Kenapa nini tdiak bisa memenuhi sumpah kami?." Nyai Warti merasa heran.


"Meskipun kedudukan ku hanya sebagai demang, namun kami bisa menjamin kebahagiaan mu nini." Demang Dirgantara Wira sedikit membanggakan dirinya.


"Maafkan aku sekali lagi. Saat ini aku sedang dalam perjalanan mengembara." Jawabnya dengan senyuman ramah. "Meskipun orang tua ku hanya lah orang biasa, namun ada yang harus aku lakukan dalam pengembaraan ini. Banyak hal yang harus aku pelajari, dan maaf." Ia kembali memberi hormat pada mereka. "Ada seseorang yang menungguku, mungkin ketika aku kembali. Orang yang telah berjanji akan menemui ku dengan ikatan yang sah." Putri Andhini Andita bangkit dari duduknya. Ia membereskan semuanya, termasuk mukena serta sajadah, dan Al-Quran yang ia gunakan dalam mengobati Lasamana tadi. "Maaf, aku harus pamit. Aku harus meneruskan pengembaraan. Sekali lagi aku ucapkan maaf karena tidak bisa memenuhi apa yang telah menjadi sumpah tuan, juga nyai. Aku pamit dulu, sampurasun." Setelah berkata seperti itu, Putri Andhini Andita pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak menunggu bagaimana reaksi mereka ketika ia pergi begitu saja tanpa menggubriskan panggilan mereka semua. Karena tidak ada tanggapan dari Putri Andhini Andita, mereka hanya diam di tempat. Memaksa seseorang untuk memenuhi sumpah mereka, rasanya tidak akan mungkin terjadi. Apakah mereka kecewa dengan sikap Putri Andhini Andita yang menolak sumpah itu?. Mungkin ia telah memiliki pilihan lain yang lebih besar?.


"Apakah kau yakin?. Apakah kau yakin jika dia akan datang padamu andhini andita?." Sukma Dewi Suarabumi memperhatikan dari raut wajah Putri Andhini Andita yang berusaha untuk menghindari perjodohan itu.

__ADS_1


"Hamba tidak mau mengecewakan orang yang telah memberikan kepercayaan yang telah ia berikan pada hamba." Putri Andhini dengan langkah yang sangat mantab, telah menetapkan hatinya, jika ia tidak akan bercabang pikirannya juga hatinya hanya karena melihat wajah tampan Lasmana. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana petualangan Putri Andhini Andita dalam mengahadapi masalah yang akan terjadi selama ia mengembara?. Temukan jawabannya ya.


...***...


Semetara itu di Istana Kerajaan Suka Damai. Saat ini Raden Hadyan Hastanta sedang bersama istri dan anaknya. Saat ini Raden Hadyan Hastanta memperhatikan istrinya yang sedang mengurus bayi mereka dengan telatennya. Ia merasa kagum dengan apa yang dilakukan oleh istrinya sejak anaknya lahir.


"Luar biasa sekali dinda." Setelah berhasil membedong anaknya dengan rapi, Raden Hadyan Hastanta memeluk istrinya dari belakang. Begitu mesra, dan ia sangat merindukan suasana seperti ini. "Apakah dinda telah memiliki pengalaman bagus untuk merawat anak?." Setelah itu ia melepaskan pelukannya, menatap putranya yang sangat imut dimatanya.


"Dinda belajar dari ibunda ratu. Ibunda ratu yang mengajari dinda sampai bisa." Jawab Putri Bestari Dhatu dengan senyuman yang ramah. Ia gendong anaknya dengan sangat pelan, seakan-akan ia tidak mau menyakiti anaknya. Apalagi mengusik anaknya yang merasa nyaman, dan tertidur dengan sangat nyenyak ya setelah mandi tadi.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Itu adalah suatu hal yang sangat luar biasa sekali dinda." Raden Hadyan Hastanta sangat merasa bangga dengan apa yang dikatakan istrinya. Ia juga ikut duduk bersama istirnya, dan tangannya mengelus sayang kepala anaknya yang masih kecil. "Terima kasih, karena dinda telah memberikan seorang putra pada kanda." Rasanya ia ingin menangis, karena ini adalah hal yang sangat luar biasa baginya. "Rasanya aku ingin menangis, dan membayangkan bagaimana perasaan ayahanda prabu saat melihat anaknya lahir." Rasanya air matanya benar-benar ingin menetaskan air matanya. Perasaan bahagia yang dibanjiri air mata.


"Kanda benar. Ini adalah sebuah nikmat yang harus kita syukuri. Alhamdulillah hirabbli'alamin, kanda." Putri Bestari Dhatu juga merasakan kebahagiaan yang menusuk sampai ke relung hatinya. Perasaan bahagia setelah mengetahui jika ia hamil, melahirkan, dan menjadi seorang ibu.


Bisakah kebahagiaan ini mereka rasakan hingga anak mereka kelak tumbuh menjadi anak yang sangat baik, Soleh, taat pada orang tua, pada sang pencipta, juga agamanya?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2