RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PETUNJUK


__ADS_3

...***...


Pagi telah menyapa, Putri Agniasari Ariani hendak pergi meninggalkan penginapan itu, namun saat itu ia tidak sengaja melihat ada beberapa orang pemuda yang bersikap kasar pada seorang wanita.


"Hentikan!."


Mereka melihat ke arah sumber suara, dan menghampiri Putri Agniasari Ariani.


"Hei! Siapa kau? Berani sekali kau ikut campur dengan urusan kami?."


Belum ada tanggapan dari Putri Agniasari Ariani, ia melihat ke arah seorang wanita yang tidak berdaya itu. Kakinya seakan-akan terhipnotis untuk mendekati wanita yang tampak kesakitan itu.


Deg!.


Matanya terbelalak terkejut ketika melihat ada darah segar mengalir di kaki wanita itu. Tanpa pikir panjang lagi?. Putri Agniasari Ariani membawa wanita itu pergi dari sana untuk diberikan pertolongan.


Sedangkan mereka yang melihat itu?.


"Apa yang akan kita lakukan?."


"Biarkan saja."


Setelah itu mereka pergi meniggalkan tempat itu. Karena mereka tidak berniat sedikitpun untuk mengejarnya?. Ya, anggap saja seperti itu.


...***...


Istana kerajaan Suka Damai.


Pagi itu Syekh Asmawan Mulia dan Nyai Bestari Dhatu masih berunding mengenai masalah Mustika Naga Merah Delima yang ada di dalam tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Mustika naga merah delima itu adalah pemberian dari mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala, aku dan jarah setandan yang membuatnya." Syekh Asmawan Mulia sedikit menjelaskan pada Nyai Bestari Dhatu asal mula Mustika Naga Merah Delima itu.


"Pantas saja saya baru melihatnya, karena sebelum itu kami pernah bertemu, dan saya tidak melihat mustika itu di dalam tubuhnya."


"Mustika itu sangat berguna untuk Raden cakara casugraha." Syekh Asmawan Mulia melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang masih terbaring di tempat tidur. "Mendiang ayahandanya mempercayai istana ini pada anak bungsunya, itu karena selama ini ia berjuang dalam kegelapan menyelamat kerajaan ini." Syekh Asmawan Mulia sangat mengetahui Raden Cakara Casugraha. "Itulah alasan kenapa Gusti Prabu kawiswara arya ragnala meminta kami untuk membuatkan mustika itu, agar putranya agar bisa menjadi Raja." Lanjutnya lagi.


Memang sangat berat memikul tanggung jawab seperti itu, siapapun akan merasa berat?. Raden Cakara Casugraha telah mencoba melalui itu semua, bahkan masa lalunya sangat pahit ketika terusir dari Istana, berpisah dengan orang-orang yang sangat ia cintai selama bertahun-tahun. Meskipun dekat?. Ia masih belum bisa bertemu dengan ibunda, dan yunda yang sangat ia cintai. Itu membuat Raden Cakara Casugraha semakin tersiksa, namun ia berusaha dan berusaha agar bisa melewati masa sulit itu hingga sampai pada titik ini, ketika ia menjadi Raja atas bantuan mendiang ayahandanya Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang hanya percaya tahta di tangan anak bungsunya.


...***...


Istana Kerajaan Telapak Tiga.


Putri Cahya Candrakanti sangat tidak nyaman ketika ia ditatap dengan sangat tajam oleh ayahandanya ketika sarapan bersama?.


"Ibunda? Apa yang terjadi pada ayahanda Prabu? Dari tadi ayahanda Prabu selalu melihat ke arah ananda, apakah ada yang aneh dengan penampilan ananda pagi ini?." Perasaannya sangat gugup.


Ratu Cahya Bhanurasmi menghela nafasnya dnegan pelan. "Sudahlah kanda, jangan seperti itu pada putri kita." Rasanya Ratu Cahya Bhanurasmi sangat lelah melihat mereka yang seperti itu. "Biarkan saja putri kita merasakan perasaan jatuh cinta pada seseorang, toh? Ia belum dilamar, hanya merasakan saja kanda."


"Tidak bisa! Putriku-."


SREKH!.


Putri Cahya Candrakanti berdiri dengan agak kasar, hatinya semakin gugup mendengarkan ucapan ibundanya. Tindakannya itu menjadi pusat perhatian mereka semua.


"Ananda, juga belum mengetahuinya dengan pasti." Sorot matanya seakan-akan hendak menangis. "Jangan bahas masalah itu, ananda juga bingung." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan mereka?.


"Kanda Prabu?."


Deg!.


Prabu Guntur Herdian terkejut melihat tatapan mematikan dari Ratu Cahya Bhanurasmi.


"Kanda hanya melakukan yang sewajarnya saja sebagai seorang ayah."


"Hufh!." Kembali Ratu Cahya Bhanurasmi menghela nafasnya. "Semuanya akan baik-baik saja, ia hanya merasa aneh dengan perasaannya." Ratu Cahya Bhanurasmi tersenyum kecil. "Sebagai orang tua yang telah mengetahui itu semua? Tentunya kita harus memberikan petunjuk yang baik pada anaknya agar tidak salah dalam melangkah, apakah kanda mengerti dengan apa yang dinda katakan?."


Prabu Guntur Herdian terdiam sejenak sambil memikirkan apa yang dikatakan Ratu Cahya Bhanurasmi.


"Setiap seorang ayah pasti akan merasa khawatir jika anaknya akan disakiti pasangannya, begitulah yang dirasakan oleh ayahanda Prabu kala wardhana ketika melepaskan dinda ke tangan kanda."


"Baiklah, kanda akan mencoba memahaminya dinda."


"Ya, dinda harap kanda tidak mengekang perasaan putri kita nantinya."


Hanya itu saja harapan Ratu Cahya Bhanurasmi, namun apakah semuanya akan berjalan dengan keinginan mereka?. Simak dengan baik kisahnya.


...****...


Kerajaan Mekar Jaya.


Pagi itu Putri Ambarsari mencoba menikmati jalan-jalan di kota Raja, kepalanya masih terasa sakit memikirkan semua masalah yang telah terjadi di dalam keluarganya?. Saat itu Putri Ambarsari hanya mengenakan pakaian biasa supaya tidak menjadi pusat perhatian.


Namun saat itu ia melihat ada orang yang sedang berkumpul di pasar kota Raja sambil menyaksikan pertunjukan di sana. Entah kenapa ia merasa sangat tertarik dengan apa yang ditampilkan oleh seniman jalanan itu.

__ADS_1


"Mereka sangat hebat dalam menampilkan panggung sandiwara seperti itu." Dalam hatinya memperhatikan dengan sangat baik bagaimana penampilan itu. Menyimak dengan sangat baik bagaimana jalan cerita dari permainan sandiwara itu.


Deg!.


Hatinya bergetar ketika ia dapat mengambil beberapa petunjuk yang telah disampaikan oleh para pemain sandiwara itu.


"Jadi seperti itu?." Dalam hatinya sangat tersentuh dengan jalannya cerita itu, hingga tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya. "Aku akan mencoba melakukannya, semoga saja bisa." Dalam hatinya hanya bisa berharap saja.


...***...


Di alam bawah sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


Keduanya selesai melaksanakan sholat. Sholat apa?. Sholat istikharah, naluri mereka yang mengatakan untuk melakukan sholat itu. Meskipun dalam keadaan gundah gelisah karena terjebak didalam Kegelapan?. Namun pikiran mereka masih teringat dengan sang pencipta.


Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa gelisah. Gundah, cemas, tidak karuan?. Keduanya berdoa kepada Allah SWT, do'a yang baik untuk mendapatkan keselamatan dari Allah SWT.


Keduanya membacakan doa berserah diri.


"Rabbanaa waj'alnaa muslimaini lama wa min dzur riyyatinaa ummatam muslimatal laka wa arinaa manaa sikanaa wa tub 'alainaa innaka anatat tawwaabur rahim."


Doa kesabaran dan meminta pertolongan.


"Rabbanaa afrigh 'alaynaa shabraw watsabbit aqdaamanaa waunShunaa 'alal qawmil kaafiriina."


Doa diringankan beban.


"Rabbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha'naa, rabbanaa walaa tahmil 'alaynaa ishran kamaa hamaltahu 'alaalladzina min qablinaa. Rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa nih. Wa'fu 'annaa waghfir lanaa warhamnaa antanmawlaanaa fanshutnaa 'alaa lqawmil kaafiriin."


Doa perlindungan dari kesesatan.


"Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'ada idz hadaitanaa wahablanaa min ladunka rahmatan innaka antal Wahhab."


Begitu banyak doa yang dibacakan oleh keduanya, berharap ada keajaiban dari Allah SWT. Semoga saja Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria bisa bisa selamat.


Setelah melakukan sholat, keduanya kembali berbincang-bincang.


"Aku tidak bisa merasakan pedang sukma naga pembelah bumi, juga benda pusaka lainnya selain pedang pelebur sukma."


"Ya, rasanya pedang pelebur sukma sangat dekat sekali, hingga aku merasa menyatu dengan pedang itu."


Keduanya merasakan hawa kegelapan dari pedang pelebur sukma yang sangat kental didalam tubuh mereka.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?."


"kita harus mencari tahu cara menenangkan pedang pelebur sukma agar tidak memberi dampak pada tubuh kita."


Kembali ke alam nyata.


Mereka semua sedikit merasa lega, karena untuk saat ini Nyai Bestari Dhatu dapat menenangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Tapi tetap saja gelisah karena keduanya belum sadarkan diri.


Ratu Dewi Anindyaswari dan Syekh Asmawan Mulia membaca surat Yasin didekat keduanya. Agar mereka berdua selalu dilindungi oleh Allah SWT.


Di satu sisi.


Putri Andhini Andita menuju ruang utama Istana. Hatinya masih sedih karena belum mendapatkan kabar yang sangat baik menurutnya.


Putri Andhini Andita mencoba untuk menenangkan hatinya. Menguatkan hatinya ketika berada di depan Singgasana biasa yang diduduki oleh adiknya  Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia mencoba memusatkan pikirannya, menghilangkan semua perasaan gelisah, menghilangkan semua apa yang ia rasakan. Meringankan beban pikirannya seperti apa yang dikatakan oleh Jaya Satria padanya waktu itu.


"Hormat ananda, ayahanda Prabu." Entah perasaannya saja, atau memang ia bisa melihat ayahandanya yang sedang duduk di singgasana itu.


"Ayahanda terima hormatmu, putriku." Suara itu terdengar ramah, penuh kasih sayang yang luar biasa.


Deg!


"Ayahanda Prabu?." Hingga tanpa sadar Putri Andhini Andita meneteskan air matanya. Saat matanya memang menangkap sosok ayahanda yang sangat ia rindukan. "Ayahanda?."


"Mendekat lah, putriku." Dengan senyuman ramah sang Prabu menatap putrinya. "Ayahanda ingin memelukmu, putriku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala merentangkan tangannya dengan lebar, menunggu kedatangan putrinya.


"Ayahanda! Ayahanda Prabu!." Putri Andhini Andita segera berlari memeluk erat ayahandanya. "Ayahanda Prabu!." Ia menangis di pelukan ayahandanya.


"Tenanglah putriku, ayahanda selalu bersamamu, putriku andhini andita." Begitu lembut suara Prabu Kawiswara Arya Ragnala menyebut nama anaknya.


"Ananda sangat merindukan ayahanda! Sangat ingin memeluk ayahanda, dengarkan ucapan ananda kali ini ayahanda! Hiks! Hiks!." Ia menangis mengadu apa yang ia rasakan selama ini setelah kematian ayahandanya.


"Tenangkan dirimu, putriku." Tangannya mengusap sayang kepala anaknya, dan tak lupa kecupan kecil di puncak kepala anaknya. Prabu Kawiswara Arya Ragnala selalu melakukan itu terhadap anak-anaknya.


"Tolong selamatkan rayi cakara casugraha, ananda mohon pada ayahanda, ananda tidak tega melihat keadaan mereka seperi itu ayahanda." Dalam tangisnya masih ingat dengan keadaan adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha yang kini masih belum juga sembuh.


"Serahkan semuanya pada sang pencipta." Kembali Prabu Kawiswara Arya Ragnala berkata dengan lembut. "Percayalah dengan apa yang dialami oleh rayimu cakara casugraha, ini semua telah ditetapkan oleh takdir waktu, ujian untuknya sebagai seorang raja yang melindungi kerajaan ini beserta rakyatnya." Seakan mengerti apa yang menjadi beban pikiran putrinya, Prabu Kawiswara Arya Ardhana berusaha menenangkan putrinya.


Putri Andhini Andita melepaskan pelukannya, ia berusaha menahan tangisnya. "Tapi rayi Prabu melakukan itu sendiri ayahanda?." Putri Andhini Andita menghapus air matanya. "Rasanya ananda sama sekali tidak berguna sebagai saudaranya." Hatinya sangat sedih dengan apa yang ia rasakan.


"Jangan menangis, kuatkan hatimu, putriku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghapus air mata anaknya. "Karena yang dibutuhkan oleh rayimu adalah dukungan darimu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil, tangannya kembali mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Ayahanda percaya jika ananda adalah yunda yang baik, yunda yang selalu ada untuk adiknya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengelus kepala anaknya dengan sayang.

__ADS_1


"Apakah memang seperti itu ayahanda?."


"Ya, tentu saja seperti itu."


"Kalau begitu ananda mohon pada ayahanda, bagaimana caranya ananda bisa membantu rayi Prabu?."


Mata Putri Andhini Andita terbelalak lebar terkejut ketika menangkap apa yang dikatakan oleh ayahandanya?.


Deg!.


"Ayahanda!." Ia terbangun dari tidurnya?. Putri Andhini Andita terkejut karena ternyata ia bermimpi bertemu dengan Ayahandanya?. "Aku sangat yakin, jika itu adalah sebuah petunjuk yang diberikan ayahanda Prabu padaku." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa seperti itu.


Kira-kira apa yang dikatakan Prabu Kawiswara Arya Ragnala pada Putri Andhini Andita?. Simak dengan baik kisahnya.


...***...


Di sebuah pondok kecil.


Putri Agniasari Ariani sangat gelisah menunggu proses persalinan wanita yang ia tolong itu, ia terpaksa membawa wanita itu ke dukun beranak.


"Ya Allah, hamba mohon semoga saja bisa ia melahirkan dengan lancar." Dalam hatinya sangat gelisah dengan apa yang ia rasakan.


Sementara itu di dalam?. Seorang wanita setengah baya sedang mencoba membantu persalinan itu, dengan hati-hati ia membimbing wanita muda melahirkan.


"Terus ndok! Sudah hampir kelihatan kepalanya!." Ia terus berusaha menyemangati wanita muda itu.


Wanita muda itu dengan sekuat tenaga mencoba melewati rasa sakit yang ia hadapi ketika proses persalinan, hanya ada perasaan takut yang membara di dalam hatinya.


Hingga beberapa waktu berlalu, terdengar suara tangisan bayi yang memecahkan keheningan hutan sepi itu.


Deg!.


Putri Agniasari Ariani sangat terkejut mendengarkan suara tangisan bayi, tanpa sadar ia menerobos masuk ke dalam pondok itu.


"Anaknya sudah lahir ndok." Dengan senyuman ramah wanita setengah baya itu memamerkan bayi yang masih memerah di gendongannya.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah." Dalam hatinya sangat senang melihat itu. "Apa yang bisa saya bantu? Katakan pada saya." Putri Agniasari Ariani berinisiatif untuk membantu.


"Kalau begitu tolong totok beberapa aliran darahnya, supaya ia tidak mengalami pendarahan yang banyak."


"Baik nyi." Putri Agniasari segera melakukannya.


Apakah Putri Agniasari akan terus membantu wanita itu?. Temukan jawabannya.


...***...


Di sebuah tempat.


Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra kembali melakukan latihan seperti hari-hari sebelumnya.


"Gerakan mereka semakin hari semakin lebih gesit." Mata Aki Gunung Agung memperhatikan itu dengan sangat lekat. "Apakah itu tidak apa-apa nyi?."


"Biarkan saja mereka berkembang." Jawab Nyai Gempar Raya dengan sangat santai. "Hati mereka saat ini hanya diisi oleh keinginan untuk balas denda, jadi? Wajar saja tenaga dalam mereka semakin meningkat dengan adanya hawa kegelapan itu."


"Memangnya apa yang telah kau berikan pada mereka? Sehingga kekuatan tenaga dalam mereka meningkat seperti itu?." Ada perasaan curiga pada istrinya itu.


"Aku hanya memberikan beberapa petunjuk pada mereka." Ia tertawa kecil. "Tapi aku tidak menduga akan meningkat sangat cepat."


"Memangnya petunjuk apa yang kau berikan pada mereka? Rasanya aku sangat curiga padamu nyi." Entah kenapa Aki Gunung Agung sangat kesal dengan sikap istrinya.


"Rahasia, aku tidak bisa mengatakan padamu tentang petunjuk apa yang aku berikan pada mereka." Jawabnya dengan tawa aneh.


"Huh! Kau ini ya nyi? Kenapa suka sekali bermain tebak rahasia dengan aku?."


"Hanya ingin saja."


"Terserah kau saja nyi!."


Aki Gunung Agung sangat kesal dengan sikap istrinya yang seperti itu, pada hal ia sangat penasaran petunjuk atau saran apa yang telah diberikan istrinya itu pada Raden Gentala Giandra dan Raden Ganendra Garjitha?. Sehingga keduanya terlihat sangat kuat seperti itu?. Simak terus ceritanya.


...****...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Ratu Dewi Anindyaswari yang sedang berada di biliknya hanya bisa berdo'a setelah melaksanakan sholat Dhuha, hatinya masih sangat gelisah sebelum melihat anaknya duduk bersamanya.


"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, ampunilah dosa hamba, dosa kanda Prabu, dosa anak-anak hamba, dosa keluarga besar hamba ya Allah." Itu adalah do'a paling utama yang diucapkan Ratu Dewi Anindyaswari. "Hamba mohon berikan keselamatan, serta kesembuhan pada putra hamba nanda cakara casugraha." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari terbayang bagaimana anaknya selama ini menjalani hidupnya.


Sebagai seorang ibu?. Ratu Dewi Anindyaswari tentunya selalu memperhatikan bagaimana perkembangan anak-anaknya.


"Hamba mohon berikan lah keselamatan pada putri hamba ananda agniasari ariani yang kini sedang melakukan pengembaraan ya Allah." Tentu saja Ratu Dewi Anindyaswari sangat ingat pada putri cantik, anak perempuan yang sangat ia cintai. "Berikan lah kemudahan dan jauhkan lah ia dari marabahaya yang akan mengancam keselamatannya ya Allah." Air matanya berderai membasahi pipinya. Begitu besar perasaan rindu pada putrinya, hingga mampu menggetarkan hatinya.


"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, berikan lah kami semua kesehatan, keselamatan, dan kekuatan iman untuk menghadapi semua cobaan yang datang pada kami." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha untuk tegar walaupun hatinya sangat sedih atas apa yang menimpa Raden Cakara Casugraha. "Hanya kepada-Mu lah kami berserah diri, berikan lah kami kebahagiaan, semoga suatu hari nanti kami bisa berkumpul dalam sebuah pertemuan yang memberikan manfaat ya Allah, aamiin, ya rabbal 'alamin."

__ADS_1


Ratu Dewi Anindyaswari hanya berharap kesembuhan putranya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik bagaimana lanjutan kisah ini.


...****...


__ADS_2