RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERMINTAAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA


__ADS_3

...***...


Malam harinya setelah sholat isya, tarwih dan witir. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Hanya sekedar berbincang-bincang saja. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau aslinya Raden Cakara Casugraha mengatakan kondisinya.


"Saya adalah raga asli dari raden cakara casugraha. Adik dari yunda ratu. Saya harap raden tidak terkejut melihat kami seperti ini." Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha yang asli berkata seperti itu.


"Jadi yang disebut raka adalah raga asli dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana?." Ia hanya ingin memastikan kebenaran itu agar tidak salah orang.


"Karena raden akan menikah dengan yunda ratu. Makanya saya mengatakannya, agar kami tidak terkesan menyembunyikan masalah ini dengan raden. Kami tidak mau terjadi salah paham nantinya." Jawab Raden Cakara Casugraha.


"Baiklah kalau begitu gusti prabu. Hamba mengerti dengan apa yang gusti prabu katakan." Raden Muhammad Yunus mencoba memahami keadaan. Rahasia yang tidak pernah ia duga sebelumnya


"Saya harap, raden tidak akan mengecewakan yunda ratu. Sebagai adiknya. Saya tidak akan mengampuni raden jika yunda saya menangis karena raden." Raden Cakara Casugraha memang terlihat tersenyum, namun senyuman itu terlihat sangat mengerikan sekali. Setelah itu ia menyatukan kedua raganya. Agar lebih nyaman saat berbicara dengan mereka semua.


"Rayi prabu?." Putri Agniasari Ariani merasa aneh dengan ucapan adiknya itu.


"Gusti prabu mengerikan juga jika marah." Dalam hati Raden Rajaswa Pranawa berjanji, bahwa ia akan menjaga Putri Agniasari Ariani, agar tidak diancam oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana seperti itu.


"Rayi prabu. Jangan mengancam kanda raden muhammad. Nanti jika tidak nyaman dengan apa yang rayi katakan bagaimana?." Raden Hadyan Hastanta berusaha menahan tawanya.


"Benar rayi prabu. Jangan diperlihatkan wajah sangarnya." Putri Bestari Dhatu bahkan baru melihat ancaman yang dilayangkan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Jangan berkata seperti itu nak. Jangan buat kesan buruk pada calon kakak ipar kalian." Ratu Dewi Anindyaswari juga berusaha menahan tawanya. Karena ia tidak menyangka akan mendengarkan ancaman dari anaknya.


"Jangan terlalu menekan begitu nanda prabu. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada takdir baik." Ratu Gendhis Cendrawati menasihati putranya yang mungkin tidak ingin kakaknya mengalami nasib buruk dalam masalah percintaan.


"Tidak biasanya nanda prabu seperti ini. Apakah karena bentuk sayang nanda prabu pada gusti ratu agung?." Syekh Asmawan Mulia menyimak percakapan mereka.

__ADS_1


"Maafkan nanda jika berlebihan ibunda, syekh guru. Maafkan saya raden muhammad yunus juga yunda ratu." Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil.


"Aku juga akan berkata seperti itu pada raden muhammad yunus. Tetapi sebagai adik yang baik. Saya akan mendukung yunda saya." Putri Andhini malah ikutan memanasi suasana.


"Hamba bersedia dihukum, jika hamba berani menyakiti gusti ratu agung." Raden Muhammad Yunus juga mendramatisir keadaan. Membuat mereka semua tidak bisa menyembunyikan tawa mereka. Sepertinya kebahagiaan selalu bersama mereka. Tapi mereka akan berpisah lagi, saat Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara mengatakan mereka akan kembali lagi ke istana kerajaan Mekar Jaya.


"Maaf ibunda, rayi, serta syekh asmawan mulia. Besok kami akan kembali ke istana kerajaan mekar. Masih ada yang harus kami urus." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari tidak bermaksud merusak suasana bahagia mereka.


"Tidak apa-apa yunda ratu. Lagipula yunda ratu memiliki kewajiban untuk mengatur tahta istana kerajaan mekar jaya sesuai dengan pesan kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memahami apa yang dikatakan kakaknya itu.


"Ibunda hanya berharap, nanda ratu akan baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu datanglah untuk mengadu ke sini nak. Kami selalu menunggu kedatangan nanda ratu." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum kecil menatap Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.


"Ibunda akan senang jika nanda ratu kembali. Tapi kewajiban nanda ratu sekarang berbeda. Ibunda hanya mendoakan yang terbaik untuk nanda ratu. Semoga kebahagiaan selalu bersama nanda ratu juga calon suami nanda ratu." Ratu Gendhis Cendrawati merasa sedih karena Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara akan segera kembali ke istana kerajaan Mekar Jaya. Namun ia tidak bisa menahannya, karena tugas penting yang kini ditanggung oleh Putri Ambarsari sebelum diangkat menjadi ratu agung.


"Terima kasih atas doanya ibunda. Nanda sangat senang mendengarnya." Rasa haru menyelimuti hatinya. Hampir saja ia menangis, mengingat ibundanya ratu Ardiningrum Bintari yang tidak seperti kedua ratu yang kini mendoakan yang terbaik untuknya.


"Itu benar yunda ratu. Jangan merasa sendiri. Kami adalah keluarga yunda ratu. Kami semua sangat menyayangi yunda ratu." Putri Agniasari Ariani mengeluarkan kata-kata yang memuat Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari tidak dapat lagi menahan air matanya.


"Jarak boleh memisahkan kita yunda ratu. Namun hati kami akan selalu dekat dengan yunda ratu." Putri Andhini Andita juga mengatakan apa yang ia rasakan.


"Yunda ratu tetep lah kakak yang kami sayangi. Jadi jangan sungkan untuk mengatakan keluhan yunda pada kami semua." Raden Hadyan Hastanta juga.


"Meskipun saya baru bergabung dengan keluarga ini. Namun saya juga mendoakan kebahagiaan yunda ratu. Semoga apa yang yunda ratu inginkan bisa terkabulkan. Aamiin."


Setelah pembicaraan itu selesai, mereka beristirahat. Karena mereka akan bangun untuk sahur. Namun sepertinya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meminta sesuatu Syekh Asmawan Mulia.


"Maaf syekh guru. Ada hal yang ingin nanda sampaikan pada syekh guru."

__ADS_1


"Katakan saja nanda prabu. Semoga saja syekh guru bisa membantu."


"Sebelum kembali. Raden jatiya dewa, ia ingin belajar agama islam. Akan tetapi nanda menyuruhnya untuk menanyakan keputusannya itu pada keluarganya terlebih dahulu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan pada Syekh Asmawan Mulia.


"Apakah nanda prabu akan mengajarinya?."


"Masalah itu, nanda menyarankan padanya untuk belajar bersama dengan lingga. Dibawah bimbingan syekh guru. Maaf jika nanda tidak minta izin pada syekh guru melalui gusti prabu."


"Baiklah. Syekh guru mengerti. Akan syekh guru lakukan seperti permintaan nanda prabu."


"Terima kasih syekh guru. Nanda hanya tidak ingin, yunda andhini andita nantinya malah terkejut ketika mengetahuinya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kakaknya itu jika mengetahui Raden Jatiya Dewa belajar agama islam dengannya.


"Baiklah. Syekh guru mengerti. Sebisa mungkin syekh guru akan mengajarinya nanti." Syekh Asmawan Mulia mencoba memahami keadaan.


"Terima kasih sekali lagi syekh guru. Nanda sangat terbantu sekali." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat bersyukur, karena syekh Asmawan Mulia mau membantunya.


...***...


Keesokan harinya.


Dua orang pendekar telah bersiap-siap menuju istana kerajaan Suka Damai. Mereka telah berhasil mengobati luka yang mereka alami.


"Kita harus segera menemui cakara casugraha. Aku tidak akan membiarkan dia hidup." Tangkas Baron, itu nama pemuda dengan senjata berupa cambuk api.


"Aku tidak akan memberikan kesempatan padanya. Mari kita tunjukkan padanya bagaimana rasa sakit hati kita kehilangan orang-orang yang kita sayangi." Soban Arus telah membulatkan tekadnya bahwa ia akan menghadapi Raden Cakara Casugraha, meskipun ia adalah putra raja?. Mereka tidak akan peduli lagi, bagi mereka dendam itu harus segera terbalaskan.


Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2