
...***...
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
Baru setengah hari, Putri Andhini Andita merasa lapar. Ia merasa tidak bertenaga sama sekali. Hingga jalannya terlihat sempoyongan.
"Kemana para emban yang biasanya mengantar makanan ku?. Kenapa tidak datang juga?." Rasanya ia tidak tahan lagi menahan lapar.
"Yunda?. Apa yang terjadi pada yunda?." Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa tidak sengaja melihat Putri Andhini Andita.
"Wajah yunda pucat sekali. Apakah yunda masih sanggup untuk berpuasa hari ini."
"Astaghfirullah hal'azim. Ah, aku lupa rayi."
"Apa yang yunda lupakan?."
"Apakah gusti putri lupa, jika gusti putri sedang berpuasa?."
Putri Andhini Andita membalikkan tubuhnya, ia merasa malu pada Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa.
"Hehehe. Yunda lupa ya?." Putri Agniasari Ariani malah menertawakan kakaknya.
"Abisnya aku merasa lapar. Karena lupa kalau aku puasa, aku hampir saja memarahi emban yang biasanya membawa makanan ke kamarku."
"Sabarlah yunda. Sesungguhnya sabar ketika puasa itu adalah hal yang luar biasa. Jadi yunda jangan cepat terpancing amarah."
"Maafkan aku rayi. Kalau begitu kita ke tempat ibunda, yunda atau yunda ratu saja. Biar ada hiburan sedikit sedikit."
"Baiklah yunda. Mari kita temui mereka semua."
"Mari rayi, mari raden."
"Mari gusti putri."
Mereka bertiga menemui keluarga yang lainnya. Karena mereka ingin melihat keadaan keluarga yang lainnya. Mungkin hanya Putri Bestari Dhatu saja yang tidak puasa, karena saat ini sedang mengandung.
__ADS_1
...***...
Raden Antajaya Dewa dan Raden Jatiya Dewa saat ini sedang memperhatikan apa yang dilakukan oleh Jaya Satria. Saat ini ia sedang melaksanakan sholat Zuhur.
"Apakah ini tidak akan menghambat perjalanan kita nantinya raden?."
"Ssshh. Kau jangan berisik. Kita harus menghormati apa yang dilakukan oleh gusti prabu." Raden Jatiya Dewa mencoba mengingatkan prajurit itu agar tidak banyak berkomentar.
Setelah melaksanakan sholat Zuhur, Jaya Satria mendekati mereka. "Maaf, jika aku menghambat perjalanan kalian. Aku harus melaksanakan kewajiban ku terlebih dahulu."
"Maaf gusti prabu. Dia hanya salah bicara saja."
"Maafkan hamba gusti prabu." Prajurit tersebut merasa sungkan, karena apa yang ia ucapkan tadi, didengarkan oleh Jaya Satria.
"Apakah raden tidak mau berhenti dahulu?. Mencari makan atau minum?. Mungkin prajurit raden merasa lapar."
"Lalu bagaimana dengan gusti prabu sendiri?. Apakah tidak makan atau minum?."
"Saat ini aku sedang melaksanakan puasa. Jadi belum boleh makan, sampai waktu yang ditentukan."
"Apakah sama dengan tapa puasa?."
"Oh jadi begitu?. Jadi kita menahan haus dan lapar, lalu makan ketika waktu yang ditentukan?."
"Ya. Bisa dikatakan seperti itu. Dalam puasa, kita dilatih untuk bersikap sabar." Dengan pelan sang prabu mengatakan pada mereka. "Sabar dalam apa?. Sabar dalam menghadapai kemungkinan yang akan membuat kita dapat membatalkan puasa tersebut. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Al baqarah ayat 155 yang berbunyi." Jaya Satria membacakan ayat tersebut dengan suara yang merdu. Membuat mereka terpesona akan suaranya.
"وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
^^^ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." Jaya Satria tersenyum kecil, dan ia menatap mereka. "Kabar gembira yang dimaksud adalah, bahwa Allah SWT telah memberikan tempat atau pahala, atau rezeki yang melimpah pada umatnya." Jaya Satria sangat berharap, apa yang ia sampaikan membuat mereka semua mengerti. ^^^
"Selain itu, dari berpuasa. Kita dapat merasakan, bahwa masih ada orang-orang di luar sana yang tidak seberuntung diri kita. Mereka yang hidupnya masih serba kekurangan. Mereka yang tidak bisa merasakan apa yang kita miliki. Entah itu harta yang cukup, ataupun rumah yang bagus. Jadi bersyukurlah dengan apa yang kita miliki hari ini. Dan janganlah kamu mencelakai diri sendiri dengan sikap sombong, takabur, angkuh dan sikap merugi lainnya." Itulah yang dijelaskan Jaya Satria pada mereka. Semoga saja sampai ke hati dan perasaan mereka selama ini.
...***...
Di kerajaan Buana Dewa. Kali ini mereka sedang melakukan pertemuan. Mereka masih saja membahasa tentang roh jahat yang sangat meresahkan mereka semua.
__ADS_1
"Mohon ampun gusti prabu. Lagi-lagi korban berjatuhan." Salah satu Senopati melaporkan kejadian yang sangat mengerikan untuk mereka lihat. "Kali ini bukan hanya dari pendekar saja gusti prabu. Melainkan dari rakyat yang berada di sekitar tempat itu gusti prabu."
"Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak mendekat ke sana. Tapi mengapa malah tidak mau mendengarkan aku!."
"Mohon ampun gusti prabu. Tapi kami sudah mengungsikan warga desa, tapi tetap saja toh tersebut masih mengincar siapa saja yang akan ia jadikan santapannya."
"Hah!. Mau sampai kapan kita harus mengatasi masalah roh jahat itu!. Aku sudah tidak sanggup lagi menampung semua laporan yang masuk."
"Mohon ampun gusti prabu. Bukankah raden jatiya dan raden antajaya saat ini sedang menuju istana kerajaan suka damai?. Kenapa belum sampai juga gusti prabu?."
"Aku tidak mengerti mengapa mereka belum sampai. Mungkin mereka saat ini sedang dalam perjalanan. Aku harap kalian lebih bersabar sedikit lagi." Hati Prabu Lingga Dewa telah terbakar amarah. Karena ia menerima laporan yang sama dalam beberapa hari ini. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengatasi masalah yang rumit ini.
...***...
Bedati yang membawa Jaya Satria, Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa telah memasuki wilayah kerajaan Buana Dewa. Mereka sebenarnya hanya melewati perbatasan desa mata air dewa saja. Namun siapa sangka, mereka malah melihat sosok merah itu sedang berhadapan dengan beberapa pendekar yang ikut dalam sayembara itu.
"Mengapa mereka malah sampai ke sini bertarungnya."
"Entahlah raka. Aku juga tidak mengerti."
Mereka berdua turun dari Bedati, karena mereka merasa aneh. Sedangkan Jaya Satria juga ikut turun, karena ia penasaran dengan keramaian yang ada di depannya.
"Memangnya ada apa raden?. Mereka terlihat sedang melawan sosok merah?."
"Benar gusti prabu-."
"Ekhm."
"Ah, maaf. Maksudku jaya satria. Memang sosok merah itu yang ingin kami musnahkan, karena sangat merugikan."
"Dia adalah iblis yang saat ini memangsa manusia. Tanpa henti ia terus mencari korbannya."
Jaya Satria maju, mendekati mereka semua yang sedang bertarung dengan sosok merah itu.
"Tunggu jaya satria."
__ADS_1
Kedua kakak adik itu mengikuti Jaya Satria. Mereka tidak mau terjadi sesuatu pada Jaya Satria sebelum bertarung dengan sosok itu?.
...***...