
...***...
Malam ini Putri Andhini Andita dapat beristirahat di sebuah tempat yang lumayan memberikannya kenyamanan. Ada seorang nenek baik yang menolongnya dari kejahatan mereka yang menginginkan harta dalam waktu yang singkat.
"Terima kasih saya ucapkan pada nenek. Semoga Allah SWT membalas kebaikan nenek." Putri Andhini Andita sangat bersyukur, karena ia mendapatkan tempat beristirahat yang baik.
"Jadi kau adalah seorang muslim cah ayu." Nenek tersebut merasa asing dengan apa yang diucapkan oleh Putri Andhini Andita.
"Benar nek. Saya seorang muslim, mualaf." Balas Putri Andhini Andita.
"Memangnya kau mau kemana?. Untuk apa anak gadis seperti kau melakukan perjalanan?. Nanti kau mengalami hal yang bahaya. Kau tidak akan bisa pulang." Nenek itu mencoba untuk memperingati Putri Andhini Andita.
*Semua terjadi karena Allah SWT. Sebagai hamba-Nya, saya hanya mengikuti garis takdir yang telah ditetapkan untuk saya." Putri Andhini Andita hanya membalas dengan senyuman.
"Dengar cah ayu." Nenek itu menatap serius ke arah putri Andhini Andita. "Di dunia ini ada takdir yang bisa diubah, dan ada yang tidak. Namun takdir yang kau lalui saat ini. Masih bisa diubah, dan aku yakin kau masih bisa kembali sebelum terjadi sesuatu padamu."
Putri Andhini Andita justru malah tersenyum. "Justru jika saya kembali tanpa melepa sesuatu, maka takdir itu tidak bisa saya ubah. Takdir dimana saya mencintai adik saya sendiri."
Nenek itu terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. "Sungguh. Kau telah berusaha untuk sekuat tenaga untuk mengubah takdir yang sedang kau tanggung cah ayu." Sekilas nenek itu seakan bisa melihat bagaimana beban yang ditanggung oleh Putri Andhini Andita. "Tapi aku yakin kau mampu melewati semua ini. Semua yang kau rasakan adalah ujian yang harus kau bawa, karena kau telah menanam kebencian pada adikmu sendiri. Sehingga menanam bunga cinta, namun hanya kau saja yang merasakannya." Sungguh ia tidak tega melihat apa yang ia lihat di dalam diri Putri Andhini Andita.
"Saya sedang berperang dengan diri saya untuk menerima kenyataan, bahwa cakara casugraha adalah adik saya. Dan di dalam bagian diri saya yang mengatakan itu." Balas Putri Andhini Andita.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan memberikan mu bekal selama di jalan. Mata batin mu telah aku buka. Supaya kau terhindar dari hal-hal yang gaib. Namun malam ini kau tidurlah di sini. Karena di luar sangat berbahaya untukmu malam ini." Nenek itu hanya memberikan tempat yang aman bagi putri Andhini Andita.
"Terima kasih saya ucapkan pada nenek. Semoga nenek selalu diberikan kebaikan oleh Allah SWT." Putri Andhini Andita sangat beruntung bertemu dengan orang baik.
__ADS_1
...***...
Masih di kawasan yang tak jauh dari Putri Andhini Andita berada. Ada seorang laki-laki yang sedang melakukan tapa. Dalam tapanya ia melihat bulan yang sedang bersinar dengan terangnya.
"Sepertinya kita kedatangan tamu yang sangat istimewa." Ia tersenyum lembut. "Gadis cantik yang membawa sukma dewi suarabumi." Kali ini matanya menatap ke arah empat orang wanita yang selalu menemaninya. "Aku ingin kalian menangkapnya untukku. Sukma dewi suarabumi akan memberikan kehidupan yang abadi padaku." Ia menyadari kedatangan Putri Andhini Andita?.
"Bukankah tuan sudah lama mencari sukma dewi suarabumi?. Dan kini ia yang datang ke sini." Wanita berpakaian serba hitam itu tersenyum lembut.
"Ya. Aku sudah lama mencarinya, dan aku pikir aku tidak akan menemukan keberadaannya." Laki-laki itu akhirnya tersenyum bahagia. "Penantian ku tidak lah sia-sia. Hingga akhirnya aku akan mendapatkan sukma dewi suarabumi." Senyumannya sangat sumringah.
"Lalu apa yang akan tuan inginkan darinya?. Katakan pada kami, supaya kami bisa melakukan perintah tuan." Kali ini wanita yang berpakaian serba merah yang bertanya.
"Itu sudah jelas bukan?." Senyumannya semakin lebar, dan terlihat sedikit menyeramkan. "Aku sangat menginginkan dirinya untuk menambah kekuatanku, serta aku ingin menjadi manusia yang abadi. Ahaha!." Ia tertawa dalam kegelapan malam. Ia sedang membayangkan, jika dirinya mendapatkan kekuatan tersendiri. Apakah yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
Putri Bestari Dhatu sangat gelisah. Ia tidak bisa tidur dari tadi, dan perutnya semakin terasa sakit. Selain itu ia merasakan ada sesuatu yang mendesak yang hendak keluar dari bawah.
"Kegh!. Kanda." Putri Bestari Dhatu berusaha untuk membangunkan suaminya yang tidur di sebelahnya. "Sakit kanda!." Rasanya ia tidak dapat menahan rasa sakit itu. Hingga ia mencengkram kuat lengan suaminya.
"Ada apa dinda?." Raden Hadyan Hastanta segera terbangun karena ia merasakan cengkraman yang sangat kuat. "Dinda?." Raden Hadyan Hastanta sangat panik begitu ia melihat keadaan istrinya. Keringat telah membasahi tubuh istrinya.
"Kanda. Cepat panggil nyai ulis. Rasanya sangat sakit sekali." Nafasnya naik turun karena menahan sakit yang luar biasa.
"Ba-ba-baik lah dinda." Raden Hadyan Hastanta segera turun dari tempat tidurnya, dan ia segera mengambil bajunya. "Kanda harap dinda bertahan sampai kanda kembali." Raden Hadyan Hastanta bergegas memanggil Nyai Ulis. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada istri serta calon anaknya yang akan lahir.
__ADS_1
Disisi lain. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang masih berada di ruang pribadi raja merasakan hawa kegelapan sedang menuju ke istana kerajaan suka damai.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Mengapa mereka semua malah menuju ke istana ini?. Apa yang terjadi sebenarnya?." Jaya Satria dapat merasakan hawa yang tidak baik itu.
"Mereka semua semakin mendekat kanda prabu. Sepertinya mereka mencium bau darah yang memikat mereka semua." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat khawatir dengan tujuan mereka mendekat ke istana kerajaan suka damai.
"Kita harus segera menghentikan mereka dinda prabu. Ini akan membahayakan yunda bestari dhatu yang sepertinya sebentar lagi akan melahirkan." Jaya Satria langsung berdiri. Begitu juga dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Baiklah raka prabu. Mari kita cegah mereka untuk masuk ke istana ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria keluar menuju halaman istana.
Sedangkan Raden Hadyan Hastanta bukan hanya membawa nyai Ulis saja, Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari juga ikut. Karena mereka juga mencemaskan keadaan Putri Bestari Dhatu.
"Tadi dinda bestari dhatu mengeluh sakit. Dan keringatnya banyak sekali nyi." Raden Hadyan Hastanta sambil berjalan menuju biliknya menceritakan apa yang terjadi pada istrinya.
"Kalau begitu siapkan kain, serta perlengkapan. Selain itu panaskan air, semoga bayinya lahir dengan normal dan selamat."
"Apa?. Itu artinya dinda bestari akan melahirkan?." Raden Hadyan Hastanta sangat terkejut mendengarnya.
"Yunda. Kalau begitu mari kita bantu untuk melakukan persiapannya." Ratu Dewi Anindyaswari mengerti apa yang dikatakan oleh Nyai Ulis.
"Baiklah rayi dewi. Kalau begitu mari kita siapakah dengan cepat." Ratu Gendhis Cendrawati langsung bergegas menuju bilik anaknya. Mereka semua harus segera menyiapkan semuanya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah mereka bisa melewati takdir yang mereka jalani dengan baik?. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1