
...***...
Raden Cakara Casugraha saat ini tinggal di tempat Syekh Asmawan Mulia. Ia belajar bersama Syekh Asmawan Mulia. Sebenarnya Raden Cakara Casugraha adalah anak yang baik. Hanya saja ia tidak bisa mengendalikan amarahnya. Dan saat ini, ia sedang belajar dengan serius.
"Jika nanda ingin belajar, maka Nanda harus memulai dengan kesabaran."
"Kesabaran?. Apakah harus harus dimulai dari sana syekh guru?."
"Tentu saja. Kesabaran adalah kunci dari segalanya. Jika nanda tidak bisa bersabar. Maka rotan ini yang akan membuat nanda bersabar."
"Artinya, jika nanda marah?. Maka syekh guru akan memukul nanda dengan rotan itu?."
"Tergantung pada nanda. Jika nanda tidak bisa mengalahkan amarah, maka rotan ini yang akan berbicara."
Raden Cakara Casugraha menoleh ke arah Nyi Ayudiyah Purwati. Tentunya wanita itu sangat mengerti dengan tatapan itu. Tatapan ingin minta tolong, agar tidak melakukan itu.
"Hamba percaya, jika raden bisa belajar dengan baik. Karena raden memiliki pengalaman dalam mengembara. Jika terasa berat, bayangkan saja raden berhadapan dengan ibunda raden."
"Tapi nanda tidak bisa membayangkan wajah ibunda dalam keadaan marah. Apalagi jika melihat wajah orang lain yang membuat nanda marah menjadi wajah ibunda. Rasanya itu sangat mustahil nyi."
Syekh Asmawan Mulia dan Nyi Ayudiyah Purwati tertawa kecil, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan canda seperti itu dari seorang putra mahkota raja.
"Baiklah, kalau begitu nanda bisa memulainya dengan mengambil air yang ada di sendang air untuk minum."
Syekh Asmawan Mulia memberikan Dua ember hitam yang telah diikat dengan bambu sebagai penopang nantinya.
"Syekh guru akan terus mengawasi nanda. Jadi nanda harus berlatih dengan sabar. Sebelum nanda benar-benar masuk agama Islam, nanda harus belajar dari hal yang kecil dulu."
"Mohon bimbingannya syekh guru. Semoga saja nanda bisa melakukannya dengan baik."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, jika nanda mau belajar. Kalau begitu mulai saja."
"Baiklah syekh guru. Nyi ayudiyah purwati, nanda pamit. Sampurasun."
"Rampes."
Keduanya melihat Raden Cakara Casugraha. Mereka penasaran, apakah seorang putra mahkota bisa menjalani ujian kesabaran dengan baik?.
"Kakang akan memantaunya. Nini tepatlah berada di sini. Jaga kandungan nini dengan baik."
"Baiklah kakang syekh. Tapi kakang syekh jangan terlalu ketat pada nanda cakara casugraha."
__ADS_1
"Nini jangan cemas. Kakang hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh gusti prabu kawiswara arya ragnala, agar membimbing anaknya."
"Kalau begitu berhati-hatilah kakang syekh."
"Kakang pamit dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, kakang syekh."
Syekh Asmawan Mulia pamit pada istrinya. Karena keadaan istrinya yang sedang hamil, jadi ia tidak bisa mengajak istrinya untuk mengawasi Raden Cakara Casugraha. Jadi ia menunggu saja di gubuk mereka.
...***...
Sementara itu, Raden Cakara Casugraha berhasil menimba air sumur untuk minum mereka bersama. Setelah itu ia membawa kedua ember itu menuju gubuk Syekh Asmawan Mulia. Jarak gubuk ke sumur lumayan agak jauh, tapi dengan mencoba bersabar, ia membawa kedua ember dipundaknya.
"Lumayan berat juga. Apakah ini yang dinamakan menahan sabar?. Karena jarak yang lumayan jauh, bersabar menimba air itu juga ujian?. Apakah ini yang dimaksudkan oleh syekh guru?." Dalam hati Raden Cakara Casugraha mencoba untuk berpikir baik, mengapa Syekh Asmawan Mulia memberikan latihan seperti itu padanya.
Raden Cakara Casugraha mencoba untuk terus berjalan, namun saat itu karena memang ini masih pedesaan. Jadi anak-anak kecil ada yang berlarian di sana. Sekitar tiga orang anak kecil yang berlarian, dan tidak sengaja menyenggol kedua ember hitam yang disandang oleh Raden Cakara Casugraha.
Tentunya kedua ember itu jatuh, dan air tersebut tumpah. Raden Cakara Casugraha sangat terkejut melihat air yang ia bawa itu tumpah tanpa sisa?.
"Hei!. Kalian itu jangan berlarian sembarangan!. Lihat!. Air yang aku bawa jadi tumpah!."
"Ke-ke-kenapa malah menangis?." Raden Cakara Casugraha panik, ia telah membuat ketiga anak itu menangis. Dan ia mencoba menenangkannya, ia merasa bersalah karena telah membuat mereka menangis.
"Apa yang harus aku lakukan?. Oh dewata yang agung. Aku telah membuat anak-anak ini menangis." Namun saat ia sedang panik, tiba-tiba ia merasakan sebuah pukulan yang kuat di punggungnya.
DUAKH!!!
"Akh gekh." Raden Cakara Casugraha meringis sakit, karena pukulan itu mengenai punggungnya.
"Sabar. Apakah nanda lupa?. Jika nanda tidak sabar, lihatlah!. Anak-anak itu menangis, karena mendengarkan suara keras dari nanda."
Tidak salah lagi. Itu adalah suara Syekh Asmawan Mulia. Raden Cakara Casugraha yang sedang kesakitan mencoba untuk menenangkan dirinya. Ternyata ucapan Syekh Asmawan Mulia bukanlah ancaman belaka. Jika ia tidak bisa menahan amarahnya, maka ia akan mendapatkan pukulan dari rotan tersebut. Syekh Asmawan Mulia, juga tidak setengah-setengah memukul punggungnya, sehingga ia dapat merasakan sakit di punggungnya itu.
Raden Cakara Casugraha mengatur hawa murninya yang sempat bercampur dengan hawa kemarahan. Rasa sakit di punggungnya itu, ia coba menahannya, juga mencoba untuk melupakannya. Raden Cakara Casugraha mencoba untuk menenangkan ketiga anak itu agar tidak menangis lagi.
"Maafkan aku ya adik baik. Apakah ada yang sakit?."
"Kakang marah pada kami ya?. Kami sangat takut. Kami tidak sengaja menabrak kakang."
"Kakang jangan marah. Kami sangat takut sekali."
__ADS_1
"Kakang galak. Kami sangat takut."
Ketiga anak tersebut menangis sedih. Karena mereka memang takut dengan suara keras Raden Cakara Casugraha.
"Kakang ya?. Baiklah. Aku akan mencoba menjadi kakang yang baik." Dalam hati Raden Cakara Casugraha mencoba untuk berbaur dengan suasana desa ini. Biasanya ia memanggil raka untuk sebutan kakak di lingkungan Istana.
"Maafkan kakang ya. Bagaimana jika kakang lakukan sesuatu, agar adi sekalian memaafkan kakang."
"Benarkah itu kakang?. Bagaimana caranya?."
"Caranya adalah bagaimana kakang?."
"Apa kakang bisa?."
Mereka sedikit meragukan kemampuan dari Raden Cakara Casugraha. Sementara itu, ia ingat ketika menghibur kakaknya Putri Agniasari Ariani. Ia menutupi wajahnya, membuat mereka menebak apa yang akan dilakukan Raden Cakara casugraha pada mereka.
Begitu juga dengan Syekh Asmawan Mulia yang memperhatikan itu dari jauh. Ia waspada terhadap apa yang akan dilakukan oleh muridnya itu. Akan tetapi, ia hampir saja tertawa keras, melihat raut wajah Raden Cakara Casugraha yang terlihat sangat jelek. Namun bisa mengundang tawa ketiga anak tersebut. Tawa mereka yang tidak tahan melihat betapa lucunya ekspresi itu.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin, jika nanda bisa mengembalikan kemarahannya menjadi tawa untuk mereka." Syekh Asmawan Mulia merasa kagum dengan usaha Raden Cakara Casugraha yang ingin berubah. Tapi apakah ia mampu bertahan lebih lama lagi?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke masa ini. Bahkan mereka tidak dapat menahan tawa, ketika mendengarkan cerita Syekh Asmawan Mulia. Mereka semua tidak menyangka, jika Raden Cakara Casugraha yang diselimuti rasa bersalah, telah membuat anak-anak itu menangis.
"Jadi rayi prabu berusaha untuk menenangkan mereka dengan membuat raut wajahnya menjadi jelek?."
"Benar sekali Raden. Pada awal latihan nanda Cakara casugraha memang tidak bisa mengendalikan dirinya."
"Tapi itu sangat lucu sekali. Nanda cakara casugraha mencoba untuk menghibur anak-anak yang telah menangis itu."
"Yunda benar. Aku tidak dapat menahan tawa, jika melihat bagaimana nanda cakara casugraha saat itu."
"Meskipun terkenal pemarah, rayi cakara casugraha ternyata bisa menghibur anak kecil juga. Rasanya aku ingin ingin melihat raut wajahnya saat itu bagaimana."
"Pasti sangat lucu sekali rayi hadyan hastanta, sehingga anak-anak kecil itu tertawa terpingkal-pingkal."
"Tidak salah lagi yunda ratu. Haduuuh, aku yang mendengarnya saja tidak tahan. Apalagi jika aku melihatnya secara langsung."
Mereka semua untuk saat ini bisa tertawa, karena mereka mendengar cerita lucu tentang Raden Cakara Casugraha. Tentunya masih berlanjut bagaimana cerita Raden Cakara Casugraha. Mau tau lanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1