
...***...
Putri Bestari Dhatu dan Raden Hadyan Hastanta telah kembali ke istana. Saat ini mereka berada di ruang Pribadi Raja. Karena Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang menyuruh mereka masuk ke sana.
"Bagaimana yunda?. Apakah berhasil?."
"Semuanya berjalan dengan baik rayi prabu. Dewata yang agung mengiringi ilmu pengobatan yang aku lakukan, serta tasbih yang rayi pinjamkan sangat membantu sekali."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika memang seperti itu yunda."
"Meskipun agak sedikit lama, tapi akhirnya berhasil rayi prabu."
"Memasuki alam sukma memang sulit raka. Apalagi jika tidak dibentengi ilmu agama."
"Memang aku merasakan ada yang berbeda saat menggunakan tasbih itu rayi prabu. Memangnya tasbih apa itu rayi prabu?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk mengingat bagaimana ia mendapatkan tasbih kembar itu. "Kejadiannya cukup lama juga yunda. Saat itu aku bertemu dengan seorang kiyai yang saat itu sedang menjadi buronan."
"Kiyai menjadi buronan?. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?."
"Ceritanya seperti ini raka."
Kembali ke masa itu.
Raden Cakara Casugraha atau Jaya Satria. Saat ini ia sedang menatap makam Langitya Sukmana. Ia menguburkan jenazah Pendekar itu, sebagai bentuk penghormatannya.
"Pedang ini akan aku simpan dengan baik. Akan aku gunakan jika aku benar-benar terdesak. Aku harap kau tenang di alam sana." Jaya Satria berharap, bahwa Allah SWT akan mengampuni semua kesalahan yang dilakukan oleh Langitya Sukmana. Setelah itu ia pergi meninggalkan makan tersebut. Karena ia ingin melanjutkan pengembaraannya.
Setelah cukup lama berjalan, dan sampai disebuah desa. Tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang cukup usianya, oleh beberapa orang. Jaya Satria merasa heran dengan itu. Ia segera mendekat, karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
"Hei!. Anak muda. Siapa kau?!. Berani sekali kau menghalangi kami!."
"Sampurasun."
"Rampes!."
"Hei!. Anak muda!. Minggir kau!."
Sedangkan orang tua yang berpenampilan beda dari orang biasa itu mencoba untuk bersembunyi di belakang Jaya Satria.
"Maaf semuanya. Apa yang terjadi sehingga kisanak ini dikejar?. Apa kesalahannya?."
"Hei orang asing aneh!. Kau jangan ikut campur urusan kami!."
"Tolong aku anak muda. Mereka semua ingin membunuhku, karena aku berusaha mengingatkan mereka agar tidak berbuat maksiat. Tapi mereka malah menuduh aku sebagai orang sesat, dan membujuk mereka ke arah aliran sesat."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Kalian ini sangat keterlaluan. Mengapa malah marah diajak ke arah jalan kebaikan?."
"Diam kau kakek tau!. Kau jangan bermain kata dengan kami!. Kau membacakan mantram aneh, sehingga salah satu warga desa ini mengamuk."
__ADS_1
"Benarkah itu kisanak?."
"Tidak. Aku hanya membacakan ayat suci al-qur'an di sebuah tempat. Tapi siapa sangka malah membuat seseorang yang belajar ilmu dukun mengamuk, karena ia belajar ilmu sesat."
"Memangnya mereka semua itu adalah orang islam kisanak?."
"Sebagian dari mereka beragama islam. Karena itulah aku mengingatkan mereka agar tidak berbuat murtad, syirik, serta belajar ilmu dukun. Tapi mereka malah menganggap aku sebagai orang yang sesat."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Kalau begitu aku akan membantu kisanak."
"Hei anak muda!. Serahkan orang itu, atau kau yang akan kami bunuh terlebih dahulu."
"Allah SWT tidak pernah menyukai apa yang telah kalian perbuat. Maka aku yang akan menghentikan kalian semua."
Jaya Satria yang tidak tahan dengan apa yang mereka katakan. Ia bertarung berhadapan dengan mereka semua. Ilmu kanuragan yang mereka miliki tidak sebanding dengan apa yang Jaya Satria. Sehingga dengan mudahnya ia menghalau mereka semua.
"Terima kasih anak muda. Karena kau telah membantu aku."
"Aku hanya melakukan apa yang aku anggap benar."
"Kalau begitu mari mampir ke rumahku. Aku yakin kau seorang pengembara, yang saat ini membutuhkan tempat untuk istirahat."
"Terima kasih atas kebaikannya kisanak."
Setelah itu Jaya Satria pergi meninggalkan tempat itu. Ia menuju tempat orang yang ia selamatkan tadi.
...***...
"Dimana kyai itu?. Apakah kalian tidak bisa menangkapnya?."
"Maafkan kami tuan. Ada seseorang yang datang membantunya."
"Siapa?!."
"Maaf tuan. Kami tidak mengetahuinya. Karena dia mengenakan topeng penutup wajah."
"Bedebah!. Siapa yang telah berani bermain-main dengan aku!."
"Kalau begitu kami akan mencari tahu siapa dia tuan."
"Ya. Itu memang tugas kalian. Dan jangan lupa bawa orang lebih banyak lagi. Aku akan melakukan persembahan malam ini!."
"Baik tuan."
Setelah itu mereka semua pergi menjalankan tugas yang diberikan oleh Tuan Sereh Tiga. Apakah yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
Jaya Satria dibawa oleh orang yang ditolongnya itu menuju pemukiman warga. Namun, begitu ia sampai di rumahnya yang memang banyak rumah di sana juga. Ia disambut ramah oleh mereka semuanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum kyai."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Datang bersama siapa kyai?."
"Dia anak muda yang kebetulan lewat, dan membantuku saat aku dikejar oleh kawanan gelang sepa."
"Tapi mengapa dia menggunakan topeng penutup wajah?."
"Benar kyai. Nanti kyai semakin dibenci, dan yang paling parahnya nanti, kyai malah dianggap telah bekerjasama dengan orang jahat."
"Benar itu kyai. Akan berbahaya jika mereka mengadu pada si belerang kawah itu."
Mereka semua hanya khawatir dengan keselamatan kyai Mahmudi Ismail. Karena itulah mereka mencoba mengingatkannya.
"Kalau begitu aku masuk ke rumahku dulu. Nanti malam kita akan mengadakan pengajian."
"Baik kyai. Berhati-hatilah selalu ya kiyai."
"Kami pamit dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Mari anak muda."
Mereka masuk ke sebuah rumah sederhana. Karena hanya ia tinggal sendirian di rumah itu.
"Maaf, jika aku telah menjadi beban untuk kyai-?."
"Ah tidak. Jangan berpikiran seperti itu anak muda." Ucapnya sambil menuangkan segelas air minum dan ia serahkan pada Jaya Satria. "Kau pasti memiliki alasan mengapa kau menggunakan topeng penutup wajah saat mengembara."
Jaya Satria membacakan doa sebelum meneguk air itu. Rasanya memang haus, dan ia meminumnya dengan tenang. "Terima kasih kyai."
"Sama-sama anak muda." Setelah itu ia juga ikut minum, karena ia juga merasa haus.
"Topeng ini aku gunakan untuk menekan kekuatan kejahatan kutukan, yang aku terima saat masih bayi. Ketika aku tumbuh besar, aku menjadi pribadi yang cepat marah. Namun setelah itu aku masuk islam, dan sedang berusaha untuk mengendalikan kekuatan kutukan itu."
"Semuanya datang dari Allah, dan akan kembali pada Allah SWT. Bagus jika anak muda mau belajar ke arah yang lebih baik. Menjadi seorang mualaf itu tidak mudah."
"Ya. Memang terasa berat. Tapi aku akan berusaha untuk mengendalikannya. Karena aku tidak mau mengecewakan ibunda, yang telah membesarkan aku dengan susah payah."
"Subhanallah. Semoga apa yang anak muda lakukan diridhai Allah, dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda."
"Aamiin ya Allah." Jaya Satria tersenyum kecil mendengarnya. "Panggil saja namaku jaya satria. Nama itu adalah pemberian dari ayahandaku." Jaya Satria memperkenalkan dirinya. Dan tidak mungkin ia mengatakan dirinya adalah Raden Bahuwirya Cakara Casugraha. Karena saat ini wujudnya bukan sebagai Raden Cakara Casugraha, melainkan nama baru yang diberikan ayahandanya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1