
...***...
Putri Agniasari Ariani telah menetapkan dirinya untuk masuk agama Islam, dan ia telah mengucapkan kalimat syahadat, ia telah resmi menjadi seorang muslimah.
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Nimas telah menjadi seorang muslim." Senyuman itu senyuman penuh kebanggaan.
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Allah SWT telah mengetuk hatiku, untuk masuk agama yang baik dan benar." Rasa syukur ia ucapkan sebanyak-banyaknya atas nikmat yang ia dapatkan.
"Semoga nimas selalu berpegang teguh pada keimanannya." Dewi Cantika berharap yang terbaik untuk putri Agniasari Ariani.
"Semoga saja nini." Ia juga berharap seperti itu.
"Lalu apa yang akan nimas lakukan setelah ini?." Ia sedikit penasaran.
"Aku masih mau belajar lagi tentang agama islam." Jawabnya. "Aku tidak akan pulang, sebelum aku benar-benar faham sepenuhnya tenang Islam." Lanjutnya lagi. "Izinkan aku untuk lebih lama lagi tinggal di sini nini." Dengan raut wajah yang tulus ia minta izin pada Dewi Cantika.
"Tentu saja nimas. Padepokan ini adalah rumah bagi siapa saja, yang ingin mempelajari agama islam." Ia sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Agniasari Ariani.
"Terima kasih nini. Aku sangat bersyukur sekali, alhamdulilah hirobbil 'alamin." Senyum itu semakin mengembang, karena kebahagiaan yang ia rasakan.
"Ibunda. Maafkan aku, jika aku belum bisa kembali ke istana. Aku hanya berdo'a kepada Allah, semoga Allah SWT melindungi ibunda, juga rayi prabu." Dalam hatinya ia berdoa kepada Allah untuk keselamatan ibunda dan adiknya. Sementara ia masih mau fokus memperdalam ilmu agama islam.
...***...
Sementara itu di Istana.
Ratu Dewi Anindyaswari juga sedang mempelajari agama Islam, ia ingin tahu apa saja yang dilarang dalam agama Islam.
"Sebenarnya, agama islam sudah tersebar sejak pada zaman dahulu. Namun mereka belum mengenalnya. para nabi mengatakan, sembahlah Allah. Tuhan semesta alam yang telah menciptakan kamu, dan janganlah engkau kafir dari-Nya." Ayudiyah Purwati menjelaskan tentang penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh nabi-nabi utusan Allah.
"Hanya saja perintah sholat datang pada zaman nabi Muhammad Saw." tambahnya lagi.
"sebenarnya sholat itu apa nini?. Aku pernah melihat putraku melakukannya." Ia begitu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh putranya itu.
Ayudiyah Purwati tersenyum kecil. "Sholat itu adalah tiang agama." Jawabnya. "Maksudnya tiang di sini adalah, sholat itu seperti penopangnya agama. Agar agama itu semakin kokoh." Lanjutnya. "Akan tetapi, jika kita tidak sholat, sama kita meruntuhkan agama kita sendiri, terutama diri kita sendiri."
Ratu Dewi Anindyaswari sedikit mengerti. Ia akan mencoba memahaminya, sebelum ia benar-benar mengucapkan kalimat syahadat.
...***...
Di saat yang bersamaan.
Gusti prabu juga sedang memberikan penjelasan pada prajurit, dan rakyat yang ikut dalam pengajian yang dilakukan olehnya.
"Sholat itu ada yang wajib, dan ada yang Sunnah." Ucapnya dengan suara yang cukup keras. Sehingga bisa didengarkan oleh mereka semua.
"Yang wajib ada lima waktu. Bisa jadi dari subuh yang dikerjakan sebelum masuknya waktu fajar." Ia memberi jeda ucapannya, ingin melihat reaksi mereka.
"Zuhur dikerjakan ketika matahari agak condong dari atas kepala kita. Kemudian sholat ashar, dikerjakan ketika sebelum matahari terbenam." Lanjutnya lagi.
"Setelah itu, ada sholat magrib. Dikerjakan ketika ada Syafa merah di langit. Dan yang terakhir adalah sholat isya setelah Syafa hilang, serta telah berganti malam, sampai dini hari masuk waktunya subuh."
Mereka tampaknya mengerti, apa yang dijelaskan oleh sang prabu.
"Nah, kira-kira itulah sholat wajib yang harus kita lakukan sebagai umat Islam. Lalu apa saja sholat sunnah?. Sunnah yang artinya, lebih baik dikerjakan, karena pahalanya akan terus mengalir jika kita mampu melaksanakannya dengan baik." Dengan senyuman yang ramah, ia menjelaskan kepada mereka semua. "Adapun sholat sunnah, Yaitunya sholat sebelum masuk waktunya sholat wajib. Seperti dua sebelum sholat subuh. Selain itu ada sholat duha, yang dikerjakan di pagi hari. Dari terbitnya matahari, sampai sebelum matahari sampai di atas kepala kita. Dan masih banyak lagi sholat sunnah lainnya." Begitulah penjelasan dari sang prabu.
"Lalu agama Islam itu sendiri apa gusti prabu." Mereka bertanya seperti itu karena ingin tahu lebih lanjut.
"Agama Islam adalah, agama yang membimbing umatnya untuk lebih baik. Bukan berarti agama lain tidak baik. Peran agama Islam sangat penting, karena agama Islam mengajarkan kita bagaimana caranya menyembah sang penguasa dengan benar. Ada aturannya, bukan dengan cara yang sembarangan." Sang prabu harus berhati-hati dalam berkata, dalam penyampaiannya. Sebab ada Pedanda istana yang sangat kental ajaran agama Hindu-Budha yang masih melekat dalam diri mereka.
"Dalam islam juga menjelaskan tentang nabi-nabi terdahulu, atau orang-orang pilihan dari Allah SWT untuk mengajarkan kebaikan kepada kaumnya. Kepada umatnya cara bersikap baik dan benar. Jangan sampai menyimpang dari ajarannya agar Allah SWT tidak murka. Karena kemaksiatan yang dikerjakan oleh hambanya." Sang prabu menjelaskan kepada mereka semua.
__ADS_1
"Dalam penyebaran agama yang baik, Allah SWT juga memberikan pedoman atau kitab kepada nabinya. Seperti kitab Zabur pada zaman nabi Daud as, kitab taurat pada Zaman nabi Musa, kitab Injil pada Nabi Isa, dan kitab suci Al-Qur'an pada nabi Muhammad Saw. Hingga sekarang harusnya kita bisa mengamalkannya dengan baik, meskipun baginda nabi Muhammad Saw telah lama wafat di Madinah. Namun ajaran agama Islam tetap bisa kita rasakan sampai sekarang. Melalui surah Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Artinya: Di bulan Ramadhan, di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).....". Sang Prabu benar-benar menguasai apa yang ia jelaskan kepada mereka semua, sehingga mereka menyimak dengan baik apa yang ia sampaikan.
"Selain itu, dalam surah Surat Ali Imran ayat tiga juga menyebutkan bahwa: Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. jadi sudah jelas dikatakan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang untuk melengkapi ajaran sebelumnya" ia berharap dengan apa yang ia jelaskan bisa membuat mereka mau masuk islam.
"Banyak sekali kebaikan-kebaikan yang ada di dalam agama Islam. Itu kembali pada diri kita masing-masing, hati nurani yang kita miliki adalah hati yang lahir dari hawa nafsu kita sendiri. Dengan adanya agama Islam kita bisa mengendalikan hawa nafsu itu. Entah hawa nafsu marah, atau hawa nafsu lainnya yang memiliki keinginan-keinginan duniawi." Lanjut sang prabu.
"Saya juga dulunya bukan orang yang baik. Namun setelah saya belajar tentang agama islam. Saya mempelajarinya dengan pelan-pelan, namun akhirnya saya menyadari betapa indahnya agama Islam dalam mengendalikan amarah seseorang. Jika ia marah yang berlebihan, untuk mengendalikan amarah tersebut caranya adalah dengan beristigfar, mengingat nama Allah di dalam hatinya."
Begitulah sedikit penjelasan dari sang prabu kepada mereka. Sang Prabu menyebarkan agama Islam di lingkungan istana. Ia mempersilahkan rakyatnya yang berada di kota raja juga ikut dalam pengajian itu. Sementara itu Syekh Asmawan Mulia juga menyebarkan agama Islam di beberapa desa terdekat istana.
Lalu bagaimana dengan Jaya Satria?. Ia juga kadang menyebarkan agama Islam, di beberapa tempat dengan melakukan penyamaran agar ia tidak dikenali oleh orang lain. Selain itu tugasnya melindungi rakyat dari serangan luar.
...***...
Sang Prabu dan Jaya Satria berbagi tugas dengan adil. Namun beberapa hari ini, Jaya Satria sedang membuntuti putri Andhini Andita. Ia khawatir jika kakak dari sang Prabu berbuat sesuatu yang merugikan lagi.
Seperti saat ini.
Putri Andhini Andita berada di sekitar wisma para putra raja. Apa yang diinginkan putri raja berada di sana?.
"Untuk apa kau mengikutiku terus, jaya satria." Rasa kesal menyelimuti hatinya, marah dan benci.
"Hamba akan terus mengikuti gusti putri. Jika gusti putri masih merencanakan hal buruk." Jawabnya. "Tidak baik membenci saudara sendiri gusti putri." Jaya Satria berada di balik dinding gerbang masuk wisma putra raja. Ia yang tadinya ingin mencegah putri Andhini Andita masuk ke dalam.
"Itu urusanku!. Jika kau mengikutiku karena suruhan rayi prabu!. Aku tidak akan segan-segan untuk mengatakan padanya, bahwa bawahannya telah berbuat kurang ajar padaku!" Ia sudah tidak tahan lagi, ia sudah muak, hingga mengancam jaya Satria.
"Gusti putri ini lucu sekali." Jaya Satria tertawa. "Hamba tidak disuruh oleh untuk mengikuti gusti putri. Ini murni keinginan hamba sendiri." Balasnya.
"Karena apa yang gusti putri rencanakan itu bisa mengancam keselamatan raja. Jadi hama tidak akan membiarkan hal buruk itu terjadi." Ya, ia akan mencegah perbuatan jahat yang akan mengancam keselamatan rajanya.
"Kurang ajar!. Jadi dia telah mengetahui rencana kami?." Hatinya mengutuk Jaya Satria. Apa yang akan ia katakan?.
Tidak ada jawaban dari Putri Andhini Andita, ia tidak tahu harus berkata apa jika Jaya Satria tau segalanya.
"Hamba sarankan sebaiknya jangan lakukan itu." Ucap Jaya Satria. "Kalian itu bersaudara. Kenapa harus saling bermusuhan?." Jaya Satria tampak kebingungan. Tidak ada tanggapan dari Putri Andhini Andita.
"Jika gusti putri ingin mengetahui mengapa gusti prabu bisa menjadi raja. Maka akan hamba tunjukkan pada gusti putri. Malam nanti temui lah hamba di taman istana. Akan hamba berikan pandangan, agar gusti putri mengetahui alasannya." Setelah itu, Jaya Satria pergi dari sana.
"Pergi?." Putri Andhini Andita merasa kesal. Setelah mengikutinya, membuatnya marah?. Kemudian pergi begitu saja?.
"Oh rayi, kau lama sekali." Suara Raden Hadyan Hastanta mengalihkan pandangan putri Andhini Andita.
"Maafkan aku raka." Ia melihat kakaknya memberi kode untuk masuk ke wismanya. "Kurang ajar!. Pantas saja dia pergi. Ternyata dia tahu kedatangan raka hadyan hastanta." Sekali lagi ia mengutuk Jaya Satria dengan perasaan benci.
"Tapi tadi dia berkata ingin menunjukkan kepadaku mengapa rayi cakara casugraha bisa menjadi raja?." penasaran?. Ya, tentu saja ia penasaran.
...***...
Di Istana kegelapan.
"Hormat kami gusti prabu." Nini Kabut Bidadari dan dua anak buahnya memberi hormat pada prabu Wajendra Bhadrika.
"Aku terima hormat kalian." Ia mempersilahkan mereka duduk di kursi yang ada.
"Aku mengundang kalian untuk membahas masalah perebutan kekuasaanku di kerajaan suka damai." Ia senang Nini Kabut Bidadari mau bergabung lagi dengannya.
"Nini kabut bidadari. Sebelum itu aku ucapkan terima kasih, karena kau telah menyelamatkan putriku dari jurus berbahaya." Ucapnya dengan perasaan yang sangat bahagia. "Aku akan memberikan penghargaan untuk itu, sebagai rasa ucapan terima kasihku padamu nini." Ia mengalihkan pandangannya ke arah putrinya yang sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Suatu kehormatan bagi hamba gusti prabu." Ia tidak menyangka sang prabu akan berkata seperti itu padanya.
"Sudah menjadi kewajiban hamba untuk melindungi putri gusti Prabu dari bahaya apapun yang akan mengancam keselamatannya." Ucapnya lagi.
"Aku senang mendengarnya. Kau memang abdi setiaku, nini kabut bidadari." Tidak ada kebahagiaan dari seorang raja mendapatkan abdi yang setia seperti itu.
"Baiklah. Aku akan mengatakan sekali lagi. Kita akan menaklukkan kerajaan suka damai dengan cara apapun itu." Tekadnya masih sama.
"Aku sudah mendengarkan sebagian keterangan dari putriku, tentang sosok yang melindungi kerajaan itu. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku yakin masih ada orang yang akan dapat mengalahkannya." Ia percaya itu.
"Benar ayahanda, tapi bagaimana caranya?." Putrinya bertanya cara melakukannya meskipun mereka tau kekuatan orang itu.
"Nini Kabut Bidadari. Aku tahu kau dulu adalah seorang dukun sakti mandraguna." Ucapnya sambil melihat ke arah Nini kabut Bidadari.
"Sebagai seorang dukun, harusnya kau mengetahui dengan pasti, rencana apa yang ada dibenak mu saat ini." Sang prabu memancing ingatan lama Nini Kabut Bidadari.
Seketika raut wajah itu berubah. "Aaa hamba mengerti gusti prabu." Seringaian lebar memikirkan ingatan masa lalu.
"Apa yang akan ayahanda dan Nini Kabut Bidadari lakukan?." Rasa ingin tahu putri Gempita Bhadrika muncul begitu saja.
"Kalau begitu lakukan dengan baik. Dan pastikan dia mati dalam keadaan yang menjijikkan!." Raut wajah sang prabu seakan geli membayangkan bagaimana keadaan orang itu mati.
"Akan hamba kerjakan sesuai dengan keinginan gusti prabu." Nini Kabut Bidadari mengerti keinginan rajanya tanpa dijelaskan?. Sungguh abdi yang pengertian pada junjungannya.
"Aku sungguh tidak mengerti apa yang direncanakan oleh ayahanda prabu. Tapi aku yakin itu adalah rencana yang sangat hebat. Mengingat nini kabut bidadari adalah orang yang kuat. Aku akan melihat apa yang akan ia lakukan nanti." Dalam hati sang putri ingin melihat apa yang akan mereka lakukan.
"Kalian berdua lakukan persiapan. Dua hari lagi adalah malam yang bagus untuk melakukannya." Perintah Nini Kabut Bidadari pada kedua anak buahnya.
"Baik nini." Keduanya akan melakukan tugas yang diberikan ketua mereka sekarang.
...***...
Malam telah berganti. Putri Andhini Andita sudah berada di taman bunga istana, tempat waktu itu ia berbicara dengan Jaya Satria.
"kemana dia?. Kenapa belum muncul juga?. Apakah dia mempermainkan aku!." Matanya tidak melihat keberadaan Jaya Satria. Rasa kesal dan marah menyelimuti hatinya.
"Hamba ada di sini, gusti putri." Ia tersenyum kecil melihat putri Andhini Andita seperti itu.
"kau di sana rupanya!." Ia tidak menyangka jika Jaya Satria duduk di bawah seperti waktu itu?.
"Duduklah di sini. Hamba telah memberi alas duduk, sehingga gusti putri bisa duduk dengan aman." Ia mempersilahkan putri Andhini Andita duduk tak jauh darinya.
"Aku tidak Sudi duduk di situ!." Suara itu terdengar marah, tidak suka dan benci.
"Baiklah!. Tapi hamba tidak akan bertanggungjawab, jika gusti putri dilihat oleh prajurit jaga nantinya ahaha." Ia malah tertawa?. Ya, siapa yang tidak tertawa melihat raut wajah marah. Itu terlihat cukup menggemaskan untuk ukuran seorang putri raja.
"Keqh kau benar-benar menyebalkan jaya satria." Dengan terpaksa ia duduk di bawah. Memang benar, jika ia duduk di atas, prajurit yang berjaga malam di lingkungan istana akan melihatnya. Dan bisa jadi ia dicurigai melakukan sesuatu.
"Menyenangkan juga membuatnya kesal seperti itu." Dalam hatinya senang melihat kemarahan itu.
"Sekarang katakan padaku semuanya. Cepatlah!. Aku tidak mau terlalu lama berada di dekatmu. Yang ada nyamuk malah menggigitku nantinya." Rasa tidak sabar, itulah yang membuatnya mendesak Jaya Satria agar cepat mengatakan semuanya.
"Sabarlah gusti Putri. Tidak perlu terburu-buru. Hamba pasti akan mengatakan semuanya." Jaya Satri tidak akan mengingkari janjinya.
"Apakah benar dia akan mengatakan padaku?. Atau dia sedang berusaha meyakinkan aku, bahwa memang benar rayi prabu telah ditakdirkan menjadi seorang raja?." Keraguan dalam hatinya juga muncul. Mengingat Jaya Satria adalah abdi setia mendiang ayahandanya, dan sekarang pengabdi pada adiknya.
Apakah Jaya Satria benar-benar akan mengatakannya?. Bagaimana tanggapan dari putri Andhini Andita jika ia telah mengetahui kebenaran itu?.
Mext halaman.
Tak like?. Tak share?. Tak vote?. Tak kasih hadiah?. Maka tak follow. Jadi rugilah bagi pembaca gelap, karena tak kenal, maka tak follow. Hehehe.
__ADS_1
...***...