
...***...
Kerajaan Telapak Tiga.
Saat itu Putri Cahya Candrakanti sedang latihan, namun pikirannya melayang terbayang betapa baiknya sikap Jaya Satria padanya, ia sangat ingin mengenal Jaya Satria lebih dekat lagi.
"Apakah aku bisa berkenalan dengan jaya satria? Pemuda itu sangat misterius, sehingga aku ingin mengenalnya lebih jauh lagi." Dalam hatinya merasa berdebar-debar sambil membayangkan saat ketika ia ditolong oleh Jaya Satria dari penjahat yang mengincar benda pusaka.
Sesekali ia memainkan jurus andalannya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Entah kenapa ia malah ingat pada Jaya Satria.
"Pada pertemuan kedua pun aku merasa sangat kagum padanya, dia begitu sopan dan sangat menghormati gurunya, aku sangat yakin dia memang orang yang sangat baik, meskipun wajahnya ditutupi oleh topeng hitam itu." Dalam hatinya terus mengagumi sosok Jaya Satria setelah dua kali pertemuan.
"Ekhm!."
Deg!.
Ia sedikit terkejut ketika ia mendengar suara seseorang yang seakan-akan memberi kode padanya, hingga ia mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara sambil menghentikan apa yang ia lakukan tadi.
"Raka?."
"Gerakan yang kau lakukan sangat lambat sekali rayi, apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya?."
"Ti-ti-tidak! Aku tidak-."
"Kau sedang memikirkan pendekar bertopeng yang bernama jaya satria itu?."
"Tidak seperti itu raka!." Rengeknya dengan rona merah menghiasi pipinya.
Putri Cahya Candrakanti sangat panik ketika tebakan Raden Harjita Jatiadi tepat sasaran, terlihat sangat jelas bagaimana sikap malu-malu yang diperlihatkannya.
"Nanti akan aku sampaikan pada ayahanda bahwa kau telah jatuh cinta pada pendekar bertopeng itu."
"Raka! Jangan sembarangan, aku tidak akan mengampunimu!."
"Hahaha! Aku pasti akan menyampaikannya juga pada ibunda! Hahaha!."
"Raka! Awas saja kau ya?!."
Putri Cahya Candrakanti semakin panik hingga ia mengejar kakaknya itu, ia tidak mau perasaannya pada Jaya Satria sampai diketahui oleh siapapun.
...****...
Di Istana kerajaan Suka Damai.
Di ruang pribadi Raja.
"Aku mohon pada raka dan yunda tetaplah berada di istana." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberikan peringatan. "Kita harus tetap waspada, menanggapi masalah yang akan melanda negeri ini."
"Baiklah rayi Prabu, kami akan tetap berjaga di istana."
"Rayi prabu jangan khawatir, kami akan terus bersamamu."
"Terima kasih yunda, raka, ini demi keselamatan kita semua."
Pada saat itu mereka sedang membahas masalah kegelapan yang akan menyelimuti kerajaan Suka Damai, mereka harus tetap waspada karena tidak bisa menebak kapan itu terjadi.
"Lalu bagaimana dengan rayi agniasari ariani? Bukankah ia saat ini sedang berada di luar istana? Aku takut terjadi sesuatu padanya."
"Kalau masalah yunda agniasari ariani, aku harap ia baik-baik saja, aku tidak mau mengganggu pengembaraannya yunda."
"Semoga saja rayi agniasari ariani baik-baik saja, sepertinya kita tidak bisa mengabaikan masalah ini begitu saja."
"Semoga saja yunda, semoga saja kita semua selalu berada di dalam perlindungan Allah SWT."
Mereka hanya berharap semuanya baik-baik saja. Karena masalah yang akan mereka hadapi bukanlah masalah yang bisa diabaikan begitu saja.
"Lalu bagaimana dengan tanggapan para petinggi istana setelah rayi prabu menyampaikan berita itu? Apakah mereka akan melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah ini?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdiam sejenak, ia menatap Raden Hadyan Hastanta.
"Mereka semua tampak khawatir, dan mulai waspada." Jawabnya. "Mereka juga memikirkan cara untuk mengatasi masalah ini raka."
"Syukurlah jika memang seperti itu, aku takut mereka hanya menumpang mencari aman saja di kerajaan ini."
"Kita semua sedang berusaha dengan baik demi menjaga kerajaan ini raka."
"Ya, rayi benar." Raden Hadyan Hastanta tersenyum kecil. "Benar-benar masalah yang meresahkan, membuat kita semua ketakutan karena terlalu waspada." Raden Hadyan Hastanta tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Ini adalah ujian yang akan kita hadapi raka, Allah SWT tidak akan menguji iman seseorang atau suatu kaum melebihi kesanggupannya."
"Maksud rayi prabu, kita akan sanggup menghadapi masalah yang belum tahu kapan itu datangnya?."
"Yunda benar, insyaAllah jika kita selalu mengingat Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap Putri Andhini Andita. "Maka Allah juga akan mengingat kita, melindungi kita semua dari marabahaya yang akan terjadi, kunfayakun, jika Allah berkehendak terjadilah, maka ia akan terjadi."
Keduanya menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Memang saat ini mereka semua merasa cemas, namun mereka tetap waspada, meminta pertolongan kepada Allah SWT agar negeri ini baik-baik saja.
...***...
Di suatu tempat.
"Sembah hormat kami gusti ratu gempita bhadrika." Ucap mereka semua.
Pasukan jin yang menyambut kedatangan junjungan baru mereka. Pasukan jin yang berkumpul untuk melakukan sesuatu di sebuah tempat gelap dalam rangka pertemuan besar.
Saat ini, di lembah Setan Kesurupan. Mereka semua berkumpul setelah diadakan acara penobatan Ratu Gempita Bhadrika yang kini menjadi pemimpin baru mereka setelah kematian Prabu Wajendra Bhadrika.
"Aku terima hormat kalian semua." Ratu Gempita Bhadrika menatap semua pasukan jin yang berhasil ia kumpulkan kembali setelah sekian lama ia berlatih ilmu kanuragan yang ia anggap dapat mengalahkan dua orang yang telah membunuh ayahandanya.
"Apa yang akan kami lakukan untuk Gusti Ratu? Berikan kami perintah! Maka dengan senang hati kami akan melakukannya." Setan Gelap Urat sebagai abdi setia ingin perintah?.
"Semua keinginan Gusti Ratu akan kami penuhi." Mereka semua sepertinya sudah tidak sabar lagi?.
Ratu Gempita Bhadrika tersenyum puas mendengar semua yang mereka ucapkan. "Dalam waktu dekat ini, aku akan menyerang istana kerajaan suka damai." Ia tersenyum lebar menatap mereka semua. "Aku ingin menebarkan kegelapan dengan jurus hawa serap jiwa di sana." Kali ini menatap seseorang yang sangat dekat dengannya. "Sementara waktu, kalian buatlah kekacauan di wilayah kerajaan suka damai, buat mereka sibuk karena mengatasi kalian semuanya." Itulah perintah Ratu Gempita Bhadrika.
"Sandika Gusti Ratu, perintah Gusti Ratu akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya." Mereka menyanggupi apa yang menjadi keinginan junjungan baru mereka?.
Setelah itu mereka pergi meninggalkan tempat, melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Ratu Gempita Bhadrika dengan secepatnya. Sementara itu, ada seorang pemuda gagah mendekati sang Ratu.
"Apakah hamba tidak dilibatkan dalam perintah itu Gusti Ratu?." Senyumannya, senyuman yang begitu menawan, membuat hati Ratu Gempita Bhadrika merasa luluh, dan terhipnotis untuk mendekati pemuda itu. "Kenapa hanya mereka saja yang dengan semangatnya melakukan perintah Gusti Ratu?."
"Tentu saja kau juga akan terlibat dengan perintahku." Balasnya sambil menyentuh pelan dada bidang itu. "Tapi kau tidak ikut bersama mereka." Ia menatap pemuda itu dengan tatapan terpesona akan kegagahan pemuda itu, yang kini nampak kebingungan.
"Tidak ikut bersama mereka? Lantas hamba akan ikut dengan siapa?." Dengan polosnya ia bertanya seperti itu.
"Kau akan ikut denganku, menjadi pengawal setiaku." Ucapnya dengan sepenuh hatinya. "Apakah kau tidak ingin mengawal aku lebih dekat lagi denganku?." Sepertinya ia memang terpikat oleh ketampanan pemuda itu, hingga mampu mengalihkan dunianya.
"Jika itu yang gusti ratu inginkan dari hamba, maka akan hamba lakukan dengan segenap hati hamba." Senyuman pemuda itu terlihat menawan saat mengucapkan kalimatnya. "Tentu saja dengan senang hati akan hamba lakukan perintah Gusti Ratu."
"Kau sungguh sangat baik padaku, sangat baik." Ia memeluk pemuda itu dengan eratnya. "Aku tidak akan melupakannya, aku pasti akan membalaskan semua kebaikan yang telah kau berikan padaku."
"Gusti Ratu tidak perlu berkata seperti itu, bagi saya, dendam kematian ayahanda ranggah sepu itu jauh dari melebihi keinginan hamba sendiri." Balasnya.
Ia melepaskan pelukan itu, menyentuh pundak Ratu Gempita Bhadrika dengan lembut. Menatapnya dengan lembut, benar-benar tipe pemuda yang sangat perhatian pada wanita.
"Hamba tidak akan membiarkan orang yang telah membuat hati saya terluka berkeliaran begitu saja dimuka bumi ini, sementara hamba menderita menanggung rasa sakit yang menyiksa." Sorot mata itu menampakkan kesedihannya, terluka begitu dalam.
"Kau benar, aku juga merasa menderita." Begitu juga dengannya. "Apalagi menyaksikan langsung bagaimana ayahandaku dibunuh dengan menggunakan pusaka kembar keris naga penyegel sukma, hatiku benar-benar hancur berantakan." Ratu Gempita Bhadrika juga merasakan kesedihan yang luar biasa. Ingatannya kembali mengingat peristiwa yang menyakitkan dalam hidupnya.
"Karena itulah, biarkan hamba membantu gusti ratu untuk menghadapi orang bertopeng itu, serta mengalahkan prabu asmalaraya arya ardhana yang telah membuat hidup kita menderita selama ini." Pemuda itu begitu perhatian pada ratu Gempita Bhadrika. Apakah mereka memiliki perasaan satu sama lain hingga simpati yang mereka berikan terasa selaras, menyatu dengan perasaan mereka.
"Terima kasih, aku sangat merasa terbantu sekali." Ia duduk kembali di singgasananya, setelah itu menatap lurus pandangannya ke depan. "Kita berdua akan melakukannya dengan cepat, aku ingin langsung menggunakan jurus hawa serap jiwa pada keduanya, karena aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya hidup di dalam kegelapan."
Senyuman mengembang, membayangkan bagaimana penderitaan yang akan dialami oleh kedua musuhnya itu. Terkurung dalam kegelapan yang menyengsarakan hidup mereka.
"Hamba percaya jika Gusti Ratu mampu melakukannya, karena hawa sekitar sini sepertinya tidak kuasa menahan tekanan dari hawa kegelapan yang keluar dari tubuh Gusti Ratu." Ucapnya, ia sedikit merinding karena merasakan hawa gelap yang berbeda.
Dan memang benar, jika Ratu Gempita Bhadrika tanpa sadar telah melepaskan hawa serap jiwa itu. Apalagi ia dapat melihat hawa hitam yang menyelimuti tubuh Ratu Gempita Bhadrika.
Ratu Gempita Bhadrika mengatur hawa murninya, setelah itu menatap ke arah pemuda itu dengan rasa bersalah. "Apakah aku telah menyakitimu?."
"Tidak apa-apa Gusti Ratu, hamba sangat mengerti dengan apa yang gusti ratu rasakan, jadi tenanglah, hamba akan selalu berada di dekat Gusti Ratu, hamba akan baik-baik saja." Balasnya dengan senyuman ramahnya.
"Sungguh, aku sangat bersyukur bertemu dengan orang sebaikmu." Ratu Gempita Bhadrika sangat lega mendengar itu. "Aku merasa lebih baikan sekarang.
...****...
Di Desa Damai Abadi.
Jaya Satria saat itu sedang mengamati bagaimana situasi desa itu, saat ini ia bersama beberapa prajurit telah menyampaikan kepada rakyat agar tetap waspada dan membaut tempat pengungsian darurat bila kegelapan itu datang menyerbu kerajaan suka damai.
"Gusti Prabu hanya berharap semuanya akan baik-baik saja, karena masalah dengan kerajaan kegelapan belum selesai."
"Semoga saja cepat selesai, kasihan rakyat jika masalah ini sampai membuat mereka ketakutan."
"Karena itulah Gusti Prabu meminta tuan adipati beserta perangkat lainnya agar menyampaikan masalah ini dengan hati-hati, ini demi keselamatan kita semua."
__ADS_1
"Baiklah, kami akan melakukannya dengan baik, demi keselamatan kita semua yang ada di kerajaan suka damai tercinta ini."
"Terima kasih atas kerjasamanya tuan adipati, saya akan menyampaikan berita baik ini pada Gusti Prabu."
"Sampaikan salam hormat kami kepada Gusti Prabu, kami semua akan selalu mendoakan kesejahteraan padanya karena selalu memperhatikan kami dengan sangat baik."
"Akan saya sampaikan pesan tuan adipati pada Gusti Prabu."
Ya, Jaya Satria telah menyampaikan berita itu pada beberapa desa mengenai masalah kegelapan yang akan menyerang kerajaan Suka Damai, dan tentu saja itu juga atas bantuan petinggi istana lainnya, juga para pendekar yang lahir di kerajaan Suka Damai.
...***...
Sementara itu Putri Andhini Andita bersama kedua ibundanya yang terlihat cemas.
"Kali ini masalah apa lagi yang akan menimpa kerajaan ini? Rasanya tidak ada habis-habisnya kita menerima masalah."
"Tenanglah ibunda, rayi Prabu, kita semua sedang berusaha mengatasi masalah ini, ibunda tenang saja,"
"Benar yang dikatakan ananda putri, yunda tenanglah, kita semua harus berusaha untuk mengatasi masalah yang datang."
"Tapi rasanya ini terlalu banyak rayi dewi, bahkan ini seperti hidup di alam ujian yang sangat berat."
"Ibunda? Rayi Prabu mengatakan, setiap manusia akan melewati ujian di dalam hidup ini, Tuhan tidak akan menguji iman seseorang melebihi batas kemampuannya."
"Artinya kita mampu mengatasi masalah ini?."
"Yakinlah kita mampu mengatasi masalah ini ibunda."
"Jika kita memang mampu mengatasi masalah itu? Lantas kenapa ayahandamu kanda Prabu kawiswara arya ragnala, Prabu bahuwirya dihyan darya meninggalkan kita semua?." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. "Kenapa beliau meninggalkan kita jika memang saat itu kita mampu membantu mencegah kanda Prabu untuk pergi sendirian?." Hatinya sangat tidak terima dengan kematian sosok suami yang sangat ia cintai.
"Yunda?." Ratu Dewi Anindyaswari hampir menangis ketika mendengarkan ucapan itu.
"Jika memang Tuhan merasa kita mampu mengatasi masalah itu? Kenapa Tuhan membiarkan Kanda Prabu pergi meninggalkan kita semua hanya karena melawan kegelapan?."
"Itu karena saat itu kita tidak bersatu ibunda." Putri Andhini Andita berusaha menahan perasaan sesak yang ada di dalam hatinya saat itu. "Andai saja saat itu kita bersatu seperti saat ini? Ayahanda Prabu kawiswara arya ragnala tidak perlu mengatasi masalah sendirian ibunda!." Suaranya mendadak meninggi ketika ia menyebutkan kata ibunda.
"Ananda putri?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut melihat kemarahan yang ditunjukkan oleh Putri Andhini Andita.
"Andai saja saat itu kita saling menghormati satu sama lain? Tidak ada perang atau kebencian? Membantu ayahanda Prabu dengan sungguh-sungguh mengatasi setiap masalah? Pasti kita semua tidak akan kehilangan ayahanda Prabu bahuwirya dihyan darya untuk selamanya! Kita yang tidak mau diajak untuk bersatu oleh ayahanda Prabu! Itu karena ada perasaan benci! Dan dendam yang bersarang di dalam hati kita saat itu ibunda!." Tanpa sadar ia juga menangis sambil mengingat itu semua. Hatinya sangat pedih jika ia ingat-ingat kembali masa menyakitkan itu.
"Ananda putri, ibunda mohon bersabarlah nak."
"Ibunda, ibunda." Putri Andhini Andita menangis sambil memeluk Ratu Dewi Anindyaswari, hatinya sangat panas.
"Oh? Apakah memang kesalahan itu dari diriku? Sehingga putriku berani membentak aku seperti itu?." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati sangat sakit mendengarkan ucapan anaknya tadi, hatinya sedang mengingat apa saja yang terjadi di masa lalu.
...****...
Di kerajaan Telapak Tiga.
Putri Cahya Candrakanti menatap kesal pada kakaknya yang masih saja mempermainkan dirinya. Saat itu keduanya sedang duduk bersama di pendopo halaman belakang istana.
"Sudahlah, jangan cemberut seperti itu, nanti cantiknya bisa hilang."
"Gombal bodol! Itu semua karena raka yang sangat menyebalkan!."
"Baiklah, aku minta maaf, aku hanya cemas karena tidak biasanya kau bersikap seperti itu."
"Hmph!."
"Hahaha!."
Raden Harjita Jatiadi sangat heran dengan sikap adiknya, ia merasakan adiknya telah berubah setelah bertemu dengan pemuda yang bernama Jaya Satria.
"Biasanya kau selalu merengek padaku jika takut melakukan sesuatu, tapi setelah kau kenal dengan pemuda itu? Kau mendadak mandiri." Ucapnya seakan-akan merasa terpukul. "Apakah aku tidak dibutuhkan lagi? Rasanya aku sangat iri sekali pada pemuda yang bernama jaya satria itu." Ia seperti seorang kekasih yang dimana cintanya diduakan.
"Jangan banyak bermain sandiwara raka, aku sangat kesal melihat sikap raka yang seperti itu! Aku belajar mandiri itu karena aku tidak ingin selalu menyusahkanmu! Itu saja! Tidak ada hubungannya dengan jaya satria!."
"Itu hanya alasanmu saja, bahkan sebelum kau bertemu dengannya kau masih merengek pada ayahanda, mengirim surat pada ayahanda meminta padaku untuk menjemputmu di padepokan."
"Lantas kenapa raka tidak datang jika memang surat itu telah sampai pada ayahanda?! Pada saat itu aku diserang dua orang penjahat pemburu benda pusaka!." Ia tidak dapat lagi menahan amarahnya. "Jika saja aku tidak dibantu jaya satria? Maka kau tidak akan melihat adikmu yang cantik ini lagi raka!."
"Maaf saja, saat itu aku sedang ada tugas darurat dari ayahanda, jadi jangan salahkan aku jika tidak bisa menjemputmu."
"Kau ini sangat menyebalkan sekali raka!."
Hingga saat itu terjadi pertarungan antara dua kakak beradik itu hanya karena amarah sesaat. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah benar perasaan mereka akan seperti itu?. Simak dengan baik kisah selengkapnya. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...