
...***...
Hari pertandingan maut telah tiba. Banyak rakyat, serta pejabat agung yang telah datang untuk menyaksikan pertarungan maut tersebut. Penyingkiran putra mahkota yang dianggap sebagai aib, dan tidak pantas untuk tinggal ataupun hidup. Memang aturan yang sangat menyakitkan, namun itulah ketentuan yang telah ada dari nenek moyang mereka terdahulu. Tidak ada yang bisa membantah hukuman itu, bahkan raja sekalipun. Prabu Bumi Jaya sebagai raja pun tidak bisa membantah aturan yang telah diketahui oleh semua rakyat kerajaan Restu Agung. Putri Andhini Andita juga ikut hadir diantara penonton yang sudah tidak sabar melihat pertarungan maut itu.
"Ya Allah, hamba mohon supaya apa yang hamba lihat dalam semedi hamba hanyalah ketakutan biasa. Hamba tidak mau mendahului takdir yang telah engkau tetapkan untuk hamba-Mu ya Allah." Perasaan Putri Andhini Andita sama sekali tidak enak. "Karena itulah, hamba mohon, lindungilah raden raksa wardhana dalam pertarungannya ya Allah." Dalam hatinya terus berdoa, supaya Raden Raksa Bumi tidak mendapatkan celaka dalam pertarungan itu.
Namun tak lama kemudian, Senopati Mataraga sebagai perwakilan istana memandu acara tersebut. "Saya sebagai perwakilan keluarga besar istana mengucapkan selamat menyaksikan pertarungan maut, yang diadakan ketika putra mahkota raja telah mencapai usia 20 tahun. Pemilihan putra mahkota yang sah melalui pertarungan maut." Ia tersenyum ramah menatap mereka semua. "Harap jangan ada pihak luar yang ikut campur dalam pertarungan ini. Karena kita semua akan memilih siapa yang pantas menjadi penerus raja. Jadi saya harap bisa bekerjasama dengan baik, jangan coba-coba ikut campur dalam pertarungan ini. Jika ada yang ketahuan berbuat ulah dalam pertarungan maut ini, maka ia akan mendapatkan hukuman penggal dari gusti prabu bumi jaya." Ia memberi hormat pada Prabu Bumi Jaya, Raja besar di kerajaan Restu Agung.
"Aku tidak akan mengampuni siapapun yang ikut campur dalam pertarungan ini. Biarkan putraku yang mengikuti pertarungan ini. Jadi kalian jangan coba-coba untuk ikut serta, jika tidak ingin mendapatkan hukuman mati dariku." Prabu Bumi Jaya menatap mereka dengan sorot mata yang sangat tajam, dan ia tidak akan lengah sedikitpun dari mereka yang ingin bermain-main dalam pertarungan maut ini. "Senopati, dan juga kalian semuanya. Amankan pertarungan ini dengan baik. Karena aku tidak mau ada yang mengganggu pertarungan ini." Dengan tegas ia memberi perintah pada bawahannya.
__ADS_1
"Sandika gusti prabu." Balas mereka semua. Tentunya mereka akan melakukan perintah itu dengan baik.
"Baiklah, untuk tidak membuang waktu lagi. Mari kita mulai saja pertarungan ini. Dan saya yakin kalian tidak sabar untuk melihat pertarungan maut ini." Senopati Mataraga kembali melihat ke arah penonton yang sangat antusias dalam pertarungan maut. Mereka semua bersorak kesenangan?. Apakah mereka tidak takut melihat ada seseorang yang akan mati dihadapan mereka semua?. Simak saja pertarungan itu.
"Baiklah, karena ada dua putra mahkota yang akan bertarung. Maka kita panggil saja kedua putra mahkota yang akan menjalankan aturan tersebut." Senopati Mataraga memanggil kedua Pangeran yang telah siap dalam pertarungan tersebut. "Raden bumi putra, dan juga raden raksa wardhana." Lanjutnya lagi.
"Aku yakin, putraku yang akan memenangkan pertarungan ini." Ratu Emas Suri Dewi sangat percaya diri, jika anaknya yang akan mendapatkan gelar putra mahkota tertinggi dibandingkan putra lainnya. Bahkan mendapatkan gelar tertinggi dari putra mahkota sebelumnya. Sedangkan istri serta selir raja yang lainnya hanya diam saja, karena mereka mengetahui bagaimana perangai dari Ratu Emas Suri Dewi selama ini. Jadi mereka tidak terlalu menanggapinya.
"Baiklah, pertarungan segera dimulai. Harap bermain dengan tenang, dan jangan ada kecurangan sedikitpun." Senopati Mataraga mengingatkan kedua putra mahkota yang akan bertarung dalam pertarungan maut. "Silahkan bertarung dengan aman raden." Senopati Mataraga memberi hormat pada Raden Bumi Putra, dan juga Raden Raksa Bumi. Setelah itu ia turun dari arena pertarungan, dan tidak menyebutkan bagaimana pertarungannya kecuali mati!.
__ADS_1
"Heh!. Kau sombong sekali raksa wardhana." Raden Bumi Putra mendengus kecil. "Untuk apa kau menggunakan kain penutup mata, sementara kau memang telah buta!." Tiba-tiba saja ia merasakan kemarahan yang luar biasa, dari apa yang telah ia pendam selama ini. "Apakah kau sedang mengejek aku raksa wardhana!." Suara Raden Bumi terdengar seperti sedang membentak, sehingga mereka semua terkejut mendengarkannya. Ia telah mengeluarkan pedang kebanggaan miliknya. Pedang yang diberikan oleh ayahandanya dalam pertarungan ini.
"Maaf saja raka." Raden Raksa Wardhana menyentuh kain penutup mata yang ia kenakan saat ini. "Kain ini, adalah bukti bahwa aku tidak akan menyerah begitu saja, hanya karena mataku yang sedang tidak bisa melihat." Ucapnya sambil mengeluarkan pedang yang ia sandang di punggungnya. "Meskipun mataku buta, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja." Raden Raksa Wardhana sangat yakin dengan apa yang ia lakukan saat ini sehingga mereka merasa bersimpati padanya. Mereka merasa bersemangat, karena ada seseorang yang sedang berjuang untuk hidup dalam kegelapan.
"Dari mana dia mendapatkan kepercayaan diri seperti itu?." Bahkan Prabu Bumi Jaya tidak menduga sebelumnya. Bahwa putranya akan bertarung dengan keadaan seperti itu?. "Aku tidak mengetahui jika ia mendapatkan dukungan seseorang. Aku harap ini bukanlah awal dari pemberontakan tersembunyi yang selama ini ia persiapkan untuk merebut tahta putra mahkota tertinggi di kerajaan ini." Prabu Bumi Jaya mulai waspada dengan apa yang akan terjadi.
"Baiklah raksa wardhana. Jika kau memang siap dengan pertarungan ini, maka aku akan melakukannya dengan senang hati." Raden Bumi Putra sangat geram dengan tingkah Raden Raksa Wardhana yang menurutnya sangat menyebalkan. "Jangan salahkan aku, hanya satu jurus, kau akan berakhir di tanganku." Ia genggam kuat pedang yang ada di tangannya saat ini.
"Seseorang pernah berkata padaku raka. Bahwa takdir akan berubah, jika ia mau melakukan sesuatu berjuang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan." Raden Raksa Bumi tersenyum kecil, dan ia telah siap-siap dengan kuda-kuda nya. "Siapa yang bersungguh-sungguh mengejar apa yang ia inginkan, maka ia akan mendapatkannya. Dan hanya kematian yang akan menghentikannya." Raden Raksa Wardhana berkata seperti itu, membuat mereka semua tercengang. Dari mana pangeran buta itu mendapatkan kata-kata indah itu?. Apakah terjadi sesuatu pada pangeran buta itu selama satu purnama ini?. Entahlah, siapa yang mengetahui perubahan itu.
__ADS_1
"Kau tidak usah banyak bicara raksa wardhana!. Terima saja kematian mu!." Raden Bumi Putra sangat marah, dan ia langsung menyerang Raden Raksa Wardhana dengan amarah yang bergejolak di dalam tubuhnya saat ini. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...*** ...