RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
SUASANA HATI


__ADS_3

......***......


Dalam semedi yang dilakukan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Cakara Casugraha. Mereka terus memainkan jurus cakar naga cakar petir untuk dimasukkan ke dalam keris kembar itu. Keadaan mereka terluka parah, karena kedua sukma naga yang berbeda itu sedikit melakukan penolakan, sehingga keadaan keduanya sedikit terluka. Namun perlahan-lahan kedua Sukma kembar Naga api, dan Sukma naga petir membimbing Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria untuk tetap melakukan gerakan itu. Mereka juga mencoba untuk menyesuaikan diri. Api dan petir, dua elemen yang sama-sama dapat membakar dan menghasilkan ledakan. Karena itulah akan berdampak pada kelautan tenaga dalam keduanya.


"Terus lakukan dengan hati-hati gusti prabu. Hamba harap gusti prabu berdua tidak terluka karena penyatuan jurus ini." Sukma kembar naga api terus menyemangati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan Juga Jaya Satria.


"Semoga saja, Allah SWT selalu melindungi kami. Jadi kami mohon, berikan kami kemudahan untuk menggabungkan kedua jurus ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terus memainkan jurus itu, dan dialirkan ke dalam salah satu keris pusaka kembar.


"Tapi rasanya jurus itu agak lebih enteng dari yang sebelumnya. Rasanya sudah mulai menyatu dengan tenaga dalam kita, serta ke dalam keris pusaka kembar." Jaya Satria dapat merasakan bagaimana ritme permainan mereka saat ini.


"Kami juga telah mencobanya gusti prabu. Sepertinya sedikit lagi akan selesai. Karena jurus ini sepertinya sudah terbiasa dengan keris kembar." Sukma kembar naga api merasa lega, karena perlahan-lahan merasakan aliran tenaga dalam yang menyatu dengannya.


"Lakukan lebih halus lagi gusti prabu. hamba dapat merasakannya." Sukma Naga Petir juga merasakannya. Sehingga ia tidak lagi merasakan sakit?.


"Bagus kalau begitu gusti prabu. Tetaplah berusaha dengan baik. Kami telah siap untuk menyatu dengan baik." Sukma kembar Naga Api mulai mengikuti jurus cakar naga cakar petir.


"Kami tidak merasakan kesakitan lagi gusti prabu. Sukma kami seperti meresap di dalam satu raga yang baik." Sukma Naga Petir juga memainkan jurusnya.


"Kalau begitu, mari kita lanjutkan latihannya sebelum magrib menjelang gusti prabu." Mereka semua sama-sama dapat merasakan bagaimana jurus itu mengalir dengan baik ke dalam tubuh mereka masing-masing.


"Baiklah. Tapi aku ucapkan terima kasih, karena kalian mau bekerjasama denganku. Semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyetujui apa yang dikatakan oleh Sukma Kembar naga Api, dan Sukma Naga Petir.


"Aamiin. Semoga saja ya Allah." Jaya Satria merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Karena ia dan raga keduanya mampu melakukannya dengan baik.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Cakara Casugraha kembali melanjutkan latihan itu. Untuk terakhirnya, keduanya berlatih tanpa adanya keraguan. Sepertinya memang sudah menyatu dengan baik. Bukan hanya pada keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma saja. Melainkan menyatu dengan aliran tenaga dalam keduanya. Tentunya membutuhkan penyesuaian yang luar biasa. Tidak mudah menyatukan Sukma naga ke dalam benda pusaka jika tidak memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.


...***...


Putri Andhini Andita saat ini sedang bersama saudaranya. Ia mencoba melupakan kekesalan yang ia rasakan karena kedua pangeran sombong itu. Hari ini ia akan menikmati kebersamaannya dengan mereka sebelum memasuki bulan puasa.


"Bagaimana dengan jalan-jalannya yunda?. Apakah terasa menyenangkan?." Putri Agniasari Ariani penasaran bagaimana kakaknya ketika jalan-jalan tadi.


"Hanya sedikit gangguan tadi rayi. Tapi aku mencoba untuk melupakannya." Senyumannya memang menggambarkan seperti itu. Senyuman yang sama sekali tidak ikhlas. "Aku bertemu dengan mereka yang dengan kurang ajarnya membuat aku marah." Suaranya terdengar jutek dan tidak bersahabat. Sedangkan mereka hanya tersenyum maklum saja. "Lalu bagaimana dengan kalian?. Apakah masih mau menunggu?." Kali ini ia melihat ke arah adiknya.


"Menunggu apa maksud yunda?." Putri Agniasari Ariani terheran-heran dengan pertanyaan dari Putri Andhini Andita. Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu yang tidak mengerti sama sekali dengan pertanyaan sang adik.


"Maksudku, kalian masih mau bersabar dan masih belum mau menikah ya?. Padahal sudah mendapatkan restu dari rayi prabu juga ibunda. Lalu apa lagi yang kalian tunggu." Putri Andhini Andita tersenyum menggoda mereka. Ia sangat suka jahil dengan adiknya, terutama pada Raden Rajaswa Pranawa yang masih kaku dengannya.


"Jika masalah itu." Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa tersipu malu. "Jangan bertanya seperti itu yunda. Kami hanya menunggu yunda saja. Juga menunggu yunda ratu yang belum menikah." Putri Agniasari Ariani memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang menghiasi wajahnya.


"Aku tidak harus menjawabnya sekarang." Dalam hati Raden Rajaswa Pranawa merasa malu. Mau sampai kapan Putri Andhini Andita terus bertanya seperti itu padanya?. Apakah harus segera menikahi adiknya baru bisa tenang?. Oh rasanya jantung Raden Rajaswa Pranawa berdebar-debar saat ini.


"Hahaha sudahlah rayi andhini andita. Jangan menggoda mereka terus, nanti raden rajaswa tidak kerasan di sini." Raden Hadyan Hastanta malah tertawa melihat sikap malu-malu adiknya Putri Agniasari Ariani, dan juga Raden Rajaswa Pranawa. Seakan-akan itu adalah suatu hiburan tersendiri yang bagi mereka.


"Betul yang dikatakan kanda hadyan hastanta. Kau ini suka sekali menjahili mereka." Putri Bestari Dhatu juga malah ikut tertawa melihat sikap malu keduanya yang sangat menggemaskan.


"Hehehe maaf, maaf. Habisnya, aku suka dengan sikap malu-malu mereka." Putri Andhini Andita malah tertawa geli. Dan saat itu juga ia teringat sesuatu. "Oh ia yunda. Aku ingin memberikan sesuatu pada yunda." Putri Andhini Andita mengeluarkan sesuatu di balik punggungnya.


"Benarkah?. Apa itu rayi." Putri Bestari Dhatu tidak sabar hadiah apa yang akan diberikan adik iparnya ini.


"Pasti mau mengerjai mu dinda." Raden Hadyan Hastanta malah berpikiran buruk terhadap adiknya sendiri. Membuat suasana hati Putri Andhini Andita kembali buruk.

__ADS_1


"Huu, jangan berpikiran buruk dulu." Putri Andhini Andita terlihat merajuk, menatap tidak suka pada Raden Hadyan Hastanta.


Mereka hanya tertawa kecil. Kini giliran Putri Andhini Andita yang ditertawakan. Apa lagi raut wajahnya yang terlihat sangat lucu ketika sedang merajuk.


"Ini untuk yunda." Ia menyerahkan bingkisan kecil yang ia beli di pasar kota raja. "Ini hadiah untuk yunda. Semoga saja yunda suka." Ia takut jika kakak iparnya itu tidak suka, namun hatinya sangat ingin memberikannya pada kakak iparnya itu.


"Wah. Terima kasih rayi. Hadiah apa ini?." Dengan senang hati putri Bestari Dhatu menerima hadiah tersebut. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan dari adik iparnya.


"Hanya hadiah kecil saja untuk ibundanya. Jika adik bayinya sudah lahir, nanti juga akan mendapatkan hadiah yang manis." Dengan pelan Putri Andhini Andita mengelus perut Putri Bestari Dhatu.


"Hehehe terima kasih banyak rayi. Baik sekali." Putri Bestari Dhatu terlihat sangat cerita.


"Itu tidak adil rayi. Masa dinda bestari saja yang dapat hadiah, raka mu kok tidak dikasih?." Sepertinya Raden Hadyan Hastanta merasa cemburu, karena ia tidak mendapatkan hadiah dari adiknya. Mereka semua tertawa kecil melihat raut wajah Raden Hadyan Hastanta yang terlihat merajuk.


"Kalau raka kan beda. Harusnya raka lah yang memberikan aku hadiah." Putri Andhini Andita malah balik membalas kakaknya dengan meminta hadiah.


"Lalu bagaimana denganku yunda?. Apakah tidak ada hadiah untukku yunda?." Putri Agniasari Ariani mencoba untuk meminta hadiah dari kakaknya.


"Tentu saja aku akan memberikan hadiah untukmu rayi." Balas Putri Andhini Andita dengan senyuman lembut liar biasa.


"Oh, terima kasih banyak yunda." Putri Agniasari Ariani senang jika memang kakaknya itu mau memberikannya hadiah.


"Aku akan memberikanmu hadiah, jika kau telah menikah dengan raden rajasawa nanti." Lanjutnya lagi dengan tawa yang mengejek. Sedangkan Putri Agniasari Ariani langsung manyun. Sementara itu Putri Bestari Dhatu dan Raden Hadyan Hastanta hanya mampu melongo saja. Sungguh Putri Andhini Andita sangat jahil sekali pada adiknya. Kasihan Putri Agniasari Ariani yang tadinya sangat berharap.


"Berikan hamba kesabaran ya Allah." Putri Agniasari Ariani malah membuat suasana dramatis, sehingga mereka semua tertawa terbahak-bahak. Namun setelah itu Putri Bestari Dhatu meminta izin pada Putri Andhini Andita untuk membuka hadiahnya.


"Baiklah, kalau begitu akan aku buka ya hadiahnya." Putri Bestari Dhatu tidak sabar ingin melihat hadiah apa yang akan ia dapatkan.


Namun saat itu, kedua ratu Kerajaan Suka Damai datang menghampiri mereka. Sehingga tidak jadi dibuka. Karena pandangan merek semua teralihkan dengan kedatangan Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Ibunda." Mereka semua memberi hormat pada Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Sepertinya ada yang istimewa. Apakah ada sesuatu?."


"Tidak apa-apa ibunda. Hanya hadiah kecil saja untuk yunda bestari."


"Jadi begitu?. Bagaimana dengan kandungan mu nak?. Apakah sehat-sehat saja?."


"Alhamdulillah, sehat ibunda."


"Alhamdulillah kalau begitu nak. Kami senang mendengarnya."


"Lalu bagaimana dengan persiapan kalian malam nanti?. Malam nanti kita akan melaksanakan sholat tarawih."


"Kami sudah melakukan persiapan ibunda."


"Nanda telah melakukan persiapan ibunda."


"Nanda juga ibunda."


"Hamba juga telah melakukan persiapan gusti ratu."

__ADS_1


"Alhamdulillah, dengan begitu kita benar-benar telah siap untuk menyambut bulan puasa."


"Rasanya aku tidak sabar lagi ingin melakukan puasa besok."


"Memangnya yunda sanggup?."


"Jangan menganggap remeh putri andhini andita. Bahkan satu hari tidak makan pun aku bisa melakukannya."


"Baiklah yang mulia putri raja bahuwirya andhini andita."


Mereka semua tidak tahan dengan kelakuan dua kakak adik yang mengundang gelak tawa mereka. Akan tetapi, tawa mereka harus tertahan sejenak. Saat prajurit istana datang.


"Mohon ampun gusti ratu, gusti putri, raden."


"Ada apa apa prajurit?. Katakan pada kami."


"Saat ini gusti ratu agung bahuwirya ambarsari bimantara sedang menuju kemari."


"Yunda ratu agung?." Putri Andhini Andita semakin tambah semangat. Ia langsung bergegas menjemput Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.


"Baiklah prajurit, kami akan segera ke sana."


"Kalau begitu hamba pamit dulu gusti ratu, gusti putri, raden." Prajurit tersebut pergi meninggalkan tempat, dan melanjutkan tugasnya.


Sementara itu, mereka semua menyusul Putri Andhini Andita yang pergi duluan. Padahal mereka semua sangat merindukan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.


...***...


Di Wisma tamu Kerajaan. Kedua pangeran dari kerajaan Buana Dewa sepertinya sedang gelisah, menunggu kabar sang prabu. Apakah masih lama menjelang malam?. Mereka hanya merasa terburu oleh waktu. Namun mereka juga takut pada ancaman dari Putri Andhini Andita.


"Aku tidak menyangka, jika wanita yang bertemu dengan kita tadi itu adalah kakaknya gusti prabu. Apa yang harus kita lakukan raka?."


"Sepertinya ini akan sulit rayi. Tapi kita harus tetap mencobanya. Jika kita gagal, maka kerajaan buana dewa hanya tinggal nama saja."


"Kita harus mencobanya, meskipun menggunakan berbagai cara. Bahkan bersujud dihadapan gusti prabu untuk mendapatkan keris kembar itu raka."


"Memangnya kau bisa melakukannya?. Bersujud dihadapan orang lain. Apakah kau mau melakukannya?."


"Akan aku lakukan, jika itu bisa membuat sang prabu luluh nantinya raka."


"Terserah kau saja. Asalkan urat malumu belum lepas. Tapi aku tidak mau ikutan. Maaf saja, aku tidak ahli yang seperti itu."


"Baiklah. Raka lihat saja nanti bagaimana. Tapi aku sangat berharap, wanita galak itu tidak mempersulit kita nantinya raka."


*Siapa yang panggil wanita galak?.*


"Hii." Entah mengapa Raden Jatiya Dewa jadi merinding sendiri setelah mengatakan Putri Andhini Andita wanita yang galak. Seakan-akan ia mendengarkan suara itu memarahinya. "Membayangkannya saja membuatku jadi takut."


Sedangkan Raden Antajaya Dewa hanya melihat aneh tingkah laku adiknya itu. "Hanya besar mulut saja, tapi aslinya penakut juga. Hadeh. Ini sangat gawat sekali." Dalam hati Raden Antajaya Dewa merasa ragu, jika adiknya benar-benar akan melakukan itu. Pasti adiknya sangat takut dengan sikap galak dari Putri Andhini Andita. Bahkan ketika itu, adiknya langsung tidak berkutik. Langsung meminta maaf pada putri Andhini Andita tanpa ada perlawanan lagi. Rasanya sudah hampir pupus lah harapan mereka untuk mendapatkan keris kembar itu dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


...***...

__ADS_1


__ADS_2