
...***...
Sementara itu. Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani tidak sengaja berpas-pasan dengan rombongan Prabu Guntur Herdian.
"Mohon ampun gusti prabu. Apakah gusti prabu hendak ke istana kerajaan suka damai?." Putri Andhini Andita bertanya karena arah yang mereka lalui kebetulan sama.
"Benar. Kami ingin menuju istana kerajaan suka damai. Apakah tuan putri sekalian ingin ke sana?." Prabu Guntur Herdian kembali bertanya.
"Mereka adalah yunda dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana ayahanda." Raden Harjita Jatidi masih mengingat wajah cantik kedua putri Kerajaan Suka Damai.
"Oh. Kalau begitu kebetulan kami juga hendak ke sana. Kalau begitu naiklah tuan putri." Prabu Guntur Herdian menawarkan tumpangan pada mereka.
Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani saling berpandangan. Padahal mereka sedang terburu-buru karena ingin melihat keadaan Jaya Satria.
"Terima kasih atas tumpangannya gusti prabu." Putri Andhini Andita menerima tawaran itu. Rasanya sangat tidak sopan menolak tawaran dari seorang Raja yang baik.
"Mari rayi." Putri Andhini Andita mempersilahkan adiknya terlebih dahulu menaiki berati yang cukup muat untuk beberapa orang.
"Terima kasih yunda." Putri Agniasari Ariani menyambut pegangan tangan kakaknya. Setelah itu ia juga naik ke atas bedati itu.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Istana Kerajaan Suka Damai.
"Apakah nimas cahya candrakanti tidak ikut serta?." Putri Agniasari Ariani bertanya penasaran karena tidak melihat keberadaan Putri Cahya Candrakanti tidak ada bersama mereka.
"Tadinya ia ikut bersama kami. Tapi ia malah pergi duluan ke istana kerajaan suka damai. Katanya ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan jaya satria." Jawab Ratu Cahya Bhanurasmi dengan senyuman ramah.
"Memang tidak sabaran sekali putri saya itu." Prabu Guntur Herdian malah menertawakan putrinya?.
"Ia memang begitu jika tidak sabaran ayahanda." Raden Harjita Jatidi sangat mengenali watak adiknya itu.
Sedangkan Putri Andhini Andita merasa gelisah. Karena di Istana saat ini tidak ada siapapun. Ia khawatir Putri Cahya Candrakanti malah mengambil kesempatan disaat Jaya Satria dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Akan aku bunuh dia jika berani macam-macam pada kekasih ku." Dalam hatinya muncul niat yang sangat tidak baik.
"Ya Allah. Semoga tidak terjadi perang antara kerajaan suka damai dengan kerajaan telapak tiga." Dalam hati Putri Agniasari Ariani sangat berharap tidak akan terjadi hal buruk saat mereka sampai ke Istana nantinya. Ia sangat cemas dengan perasaan cemburu yang dirasakan oleh kakaknya saat ini.
Nah. Itulah alasan mengapa Putri Cahya Candrakanti bisa berada di Istana Kerajaan Suka Damai. Karena ia mendahului rombongan ayahandanya. Rasa tidak sabarnya ingin bertemu dengan Jaya Satria lah yang mendorongnya ingin segera sampai di Istana Kerajaan Suka Damai segera mungkin. Namun siapa sangka ia malah melihat Jaya Satria bertarung dengan orang yang memilik dendam pada Jaya Satria?.
...***...
Di Kerajaan Angin Selatan.
"Gusti prabu. Akan berbahaya jika gusti prabu tidak segera memisahkan raga gusti prabu satunya lagi." Putri Bestari Dhatu sangat mencemaskan keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Jika aku mampu melakukannya, maka aku akan melakukannya nyai. Tapi rasanya mustahil aku memisahkan diri dengan ragaku yang satunya lagi. Karena ia memang bagian dari tubuhku. Bagaimana bisa aku melakukannya?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat cemas.
"Hamba akan memikirkan caranya gusti prabu. Hamba tidak mau gusti prabu celaka juga. Ini demi keselamatan gusti prabu" Putri Bestari Dhatu hanya khawatir saja.
"Tidak untuk saat ini. Tetaplah fokus pada rencana pernikahan kalian. Aku tidak mau mengganggu hari bahagia kalian." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.
"Tapi gusti prabu."
"Baiklah gusti prabu. Jika terjadi sesuatu pada gusti, jangan sungkan untuk mengatakannya pada hamba." Putri Bestari Dhatu hanya pasrah saja.
"Terima kasih atas kebaikan nyai." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bersyukur karena bertemu dengan orang-orang baik.
"Tapi rasanya aku akan berdosa jika aku memisahkan diri dari ragaku. Karena bagaimanapun juga, dia adalah hal yang berharga dari ayahanda. Jika tidak karena ayahanda maka aku tidak akan menjadi seperti ini sampai sekarang." Dalam hatinya merasa cemas jika memang ia memisahkan diri dari Jaya Satria. Pada dasarnya Jaya Satria adalah raganya juga. Tapi belum jelas bagaimana bisa mereka terpisah menjadi dua sebelum acara penobatan Raja. Penasaran?. Temukan jawabannya.
...***...
Di Kerajaan Suka Damai.
"Mengapa orang asing itu menyebutmu sebagai raden cakara casugraha?. Bukankah itu nama asli dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana?." Putri Cahya Candrakanti merasa penasaran, hingga ia memutuskan untuk bertanya langsung pada Jaya Satria.
__ADS_1
"Dia hanya salah mengenali orang gusti putri." Jawab Jaya Satria. "Tidak mungkin hamba raden cakara casugraha." Lanjutnya lagi. "Sungguh lancang sekali hamba jika berani mengaku sebagai raden cakara casugraha." Ia berusaha meyakinkan Putri Cahya Candrakanti, bahwa dirinya bukan Raden Cakara Casugraha.
"Tapi mengapa raden cakara casugraha bisa terlibat dengan orang itu?. Bahkan kau sepertinya mengetahui bagaimana orang itu dimasa lalunya." Sepertinya Putri Cahya Candrakanti belum juga percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.
"Kalau itu. Hamba pernah mendengar cerita itu dari gusti prabu." Jaya Satria asal menjawab. "Gusti prabu dulunya seorang pengembara. Jadi banyak hal yang telah beliau lalui selama pengembaraannya." Lanjutnya lagi.
Putri Cahya Candrakanti tampak berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Memang tidak mungkin rasanya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berada di sini. Apalagi menyamar mengenakan topeng di istananya sendiri.
"Baiklah. Aku percaya dengan apa yang kau katakan jaya satria. Mungkin mau benar. Orang itu hanya salah faham padamu karena kalap, dendam pada gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Sepertinya Putri Cahya Candrakanti mengerti apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.
"Alhamdulillah hirabbli 'alamin. Hamba senang jika gusti putri memahami apa yang hamba katakan." Jaya Satria merasa lega. Ia tidak perlu susah-susah lagi menjelaskan pada Putri Cahya Candrakanti, bahwa dirinya bukan Raden Cakara Casugraha.
...***...
Kembali ke masa itu. Masa dimana Raden Cakara Casugraha berada di Padang Bunga Petik Setangkai. Itulah nama daerah itu. Saat itu Raden Cakara Casugraha merasa penasaran mengapa orang-orang berkerumanan di sana?.
"Maaf kisanak. Apa yang terjadi di sana?. Mengapa ada pemuda pemudi di sana?." Raden Cakara Casugraha bertanya karena penasaran.
"Apakah kisanak bukan penduduk sini?." Lelaki itu malah balik bertanya.
"Saya seorang pengembara. Saya baru saja sampai di sini." Jawabnya.
"Pantas saja kisanak tidak mengetahui acara apa yang sedang berlangsung." Ucap lelaki itu. "Itu acara pemetik bunga setangkai. Yang artinya mencari pasangan kekasih atau calon istri." Lanjutnya lagi.
"Jadi karena itu mereka saling bertemu, saling menari untuk memikat lawannya?." Ia bertanya lagi.
"Ya, itu benar. Jika kisanak penasaran, kisanak juga boleh mengikuti acara tersebut." Lelaki itu menawarkan Raden Cakara Casugraha agar mengikuti acara tersebut?.
Raden Cakara Casugraha langsung pergi dari sana. "Jika aku mau mencari pasangan, rasanya tidak akan melakukan hal yang semacam itu." Raden Cakara Casugraha enggan rasanya mengikuti acara yang sama sekali tidak ia sukai. Lebih baik ia melanjutkan perjalanannya ke desa lain.
Namun apa yang ia lihat saat matanya menatap seorang pemuda yang sedang marah-marah pada seorang wanita?. Apalagi pemuda itu memperlakukan wanita itu dengan kasarnya.
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya.
...***...