
...***...
Ratu Dewi Anindyaswari mengambil pakaian untuk kedua anaknya. Ia takut kedua anaknya akan sakit, jika tidak segera berganti pakaian.
"Bagaimana nak?. Apakah masih terasa gatal?."
"Tidak ibunda. Sudah agak mendingan dari yang tadi."
"Nanda baik-baik saja ibunda. Terima kasih karena ibunda telah merawat nanda dengan baik. Terima kasih juga ayahanda prabu."
"Syukurlah nak. Ibunda sangat senang mendengarnya. Ibunda sangat lega putra putri ibunda baik-baik saja." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lega mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua anaknya.
"Syukurlah nanda berdua sudah baikan. Ayahanda sangat lega mende." Prabu Kawiswara Arya Ragnala merasa bersyukur, ia sangat cemas dengan keadaan kedua anaknya.
"Kami baik-baik saja ayahanda. Karena rayi cakara casugraha segera membawa nanda ke ruang pengobatan." Putri Agniasari Ariani tersenyum lembut pada kedua orangtuanya. Ia tidak lagi merasakan gatal, karena obat yang diberikan tabib Darsa cepat bekerja.
"Terima kasih nanda begitu perhatian pada yundamu nak. Tetap jaga yundamu dengan baik ya nak." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lembut menatap putranya. Ia elus puncak kepala anaknya, tak lupa ia mencium puncak kepala anaknya dengan sayang. "Ibunda bangga padamu nak." Ratu Dewi Anindyaswari begitu menyayangi anaknya. Ia sangat lega, karena anaknya selalu melindungi kakaknya dalam kondisi apapun.
"Nanda akan selalu melindungi yunda. Karena yunda adalah kakak yang baik. Kakak yang sangat nanda sayangi ibunda."
"Oh putraku cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk sayang anaknya. Ia sangat bahagia mendengarnya.
"Meskipun putraku cakara casugraha seorang yang pemarah. Namun aku bersyukur, karena ia sangat peduli dengan saudarinya." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat merasa bangga pada sikap anak bungsunya. "Mereka akan aku hukum, karena mereka telah membuat cakara casugraha, agniasari ariani kesakitan seperti ini." Ada kemarahan yang dirasakan oleh sang Prabu. Masalah ini tidak bisa dibiarkan lagi. "Mereka sudah sangat keterlaluan sekali." Ia tidak akan memaafkan apa yang telah dilakukan Raden Ganendra Garjitha pada kedua anaknya dari Ratu Dewi Anindyaswari. Apa yang akan dilakukan oleh sang Prabu?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke masa sekarang.
Ratu Dewi Anindyaswari masih bersama putranya Jaya Satria. Hatinya sangat pedih, mengingat apa saja yang telah dilalui oleh kedua anaknya.
"Nanda selalu menjadi pelindung yundamu. Dengan kasih sayang yang nanda berikan, yundamu merasa aman jika bersamamu nak. Bahkan ibunda juga merasakan perlindungan yang nanda berikan pada ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba mengingat apa saja yang terjadi di masa lalu.
"Ibunda. Jangan ibunda ingat lagi hal yang menyakitkan seperti itu. Masa lalu biarlah berlalu ibunda." Jaya Satria hanya tidak ingin ibundanya larut dalam kesedihan yang ia rasakan. "Ibunda harus kuat, dengan keadaan ananda. Ibunda adalah wanita yang kuat. Jadi ibunda harus tabah, jika kami merasakan sakit, atau bahkan hal yang buruk sekalipun ibunda."
"Ibunda selalu menguatkan diri. Bahkan ketika nanda pergi dari Istana ini. Ibunda selalu menguatkan diri ibunda nak." Entah mengapa kali ini ia tidak dapat lagi menahan kesedihannya. Hatinya sangat sedih, mengingat semua yang dialami oleh putra yang ia kasihi sepenuh hatinya.
__ADS_1
"Ibunda selalu mencoba menguatkan diri ibunda. Bahkan yundamu menangis setiap hari, menunggu kepulangan mu nak. Rasanya kami tidak sanggup berpisah. Karena separuh jiwa ibunda telah pergi bersama nanda, ketika ibunda menyaksikan nanda melangkah pergi meninggalkan istana ini." Hatinya seperti tersayat sembilu. Ketika mengingat kembali hari dimana anaknya terusir dari Istana Kerajaan Suka Damai.
"Begitu banyak masalah yang nanda hadapi. Tapi nanda selalu berusaha untuk menguatkan diri, hingga akhirnya nanda terusir dari istana ini dalam waktu yang sangat lama nak."
Kembali ke masa itu.
...***...
prabu Kawiswara Arya Ragnala sedang berada di ruang pribadinya. Tiba-tiba saja Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati masuk, dengan raut wajah yang cemberut, mereka datang menemui Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Ada apa dinda berdua datang menemui kanda?."
"Dinda ingin memastikan sesuatu kanda prabu."
"Benar kanda prabu. Kami ingin mendengarkannya langsung dari kanda prabu."
"Tenanglah dinda. Katakan pada kanda dengan tenang. Apa yang membuat dinda berdua begitu cemas?." Sang Prabu mempersilahkan kedua istrinya untuk duduk di kursi yang ada di hadapan mereka.
Keduanya dengan patuh mengikuti arahan sang Prabu, untuk duduk.
"Kenapa kanda menghukum mereka tanpa sepengetahuan kami?. Apa salah mereka kanda?."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghela nafasnya dengan pelan. "Jadi karena itu dinda berdua menemui kanda?."
"Ya. Dinda merasa keberatan, karena kanda menghukum putra putri dinda."
"Dinda tidak setuju dengan hukuman yang kanda berikan pada putra putri dinda."
"Dinda berdua harusnya lebih menjaga putra putri dinda. Kenapa bisa berbuat tidak baik pada adik mereka cakara casugraha dan agniasari ariani?. Apa salah mereka hingga diperlakukan buruk seperti itu?."
"Harusnya kanda prabu mengetahui, mengapa putra putri dinda melakukan itu."
"Putra putri dinda melakukan itu, karena anak-anak rayi dewi sudah keterlaluan. Mengancam mereka, ingin menghajar putri dinda. Apakah kanda tidak mengetahui betapa ketakutan begitu besar yang dirasakan oleh putri dinda ambarsari."
"Putri dinda, andhini andita juga sangat takut kanda. Ancaman yang diberikan nanda cakara casugraha sungguh tidak bisa diampuni kanda."
__ADS_1
"Nanda cakara casugraha telah menceritakan semuanya pada kanda. Mereka tidak melakukan apapun. Mereka berlatih ilmu kanuragan, akan tetapi putra dinda. Nanda ganendra garjitha menyiram air yang dibubuhi serbuk bambu. Hingga tubuh keduanya gatal-gatal kesakitan. Apa yang mereka lakukan itu sangat berbahaya dinda. Mereka bisa mengalami penyakit kulit, jika tidak segera diobati."
"Kenapa kanda selalu saja membela putra putri dari rayi dewi. Apakah kanda sudah tidak menyayangi anak-anak dari Dinda?."
"Ya, akhir-akhir ini kanda lebih membela anak-anak dari rayi dewi. Apakah kanda sudah tidak menyayangi anak-anak dinda lagi?."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghela nafasnya dengan beratnya. Kedua istrinya merasa dibedakan perlakuan anak-anak mereka.
"Dinda. Kanda menghukum mereka. Agar mereka menyadari, apa yang mereka lakukan itu adalah tindakan yang sangat berbahaya. Tentunya kanda sangat menyayangi semua anak-anak kanda tanpa membedakan mereka semua."
"Tapi buktinya kanda menghukum anak-anak dinda."
"Ya. Dinda percaya, jika kanda prabu menghukum mereka karena hasutan dari rayi dewi, juga putranya itu yang pandai dalam merangkai kata, sehingga kanda menghukum anak-anak dinda."
"Jaya ucapan kalian!." Rasanya hilang kesabaran sang Prabu. Karena kedua istrinya sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang ia sampaikan pada mereka berdua.
Tentunya kedua Ratu Kerajaan Suka Damai terkejut mendegarkan bentakan keras dari Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Kanda menghukum mereka, karena mereka telah berbuat salah. Dinda berdua jangan melibatkan orang lain, dalam hukuman yang telah kanda tetapkan untuk mereka jalani."
"Lihatlah!. Betapa pilih kasihnya kanda."
"Ya, kanda prabu selalu saja memperlakukan kami seperti penjahat. Kami tidak terima ini kanda prabu."
Rasa sakit hati dan tidak puas yang ia tunjukan pada mereka semua.
"Dinda berdua tenanglah. Kanda tidak bisa bekerja karena dinda berdua masuk dalam keadaan marah."
Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Ardiningrum Bintari saling bertatapan. Apakah sang prabu telah mengusir mereka secara tidak halus?.
"Ingat kanda!. Jangan salahkan anak-anak dinda. Jika mereka tidak membantu kanda dalam menyelesaikan masalah, jika kanda prabu tidak peduli pada mereka."
"Dinda harap kanda lebih bijak lagi dalam menyelesaikan masalah. Karena tidak ada keadilan yang kami miliki."
Setelah berkata seperti itu, ia pergi meninggalkan tempat. Rasa tidak puas ia tunjukkan pada sang prabu.
Bagaiman kisah selanjutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...****...