
Raden Jatiya Dewa sangat gugup melihat tatapan mata Putri Andhini Andita yang sangat menyeramkan ke arahnya.
"Aku dari tadi ingin bertanya padamu jatiya dewa. Apa yang membuatmu datang ke istana ini dengan membawa barang bawaan seperti itu?. Apakah kau kabur dari istana mu?." Begitu dalam tatapannya sehingga Raden Jatiya Dewa semakin tidak nyaman.
"Jangan seperti itu yunda. Tidak baik menekan tamu dengan pertanyaan seperti itu yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga menyadari keberadaan Raden Jatiya Dewa karena ia tadi fokus dengan masalah yang terjadi.
"Aku hanya bertanya biasa saja rayi prabu." Putri Andhini Andita menatap adiknya yang seakan membela Raden Jatiya Dewa.
Suasana mendadak panas, perang antara dua kubu saling bertentangan. Mereka semua yang menyaksikan itu merasa sangat canggung luar biasa.
"Sudahlah yunda, rayi. Kita saat ini sedang berpuasa. Akan sia-sia puasa kita hanya menuruti kemarahan masing-masing." Putri Agniasari Ariani mencoba mengingatkan mereka.
Keduanya menghela nafas dengan pelan. Tidak ada tanggapan lagi, atau bantahan.
"Raden jatiya dewa. Mari ikuti aku. Ada hal penting yang harus kita selesaikan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil menatap Raden Jatiya Dewa.
"Sandika gusti prabu." Balas Raden Jatiya Dewa memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aku harap kalian berdua untuk sementara waktu beristirahat lah di sini. Aku akan menemui kalian jika keadaan kalian telah pulih." Kali ini menatap Tangkas Baron dan Soban Arus.
"Terima kasih gusti prabu." Keduanya memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kalau begitu kami akan menemui ibunda. Karena tadi ibunda menanyai yunda andhini andita." Putri Agniasari Ariani menarik tangan kakaknya agar tidak menatap ke arah Raden Jatiya Dewa lagi. "Mari yunda. Jangan buat ibunda menunggu terlalu lama." Senyuman itu terlihat mengerikan sekali. Membuat siapa saja yang melihatnya akan bergidik ngeri.
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu." Putri Andhini Andita akhirnya mengalah. Mereka bertiga meninggalkan tempat. Untuk menemui Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati.
__ADS_1
"Kalau begitu kami juga pamit. Sampurasun." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga meninggalkan ruangan pengobatan. Begitu juga dengan Raden Jatiya Dewa yang memiliki urusan yang sangat penting dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sungguh keluarga yang sangat mengerikan jika marah." Dalam hati Tangkas Baron merasa ngeri melihat bagaimana mereka tadi. Terutama Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani.
"Untung saja aku masih hidup dan tidak jadi dikuliti wanita galak itu." Nyali Soban Arus jadi ciut begitu saja saat melihat mereka yang memiliki aura yang menyeramkan.
"Lain kali aku akan melihat dulu siapa yang akan aku hadapi." Setidaknya itu yang ada di dalam benak mereka setelah melihat dengan langsung bagaimana garangnya hubungan mereka.
...***...
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengajak Raden Jatiya Dewa menuju ruangannya. Saat itu ia melakukan jurus belah raga?. Ah tidak, tanpa melakukan jurus itu, ia bisa melakukannya.
"Jurus belah raga?." Dalam hati Raden Jatiya Dewa tercengang melihat sosok Jaya Satria.
"Terima kasih raja prabu." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memberi hormat pada Jaya Satria. Setelah itu Jaya Satria pergi menemui Syekh Asmawan Mulia yang mungkin berada di mushola istana.
"Sebenarnya aku hanyalah raga kedua raden cakara casugraha. Tapi sebagi raja, raka prabu sangat menghormati siapa saja bahkan dirinya sendiri." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia mengerti reaksi dari Raden Jatiya Dewa.
"Jadi begitu ya?. Rasanya agak aneh saja." Raden Jatiya Dewa tidak mengerti, namun ia juga bukan tipe orang yang ingin mengetahui segala hal. Ia hanya menghormati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebagai raja yang telah membantu kerajaannya dari roh jahat. Dan kini tujuannya menemui Prabu Asmalaraya Arya Ardhana adalah untuk belajar agama islam dengan baik.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Syekh Asmawan Mulia mengucapkan salam saat masuk ke ruangan pribadi raja.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, syekh guru. Masuklah syekh guru." Sambut Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, sambil mempersilahkan Syekh Asmawan Mulia duduk bersama mereka. Setelah itu mereka kembali menyatukan kedua raga itu dalam satu raga.
"Syekh guru. Seperti yang nanda katakan sebelumnya. Bahwa raden jatiya dewa ingin belajar agama islam. Karena rasanya tidak mungkin belajar di istana ini. Nanda mohon agar syekh mengantar raden jatiya dewa ke padepokan bersama jaya satria."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Hamba akan mengantarnya setelah sholat ashar nanti."
"Terima kasih syekh guru."
"Hamba juga mengucapkan terima kasih pada gusti prabu karena telah membantu hamba mau belajar agama islam." Raden Jatiya Dewa juga bersyukur karena telah diterima dengan baik.
...***...
Sementara itu masih dilingkungan Istana Kerajaan Suka Damai. Raden Hadyan Hastanta masih bersama istrinya. Antara cemas dan waspada saat istrinya mengeluh sakit di bagian perutnya.
"Apakah baik-baik saja dinda?. " Sesekali tangannya mengelus perut istrinya.
"Aku baik-baik saja kanda. Mungkin ini yang pertama, karena itulah agak terasa sulit kanda." Putri Bestari Dhatu mencoba untuk tersenyum, karena ia tidak mau membuat Raden Hadyan Hastanta mengkhawatirkan keadaannya.
"Kanda telah menyuruh prajurit kepercayaan untuk menyampaikan surat dinda kepada ayahanda serta ibunda yang berada di istana kerajaan angin selatan. Mungkin dua atau tiga hari lagi akan sampai. Harap dinda lebih bersabar menunggu tanggapan dari ayahanda prabu juga ibunda ratu."
"Terima kasih kanda." Putri Bestari Dhatu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Senyumannya tak henti-hentinya terpampang di wajahnya. "Terima kasih untuk semuanya kanda. Dinda sangat bahagia atas apa yang kanda berikan pada dinda." Lanjutnya lagi sambil menatap suaminya dengan senyuman lembut.
Rasanya Raden Hadyan Hastanta ingin menangis mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Bestari Dhatu. Ia kecup sayang kening istrinya sebagai ungkapan kasih sayangnya yang luar biasa. "Justru kanda lah yang sangat berterima kasih pada dinda." Senyumannya terlihat sangat menawan. "Meskipun pernikahan kita karena dijodohkan rayi prabu. Terima kasih karena dinda telah menyayangi kanda dengan sepenuh hati dinda. Rasanya kanda adalah laki-laki yang sangat beruntung memiliki dinda." Lanjutnya lagi. Meskipun di dalam hatinya terselip rasa cemas, karena ia beranggapan, bahwa Putri Bestari Dhatu hanya menganggapnya sebagai pengganti adiknya saja. Ternyata dugaannya sangat salah. Putri Bestari Dhatu sangat mencintai dirinya dengan apa yang ia miliki selama ini.
"Cinta terkadang memang meragukan kanda. Jadi kanda tidak perlu merasa bersalah. Namun bagi dinda, kanda adalah laki-laki yang baik. Kanda menerima dinda dengan sangat baik. Jadi kanda pantas mendapatkan hal yang baik pula." Ia kembali menyandar di bahu suaminya. Mencari kenyamanan saat bersama sang suami yang sangat ia cintai.
"Terima kasih banyak dinda. Semoga Allah SWT selalu memberikan kebaikan pada dinda. Kanda akan selalu setia bersama dinda selamanya." Itulah janji Raden Hadyan Hastanta pada hari itu. Pada bulan puasa, bulan yang baik. Apakah memang cinta mereka akan bertahan?. Atau Raden Hadyan Hastanta akan mencari wanita lain seperti pada umunya laki-laki pada saat itu tidak cukup hanya dengan wanita saja dikalangan istana?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. Apakah yang akan terjadi pada cinta mereka?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1