RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MASALAH YANG DIHADAPI


__ADS_3

...***...


Di Istana Kerajaan Suka Damai.


"Kanda prabu. Kenapa kanda prabu tidak menghukum nanda cakara casugraha. Ia telah berbuat salah kanda." Ratu Ardiningrum Bintari masih saja belum menerima jika Raden Cakara Casugraha dihukum berat oleh suaminya Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Kanda telah menghukumnya dinda." Balas Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap istrinya dengan senyuman ramah.


"Apa maksud kanda prabu?. Dinda sama sekali tidak mendengar nanda cakara casugraha dihukum." Ratu Ardiningrum Bintari merasa aneh dengan ucapan suaminya.


"Kanda telah memberikan hukuman padanya, dengan memberikan ia tugas. Menyelesaikan masalah yang ada di desa damai setia." Jawab sang prabu.


Saat ini mereka berada di Taman Istana. Ia baru saja menerima laporan dari teluk sandi, apa saja yang telah dikerjakan oleh putranya selama di desa Damai Setia. Namun siapa sangka istrinya malah datang dengan wajah yang kurang menyenangkan sama sekali.


"Nanda cakara casugraha dihukum di desa damai setia?." Ratu Ardiningrum Bintari tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Apakah dinda melihat nanda cakara casugraha berada di istana?. Kanda telah menghukumnya dengan berat. Lalu apa lagi yang dinda inginkan?." Jawab Sang Prabu dengan herannya.


"Memang dinda tidak melihat nanda cakara casugraha berada di istana." Ucapnya sambil berpikir. "Tapi Dinda tidak menyangka jika kanda menghukumnya sampai ke sana." Ucapnya lagi.


"Apakah dinda merindukan nanda cakara casugraha?. Kalau begitu kanda akan menyuruhnya untuk kembali." Prabu Kawiswara Arya Ragnala melihat perubahan raut wajah istrinya.


"Ah tidak kanda. Biarkan nanda cakara casugraha menyelesaikan hukumannya." Entah mengapa ia merasa senang dengan hukuman yang diterima oleh Raden Cakara Casugraha. "Maaf jika dinda mengganggu kanda." Ia tersenyum manis.


"Baiklah. Kalau begitu kanda akan kembali melakukan tugas. Apakah dinda ingin ikut kanda menuju desa damai abdi bersama kanda?." Sang prabu sedikit menguji istrinya.


"Semangat bertugas kanda prabu. Dinda mau melihat kondisi anak-anak. Mereka dinda tinggal tadi sebentar." Ucapnya sedikit gugup. "Dinda pamit dulu. Sampurasun." Setelah itu ia pergi meninggalkan Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan alasan ingin melihat keadaan anak-anaknya.


Sang Prabu berusaha untuk memahaminya. Ia hanya tidak percaya jika Ratu Ardiningrum Bintari istrinya masih saja mempermasalahkan hukuman putranya Raden Cakara Casugraha.

__ADS_1


"Semoga saja putraku cakara casugraha bisa mengatasi masalah di sana. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatannya." Sang Prabu sangat mencemaskan keadaan anaknya yang harusnya belum terlibat dengan masalah negeri ini.


"Akan tetapi, menurut laporan telik sandi tadi. Putraku cakara casugraha sedang menyamar, karena ia tidak mau diketahui siapa saja. Ia juga membantu aki lurah untuk memperbaiki beberapa tempat yang rusak. Selain itu, ia telah mendengarkan semua keluhan mereka semua." Sang Prabu antara gelisah dan senang mendengarkannya.


Senang, karena anaknya bisa membantu desa itu tanpa diketahui identitasnya. Gelisah?. Sang prabu takut, jika anaknya akan marah dan lepas kendali, saat mendengarkan keluhan mereka semua tentang dirinya.


"Aku hanya berharap, jika putraku cakara casugraha bisa mengendalikan amarahnya. Aku yakin kau bisa melakukannya putraku." Dalam hati sang Prabu hanya berharap, jika anaknya bisa melalui ujian itu dengan baik.


Bagaimana jawabannya?. Baca terus ceritanya.


...***...


Malam hampir menyapa. Raden Cakara Casugraha dan Aki Lurah desa Damai Setia telah bersiap-siap. Mereka telah menunggu kedatangan beberapa pemuda yang siap melakukan adu tanding.


Sepertinya mereka tidak senang melihat kedatangan Aki Lurah dan juga anak muda yang sama sekali tidak mereka kenali siapa dia.


"Aki lurah!. Sudah berapa kali kami katakan!. Aki lurah tidak usah ikut campur dengan apa yang kami lakukan."


Mereka semua saling bertatapan satu sama lain. Mereka yang suka berjudi mabuk-mabukan merasa tidak senang, jika apa yang mereka lakukan dapat teguran dari Aki Lurah desa Damai Setia.


"Apa yang kalian lakukan sungguh sangat merugikan. Kalian sama sekali tidak bisa diingatkan lagi." Raden Cakara Casugraha, remaja yang tidak mereka ketahui itu. "Apakah kalian tidak sadar?. Banyak sekali kerugian yang kalian timbulkan?. Warga desa banyak yang mengeluh, ketakutan, akibat ulah kalian yang tidak bertanggungjawab." Raden Cakara Casugraha berusaha mengingatkan mereka. "Siapa yang disalahkan dalam masalah ini?. Raja!. Jelas sekali itu perbuatan kalian, namun mengapa raja yang disalahkan?. Karena warga desa tidak bisa mengatasinya, dan akhirnya malah mengeluh pada raja." Lanjutnya lagi.


Namun apa tanggapan mereka semua?.


"Hei bocah!. Kau tidak usah banyak bicara!."


"Kalau kau ingin bergabung dengan kami. Kau tidak usah banyak alasan dengan berpura-pura sok perhatian seperti itu."


"Pada akhirnya kau akan sama saja dengan kami."

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, mereka malah tertawa keras. Mereka sama sekali tidak menggubriskan apa yang telah dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. Malah mereka mulai berpesta ria.


"Bagaimana ini den?. Mereka sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang raden katakan." Aki Lurah desa Damai Setia terlihat sangat khawatir.


Raden Cakara Casugraha terdiam sejenak. Ia menghela nafasnya dengan pelan, berusaha untuk mengendalikan dirinya.


"Aki sebaiknya menepi. Saya sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan mereka. Sepertinya mereka tidak bisa diajak bicara baik-baik." Raden Cakara Casugraha terlihat sedikit berbeda dari yang sebelumnya.


"Baik den. Tapi raden berhati-hatilah." Aki Lurah desa Damai Setia hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. Ia menjaga jarak, mencari tempat aman. Takut terjadi sesuatu padanya jika Raden Cakara Casugraha sampai baku hantam dengan mereka semua.


"Hei!. Kalian semua." Raden Cakara Casugraha dengan tenangnya memanggil mereka semua. Sehingga ia menjadi pusat perhatian mereka.


"Bukan hanya kalian saja, yang bisa menggunakan kekuatan fisik kalian untuk berbuat kerusakan." Lanjutnya sambil memperlihatkan kepalan tinjunya.


Mereka semua saling bertatapan satu sama lain, ingin melihat apa yang akan dilakukan anak kecil itu pada mereka.


"Hei bocah!. Walaupun kau cucunya aki lurah. Tapi kami tidak akan takut!."


"Kau itu hanyalah bocah kemarin sore!. Jadi sebaiknya kau pulang dan tidur."


Mereka tertawa keras, menertawakan Raden Cakara Casugraha. Mereka semua tidak mengerti, dan tidak melihat. Hawa kemerahan telah menyelimuti tubuh Raden Cakara Casugraha.


"Heh!." Raden Cakara Casugraha menyeringai lebar. "Akan aku tunjukkan pada kalian, kekuatan fisik itu sungguh mengerikan. Aku harap kalian bisa meladaninya dengan baik." Ucapnya dengan tenang, sambil berjalan mendekati mereka semua.


"Benar-benar bocah bodoh!. Akan kami tunjukkan juga padamu. Jika kami mengamuk itu seperti apa."


Mereka semua menghadang Raden Cakara Casugraha. Mereka ingin melihat, berapa besar nyali yang dimiliki oleh Raden Cakara Casugraha sehingga ia berani menantang mereka semua.


Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2