RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PENGLIHATAN PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita, Ratu Dewi Anindyaswari, Ratu Gendhis Cendrawati, Putri Agniasari Ariani, dan Raden Rajaswa Pranawa saat ini telah bertemu dengan Raden Raksa Wardhana, juga ibundanya Selir Ratna Wardhani. Kedatangan yang telah sangat ditunggu oleh Putri Andhini Andita. Sedangkan Putri Bestari Dhatu sedang menunggu di luar. Menunggu kedatangan suaminya yang menjemput Prabu Asmalaraya Arya Ardhana di ruang Pribadi Raja.


"Silahkan duduk gusti, silahkan duduk raden." Putri Andhini Andita mempersilahkan keduanya untuk duduk. Tentunya sebagai tuan rumah, ia mempersilahkan tamunya untuk duduk bukan?. Supaya lebih enak saat berbicara.


"Terima kasih nimas." Raden Raksa Wardhana dan Selir Ratna Wardhani senang dengan sikap ramah dari Putri Andhini Andita.


"Selamat datang kami ucapkan. Terima kasih telah mau datang ke istana ini." Ratu Gendhis Cendrawati memberi hormat. "Saya adalah ibunda dari nanda putri andhini andita." Sebagai seorang ibu tentunya ia akan memperkenalkan dirinya.


"Terima kasih atas sambutannya gusti ratu." Selir Ratna juga memberi hormat. "Saya selir raja. Maafkan saya, jika anak saya, yang merupakan anak selir raja berani ingin meminang seorang putri raja terhormat." Ia merasa sangat rendah sekali. Namun mereka semua hanya tersenyum maklum saja.


"Jika cinta telah berkata, status apapun tentunya tidak akan menghalangi perjodohan ini. Saya yakin ini semua karena garis takdir dari Allah SWT." Ratu Gendhis Cendrawati yang buka suara.


"Hidup ini dipenuhi oleh misteri yang tidak kita duga akan seperti apa. Tapi setidaknya kita bisa mengusahakan apa yang kita inginkan. Tapi tentunya itu adalah keinginan yang baik." Ratu Gendhis Cendrawati memperhatikan calon menantunya. Lumayan jika dilihat dari segi penampilan. Itu adalah kesan pertama.


"Gusti ratu benar. Kita tidak mengetahui bagaimana kita hidup. Namun ada hal yang bisa kita usahakan, jika itu masih keinginan yang baik." Selir Ratna Wardhani membenarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Gendhis Cendrawati.


"Kenapa tidak saling mengenal nama terlebih dahulu?." Putri Agniasari Ariani yang terlihat sangat bersemangat. "Tentunya kita semua ingin mengetahui nama raden bukan?." Lanjutnya lagi dengan senyuman ramah.


Mereka semua melihat ke arah Putri Agniasari Ariani, meskipun apa yang dikatakannya benar. Tapi rasanya itu terlalu terburu-buru. Mereka hanya tertawa kecil saja.


"Kita santai saja. Anggap saja ini adalah pertemuan pertemanan yang dapat menjalin tali persaudaraan yang lebih erat lagi. Tidak baik terburu-buru, masih panjang waktu yang kita miliki." Ratu Gendhis Cendrawati tersenyum ramah menatap ke arah Raden Raksa Wardhana dan Selir Ratna Wardhani.


"Terima kasih gusti ratu. Rasanya saya sangat terhormat sekali." Selir Ratna Wardhani merasa tersanjung dengan apa yang diucapkan oleh Ratu Gendhis Cendrawati.


Saat itu juga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu datang sambil menggendong anaknya. Namum ada hal aneh yang tejadi. Ketika mata kecil Raden Sahardaya Raksa saat itu menangis keras. Membuat mereka semua merasa heran.

__ADS_1


"Sshh, cupcupcup, sayang. Kenapa malah menangis?." Putri Bestari Dhatu merasa heran dengan anaknya yang tiba-tiba saja menangis. Padahal tadinya anaknya biasa-biasa saja.


"Ada apa nak?. Kenapa tiba-tiba nanda sahardaya menangis?." Ratu Gendhis Cendrawati sedikit heran.


"Apakah tadi sudah nanda berikan susu?." Ratu Dewi Anindyaswari juga merasa heran, mungkin itu penyebab cucunya menangis?. Mereka semua kebingungan dengan keadaan yang aneh itu.


"Entahlah ibunda. Padahal tadi sudah nanda berikan susu." Putri Bestari Dhatu juga heran kenapa anaknya menangis tanpa alasan.


"Kalau begitu mari duduk dulu dinda." Raden Hadyan Hastanta mempersilahkan istirnya untuk duduk.


Deg!!!.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut saat melihat sesuatu yang tersodor di depan matanya saat ini. Matanya melotot lebar, dan hampir saja tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Raka prabu!. Raka prabu!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang berusaha untuk berkomunikasi dengan Jaya Satria.


"Ya. Aku melihatnya rayi prabu." Jaya Satria yang berada di suatu tempat langsung merespon.


"Apa yang harus aku lakukan raka prabu?. Apakah aku-." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi?.


"Tidak rayi prabu. Berpura-pura lah tidak melihat. Suruh saja yunda bestari dhatu membawa anaknya dari ruangan itu. Jangan katakan pada mereka untuk saat ini. Maka yunda-." Jaya Satria tidak ingin kakaknya kecewa jika ia mengatakan apa yang ia lihat.


"Baiklah raka prabu. Aku akan diam saja untuk saat ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menekan perasaanya yang aneh.


"Kalau begitu aku akan pergi ke sana untuk memastikannya. Tetaplah di sana, aku akan memberi tahu padamu, saat aku memastikannya." Jaya Satria memberi tahu pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Kalau begitu pastikan dengan baik raka prabu. Berhati-hatilah." Setelah itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatur hawa murninya.

__ADS_1


"Ada apa nak?. Apakah terjadi sesuatu?." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit khawatir, saat melihat anaknya seperti itu.


"Ada apa rayi prabu?. Apakah ada sesuatu aneh yang terjadi?." Putri Andhini Andita terlihat cemas.


"Oh. Tidak ibunda, yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tersenyum kecil. Mencoba bersikap biasa-biasa saja.


"Oh syukurlah nak." Ratu Dewi Anindyaswari lega mendengarnya.


"Syukurlah kalau begitu rayi prabu." Putri Andhini Andita juga lega mendengarnya.


Saat itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke arah Putri Bestari Dhatu. "Yunda bestari. Mungkin nanda sahardaya mengantuk." Ia memberi kode padanya. "Sebaiknya yunda tidurkan saja nanda sahardaya. Anak kecil memang rewel jika mengantuk. Ada-ada saja yang terlihat olehnya, sehingga ia mengantuk." Kode tangan itu hanya dipahami oleh orang-orang ahli obat saja.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Bestari Dhatu sangat terkejut dengan maksud dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Baiklah rayi prabu. Maaf, aku harus menidurkan nanda sahardaya dulu. Maaf ibunda." Putri Bestari Dhatu langsung membawa anaknya keluar. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya.


"Raka, ikutlah dengan yunda. Kami di sini tidak apa-apa. Ini hanyalah pertemuan awal saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyuruh Raden Hadyan Hastanta untuk mengikuti istrinya.


"Baiklah rayi." Raden Hadyan Hastanta hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh adiknya. Mungkin ia akan meminta penjelasan dari istrinya, apa yang terjadi.


"Maaf, jika terjadi kesalahan. Maklum, anak-anak jika mengantuk memang suka rewel." prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tersenyum pada kedua tamu terhormat.


"Oh, memang begitulah anak kecil. Apalagi nanda sahardaya masih sangat kecil." Ratu Gendhis Cendrawati tentunya memahami apa yang terjadi.


"Maaf jika gusti juga raden merasa tidak nyaman." Putri Andhini Andita merasa bersalah karena sempat terganggu oleh tangisan Raden Sahardaya Raksa.


"Tidak apa-apa nimas. Kami memakluminya." Raden Raksa Wardhana hanya tersenyum kecil.


"Tapi kami tidak menyangka, jika keluarga istana ini telah memiliki cucu." Selir Ratna Wardhani tersenyum kecil melihat bagaimana suasana ramai itu.

__ADS_1


Namun apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Sebenarnya apa yang dilihat oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Selain itu, kode apa yang ia berikan pada Putri Bestari Dhatu?. Rasanya ada rahasia yang sedang tersembunyi saat ini. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2