RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERASAAN PUTRI ANDHINI ANDITA


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap langit malam di taman. Setelah sholat magrib, ia merasakan kegelisahan yang sangat luar biasa. Namun saat itu Putri Andhini Andita datang menghampirinya.


"Tidak baik, seorang raja melamun terlalu jauh. Nanti takutnya kesurupan."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan kakaknya itu. Tapi setelah itu ia menyapa kakaknya. "Yunda. Selamat malam yunda."


"Selamat malam juga rayi prabu." Putri Andhini Andita juga ikut duduk di sebelah adiknya. "Tidak biasanya rayi prabu yang duluan datang ke sini. Apakah ada sesuatu, yang sedang Rayi pikirkan?."


"Apakah aku tidak boleh datang ke sini yunda?."


"Boleh. Asalkan kau dalam wujud jaya satria." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. Dan mencoba menjahili adiknya itu?. Bisa jadi seperti itu, karena untuk menghilangkan rasa canggung di dalam dirinya.


"Apa bedanya yunda. Apa bedanya jika jaya satria, ataupun cakara casugraha yang datang ke sini yunda."


"Baik itu dalam wujud jaya satria, ataupun kau yang asli. Rasanya memang tidak ada bedanya." Putri Andhini Andita tersenyum kecil sambil menatap langit malam. "Rasanya aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini. Apakah aku telah terkena kutukan. Karena dimasa lalu aku sangat membencimu cakara casugraha."


"Entahlah yunda. Aku tidak mengerti. Kenapa yunda bisa mencintai jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bertanya-tanya pada dirinya, juga pada Putri Andhini Andita.


"Perasaan itu seperti angin rayi."


"Seperti angin?."


"Ya. Datang seperti angin. Berhembus pelan, ketika suasana hati sedang bagus. Namun akan menjadi bencana, jika suasana hatinya sedang kacau."


"Lalu bagaimana dengan yunda?."


"Angin puyuh. Yang tidak bisa aku kendalikan. Mengobrak-abrik hatiku, sehingga aku merasakan sakit, mengetahui kenyataan. Bahwa kau adalah adikku." Meskipun ia tersenyum, namun ada perasaan sakit yang membalut hatinya.


"Maafkan aku sekali lagi yunda."


"Kau tidak bersalah sama sekali cakara casugraha. Yang salah itu adalah aku. Aku yang menyimpan perasaan cinta itu, dan merasakan perasaan yang nyaman, hanya karena perhatian yang diberikan jaya satria. Namun tidak bisa membenci, walaupun mengetahui kau itu adalah adikku. Rasanya itu sangat aneh bukan?."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya terdiam, karena ia tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


"Seketika aku ingat pada saat aku diselamatkan oleh seseorang bertopeng. Siapa sangka jika itu adalah kau rayi. Aku tidak menyangka orang yang aku intip bersama ayahanda prabu, juga bersamamu itu adalah kau." Putri Andhini Andita mengingat semua kejadian yang telah berlalu. "Yang mengejutkan adalah kau menjadi dua raga. Dan siapa sangka aku malah menyukaimu." Ia mencoba untuk tersenyum kecil sambil mengingat bagaimana pertama kalinya ia bertemu dengan Jaya Satria, ketika mendiang ayahandanya masih hidup.


Kembali ke masa itu.


Dimana Putri Andhini Andita yang sedang kesal pada kakaknya Raden Hadyan Hastanta yang memaksanya untuk berlatih ilmu kanuragan. Ia sama sekali tidak suka dengan latihan yang membuatnya cepat lelah.


Putri Andhini Andita saat ini sedang berada di hutan yang tak jauh dari istana. Namun siapa sangka ia malah bertemu dengan beberapa orang yang terlihat menyeramkan.


"Hei manis. Bagaimana kalau kita bersenang-senang hum?."


"Kau terlihat sangat cantik sekali."


"Rasanya pasti sangat menyenangkan jika kau bermain dengan kami."


"Jaga ucapan kalian. Aku ini seorang putri raja. Kalian akan dihukum mati, jika kalian berani bersikap kurang ajar padaku."


Mereka bertiga malah tertawa keras, karena apa yang dikatakan Putri Andhini Andita.


"Itu sungguh hebat, jika kami bisa membawamu ke tempat lelang dan menjual mu dengan mahal."


"Ini akan menjadi pendapatan yang sangat menguntungkan bagi kita."


Putri Andhini Andita merasa terancam, ia merasakan ada niat yang tidak baik dari ketiga orang itu. "Aku peringatkan pada kalian. Agar tidak macam-macam denganku!."


"Ahahaha ternyata dia galak juga."


"Aku suka dengan wanita galak."


"Sudahlah manis. Jangan melawan. Kau sendiri yang akan celaka nantinya."


Putri Andhini Andita mundur, ia tidak mau disentuh oleh mereka. Jantungnya berdetak kencang, karena mereka malah terus maju, ingin menangkap dirinya. Putri Andhini Andita mencoba untuk melarikan diri, namun sepertinya ketiga orang itu tidak akan membiarkannya melarikan diri.


"Hei kau!. Sebaiknya jangan lari!. Ikuti saja kami dengan baik!. Maka kau akan dalam keadaan baik-baik saja."


"Jangan ikuti aku!. Aku tidak mau mengikuti kalian." Putri Andhini Andita terus berlari dengan kencang. Namun sayangnya ia tertangkap. "Lepaskan aku! Lepaskan!."

__ADS_1


Akan tetapi mereka malah tertawa keras, seakan ada sebuah lawakan saat itu. Tentunya Putri Andhini Andita semakin panik, dan berteriak minta tolong.


Sepertinya nasib baik masih berpihak pada Putri Andhini Andita. Karena ketiga orang itu diserang oleh seseorang. Sehingga mereka terjerembab menjauhi Putri Andhini Andita.


"Kegh." Mereka bertiga meringis sakit, akibat sepakan orang misterius itu.


"Kau!. Siapa kau!. Berani sekali kau ikut campur!. Uhuk."


"Tiga orang pendekar. Beraninya hanya pada seorang wanita. Apakah kalian sudah kehilangan urat malu?."


"Diam kau!. Dia akan kami jual pada lelaki kaya. Sehingga-." Namum belum sempat ia melanjutkan ucapannya, sebuah tendangan kuat mendarat di dadanya. Dengan geramnya ia menghajar salah satu dari mereka yang berkata seperti itu.


"Kurang ajar sekali pikiran mu itu. Kau pikir wanita itu untuk memuaskan nafsu bejat?. Akan aku bunuh kau." Dengan amarah yang menggebu-gebu, ia terus menghajarnya. Tentunya kedua temannya tidak membiarkan itu terjadi. Pertarungan dua lawan satu, namun dimenangkan oleh orang bertopeng itu. Ilmu kanuragan yang mereka miliki sangat tidak seimbang. Sedangkan Putri Andhini Andita hanya terpaku ditempat. Ia tidak bisa berkata apa-apa, saking kagetnya melihat di depan matanya.


Kembali ke masa ini.


Setidaknya itulah yang ia ingat ketika pertama kali bertemu dengan Jaya Satria, yang ternyata adiknya Raden Cakara Casugraha yang bersembunyi dibalik topeng.


"Lalu bagaimana dengan putri cahya candrakanti, jika mengetahui jika jaya satria itu adalah orang yang sama?."


"Aku aku akan menjelaskan padanya. Dan aku akan mengatakan yang sebenarnya."


"Lalu apakah kau akan menerima perjodohan itu?."


"Mengapa yunda sangat yakin, jika aku akan menerima perjodohan itu?. Apa yang membuat yunda berkata seperti itu?."


"Hatiku, juga perasaan yang ada di dalam diriku. Karena kau tidak akan mungkin menerima diriku. Sudah jelas alasannya, kau dan aku terikat oleh darah ayahanda prabu."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk tersenyum. Dan ia mengingat kembali bagaimana kejadian saat itu, tentang seseorang yang membuatnya merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.


"Jika aku mengatakan, bahwa ada seseorang yang telah menumbuhkan perasaanku. Apakah yunda akan percaya?."


Putri Andhini Andita spontan langsung berdiri. Karena raut wajah adiknya sangat berbeda dari yang sebelumnya.


"Kenapa rayi prabu malah bertanya padaku?. Jika memang itu benar, baguslah. Aku akan mencari pangeran di luar sana yang mau mencintai aku." Putri Andhini Andita kelabakan, karena ia tidak menyangka jika adiknya akan berkata seperti itu. Dan ia kembali duduk di samping adiknya dengan wajah yang ketus. "Asalkan wanita itu bukan putri cahaya candrakanti."

__ADS_1


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tertawa kecil melihat tingkah laku kakaknya itu. Ia hanya tidak ingin mengecewakan kakaknya. Sungguh, ia tidak akan pernah berani mempermainkan perasaan wanita. Bagaimana kelanjutan kisah cinta ini?. Siapa yang telah berhasil mencuri hati sang Prabu?. Benarkah apa yang ia ucapkan itu?. Atau hanya sekedar ucapan, hanya untuk menyampaikan pada kakaknya agar berpikir kembali jika mencintai dirinya?. Rasanya hidup ini memang penuh misteri. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2