
...***...
Semuanya telah berlalu. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Rombongan telah kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai.
Saat ini Ratu Dewi Anindyaswari sedang berbincang dengan putranya Jaya Satria. Lebih tepatnya Raden Cakara Casugraha yang lainnya.
"Maafkan ibunda nak. Ibunda tidak bisa kembali dengan cepat ke istana untuk melihat keadaanmu. Hati ibunda sangat sedih sekali." Ia menggenggam erat tangan putranya. "Rakamu juga butuh ibunda berada di sampingnya. Sungguh maafkan ibunda." Ucapnya lagi.
"Tidak apa-apa ibunda. Nanda mengerti. Ibunda tidak perlu merasa bersalah. Ibunda tetaplah, harus berada di sampingnya. Bagaimanapun juga, nanda hanyalah-."
Ratu Dewi Anindyaswari memeluk erat Jaya Satria, sehingga ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Tidak nak!. Nanda tetaplah putra ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari sangat merasakan ikatan batin yang kuat dengan Jaya Satria. "Nanda adalah putra ibunda. Nanda tetaplah cakara casugraha. Putra yang paling ibunda cintai." Sulit bagi dirinya untuk menerima kenyataan ini, tapi itu semua telah terjadi.
Fakta yang sangat mengejutkan, jika anaknya ada dua?. Jika diingat lagi, memang seharusnya ia memiliki dua anak kembar. Akan tetapi salah satu dari anaknya tidak bisa diselamatkan.
Kembali ke masa itu.
Hatinya saat ini dipenuhi oleh kegembiraan yang luar biasa. Ia segera mencari keberadaan suami yang ia cintai. Yang saat ini berada di taman Istana.
"Kanda prabu." Ia memeluk erat suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Dinda dewi." Sang prabu membalas pelukan hangat istrinya dengan cinta. Setelah itu ia membimbing istrinya untuk duduk di kursi taman.
"Wajah Dinda dewi terlihat bahagia sekali. Kanda sangat pangling melihatnya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap sayang istrinya.
"Kanda prabu. Dinda ingin menyampaikan kabar bahagia untuk kanda prabu." Ucapnya dengan nada bahagia.
Prabu Kawiswara Arya Ragnala merapat mendekati istrinya. Ia begitu penasaran, dengan kabar bahagia yang hendak ingin disampaikan oleh istrinya itu.
"Bisikkan pada kanda. Kanda ingin mendengarkannya." Dengan antusiasnya sang prabu berkata seperti itu. Ia seakan berdebar-debar ingin mendengarkannya.
__ADS_1
"Sebenarnya Dinda sedang hamil. Dan kanda akan mendapatkan dua anak dari dinda." Bisiknya dengan suara yang sangat jelas.
Sang prabu menatap tak percaya sang istri. Ia sempat terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.
"Benarkah itu dinda dewi?. Apakah dinda Dewi tidak memberikan harapan pada kanda?." Apakah ia masih ragu?.
"Tabib istana yang mengatakan, jika dinda sedang hamil. Dan kita akan memiliki dua anak sekaligus kanda." Jawabnya dengan sangat yakin. "Tidak ada gunanya dinda berkata dusta pada kanda prabu." Lanjutnya lagi.
"Oh dinda dewi." Sang Prabu langsung memeluk erat istrinya. Rasa bahagia luar biasa yang ia terima dari sang pencipta. Ia akan mendapatkan dua keturunan sekaligus?. Bukankah itu adalah anugerah yang istimewa yang ia terima dari sang pencipta?.
Sang prabu sangat bersyukur dengan apa yang ia dapatkan. Ia bersyukur karena istrinya selama mengandung dalam keadaan sehat. Sang Prabu menjaganya dengan baik, memperhatikan istrinya dengan baik. Sehingga istrinya selalu tampak bahagia.
Kandungannya telah memasuki bulan kesembilan. Dan sudah hampir tiga hari berlalu istrinya telah mengeluh sakit, hanya menunggu hari lahir saja. Karena itulah perasaan cemas selalu menghampirinya. Ia takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.
"Tenanglah kanda prabu. Mengapa kanda prabu sangat gelisah sekali?." Ratu Ardiningrum Bintari menunjukkan rasa tidak sukanya, karena ia merasa terabaikan selama ini.
"Benar kanda. Kami juga istri kanda. Tapi mengapa hanya rayi dewi saja yang kanda prabu perhatikan." Ratu Gendhis Cendrawati juga rasa tidak sukanya. Ia merasakan cemburu yang luar biasa.
"Dinda ardiningrum bintari. Dinda gendhis cendrawati." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum menatap kedua istrinya yang sedang cemberut. "Dinda berdua tidak perlu berkecil hati. Tidak mungkin kanda mengabaikan istri kanda yang sangat cantik ini." Ucapnya lagi. "Dinda berdua adalah istri kesayangan kanda." Ia berusaha untuk membuat kedua istrinya kembali tersenyum.
"Apakah dinda berdua tidak percaya dengan apa yang kanda katakan?. Apakah kanda harus mengatakan pada bulan, bahwa Dinda berdua lebih terang dibandingkan ia yang hanya bersinar pada malam hari. Sementara Dinda berdua selalu memberikan cahaya pada kanda. Atau perlu kanda katakan pada dewi pelangi, bahwa ia hadir hanya setelah hujan panas berhenti, sementara dinda berdua selalu hadir bahkan ketika kanda tidak memiliki harapan lagi." Sepertinya Sang Prabu benar-benar ingin menyenangkan hati kedua istrinya disaat ia sendiri sedang gelisah menunggu kelahiran anaknya.
"Oh kanda prabu." Kedua Ratu istana kerajaan Suka Damai merasa tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Mereka benar-benar disanjung oleh sang Prabu.
Hingga tanpa sadar terdengar suara tangisan bayi dari dalam. Namun pintu juga belum dibuka.
"Apa yang terjadi di dalam?. Mengapa lama sekali dibuka?." Dalam hati sang prabu merasakan kegelisahan yang luar biasa. Karena rasa tidak sabarnya telah membuncah di dalam benaknya.
Tak selang berapa lama, terdengar lagi tangisan yang kuat. Membuat mereka yang di luar semakin deg-degan menunggu kabar dari dalam.
"Jadi benar?. Jika rayi dewi melahirkan anak kembar?." Dalam hati Ratu Ardiningrum Bintari merasakan kegelisahan yang luar biasa.
__ADS_1
"Ini sangat gawat. Jadi berita itu benar?. Jika rayi dewi melahirkan anak kembar, maka bagaimana dengan nasib kedua anakku nantinya." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati juga merasakan kecemasan yang luar biasa.
Dengan ketakutan-ketakutan yang menghantui pikiran mereka, mengenai anak kembar yang lahir dari rahim Ratu Dewi Anindyaswari. Keduanya sampai tega membuat rencana yang membuat Ratu Dewi Anindyaswari kehilangan salah satu dari anaknya.
Akibat dari terbakarnya bilik Ratu Dewi Anindyaswari, bayinya yang bernama Raden Cakara Haryatma tidak bisa diselamatkan. Butuh waktu lama baginya untuk pulih kembali. Rasa takut kehilangan anaknya, membuatnya benar kehilangan akal sehatnya.
Sang Prabu juga berusaha untuk mengobati istrinya agar kembali pulih. Ia juga harus tetap menjaga anaknya yang masih bayi, serta mengamankan putri Agniasari Ariani yang masih balita, agar tidak menjadi korban juga.
Hati sang prabu sangat sedih, menerima kenyataan siapa yang telah melakukan kejahatan itu. Ia ingin menghukum kedua istrinya yang telah membuatnya kehilangan anaknya. Namun ia masih mempertimbangkan hukuman itu, akan semakin membuat kedua istrinya membenci Ratu Dewi Anindyaswari.
"Bersabarlah dinda dewi. Semoga saja dinda dewi diberi ketabahan oleh dewata agung, agar kuat menjalani ini semua." Sang prabu menangis sedih. Ia sedang memperhatikan istrinya yang sedang terbaring lemah di bilik baru.
"Kanda sangat menyayangi dinda dewi. Karena itulah dinda dewi harus bertahan demi putra kita yang tersisa. Kanda mohon. Dinda dewi harus kuat." Sang Prabu menunggu Ratu Dewi Anindyaswari terbangun. Ia sangat sedih, karena tidak bisa menguatkan hati istrinya.
Kembali ke masa ini.
Begitulah yang terjadi. Bisa dikatakan, nyawa putra keduanya tidak bisa diselamatkan, karena asap tebal itu masuk ke paru-paru malaikat kecil malang yang terkenal dalam kebakaran itu. Hanya Raden Cakara Casugraha yang berhasil diselamatkan oleh sang Prabu.
"Ibunda tidak akan melepaskanmu lagi nak. Sudah cukup nanda bersembunyi dibalik topeng ini. Ibunda selalu ingin bersama nanda." Ucapnya dengan sepenuh hatinya.
"Nanda juga ingin selalu bersama ibunda. Jika nanda tidak mengunakan topeng ini. Nanda tidak bisa membantu ayahanda prabu untuk mengatasi masalah yang terjadi di negeri ini ibunda." Jawab Jaya Satria dengan tangis yang pilu.
"Nanda juga ingin selalu bersama ibunda. Ingin selalu berada di dekat ibunda. Karena itulah nanda selalu berusaha menahan diri dibalik topeng ini ibunda." Hatinya sangat dipenuhi oleh kesedihan yang luar biasa.
"Sungguh, ibunda sangat menyayangimu nak. Jangan tinggalkan ibunda dengan bersembunyi dibalik topeng ini." Hanya itu permintaannya.
"Ibunda tenang saja. Nanda hanya ingin dilihat oleh ibunda. Karena itulah ibunda harus kuat. Serta bersabar. Karena ibunda adalah wanita yang memiliki kesabaran yang luar biasa." Ucap Jaya Satria dengan pelan.
"Ucapannya sama persis dengan kanda prabu." Rasanya ia memang sedang berbicara dengan suaminya. Mengatakan hal yang sama persis.
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
(maaf ya, jika setelah ini, kita akan kembali ke awal sang prabu remaja, yang ganas menurut penghuni istana kerajaan Suka Damai. Semoga pembaca tercinta suka).
...****...