RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEJAHATAN GAIB


__ADS_3

...***...


Jaya Satria baru saja masuk ke bilik sang prabu dalam keadaan kesakitan.


"Bertahanlah Jaya satria." Sang prabu mendekati Jaya Jaya Satria. "Kita harus kuat untuk mengalahkan rasa sakit ini." Prabu Jaya Satria membantu Jaya Satria untuk berdiri.


"Rasanya sangat sakit. Seperti ditusuk ribuan jarum." Ya, karena dirinya yang seakan diserang.


Makanya tenaganya terasa lebih terkuras dibandingkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, yang hanya kena dampaknya saja. Tapi tetap saja rasanya sangat sakit.


"Mari kita bersemedi. Berserah diri pada Allah SWT, sekaligus mencari tahu apa penyebab dari rasa sakit yang kita rasakan ini." Sang prabu duduk di bawah, ia duduk bersila mencoba memusatkan pikirannya.


"Sandika gusti prabu." Jaya Satria melakukan hal yang sama.


Mereka mengatur hawa murni, menenangkan diri. Memusatkan pikiran, dan mencoba menerawang apa yang mereka alami.


Saat mereka mendapatkan penglihatan itu.


Deg


Keduanya terkejut, ternyata ada seseorang yang sedang menyerang Jaya Satria dengan dukun santet?. Mata mereka langsung terbuka saking terkejutnya melihat penerawangan itu.


"Astaghfirullah hal'azim. Sepertinya ada yang berusaha menyakiti tubuhmu melalui jarak jauh, jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melihat ke arah Jaya Satria.


"Ya, gusti prabu benar. Tapi kita harus segera melawannya. Hamba tidak ingin gusti prabu juga mengalami rasa sakit ini." Jaya Satria juga melihat ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Mari kita lawan bersama." prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali menutup matanya, dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan rasa sakit akibat ulah seorang dukun santet.


"Ya." Jaya Satria lagi-lagi mengikuti apa yang dilakukan sang Prabu.


Dengan membacakan ayat surat alfatihah, ayat kursi untuk meminta perlindungan dari Allah SWT.


Suara bacaan mereka seakan sampai pada orang yang telah berbuat jahat, yaitunya Nini Kabut Bidadari.


Ia terkejut karena lama-kelamaan jarum yang ia gunakan terasa berat, seperti ada perlawanan?. Nini Kabut Bidadari mencoba menguatkan mantramnya.


Sedangkan Prabu Wajendra Bhadrika yang melihat itu merasa aneh. "Ada apa nini, apakah terjadi sesuatu?."


"Sepertinya orang itu menyadari serangan hamba gusti. Makanya boneka jerami ini melakukan penolakan ketika hendak hamba tusuk." Dari cara penolakan itu, ia mengetahui jika ada kekuatan yang melindungi boneka jerami itu.


kembali ke Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya.


Setelah membaca ayat kursi, surat Al-Ikhlas, Al-falah, dan An-Nas sebanyak tiga kali.


Nini Kabut Bidadari semakin kesulitan, suara dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria mengganggu konsentrasinya. Suara bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an mengganggu pendengarannya, hingga ia tidak dapat menahannya.


Tubuhnya terguncang kuat, ia tidak mengerti mengapa. Tapi yang pasti ia tidak dapat lagi melakukannya, ia merasa panas.


Tidak hanya itu saja, keduanya juga membacakan doa agar terhindar dari pengaruh santet


"


أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ


Lahaula walakuata illabillahia'liyil'azim, Allaaaaaaaaaaaaaaaaahuakbar."


Keduanya membaca takbir, disertai ilmu Kanuragan untuk membentengi diri mereka.


"Qhaaaaa."


Nini Kabut Bidadari sangat terkejut karena boneka jerami ditangannya meledak dengan kuatnya.


"Nini!."


Mereka yang melihat itu juga terkejut. Tidak menyangka benda itu akan meledak?. Tapi bagaimana bisa?.


"Nini apa yang terjadi?."


prabu Wajendra Bhadrika membantu Nini Kabut Bidadari bangkit, karena akibat ledakan itu, tubuhnya terpental menabrak dinding dibelakangnya.


"Nini!. Apakah kau baik-baik saja?." Mayang Sari dan Semara Layana terlihat cemas.


"Kurang ajar!. Dia berhasil mengalahkan santet yang aku lakukan padanya."

__ADS_1


Ia sangat marah, bagaimana bisa orang itu mengalahkannya?.


"Apa?. itu sangat mustahil, nini!." Prabu Wajendra Bhadrika juga tidak percaya, jika santet yang dikirim Nini Kabut Bidadari dapat dipatahkan?.


"Keqh. Sepertinya dia memang bukan orang sembarangan. Sehingga ia dapat mengalahkan santet sekalipun." dadanya terasa sesak, dan tenaganya sedikit terkuras.


"Benar-benar orang yang kuat. Bahkan tidak bisa dikalahkan dengan santet?." putri Gempita Bhadrika tanpa sadar malah mengagumi orang itu?.


"Apa yang akan kau lakukan nini?. Apakah bisa diulang lagi?." Prabu Wajendra Bhadrika belum puas, ia ingin sekali lagi, ia ingin orang itu mati.


"Akan hamba coba dengan cara lain gusti prabu." Nini kabut Bidadari tidak bisa menolaknya, ia akan melakukannya lagi.


"Kalian berdua. Mana benda yang aku minta?." Ia bertanya pada kedua anak buahnya.


"Baiklah nini." Semara Layana mengeluarkan sebuah batu merah aneh.


Sedangkan prabu Wajendra Bhadrika dan putrinya mengernyitkan dahi, karena tidak mengerti sama sekali apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Sekali lagi Nini Kabut Bidadari merapal mantramnya, kali ini pada sebuah batu?.


Saat mantram itu dibaca, tiba-tiba batu merah itu melayang menyerupai bola api yang sangat panas, dan terbang menuju suatu tempat.


"Kali ini apalagi?." Putri Gempita Bhadrika bertanya-tanya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria baru saja merasa lega, karena berhasil mengusir orang yang menyantet mereka. Namun ketika masih dalam penerawangan, mereka melihat bola api besar yang melintasi gerbang istana.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."


Sukma mereka langsung terbang ke arah gerbang istana. Mereka tidak ingin sampai bola api itu masuk ke istana dan mencelakai penghuni istana.


Mereka menghalaunya dengan cara menyalurkan tenaga dalam ke arah bola api itu. Namum sayangnya bola api itu menghindar seakan memiliki nyawa.


Dan benar saja, bola api itu berubah menjadi Jin yang buruk rupa. Jin itu menyerang Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Terjadi pertarungan gaib di gerbang istana Suka Damai, pertarungan yang hanya orang-orang berilmu tinggi yang menyadarinya.


"Kita harus segera mengusirnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengeluarkan keris pusaka kerajaan Suka Damai. Keris Naga Mahadewa, yang katanya dapat mengusir jin dan setan yang hendak mengganggu penghuni istana dan rajanya.


"Ya, gusti prabu benar. Kalau begitu hamba akan mengumandangkan adzan. Semoga saja jin itu bisa dimusnahkan gusti prabu." Jaya Satri mencoba membantu dengan azan, agar konsentrasi jin itu kacau karena mendengarkan suara azan.


Atas izin Allah SWT, mereka dapat mengatasinya dengan baik. Allah SWT maha pengasih maha penyayang, maha pemilik atas segala kekuatan yang ada di bumi ini.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria berhasil mengusir jin itu, hingga ia kembali kepada pengirimnya, yaitunya Nini Kabut Bidadari.


Kali ini bukan hanya Nini Kabut Bidadari saja yang terkena dampak dari ledakan itu, melainkan prabu Wajendra Bhadrika, putrinya serta kedua anak buahnya pun juga kena efek ledakan itu. Mereka semua sangat terkejut dan tak percaya, jika mereka mengalami kegagalan?.


"Maafkan hamba gusti prabu. Tenyata orang itu memang pandai menggunakan sihir, sehingga hamba tidak bisa melakukannya." Nini Kabut Bidadari akhirnya menyerah. Setelah dua kali ia dikalahkan?.


"Apakah tidak ada cara lain untuk membunuhnya melalui santet?!." Suara keras itu mengandung amarah yang luar biasa. Ia jadi penasaran siapa orang misterius itu?. Bahkan dengan santet pun tidak juga bisa mengalahkan orang itu?.


"Mohon ampun gusti prabu. Hamba tidak bisa melakukannya lagi." Dengan berat hati ia meminta maaf pada junjungannya. Ia sudah kehilangan akal, pikirannya jadi kacau.


"kqhaah benar-benar tidak berguna!." Sang prabu mengungkapkan kekecewaannya. "Akan aku cari tahu siapa sibedebah busuk itu." Prabu Wajendra Bhadrika sangat marah. Harus bagaimana lagi ia dapat mengalahkan orang misterius itu?.


Temukan jawabannya.


...***...


Sukma prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria telah kembali ke raga masing-masing.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin kita berhasil mengusirnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatur hawa murninya agar stabil kembali.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Terima kasih atas bantuannya gusti prabu." Jaya Satria juga berhasil mengatur hawa murninya. Sakit yang mereka rasakan sudah berkurang dan mungkin menghilang.


"Tidak salah lagi gusti. Tadi itu adalah dukun santet." Jaya Satria tidak salah mengambil kesimpulan dengan apa yang mereka alami.


"Ya, kita tadi melihat bayangan nini kabut bidadari." Tidak mungkin mereka salah saat melakukan penerawangan tadi. "Aku yakin dia masih penasaran denganmu yang telah mengalahkannya."


"Ya, hamba melihatnya gusti prabu."Jaya Satria terlihat sangat cemas.


"Kita harus lebih berhati-hati lagi" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingat.


"ya, gusti prabu benar." Balas Jaya sedikit menghela nafasnya. "Tapi itu tadi memang sulit kita atasi. Sejenis serangan gaib yang tidak bisa kita prediksikan kapan datangnya." Jaya Satria setidaknya bersyukur dapat mengatasinya.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Dengan bantuan Allah SWT setidaknya kita dapat mengatasinya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga bersyukur.

__ADS_1


Malam itu malam yang agak sulit, namun dapat segera diatasi. Apakah mereka masih bisa menyelamatkan diri?. Hanya Allah SWT tempat untuk meminta.


...***...


Keesokan harinya.


Ratu Dewi Anindyaswari dan Ayudiyah Purwati keluar dari kamar, dan tidak sengaja bertemu dengan Ratu Ardiningrum Bintari yang ternyata sudah kembali.


"Yunda. Kapan yunda kembali?." Ia tersenyum ramah pada mereka.


"Ibunda tidak usah berpura-pura ramah begitu. Apa ibunda terkejut melihat kepulangan ibundaku?." Rasa tidak sukanya pada ratu Dewi Anindyaswari sangat terlihat jelas.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hati Ayudiyah Purwati tidak menyangka akan tuduhan seperti itu, apalagi Ratu Dewi Anindyaswari.


"Putriku ambarsari. Ibunda tidak pernah berpikiran seperti itu nak." Rasanya iba dituduh seperti itu.


"Sudahlah!. Ibunda tidak perlu menyangkalnya lagi." Suara itu terdengar keras, menyimpan amarah.


Disaat yang bersamaan, Putri Andhini Andita melihat itu. Ia langsung teringat dengan kata-kata jaya Satria.


*Jika hatimu mendendam. Maka kau akan menjauh dari kebaikan. Hatimu akan tertutup menerima kebaikan apapun itu.*


"Rayi dewi anindyaswari. Tidak perlu berbasa-basi. Kami juga tahu jika kau tidak menginginkan aku berada di sini." Ucapnya dengan nada marah. "Dan siapa dia?. Kau bahkan tidak minta izin pada kami membawa orang asing ke istana ini." Ratu Ardiningrum Bintari menatap tidak suka ke arah Ayudiyah Purwati.


"Mohon ampun gusti ratu. Hamba datang ke sini atas undangan nanda Prabu. Untuk mengajari ibundanya mempelajari agama Islam." Balas Ayudiyah Purwati. "Dalam waktu satu purnama ini. Jika gusti ratu dewi anindyaswari fasih membaca Alquran, beliau juga akan masuk agama Islam." Ia tidak ingin Ratu Ardiningrum Bintari salah faham dengan kedatangannya.


"Lagi-lagi nanda prabu membawa orang luar masuk istana!." Marah. Ia marah dan tidak terima. "Mengapa nanda prabu tidak minta izin terlebih dahulu kepadaku!. Sudah sangat jelas, bahwa aku merupakan istri pertama dari mendiang kanda prabu." Ia merasa tidak dihormati sama sekali di istana ini.


*Kemarahan. Hanya akan menumbuhkan noda dosa, yang jika engkau sadari akan membuatmu hidup dengan beban. Tidak suka pada apa yang diperbuat seseorang. Hatinya yang merasa dia yang harus dihargai. Namun tidak bisa menghargai orang lain. Dia adalah orang yang membuat dirinya semakin menjauh dari tahta yang diinginkannya.*


Putri Andhini Andita yang masih melihat itu dari jauh, sambil terus teringat dengan perkataan Jaya Satria. Tanpa sadar ia melangkah menghampiri mereka.


*Jika engkau ingin melihat kebaikan seseorang maka lakukan langkah kecil. Seperti mengapa seseorang dalam situasi sedih dan marah dalam bersamaan. Atau mereka yang sedang bertengkar. San lihatlah, hati siapa yang masih jernih ketika dalam kondisi seperti itu, ia masih menjawab salam darimu.*


"Sampurasun." Putri Andhini Andita mencobanya, tanpa menyebutkan salam kepada siapa.


"Rampes." Balas Ratu Dewi Anindyaswari dan Ayudiyah Purwati. Raut wajah mereka terlihat cemas, namun masih berusaha tetap tenang. Karena tuduhan itu membuat perasaan mereka gelisah.


Namun saat matanya menatap ke arah Ratu Ardiningrum Bintari dan kakaknya putri Ambarsari mereka malah cemberut, tidak menjawab salamnya.


"Ada apa ini ibunda ratu ardiningrum bintari, yunda ambarsari." Ia ingin tahu apa penyebab kemarahan kedua wanita agung ini.


"Tidak apa-apa rayi. Kami hanya tidak suka dengan sikap ibunda ratu dewi anindyaswari yang berpura-pura baik pada kami." Jawabnya dengan perasaan benci.


"Demi dewata agung. Ibunda tidak pernah berpikiran seperti itu putriku andhini andita. Percayalah pada ibunda nak." Easa iba itu semakin dalam, sedih sekali mendengarkan tuduhan seperti itu.


*Jika engkau ingin melihat ketulusan seseorang dalam berkata. Lihatlah tatapan matanya. Apakah mata itu tatapannya teduh hingga kau merasa tersentuh?. Jika tatapan mata itu hanya berusaha meyakinkanmu maka mata itu hanyalah tatapan mata biasa. Dan ia hanya mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu, seakan-akan ia meyakinkanmu dia berkata jujur dari ucapan saja.*


Putri Andhini Andita menghela nafasnya. Agaknya ia sedikit mengerti. "Tidak apa-apa ibunda dewi anindyaswari." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. "Berbuat baik tidak selamanya mendapatkan kebaikan pula. Jadi ibunda tidak perlu bersedih. Bukankah begitu, nyi ayudiyah purwati?." Meskipun ia tidak kenal dengan wanita itu, ia pernah mendengar namanya sekali saat ia mencoba mengintip apa yang dilakukan  oleh Ratu Dewi Anindyaswari.


"Benar sekali gusti putri." Ayudiyah Purwati tidak menyangka, Putri Andhini Andita begitu ramah pada Ratu Dewi Anindyaswari.


Sedangkan Ratu Ardiningrum Bintari dan Putri Ambarsari sedikit terkejut mendengarnya.


"Kenapa kau malah membelanya, putriku!. Apa yang kau pikirkan sebenarnya?." Rasa kesal tumbuh lagi dihatinya. Mengapa Putri Andhini Andita malah membela Ratu Dewi Anindyaswari.


"Sudahlah ibunda. Aku yakin ibunda dan yunda keluar dari kaputren, untuk menikmati indah suasana istana. Aku yakin ibunda dan yunda tidak mau merusaknya bukan." Senyuman kecil itu membuat keduanya terdiam.


Tanpa banyak bicara keduanya pergi dari sana. Tidak ingin berdebat panjang, hati mereka terlanjur kesal. Apalagi dengan pembelaan dari Putri Andhini Andita tadi.


"Ibunda. Bukankah ibunda sudah belajar banyak dari nyi ayudiyah purwati?. Aku yakin ibunda lebih bisa bersabar lagi." Tangannya mengelus bahu kiri Ratu Dewi Anindyaswari. Senyumannya yang agak berbeda dari yang sebelumnya.


"Sampurasun." Ia juga meninggalkan tempat itu dengan senyuman ramah, tulus dan manis.


"Rampes." Balas keduanya sambil melihat kepergian Putri Andhini Andita.


"Putriku andhini andita." rasanya tidak percaya ia melihat sikap perubahan luar biasa dari anaknya itu.


Sementara itu. Putri Andhini Andita yang sedang keluar dari sana.


"Ternyata benar yang dikatakan jaya Satria. Aku akan belajar banyak darinya." Dalam hatinya ia baru kali ini mau mendengarkan apa yang dikatakan orang lain.


Tak kenal maka tak follow.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2